DUDA SEDINGIN SALJU

DUDA SEDINGIN SALJU
KEMBALI KE RUMAH


__ADS_3

Ara dan Yoga menunggu Dean selesai mandi dengan duduk di sofa. Suster Riani yang sudah kembali kini membantu Dean berjalan menuju sofa, Dean duduk di depan Ara dan Yoga.


" Maaf saya permisi." Ucap Riani.


" Kamu di sini saja!" Ucap Dean mencekal tangan Riani.


" Tapi.. " Riani menatap Ara da Yoga bergantian.


" Tidak apa apa suster Riani, kami tidak sedang membicarakan hal penting. Silahkan duduk!" Ucap Ara.


" Baik Dok." Sahut Riani duduk di samping Dean.


" Begini Dean, kami ke sini mau pamit padamu. Kami mau kembali ke Jakarta nanti malam." Ucap Yoga menatap Dean.


" Baiklah hati hati. Aku minta maaf atas semua kesalahan yang telah aku perbuat padamu Ara, Yoga. Aku menyesal telah berbuat jahat pada kalian berdua. Aku telah memisahkan kalian dan membuat kalian menderita selama bertahun-tahun lamanya. Sekali lagi maafkan aku!" Ucap Dean.


"Kami sudah memaafkanmu Kak, semua yang terjadi adalah takdir yang Tuhan tuliskan untukku. Aku juga mau meminta maaf padamu karena selama ini aku telah menyia-nyiakan perjuanganmu. Maafkan aku karena tidak bisa membalas perasaan dan semua jasa jasamu padaku. Tapi aku rasa masalah perasaan sekarang sudah tidak penting lagi, sepertinya kak Dean sudah bisa move on." Ucap Ara menggoda Dean.


" Rupanya sekarang kau pandai menggoda Ara." Ucap Dean terkekeh.


" Kamu yang mengajarkannya padaku kan." Sahut Ara.


" Baiklah aku akan selalu mendoakan kalian berdua bahagia. Dan ucapanmu barusan benar Ara, aku memang sudah bisa move on darimu. Sekarang hatiku terpaut pada Riani." Ucap Dean menggenggam tangan Riani.


" Dia berhasil mencuri hatiku yang selama ini terpaut padamu. Aku mencintainya dan aku berencana untuk menikahinya setelah dia siap nanti." Ungkap Dean membuat Riani tersipu malu.


" Aku bahagia mendengar berita ini Kak, aku doakan semoga kalian berdua berjodoh dan hidup dengan bahagia." Ucap Ara.


" Terima kasih." Sahut Dean.


" Aku juga berterima kasih padamu karena telah menjaga Ara selama ini. Aku minta maaf karena telah membuatmu seperti ini. Semoga kau bahagia, kami pamit dulu." Ucap Yoga.


" Terima kasih, jaga Ara dengan baik karena jika kau melakukan kesalahan seperti dulu lagi, aku tidak bisa menjaga Ara. Kamu tahu kan saat ini sudah ada penggantinya." Ujar Dean.


" Aku akan menjaga Ara dengan baik." Ucap Yoga.


" Ayo sayang kita harus pergi sekarang." Ajak Yoga menggandeng tangan Ara.


" Baiklah ayo Mas." Sahut Ara.


" Suster Riani, aku titip kak Dean. Kalau dia nakal jewer saja telinganya." Ucap Ara.


" Siap Dok." Sahut Riani.


" Aku permisi." Ucap Ara.


" Hati hati." Sahut Riani.


Ara dan Yoga keluar dari ruangan Dean. Mereka berjalan menuju ruang professor Arsan untuk berpamitan. Setelah itu mereka kembali ke rumah Ara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Jam satu malam Ara dan Yoga sampai di rumah Yoga. Yoga menggandeng Ara masuk ke dalam rumahnya, Ara mengedarkan pandangannya. Masih sama seperti lima tahun yang lalu saat ia meninggalkan rumah ini.


" Mau ke kamar kita atau ke kamar Rere?" Tanya Yoga.


" Aku mau ke kamar Rere Mas, aku ingin tidur bersamanya." Sahut Ara.


" Kalau begitu malam ini kita tidur berdua, tapi tidak untuk besok malam karena malam malam berikutnya kita harus berusaha untuk membuat adik buat Rere." Ujar Yoga mengerlingkan sebelah matanya.


" Hmm genit kamu Mas." Ucap Ara tersenyum manis.


" Sama istri sendiri tidak apa apa, lagian kamu harus menebus hutang kamu selama lima tahun ini." Ujar Yoga.


" Apa? Lima tahun? Berarti banyak banget donk Mas." Ujar Ara.


" Enggak banyak kok, sehari tiga kali saja udah cukup." Sahut Yoga.


" Ti... Tiga kali?" Ara menelan kasar salivanya.


" Hmm... Semakin banyak semakin lunas hutang hutang kamu." Ucap Yoga.


Ara tidak bergeming, ia membayangkan bagaimana jadinya tubuhnya jika harus menjalankan tugasnya sehari tiga kali? Satu kali saja rasanya sudah remuk semua. Pikir Ara.


" Sudah tidak perlu di pikirkan! Kita jalani saja. Ayo masuk." Ucap Yoga menggandeng tangan Ara masuk ke dalam kamar Rere.


Ara menatap Rere yang sudah terlelap. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Tanpa terasa air matanya menetes begitu saja saat melihat foto fotonya memenuhi dinding kamar putrinya. Ara mengambil foto berbingkai yang ada di atas nakas, ia semakin terisak saat melihat fotonya yang sedang menggendong Rere waktu bayi terpapang jelas di sana.


" Hiks... " Ara memeluk bingkai foto itu.


" Maafkan aku yang telah meninggalkan kalian hiks.. " Ucap Ara terisak.


Yoga memeluk Ara dengan erat.


" Kamu tidak salah sayang, akulah yang bersalah dalam hal ini. Maafkan aku!" Ucap Yoga memcium pucuk kepala Ara.


" Pantas saja Rere mengenaliku begitu dia melihatku Mas. Aku tidak menyangka kau membuat kenangan antara aku dan Rere dan membuat ingatan Rere sangat jelas tentang sosokku. Terima kasih Mas, kau telah membuat Rere menjadi putriku yang sesungguhnya." Ucap Ara.


" Dia memang putrimu sayang, selamanya dia akan menjadi putrimu." Ucap Yoga.


" Sekarang istirahatlah! Rere pasti akan senang ketika dia melihatmu saat membuka matanya. Kita berikan kejutan untuknya." Sambung Yoga.


" Iya Mas." Sahut Ara.


Ara dan Yoga naik ke atas ranjang.


" Mas kamu di sisi sana, kenapa malah tidur di sampingku?" Bisik Ara takut mengganggu tidur Rere.


" Aku tidak bisa jauh darimu sayang, sekarang tidurlah! Biarkan aku memelukmu." Ucap Yoga memeluk Ara dari belakang.


Ara hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah Yoga. Mereka memejamkan mata bersama.


Pagi hari Rere mengerjapkan matanya. Ia merasa aneh bangun di pagi ini karena perutnya merasa berat. Ia menatap ke depan, sekilas ia melihat bayangan wajah Ara.

__ADS_1


" Mama." Ucap Rere mengucek kedua matanya.


" Beneran ini Mama." Ujar Rere.


Ara yang memang sudah bangun melempar senyuman manis ke arahnya.


" Mama... " Pekik Rere memeluk Ara.


" Papa manggil Jangan peluk peluk Mama." Ucap Rere menjauhkan tangan Yoga dari perut Ara.


" Astaga sayang kamu benar benar menjadi saingan Papa." Ujar Yoga melepas pelukannya.


" Biarin! Ini mama Rere bukan mamanya Papa." Ujar Rere mengeratkan pelukannya.


" Ini istri Papa sayang." Sahut Yoga tidak mau kalah.


" Bukan ini mamanya Rere." Kukuh Rere.


" Ini istri Papa sayang." Sahut Yoga.


" Ya sudah kalau begitu kita bagi adil." Ujar Rere beranjak duduk menatap papanya.


" Bagi adil gimana?" Tanya Yoga memastikan.


" Kalau malam mama punya Papa, tapi kalau siang mama punya Rere, gimana?" Ujar Rere memberikan penawaran.


" Berarti kalau malam Rere tidak boleh mengganggu mama karena mamamu milik Papa." Ucap Yoga.


" Oke, begitu juga dengan Papa. Papa tidak boleh mengganggu mama di siang hari karena mama milik Rere." Ucap Rere.


" Baiklah Papa setuju." Ucap Yoga.


" Berarti sekarang Papa tidak boleh dekat dekat sama mama. Papa keluar sana dari kamar Rere!" Usir Rere membuat Yoga melongo.


" Buruan Pa!" Sambung Rere mendorong tubuh Yoga.


" Baiklah baiklah Papa keluar." Ucap Yoga turun dari ranjang. Jika sudah berhadapan dengan putrinya ia pasti kalah.


Yoga berjalan menuju pintu, tiba tiba ia kembali menghampiri Ara.


" Aku tunggu di kamar sayang, kamu harus tetap menyiapkan segala keperluanku." Ucap Yoga.


" Iya Mas." Sahut Ara.


Tiba tiba..


Cup...


Yoga mencium kening Ara.


" Papa!!!""""

__ADS_1


TBC....


__ADS_2