
Saat ini Ara dan bayinya sudah di pindahkan ruang rawat. Kedua orang tua Ara, nyonya Hana dan Rere berdiri mengerubungi Ara yang sedang berbaring di ranjangnya. Mereka nampak sangat bahagia dengan kehadiran babby Ara.
" Tampan sekali cucu Oma, siapa namanya sayang?" Tanya nyonya Aisyah sambil menggendong babby Ara.
" Kami memberinya nama Arham hakeem Nazir Bun." Sahut Ara.
" Seorang penyayang yang cerdas dan bijaksana, semoga kau menjadi anak sholeh yang tumbuh seperti doa ibumu Nak." Ucap nyonya Aisyah.
" Amin." Ucap yang lainnya.
" Rere mau gendong dedek Arham juga Oma." Ucap Rere kepada nyonya Aisyah.
" Untuk saat ini Kak Rere belum boleh menggendong dedek Arham, nanti kalau dedeknya udah gedhean dikit baru Rere boleh gendong." Ujar nyonya Aisyah.
" Begitu ya Oma." Ucap Rere.
" Iya sayang. Takutnya nanti dedeknya jatuh dari gendongan Rere gimana?" Sahut nyonya Aisyah sambil tersenyum.
" Baiklah Oma, Rere tidak akan menggendongnya saat ini. Rere tidak mau dedeknya nanti terluka. Tapi kalau cium boleh kan Oma?" Rere bertanya lagi.
" Boleh tapi pelan pelan ya, mau cium dedek Arham?"
Rere menganggukkan kepalanya. Nyonya Aisyah membungkuk memudahkan Rere mencium babby Arham.
Cup...
Rere mengecup pipi mungil babby Ara dengan lembut.
" Hai dedek Arham. Kak Rere jadi tidak sabar ingin cepat cepat kamu besar Dek biar kita bisa main bersama. Sehat terus ya dan makan yang banyak biar cepat besar seperti Kakak." Ucap Rere. Semua orang nampak tersenyum melihat kebahagiaan yang Rere pancarkan di wajahnya. Ia benar benar menyayangi adiknya.
" Aku juga mau gendong Jeng." Ujar nyonya Hana.
" Silahkan Mbak." Sahut nyonya Aisyah memberikan babby Arham.
" Selamat datang di keluarga kami sayang, kamu sama persis dengan papamu saat masih bayi dulu. Hidungnya, matanya, bibirnya, benar benar mirip papa Yoga. Tapi Oma berharap semoga kelakuan kamu nanti tidak seperti papamu yang kurang bersyukur dengan segala sesuatunya." Ucap nyonya Hana melirik Yoga.
" Kok Mama gitu sih, harusnya Mama jangan memberitahu anakku tentang kelakuan burukku Ma. Katakan saja yang baik baik, kalau yang buruk jangan pernah katakan padanya. Biar itu menjadi rahasia kita semua." Ujar Yoga tidak terima.
" Tidak apa apa, itu sebagai pelajaran untukmu agar kelak jika kau melakukan sesuatu di pikir dulu." Sahut nyonya Hana.
__ADS_1
" Sudahlah Ma, jangan membahas masa lalu lagi! Lebih baik kita bahas masa depan kita." Ujar Ara.
" Masa depan bagaimana? Apa kalian ingin membangun masa depan dengan keluarga kecil kalian? Apa kalian berniat pindah rumah dan meninggalkan Mama sendiri?" Selidik nyonya Hana menatap keduanya.
" Mas Yoga yang merencanakannya Ma." Sahut Ara menundukkan pandangannya.
" Mama tidak setuju Yoga, apa kau tega meninggalkan Mama sendiri? Mungkin sebentar lagi Putri akan menikah dan ikut suaminya. Lalu apa kau tega membiarkan Mama hidup sendiri?" Ujar nyonya Hana menatap Yoga.
" Tenang Ma! Ini hanya rencana saja, jika Mama keberatan kami tidak akan pindah. Kami akan tetap bersama Mama selamanya." Ucap Yoga.
" Benarkah?" Tanya nyonya Hana.
" Tanyakan saja pada menantu kesayangan Mama!" Sahut Yoga.
" Ara, jika Mama melarang kalian pindah rumah, apa kamu bersedia?" Tanya nyonya Hana menatap Ara.
" Iya Ma, aku hanya mengikuti kemana mas Yoga pergi." Sahut Ara.
" Syukurlah kalau begitu, Mama beruntung punya menantu yang pengertian sepertimu. Semoga kalian bahagia, doa Mama menyertai kalian sayang." Ucap nyonya Hana.
" Amin... Terima kasih Ma." Ucap Ara di balas senyuman oleh ibu mertuanya.
Mereka melanjutkan mengobrol sambil sesekali bergantian menggendong babby Arham. Ara tidak pernah menyangka ia bisa mendapatkan kebahagiaan seperti sekarang ini. Ia merasa sangat bersyukur hidup bahagia bersama keluarga kecilnya.
Hari ini Ara dan babby Arham sudah berada di rumah. Dean, Riani, Doni dan Leni menjenguknya, mereka berempat duduk di sofa menghadap Ara yang duduk di tepi ranjang sambil memangku babby Arham.
" Aaaahhh... Imut banget babby kamu Ra. Bagaimana cara membuat yang seperti ini? Jadi ingin aku bawa pulang Ra." Ujar Riani mengelus pelan pipi babby Arham.
" Kita juga bisa membuat yang seperti itu sayang, kalau tidak percaya jika kamu hamil nanti pasti babbynya lucu seperti itu." Sahut Dean.
" Kita sudah membuatnya setiap hari Mas, tapi kenyataannya tidak jadi jadi. Sedangkan Ara hanya butuh waktu satu bulan untuk mendapatkannya." Ujar Riani.
" Sabar Riani, semuanya butuh proses dan waktu sendiri. Tuh buktinya Leni sudah memetik buah kesabarannya." Ujar Ara.
" Bagaimana kabarnya Len?" Tanya Ara menatap Leni.
" Alhamdulillah baik Ra, dia sudah memulai aktif di dalam sini. Aku sering merasa seperti ada berjalan di dalam sini. Kadang kadang aku terkejut sendiri saat dia berusaha menendang." Sahut Leni mengelus perutnya yang kelihatan membuncit.
Ya... Saat ini Leni sedang mengandung tiga bulan. Ia dan Doni merasa bahagia dengan kehadiran calon buah hati mereka berdua. Sedangkan Riani sedang menunggu saat saat itu tiba. Ia juga sudah periksa ke dokter kandungan, dan hasilnya sehat semua.
__ADS_1
" Syukurlah kalau begitu, semoga sehat sampai persalinan nanti." Ucap Ara.
" Amin." Sahut Leni.
" Boleh aku menggendongnya Ra? Kata orang Jawa kalau babby Arham pipis saat aku gendong, aku bisa hamil secepatnya." Ujar Riani.
" Hamil atau tidak itu sudah rejeki dari Allah Riani, bukan karena hal mitos semacam itu. Percayalah hanya kepada Allah karena segala sesuatunya adalah kehendakNya." Ujar Ara.
" Iya sih, tapi tidak apa apa. Aku memang ingin menggendong babby Arham." Ucap Riani mengambil alih gendongan babby Arham.
" Uluh uluh keponakan aunti cakep sekali. Besok kalau aunti punya anak perempuan, mau ya jadi menantu aunti." Ujar Riani.
" Nggak bisa! Kalau anakku perempuan, babby Arham jadi menantuku saja." Sahut Leni.
" Aku duluan yang mengecapnya sebagai milikku, kamu cari yang lain saja. Lagian kurang seru kalau suami istri hanya terpaut beberapa bulan saja. Akan lebih baik biar kita bisa di mengerti oleh suami, usia kita jauh lebih muda dari usianya." Ujar Riani.
" Kamu dapat teori darimana sih? Bisa bisanya punya pemikiran seperti itu. Ada ada saja." Ucap Leni terkekeh.
" Yei... Biasanya kan cewek punya pemikiran seperti itu, istilah jawanya itu biar kita di momong sama suami kita, bukan ngemong." Sahut Riani.
Ara dan suami keduanya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat perdebatan mereka berdua.
" Dengarlah sahabat sahabatku! Alangkah lebih baiknya jika putraku mendengar hal hal yang baik seperti lantunan sholawat atau tausiyah. Bukan malah mendengarkan perdebatan kalian berdua seperti sekarang ini." Ujar Ara membuat keduanya diam.
" He he maaf Bu ustadzah, kami tidak bermaksud membuat babby Azzam mendengarkan hal yang tidak baik. Tapi sedang berebut untuk meminang babby Arham sebagai calon menantu kami." Ujar Riani.
" Supaya kalian tidak saling berebut dan menyebabkan perdebatan. Aku doakan semoga anak kalian berdua laki laki. Jadi kalian bisa mencari calon menantu sendiri sendiri." Ujar Ara.
" Iya kau benar Ra. Ternyata memang benar jika seorang dokter harus benar benar pintar." Ujar Leni.
" Iya, kita yang otaknya pas passan hanya jadi asistentnya saja." Ucap Riani.
" Tapi kalau tidak ada kalian aku juga tidak bisa apa apa. Kalianlah yang sangat berperan di sini. Terima kasih telah menemaniku dan membantuku dalam perkerjaan maupun yang lainnya selama ini." Ucap Ara.
" Sama sama." Sahut keduanya.
TBC....
Yang belum mampir ke karya baru author, author tunggu di sana ya...
__ADS_1
Jangan lupa tekan like, koment vote dan 🌹 yang banyak buat author...
Miss U All....