
Setelah di pindah ke ruang rawat, Rere dan nyonya Hana masuk ke dalam menghampiri Ara yang berbaring di atas ranjang bersama babbynya.
" Adek bayi sudah lahir." Rere mendekati babby tampan yang wajahnya mirip dengan Yoga.
" Halo Adek, selamat datang di keluarga kita. Adek harus sehat dan cepat tumbuh besar ya biar kita bisa bermain bersama sama. Kakak sangat menyayangimu." Ucap Rere mengelus lembut pipi adiknya yang saat ini sedang memejamkan matanya.
" Terima kasih kak Rere, InsyaAllah adek sehat dan tumbuh dengan baik biar adek bisa menemani kak Rere bermain." Ucap Ara menirukan suara anak kecil.
" Ma siapa nama adek bayinya?" Tanya Rere menatap Ara sekilas lalu kembali menatap adiknya.
" Namanya Gara Zyan Aditya." Sahut Yoga mengelus kepala Rere.
" Namanya bagus, seperti nama papa sama mama. Gara.. Yoga dan Ara. Kenapa dulu Rere tidak di beri nama seperti adek? Yoza misalnya Pa. Yoga dan Zahra." Ujar Rere iri.
" Kenapa malah Rega? Sebenarnya aku anak papa sama siapa sih? Kenapa pakai Re... di depannya?" Lagi lagi pertanyaan Rere membuat Ara khawatir. Ia menatap Yoga begitupun sebaliknya.
" Sayang dengarkan Oma." Nyonya Hana menyentuh kedua bahu Rere.
" Nama Rega itu perpaduan nama papa dan mamamu sayang."
Deg...
Ucapan nyonya Hana membuat jantung Ara berdetak sangat kencang. Apakah ibu mertuanya akan memberitahu yang sebenarnya kepada Rere? Tidak... Ini belum waktunya. Rere masih anak anak, jika ia tahu ia bukan anak kandung Ara, ia pasti akan sangat sedih. Dan ia akan merasa tersaingi dengan adanya Gara sebagai anak kandung Ara. Ara tidak mau sampai itu terjadi, ia akan memberitahu Rere yang sebenarnya setelah Rere besar nanti, pikir Ara.
" Sebenarnya dulu kamu mau di beri nama Raga, perpaduan dari Ara dan Yoga. Tapi kalau nama itu di pakai rasanya kurang pas sayang, itu sebabnya awalan Ra di rubah menjadi Re. Apa kau paham maksud Oma?" Tanya nyonya Hana. Ara merasa lega mendengarnya.
" Paham Oma." Sahut Rere menganggukkan kepala.
" Anak pintar." Nyonya Hana mengusap kepala Rere.
" Terus Rere harus memanggil adek dengan nama siapa Ma?" Tanya Rere.
" Panggil saja Zayn sayang." Sahut Rere.
" Halo adek Zayn.." Ucap Rere.
" Ara." Nyonya Hana menatap Ara begitupun sebaliknya.
" Iya Ma." Sahut Ara.
" Mama ucapkan selamat atas kelahiran putramu. Semoga babby Zayn menjadi anak sholeh dan tumbuh dengan sehat. Terima kasih telah memberikan kebahagiaan ini kepada kami semua." Ucap nyonya Hana.
" Amin... Terima kasih untuk doa dan dukungan Mama selama ini. Tanpa Mama aku tidak bisa bertahan sampai saat ini." Ucap Ara di balas anggukkan kepala oleh nyonya Hana.
Tok tok...
Pintu di ketuk dari luar, tak lama pintu terbuka menampilkan Putri dan Bastian yang berjalan menghampiri mereka semua.
__ADS_1
" Ara... Selamat babby, akhirnya kau menjadi seorang ibu untuk yang kedua kalinya. Semoga panjang umur dan sehat selalu supaya kamu bisa menjaga keponakan keponakan aku." Ucap Putri memeluk Ara sebagai sahabat.
" Terima kasih babby, doa terbaik untukmu juga." Sahut Ara.
" Selamat Bang, semoga kalian berbahagia selamanya." Ucap Bastian memeluk Yoga.
" Amin, terima kasih. Kami tunggu kabar bahagia dari kalian juga." Sahut Yoga.
" Alhamdulillah kami sudah punya kabar bahagia itu." Ucap Bastian melepas pelukannya.
" Benarkah?" Tanya Yoga memastikan. Bastian menganggukkan kepalanya.
" Benarkah itu Put? Kau sedang hamil saat ini?" Tanya Ara menatap Putri.
" Iya Kakak ipar. Aku hamil lima minggu." Sahut Putri.
" Alhamdulillah, jaga baik baik keponakanku itu. Semoga sehat dan lancar sampai persalinan." Ucap Ara.
" Amin." Sahut Putri.
" Mama ucapkan selamat sayang, Mama tidak menyangka di usia Mama yang sudah mulai renta ini, Mama bisa mendapatkan kebahagiaan yang luar biasa dari kalian semua. Mama selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian semua." Ucap nyonya Hana.
" Amin." Ucap mereka serempak.
" Rere siapa nama adikmu?" Tanya Putri menatap Rere.
" Bolehkah Aunti menggendong babby Zayn?" Tanya Putri.
" Boleh Aunti, tapi harus hati hati. adek Zayn tidak boleh jatuh apalagi terluka." Ujar Rere.
" Oh rupanya posesif juga ya nih kakak Rere." Ucap Putri.
" Baiklah kalau begitu, Aunti akan menggendongnya dengan hati hati seperti Aunti menggendong anak Aunti sendiri." Ujar Putri mengangkat Zayn dari ranjangnya.
" Uluh uluh keponakan Aunti yang sangat tampan. Ketampanannya benar benar paripurna seperti suamiku." Ucap Putri.
" Enak saja, lebih tampan kakak daripada Bastian." Sahut Yoga tidak terima.
" Siapa bilang? Orang masih tampanan mas Abbas kok." Ujar Putri.
" Tapi apa gunanya tampan sih kalau nyakitin, mending biasa biasa aja tapi membuat kita para kaum wanita bahagia." Sindir menohok hati keduanya.
" Itu kan dulu sekarang tidak. Aku sudah menebus rasa sakit itu dengan kebahagiaan Putri. Jadi jangan bahas hal itu itu lagi. Sekarang mari kita bahas hal hal baik yang membuat kita bahagia." Ujar Yoga.
" Baiklah." Sahut Putri.
" Mas lihat deh!" Putri mendekati Bastian.
__ADS_1
" Besok kalau anak kita laki laki mungil seperti ini tidak ya?" Tanya Putri menunjukkan Zayn kepada Bastian.
" Rere mau adik perempuan dari Aunti." Sahut Rere membuat mereka terkejut.
" Kok perempuan sih, Aunti kan penginnya laki laki seperti Zayn." Ujar Putri.
" Rere sudah punya Zayn, jadi Rere mau adek perempuan dari Aunti biar lengkap." Sahut Rere.
Putri menatap Bastian yang menganggukkan kepalanya.
" Baiklah tidak masalah, yang penting Rere bahagia." Sahut Putri.
" Terima kasih Aunti." Ucap Rere.
" Sama sama sayang." Sahut Putri.
Tak lama Dean, Doni, Leni dan Riani datang menjenguk Ara.
" Selamat Ra, semoga putramu menjadi anak sholeh yang berbakti kepada kedua orang tua." Ucap Riani memeluk Ara.
" Amin, terima kasih untuk doanya." Sahut Ara.
" Selamat Ra, cepat sehat ya." Ucap Leni.
" Terima kasih Leni, sehat untukmu juga." Ucap Ara mengelus perut buncit Leni.
" Selamat Ra, semoga kalian menjadi keluarga bahagia selamanya." Ucap Dean.
" Terima kasih Kak." Ucap Ara.
Mereka berkumpul sampai siang hari sambil berbincang bincang menemani Ara supaya Ara tidak kesepian, begitupun dengan kedua orang tua Ara. Mereka nampak sangat bahagia dengan lahirnya cucu pertama mereka. Tiada kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan ini. Kebahagiaan dimana seorang penerus keluarga lahir dengan selamat.
" *Terima kasih Tuhan atas kebahagiaan yang Kau limpahkan kepada keluargaku selama ini. Maafkan aku yang pernah khilaf karena menyakiti hati istriku sendiri, tapi sekarang aku hanya akan memberikannya kebahagiaan. Semoga Kau mengabulkan semua keinginan kami. Kami tidak meminta apapun kecuali, badan yang sehat, dan kebahagiaan yang sempurna. Masalah harta bisa di cari."
" Terima kasih Ara, kaulah sumber kebahagiaan kami. Aku sangat mencintaimu dan anak anak kita*." Batin Yoga.
...The End...
Terima kasih untuk para readers semua yang telah menemani author selama ini dari awal hingga akhir bab. Author meminta maaf jika cerita yang author berikan kurang berkenan di hati kalian semua.
Yang mau request cerita baru silahkan tulis di kolom komentar.
Author akan mengumumkan tiga pemenang pulsa besok sore ya..
Terima kasih...
Miss U All....
__ADS_1