DUDA SEDINGIN SALJU

DUDA SEDINGIN SALJU
TEKA TEKI


__ADS_3

Malam hari Ara baru saja sampai di rumahnya. Ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena panas panasan di bawah terik matahari. Ia dan Dean berencana membuka panti asuhan untuk anak anak yang kurang beruntung, itu sebabnya ia pergi meninjau lokasi pembangunan panti itu.


Selesai mandi Ara naik ke atas ranjang, ia duduk bersandar sambil menatap foto yang ada di tangannya. Foto Rere saat ia masih bayi.


" Kamu terlihat sangat cantik sekarang sayang, sayangnya mama tidak seberuntung yang mama bayangkan. Mama membayangkan jika kau akan tumbuh besar di bawah pengawasan mama, tapi malah kamu tumbuh di bawah pengawasan orang lain. Hari ini mama sangat bahagia bisa melihatmu dari dekat, walaupun mama tidak bisa menyentuhmu tapi mama selalu mendoakanmu sayang. Sampai sekarang Mama masih mencintaimu. Seandainya ada kesempatan Mama ingin memelukmu dan mengatakan jika Mama sangat merindukanmu selama ini. Tapi sayangnya semua itu tidak akan pernah terjadi. Kalian sudah bahagia dan tidak membutuhkan Mama lagi." Ucap Ara memeluk foto Rere.


Drt.... Drt...


Ponsel Ara berdering tanda panggilan masuk. Ia menatap id pemanggil yang tak lain adalah suster Leni. Ia segera mengangkatnya.


" Halo Sus, ada apa kamu telepon saya malam malam begini?" Tanya Ara karena ia merasa tidak ada jadwal piket malam ini.


" Pasien bernama Rere mengalami kejang Dok. Suhu badannya melebihi empat puluh derajat, dan tiba tiba dia muntah muntah Dok."


" Apa?? Dimana dia sekarang?" Tanya Ara panik.


" Dia berada di ruang UGD sedang di tangani oleh dokter Ameer." Sahut Leni.


" Baiklah lakukan pertolongan pertama pada pasien, saya akan segera ke sana." Ucap Ara.


" Baik Dok, maaf mengganggu waktu anda." Ucap Leni mematikan sambungan teleponnya.


Ara segera memakai hijab lalu berlari menuju mobilnya. Ia melajukan mobil menuju rumah sakit dengan kecepatan tinggi. Sampai di sana ia segera bergegas menuju ruang UGD.


" Dokter Ameer dimana pasien atas nama Rega?" Tanya Ara menatap Ameer.


" Pasien sudah di pindahkan di ruang rawat inap vvip nomer satu Dokter." Sahut Ameer.


" Terima kasih." Ucap Ara.


Ara berjalan menuju ruang rawat vvip nomer satu. Sampai di sana ia membuka pintunya, ia menatap Rere yang saat ini terbaring lemah di atas ranjang sambil menatapnya.


" Mama." Lirih Rere.


Tidak sanggup menahan kerinduan yang membuncah terhadap putrinya, Ara menghampiri Rere lalu memeluknya dengan erat.


" Hiks... Sayang." Isak Ara. Yoga yang duduk di sofa tersenyum senang melihat keduanya.


" Mama jangan menangis! Rere tidak apa apa Ma, Rere baik baik saja." Ujar Rere.


" Hiks... Maafkan mama sayang." Ucap Ara.


" Mama tidak bersalah." Ucap Rere.

__ADS_1


Deg...


Ara menyadari kesalahan yang ia perbuat. Bagaimana bisa ia mengakui Rere sebagai putrinya di saat Yoga sudah menikah lagi? Ara segera melepas pelukannya, ia mengusap air matanya lalu menatap Rere.


" Maafkan bu Dokter sayang! Bu Dokter asal bicara tadi." Ucap Ara.


" Mama ayo kita pulang! Kami sudah lama menunggu Mama selama ini, kami semua sangat merindukan Mama. Oma dan aunti juga sangat merindukan Mama. Bukankah Mama sudah menyelesaikan sekolah Mama saat ini? Rere ingin tinggal bersama Mama dan Papa seperti teman teman Rere Ma." Ucap Rere menatap Ara. Ara mengerutkan keningnya, lalu ia tersenyum menatap Rere. Ia menganggap ucapan Rere hanya ucapan anak kecil yang tidak ada artinya.


" Apa Mama tahu? Papa tidak bisa tidur dengan nyenyak selama Mama pergi. Setiap malam Papa diam diam menangisi kepergian Mama di kamar mandi."


Ara menatap Yoga sekilas lalu ia kembali menatap Rere.


" Jadi selama ini Rere tahu apa yang aku lakukan di kamar mandi. Tapi tidak apa apa, dengan begitu Rere bisa memberitahu Ara. Semoga hati Ara terketuk dan mau kembali kepada kami." Batin Yoga.


" Setiap malam Rere mengintip Papa, Papa terlihat sangat sedih Ma. Papa menangis sambil memukuli dadanya, papa selalu mengucapkan kata maaf untuk Mama. Rere sedih melihat papa seperti itu Ma. Rere mohon pulanglah bersama kami! Mari kita hidup bahagia menjadi satu keluarga Ma." Ucap Rere.


Ara semakin bingung di sini, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Yoga menangisi kepergiannya? Lalu dimana wanita yang Yoga nikahi?


Ya... Dua bulan setelah Ara mendapat kiriman foto akta cerainya dengan Yoga, ia mendapat kiriman foto undangan pernikahan Yoga dan Karina. Bahkan di saat tanggal pernikahan yang tertera di dalam undangan, ia mendapatkan foto pernikahan Yoga dengan Karina. Mereka menggunakan baju putih dan nampak bahagia tersenyum ke arah kamera sambil memamerkan cincin pernikahan mereka.


" Mama, kenapa mama melamun?" Rere mengguncang lengan Ara membuatnya tersadar dari lamunannya.


" Maafkan bu Dokter sayang, bu Dokter harus pergi." Ucap Ara.


" Sayang dengarkan bu Dokter ya! Bu Dokter ini bukan ma..


" Kau mamanya Rere dan kau tidak bisa memungkiri hal itu Ara." Sahut Yoga memotong ucapan Ara. Ia beranjak menghampiri Ara dan Rere.


" Mas jangan membual di sini, aku tidak berhak menjadi ibunya Rere lagi." Ucap Ara.


" Kenapa tidak berhak? Kau memang ibunya Rere sejak ia lahir sampai sekarang." Sahut Yoga membuat Ara terkejut.


" Bagaimana bisa dengan mudahnya kau mengatakan hal itu di saat kita sudah berpisah Mas?" Ujar Ara menatap Yoga.


Yoga menatap Rere.


" Rere pasang earphonemu, dengarkan sholawat yang biasa kau dengarkan sayang!" Titah Yoga.


" Iya Pa." Sahut Rere.


Rere mendengarkan sholawat dari ponselnya melalui earphone yang ia pasang di telinganya. Yoga menatap Ara begitupun sebaliknya.


" Kita berpisah itu karena salahku, aku minta maaf. Aku menyesal telah memintamu untuk pergi meninggalkan aku. Tapi semua itu telah berlalu, berbagai kesedihan, penyesalan dan rasa bersalah telah aku lalui. Sekarang aku memintamu untuk kembali kepada kami, walaupun kita sudah lama berpisah tapi aku masih menjaga cinta ini. Aku...

__ADS_1


" Ara."


Tiba tiba Dean masuk ke dalam dan menarik tangan Ara.


" Ada pasien yang membutuhkan pertolonganmu." Ucap Dean.


Yoga mencekal tangan kiri Ara.


" Ara tidak boleh pergi dari sini! Biarkan kami menyelesaikan masalah kami." Ucap Yoga.


Dean melepaskan tangannya, ia menatap Yoga dengan tajam.


" Lebih penting mana masalah kalian di bandingkan nyawa pasien? Ara bekerja sebagai dokter, dia sudah di sumpah untuk lebih mementingkan nyawa pasien di banding urusan pribadinya. Jadi, jangan halangi kami." Ucap Dean.


" Ara ayo kita pergi!" Dean kembali menarik tangan Ara namun Yoga tidak mau melepaskan tangannya. Alhasil Ara berada di antara mereka berdua.


" Haram hukumnya bersentuhan dengan pria yang bukan mahrommu Ara." Ucap Yoga menatap tangan Dean.


" Lalu bagaimana denganmu?" Tanya Ara menatap tangan Yoga.


" Apa maksudmu?" Tanya Yoga.


" Aku suamimu, aku berhak atas dirimu. Jangankan menyentuh tangan, menyentuh yang lain pun halal bagiku." Sahut Yoga.


Ara mengerutkan keningnya menatap Yoga.


" Suami? Bukankah kita sudah lama berpisah dan kau sudah...


" Ayo Ara kita tidak punya waktu lagi!" Ucap Dean.


Dean menggandeng Ara menuju pintu.


" Ara dengarkan aku!"


Ucapan Yoga menghentikan langkah Ara.


" Kau masih sah menjadi istriku, walaupun kita lama berpisah tapi aku tidak pernah menceraikanmu."


Jeduarrrr.....


Gimana kelanjutannya? Luluh nggak nih si Ara? Penasaran kan? Jangan lupa tekan like koment vote dan 🌹 yang banyak bair author semangat mengetik di saat kepala author sedang pusing.


Terima kasih...

__ADS_1


TBC....


__ADS_2