DUDA SEDINGIN SALJU

DUDA SEDINGIN SALJU
MENGUNGKAP KEBENARAN


__ADS_3

Hari ini Dean dan Doni mendatangi rumah Luna yang ada di perumahan xx di pinggir kota Jakarta. Mereka nampak duduk di sofa ruang tamu menunggu Luna yang sedang ada di kamarnya.


Tak lama Luna keluar sambil menggandeng putranya yang bernama Deni.


" Deni itu a....


" Luna, tolong bawa Deni masuk dulu! Aku ingin membicarakan hal penting denganmu." Ucap Doni memotong ucapan Luna.


" Kamu tidak mau bertemu dengan pu...


" Aku mohon menurutlah!" Titah Doni.


" Baiklah." Sahut Luna menghela nafasnya pelan.


" Deni, kamu bermain di kamar dulu ya! Mama ada urusan sebentar." Ujar Luna.


" Iya Ma." Sahut Deni kembali ke dalam kamarnya.


Luna duduk di sofa berseberangan dengan Doni dan Dean.


" Katakan hal apa yang ingin kau bicarakan padaku selain pernikahan." Ucap Luna menatap Doni.


" Luna sebenarnya aku bukan Ayah kandung Deni."


Jeduarrrr....


Bagai di sambar petir di siang bolong, Luna nampak begitu kaget akan hal itu.


" Tidak... Ini tidak mungkin. Kau pasti berbohong, kau pasti berbohong!!!" Teriak Luna menutup kedua telinganya dengan tangannya.


" Luna kendalikan dirimu!" Ucap Doni mendekati Luna.


" Kau berbohong Doni, kalau bukan kau Ayah kandung Deni lalu siapa? Siapa ayahnya?" Tanya Luna menatap Doni dengan mata berkaca kaca.


" Aku juga tidak tahu, waktu itu kami menemukanmu dalam keadaan tragis. Sepertinya kau telah di gilir oleh beberapa preman."


Plak....


Tiba tiba Luna menampar keras pipi Doni.


" Apa ini caramu lepas dari tanggung jawab? Kalau kau tidak mau bertanggung jawab setidaknya kau tidak merendahkan aku." Teriak Luna menunjuk wajah Doni.


" Luna, tapi itulah kenyataannya." Ujar Doni.


" Aku tidak percaya, kau laki laki pecundang yang tidak bisa di percaya. Kalau kau tidak mau mengakui Deni sebagai anakmu dan tidak mau menikahiku, maka aku akan melenyapkannya. Aku akan membuang Deni ke laut sampai dia tenggelam di sana." Ucap Luna membuat Dean dan Doni terkejut.


" Luna, Deni tidak tahu apa apa. Dia tidak berdosa Luna, jangan lakukan itu!" Ucap Dean.


" Aku tidak peduli, gara gara dia aku hidup menderita selama ini. Gara gara dia aku di cemooh oleh semua orang, mereka bilang aku hamil tanpa suami. Bertahun tahun aku menahan cemoohan itu, tapi sekarang aku tidak kuat lagi. Aku tidak kuat jika harus menahan hinaan mereka lebih lama lagi. Lebih baik aku mati, aku akan membawa Deni bersamaku." Ucap Luna beranjak.

__ADS_1


Luna kembali ke kamarnya, ia menarik tangan Deni keluar kamar menuju pintu.


" Luna tunggu!" Ucap Dean mrncekal tangan Luna.


" Lepaskan aku!!" Bentak Dean.


" Masalah ini bisa di bicarakan dengan baik Luna, tenanglah! Sekarang duduk dulu!" Ucap Dean.


" Tidak... Jika Doni tidak mau menikahiku, maka aku akan pergi untuk selamanya bersama anak s!al ini! Aku menyesal telah melahirkan dan membesarkannya jika ternyata dia bukan anak Doni. Kalau aku sejak awal, aku pasti sudah melenyapkannya sejak lama." Ucap Luna.


" Mama siapa om om itu? Telus kita mau kemana Ma?" Tanya Deni menatap Luna.


Dean dan Doni menatap iba kepada Luna dan anaknya. Doni hendak mendekati Deni namun Dean menahannya. Ia mencekal tangan Doni sambil menggelengkan kepalanya.


" Mereka bukan siapa siapa, ayo sekarang kita pergi. Kita akan pergi jauh dari sini untuk selamanya." Ucap Luna menarik Deni menuju mobilnya.


" Bagaimana Dean? Apa kita harus membiarkan Luna membawa Deni begitu saja?" Tanya Doni khawatir. Bagaimanapun Deni tidak bersalah, ia tidak mau sampai terjadi apa apa dengan Deni walaupun ia bukan siapa siapa.


" Tenanglah! Evan sudah standby di ujung jalan. Dia akan mengikuti mobil Luna untuk menyelamatkan Deni." Ujar Dean.


" Syukurlah kalau begitu." Ucap Doni bernafas lega.


Luna melajukan mobilnya tanpa arah. Sesekali ia menoleh ke belakang untuk memastikan jika mobil Doni mengikutinya, namun sampai sejauh ini tidak nampak.


" Sial... Mereka tidak mengejarku. Apa mereka pikir aku main main dengan semua ucapanku? Aku tidak akan segan segan mengorbankan anak ini demi mendapatkan Doni." Ucap Luna.


" Lagian Deni bukan anak kandungku, tentu saja aku tidak akan segan melenyapkannya. Untuk apa aku lebih lama mengurusnya jika dia tidak membawa keuntungan untukku. Aku sudah rela membesarkannya selama tiga tahun ini, andai saja anakku masih hidup. Aku pasti akan mencari cara lain untuk mendapatkan Doni."


" Ma kita mau kemana? Kenapa Mama teltawa sepelti itu?" Tanya Deni.


" Kemana saja, lebih baik kau diam atau aku akan membuangmu ke laut sana biar kau di makan ikan hiu! Jangan banyak bicara! Dan ingat! Kalau nanti kau di tanya oleh orang lain, jangan pernah mengadukan sikapku kepadamu selama ini! Jangan pernah memberitahu mereka kalau aku sering menyiksamu selama ini. Apa kau mengerti?" Ucap Luna.


" Baik Ma aku mengelti." Sahut Deni patuh.


" Bagus.. Aku akan mempertemukanmu dengan papamu kalau kau patuh seperti ini. Tinggal selangkah lagi aku pasti akan mendapatkannya. Kalau tidak, aku akan membawamu ke panti asuhan." Ucap Luna terus melajukan mobilnya.


Di dalam mobil Doni, ia dan Dean nampak sangat terkejut mendengar ucapan Luna.


Ya.. Evan memasang alat penyadap suara di dalam mobil Luna yang terhubung dengan ponsel Dean.


" Apa ini bisa membuktikan jika Luna baik baik saja?" Tanya Doni menatap Dean.


" Bisa jadi." Sahut Dean.


" Berarti Luna sengaja memanfaatkan putranya untuk menjebakmu Don." Sambung Dean.


" Ternyata dia wanita yang licik. Kita ikuti saja permainannya demi menyelamatkan Deni. Aku merasa Deni tidak aman bersama wanita sepertinya Dean. Kita harus menjauhkan Deni dari wanita seperti dia." Ujar Doni.


" Kau benar, kita akan mengikuti mobilnya." Ujar Dean.

__ADS_1


Dean segera melajukan mobilnya menuju lokasi mobil Luna saat ini. Keduanya sangat terkejut saat mengetahui jika Luna berada di sebuah jembatan.


" Lebih cepat Dean, sebelum terlambat." Ucap Doni.


" Baiklah, kau hubungi Evan dan minta dia untuk membawa anak buahnya. Kita harus mengantisipasi jika Luna mendorong Deni ke bawah." Ujar Dean.


" Baiklah." Sahut Doni segera menghubungi Evan.


Lima belas menit, mereka sampai di jembatan besar yang ada di pinggiran kota. Suasana di sana nampak sepi, jarang kendaraan yang melintas di sana. Mereka berdua segera turun dari mobil.


" Luna." Panggil Doni.


Luna tersenyum melihat Doni berlari ke arahnya.


" Jangan mendekat!" Ucap Luna menghentikan langkah Doni.


" Sekali lagi aku tanya padamu, apa kau bersedia menikahiku atau tidak?" Tanya Luna menatap Doni.


" Luna coba mengertilah, aku.... "


" Baiklah jika itu maumu." Ucap Luna memotong ucapan Doni.


Luna menggendong Deni naik ke atas jembatan.


" Luna jangan gila!" Ucap Doni.


" Aku bila karena kamu Doni. Kau membiarkan aku membesarkan anak kita sendiri. Tapi setelah kau menikah kau mau lepas tanggung jawab denganku. Aku akan pergi bersama anakmu, semoga kau bahagia." Ucap Luna.


Luna menatap ke bawah, melihat derasnya air yang mengalir di bawah sana.


" Deras juga airnya... Ayo Doni cepat selamatkan aku... Aku sudah tidak kuat berdiri di sini, apalagi menggendong anak kecil ini. Cepat katakan jika kau mau menikahiku. Cepat katakan Doni!" Batin Luna.


Luna hilang keseimbangan, tiba tiba kakinya terpelesat dan......


Dan apa ya? Penasaran nggak nih? Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya buat author biar author semangat ngetiknya


Terima kasih...


Miss U All...


TBC...


Yang belum mampir ke karya baru author ayo donk buruan mampir...


Baru up nih....



Udah episode 20 ya...

__ADS_1



__ADS_2