
" Sayang ini... " Yoga menjeda ucapannya. Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
" Itu garis dua Mas, yang artinya saat ini aku sedang hamil. Aku sedang mengandung anak kita." Ucap Ara mengusap perutnya.
" Benarkah?" Tanya Yoga dengan mata berbinar.
" InsyaAllah benar Mas, alat tes kehamilan itu akurat." Sahut Ara.
" Mas tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini, Mas akan menjadi seorang ayah dari anak kedua kita sayang. Mas sangat bahagia akhirnya Tuhan memberikan apa yang kita nantikan. Ya Tuhan... Terima kasih atas apa yang kau berikan kepadaku hari ini." Ucap Yoga.
" Iya Mas." Ucap Ara.
" Terima kasih sayang." Ucap Yoga memeluk Ara.
" Terima kasih untuk kebahagiaan ini. Mas sangat bahagia sayang, kamulah sumber kebahagiaan Mas. Mas berharap kau bisa menjaga dia untuk kita semua." Ujar Yoga.
" InsyaAllah aku akan menjaganya dengan baik Mas. Aku juga sangat bahagia akhirnya kodratku sebagai wanita telah mendekati sempurna. Doakan semoga kami selalu sehat dan dalam lindungiNya Mas. Semoga saat persalinan nanti aku di beri kemudahan dan umur yang panjang."
Deg...
Ucapan Ara membuat Yoga merasa dejavu. Tiba tiba ia melepas pelukannya begitu saja membuat Ara heran.
" Kenapa Mas?" Tanya Ara menatap Yoga.
" Mas... " Yoga duduk di closet yang tertutup.
Tiba tiba keringat dingin mengalir di dahinya begitu saja.
" Mas kamu kenapa? Kenapa Mas berkeringat begini? Jangan membuatku khawatir begini Mas!" Ucap Ara mengguncang bahu Yoga.
" G*g*rkan kandunganmu!"
Jeduarrrr.....
Bagai di sambar petir di siang bolong, tubuh Ara kaku tidak bisa di gerakkan. Ia benar benar sangat terkejut mendengar ucapan Yoga.
" Ba... Bagaimana bisa Mas memintaku untuk melakukan hal keji seperti itu? A.. Apa anak ini tidak berarti untukmu? Ap.. Apa Mas merasa anak ini akan menjadi beban untukmu? Atau Mas khawatir kalau aku tidak akan menyayangi Rere setelah anak ini lahir Mas?" Tanya Ara gugup. Ia tak kuasa menahan air mata yang mengalir deras di pipinya, ia segera mengusap air matanya.
" Ara." Ucap Yoga menggenggam tangan Ara.
" Mas tidak mau kehilangan kamu, Mas tidak ingin kamu melahirkan anak itu."
" Apa ini Mas?" Bentak Ara menyentak kasar tangan Yoga.
" Bukankah selama ini kita memimpikan kehadiran anak ini? Bukankah kita selalu menantikan hari ini tiba? Kau ingin punya anak lagi, Rere ingin punya adik. Lalu kenapa tiba tiba kau berubah Mas? Apa alasannya?" Tanya Ara mengguncang bahu Yoga.
Yoga hanya bisa terdiam sambil mengusap air matanya. Ia tak kuasa menahan air matanya melihat Ara menangis di depannya.
" Katakan Mas! Apa alasannya?" Bentak Ara.
__ADS_1
" Karena aku tidak mau kamu tiada hanya karena melahirkan anak itu." Bentak Yoga membuat Ara berjingkrak kaget.
" A.. Apa?" Gugup Ara menatap Yoga.
" Aku tidak mau kamu mengalami hal yang sama dengan Rebecca. Aku takut kehilanganmu saat melahirkan anak itu Ara. Saat itu mungkin aku bisa menerima kepergian Rebecca karena kamu berhasil menjadi penawarnya, tapi kali ini aku tidak akan bisa menerima kepergianmu Ara. Aku tidak mau kehilanganmu hiks... Aku mohon jangan lahirkan anak itu!" Ucap Yoga terisak.
" Astaghfirullahal'adzim... Dimana keimananmu kepada Tuhan Mas? Semua yang terjadi merupakan takdir dari Tuhan. Dan setiap manusia memiliki takdirnya sendiri. Lalu kenapa kau menyamakan aku dengan mantan istri Mas?" Ujar Ara tidak mengerti kenapa Yoga bisa berpikiran seperti itu.
Ara tidak tahu saja kalau trauma yang Yoga rasakan begitu sangat mendalam. Ia tidak mau kehilangan istrinya lagi setelah melahirkan nanti.
" Aku trauma Ara hiks... " Isak Yoga.
" Aku trauma karena kehilangan istriku saat dia melahirkan anakku, aku tidak mau merasakannya lagi. Aku tidak mau kehilanganmu Ara, aku tidak akan bisa hidup tanpamu hiks... " Ucap Yoga memeluk pinggang Ara. Ia menyusupkan wajahnya ke perut Ara.
" Istighfar Mas! Banyak banyaklah berdoa kepada Tuhan agar apa yang Mas takutkan tidak akan pernah terjadi lagi. Jikalaupun itu terjadi, itu sudah kehendak takdir Mas. Jangan merasa takut karena kita punya Allah. Dialah Maha segalanya Mas, dia pemilik segalanya. Allah tahu mana yang terbaik untuk hambanya." Ujar Ara mengelus kepala Yoga.
" Lalu bagaimana jika takdirmu sama dengan Rebecca? Bagaimana kalau kau tiada setelah melahirkan anak itu Ara? Aku tidak mau menanggung resiko, sebelum anak itu semakin besar, aku mohon g"g"rkan anak itu."
" Mas." Bentak Ara kesal.
Tiba tiba...
" Mama... Mama kenapa? Kenapa Mama berteriak?" Tanya Rere menghampiri Ara.
Ara mengepalkan erat tangannya, ia mengambil nafas dalam dalam lalu membuangnya dengan kasar.
" Tidak apa apa sayang." Sahut Ara.
" Apa kalian sedang bertengkar?" Tanya Rere memastikan.
" Tidak, siapa yang bilang kami bertengkar? Kami hanya sedang bahagia sayang. Apa Rere tahu kalau Rere akan menjadi seorang kakak sebentar lagi." Ujar Ara.
" Benarkah Ma? Itu artinya saat ini Mama sedang hamil?" Tanya Rere.
" Iya sayang, di dalam sini ada adik Rere yang sedang tumbuh." Ucap Ara menempelkan tangan kecil Rere ke perutnya.
" Hai adik bayi, ini kakak. Cepat besar di dalam sini ya, kakak sudah tidak sabar ingin bermain denganmu." Ucap Rere.
" Mas adik bayinya laki laki apa perempuan?" Tanya Rere mendongak menatap Ara.
" Mama belum tahu, tunggu beberapa bulan lagi ya. Sekarang ayo kita ke kamar Rere! Kita bisa bermain berdua dulu, besok kalau adik sudah lahir kita main bertiga." Ujar Ara.
" Yeiii.... Rere senang mau punya adik, Rere akan mengatakan pada teman teman Rere kalau sekarang Rere sudah besar karena di panggil kakak." Ucap Rere senang.
" Baiklah, ayo!" Ajak Ara.
Ara menggandeng tangan Rere meninggalkan Yoga sendirian.
Yoga menarik rambutnya dengan kasar. Ia merutuki kebodohannya dengan mengatakan hal buruk itu pada Ara.
__ADS_1
" Ya Tuhan aku harus bagaimana? Aku takut kehilangan Ara tapi aku juga tidak mau menghancurkan kebahagiaan Rere dan Ara. Aku harus bagaimana Tuhan?" Monolog Yoga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam hari setelah menidurkan Rere, Ara kembali ke kamarnya. Ia menghampiri Yoga yang saat ini sedang duduk di tepi sofa sambil menyangga kepalanya.
" Mas kenapa Mas tidak makan malam? Apa Mas marah padaku karena aku...
" Mas minta maaf." Ucap Yoga memotong ucapan Ara.
" Untuk apa?" Tanya Ara.
" Karena Mas telah berbicara buruk tentang anak kita. Mas berubah pikiran, maafkan Mas yang telah menyakitimu dan anak kita. Mas harap kamu mengerti apa yang Mas rasakan saat ini sayang." Ucap Yoga menggenggam tangan Ara.
Ara menghela nafasnya pelan, ia memejamkan matanya mencoba memahami apa yang Yoga rasakan saat ini.
" Aku memaafkan Mas. Jangan takut dan jangan bersedih lagi! Belum tentu semua yang Mas takutkan terjadi padaku. Aku akan menjaga dan merawat anak ini dengan baik. Dan aku juga akan menjaga diriku dengan baik. InsyaAllah Allah akan selalu bersama kita untuk menjaga keluarga kita Mas." Sambung Ara.
" Berjanjilah padaku untuk tetap berada di sampingku, jangan pernah meninggalkan aku dan anak anak kita nanti." Ucap Yoga.
" InsyaAllah Mas." Sahut Ara.
Yoga melepas pelukannya, ia mendongak menatap Ara tiba tiba ia kembali memeluk Ara. Ia benar benar merasa tidak mau kehilangan Ara.
" Mas... " Ucap Ara.
" Mas akan selalu berdoa untuk kesehatan, keselamatan dan umur yang panjang untukmu dan anak kita sayang. Mas akan selalu meminta itu kepada Tuhan agar kita bisa bersama selamanya sampai kita tua nanti." Ucap Yoga.
" Amin." Sahut Ara.
" Sekarang tenangkan dirimu Mas! Jalani apa yang ada seperti air mengalir. Yakinlah Tuhan punya rencana yang sangat indah untuk kita berdua." Ucap Ara.
" Iya sayang." Sahut Yoga.
" Sayangnya Papa, maafkan Papa yang telah berbicara buruk kepada mamamu. Papa tidak bermaksud menolakmu sayang tapi Papa hanya merasa takut dengan apa yang akan terjadi. Papa menyayangimu sayang, sehat sehat di dalam sini. Semoga kamu dan mamamu selalu sehat, panjang umur dan lancar dalam proses persalinan nanti. Jaga mama untuk Papa sayang. Papa menyayangimu." Ucap Yoga mencium perut Ara.
" Kami juga menyayangimu Mas." Ucap Ara.
TBC..
Ada nggak sih yang mengalami seperti yang Yoga rasakan saat ini? Pastinya ada ya... Karena setiap orang memiliki trauma sendiri sendiri.
Jangan lupa dukung terus karya author. Author punya karya baru yang insyaallah nggak kalah seru, mampir dan dukung juga ya
Terima kasih...
Miss U All....
__ADS_1