
Tuan Alif mendekati Yoga, ia menatap Yoga dengan intens begitupun sebaliknya.
" Terima kasih Ayah karena telah menolong putriku." Ucap Yoga.
" Dia cucuku jadi sudah kewajibanku menolongnya." Sahut tuan Alif membuat Yoga terkejut.
" Ayah minta maaf padamu karena selama ini Ayah menjadi jurang pemisah di antara kalian berdua. Bukan tanpa alasan Ayah melakukan semua itu, Ayah melakukannya semata mata untuk melindungi putri Ayah yang paling Ayah sayangi." Ucap tuan Alif.
" Aku yang minta maaf pada Ayah karena aku telah mengingkari janji yang aku buat kepada Ayah. Tapi semuanya sudah berlalu Ayah, lupakan saat saat sulit itu dan mari kita buka lembaran yang baru. Berikan restu Ayah kepada kami agar kami bisa hidup bahagia Yah." Ucap Yoga menatap ayah mertuanya.
" Tentu Nak, Ayah merestui pernikahan kalian dan akan selalu mendoakan keluarga kalian agar bahagia. Terima kasih telah memaafkan Ayah." Ucap tuan Alif.
" Sama sama Yah." Sahut Yoga.
" Bagaimana kondisimu saat ini Nak? Apa lukamu baik baik saja?" Tanya nyonya Aisyah.
" Alhamdulillah baik Bun, tinggal menunggu kering saja aku sudah boleh pulang." Sahut Yoga.
" Syukurlah, terima kasih telah membawa Ara kembali." Ucap nyonya Aisyah.
Mereka mengobrol layaknya keluarga harmonis pada umumnya.
Di ruang ICU, Ara berdiri di samping ranjang Dean. Dokter senior sedang melakukan kejut terhadap Dean karena detak jantungnya yang melemah.
" Kak Dean bertahanlah!" Ucap Ara.
Tiba tiba tangan kanan Dean mencekal tangan kiri Ara membuat Ara terkejut.
" Dokter senior, dokter Dean mencekal tangan saya."
Semua yang ada di sana menatap ke tangan Ara.
" Dia memberikan respon, tapi kenapa detak jantungnya semakin melemah? Kita harus segera mengambil tindakan." Ujar dokter Senior.
Berbagai cara mereka lakukan untuk menyelamatkan Dean, hingga mereka mendapatkan hasil yang luar biasa. Kondisi Dean mulai stabil membuat mereka bisa bernafas lega.
" Dokter Ara coba ajak bicara dokter Dean, apa dia bisa merespon atau tidak karena sepertinya dokter Dean mengalami koma." Ujar dokter Senior.
" Baik Dok." Sahut Ara.
Ara membungkukkan badannya, ia membisikkan sesuatu di telinga Dean.
" Kak Dean." Bisik Ara.
" Apa Kakak bisa mendengarku? Kalau iya berikan petunjuk kepada kami Kak." Ucap Ara.
" Aku mohon sadarlah! Aku akan merasa sangat bersalah jika sampai Kakak tidak membuka mata. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu hal buruk yang menimpamu. Aku minta maaf, aku minta maaf karena aku tidak bisa terus bersamamu. Aku mencintai suamiku, dan aku memutuskan untuk kembali padanya. Kami akan kembali ke Jakarta setelah suamiku sembuh nanti. Tapi aku tidak bisa meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini."
" Kau pria yang baik yang selalu menemaniku dan membimbing aku hingga aku bisa mencapai impian yang selama ini aku idamkan. Aku menjadi seperti ini sekarang itu berkat dirimu Kak. Aku mohon sadarlah! Buka matamu! Apa kau tidak mau melihatku sebelum aku pergi dari sini?" Ujar Ara.
Tes...
Air mata menetes membasahi pipi Dean.
" Dokter Dean merespon Dok." Ucap Ara.
__ADS_1
" Bagus dokter Ara! Lanjutkan!" Ujar dokter Senior.
Ara menggenggam tangan Dean.
" Apa kau tahu? Tangan ini berhasil menuntunku menuju kesuksesan. Tangan ini yang selalu melindungiku selama ini. Aku sangat berterima kasih atas apa yang kau berikan padaku Kak. Semua waktu dan perhatian yang kau berikan padaku akan menjadi moment terindah dalam hidupku."
" Tapi lagi lagi aku minta maaf karena aku tidak bisa mewujudkan apa yang kau mau. Aku tidak bisa terus berada di sampingmu begitupun sebaliknya. Aku berdoa semoga kelak kau akan mendapatkan wanita yang sama baiknya sepertimu. Aku minta maaf Kak, aku harus pergi." Ucap Ara beranjak dari tempatnya.
Saat Ara hendak melangkah tiba tiba Dean kembali mencekal tangan Ara.
" Ara." Lirih Dean.
Semua orang mengembangkan senyumannya.
" Ini perkembangan yang sangat bagus dokter Ara! Dokter Dean benar benar mengharapkan anda di sini." Ujar dokter Ameer.
Ara hanya bisa tersenyum saja.
" Ara." Lirih Dean.
" Aku di sini Kak." Sahut Ara.
Perlahan Dean membuka membuka matanya.
" Shhh." Desis Dean.
" Jangan bergerak Kak! Lukamu masih basah." Ucap Ara.
" Ara maafkan aku!" Ucap Dean menatap Ara.
" Benarkah aku tidak bisa memilikimu?" Tanya Dean.
" Maaf Kak, aku sudah menjadi milik orang lain." Ucap Ara menggelengkan kepala.
" Pergilah!" Ucap Dean memalingkan pandangannya.
" Baiklah aku akan pergi." Sahut Ara.
Ara menatap yang lainnya.
" Tugas saya sudah selesai, saya harus kembali ke ruangan suami saya karena suami saya sudah lama menunggu." Ucap Ara melepas tangan Dean.
" Silahkan dokter Ara, terima kasih atas bantuannya." Ucap dokter senior.
" Sama sama." Sahut Ara meninggalkan ruangan Dean.
Dean menatap kepergian Ara dengan perasaan sedih dan kecewa. Tak terasa air mata menetes begitu saja di pipinya.
" Sabar dokter Dean!" Ucap dokter Ameer.
Dean mengusap air matanya.
" Perjuanganku selama lima tahun ini hanya sia sia saja. Lalu untuk apa aku hidup jika tidak bisa mendapatkan Ara? Lebih baik aku mati saja." Batin Dean.
Ara masuk ke ruang rawat Yoga. Ia menghampiri Yoga yang saat ini sedang berbaring miring karena luka di punggungnya.
__ADS_1
" Mas, kemana ayah sama bunda?" Tanya Ara menatap Yoga.
" Mereka pulang ke rumah kita, katanya mereka mau mengajak Rere main ke suatu tempat." Sahut Yoga.
" Oh begitu, syukurlah kalau ayah sudah mau menerima Rere sebagai cucunya." Ujar Ara.
" Tapi kata ayah kita harus memberikan cucu kandung untuknya, katanya mereka berdua kesepian di rumah."
Ara melongo mendengar ucapan Yoga.
" Benarkah ayah bilang begitu?" Tanya Ara memastikan.
" Iya, kalau nggak percaya tanya saja sendiri pada ayah." Sahut Yoga.
" Terus bagaimana buatnya kalau suamiku saja terluka seperti ini? Jangan buat olahraga, buat bergerak saja tidak bisa." Goda Ara.
" Hmm kamu menggoda aku ya? Saat ini memang tidak bisa tapi besok kalau sudah sembuh kau akan tahu bagaimana keperkasaanku." Ucap Yoga.
" Ha ha ha baiklah aku tunggu." Sahut Ara.
Yoga menggenggam tangan Ara, ia mencium punggung tangan Ara dengan lembut. Yoga tidak tahu bagaimana cara meluapkan kebahagiaan yang ia rasakan saat ini.
" Apa Mas sudah minum obat?" Tanya Ara.
Yoga menggelengkan kepalanya.
" Astaghfirullahal'adzim... Kenapa belum minum obatnya Mas?" Tanya Ara.
" Karena dokter pergi meninggalkan pasiennya begitu saja." Sahut Yoga.
Ara tersenyum mendengar ucapan Yoga.
" Baiklah suamiku, maafkan istrimu yang tidak terlalu mempedulikanmu ini. Sekarang saatnya minum obat, setelah itu Mas harus istirahat biar cepat sembuh." Ujar Ara.
" Biar cepet bisa bikin dedek buat Rere." Sahut Yoga.
" Apa sih Mas." Ucap Ara terkekeh.
" Bener kan?" Ujar Yoga.
" Iya benar, Mas memang selalu benar." Sahut Ara.
" A'" Ara memberikan obat kepada Yoga. Lalu ia memberikan minumnya menggunakan sedotan.
" Sekarang istirahatlah! Aku akan membangunkan Mas saat makan siang nanti." Ujar Ara menyelimuti Yoga.
" Bisakah kau menemaniku tidur di sini?" Yoga menepuk ranjang di sebelahnya.
" Maaf Mas aku nggak mau, aku akan malu jika ada yang melihatnya. Nanti malam saja." Ujar Ara.
" Baiklah." Sahut Yoga.
Setelah itu Yoga bosa beristirahat dengan tenang.
TBC...
__ADS_1