DUDA SEDINGIN SALJU

DUDA SEDINGIN SALJU
INSIDEN PENYELAMATAN


__ADS_3

Luna kehilangan keseimbangan, tiba tiba kakinya terpeleset dan salah satu anak buah Dean segera berlari menarik Deni dari tangan Luna.


Tubuh Luna terjun ke bawah tanpa bisa di tolong oleh anak buah Dean.


" Aaaaaaaaaaa" Teriak Luna.


" Luna!!!" Teriak Doni dan Dean bersamaan.


" Mama... " Teriak Deni sambil menangis.


Byurrrrr


Tubuh Luna terjebur di sungai terbawa derasnya aliran sungai tersebut.


" Cepat selamatkan dia!!" Titah Dean.


Kelima anak buah Dean segera turun ke bibir sungai untuk melakukan penyelamatan.


" Mama hiks... Hiks... " Isak Deni.


" Sayang sini sama Om." Ucap Doni.


" Biar sama aku saja, aku yang akan menjadi ayahnya." Sahut Dean mengambil alih gendongan Deni dari Evan.


" Om siapa?" Tanya Deni menatap Dean.


" Aku Papamu." Ucap Dean.


" Papa? Benarkah om Papaku?" Tanya Deni memastikan.


" Iya. Kita akan pulang bertemu dengan mama kamu." Ucap Dean.


" Mama Deni?" Tanya Deni bingung.


" Iya mama Deni yang sebenarnya. Bukankah mama yang itu selalu bersikap buruk pada Deni?" Ujar Dean.


Deni nampak diam saja, ia sudah berjanji kepada Luna untuk tidak memberitahu soal ini kepada siapapun.


" Papa tahu, mama palsumu itu memintamu untuk menyembunyikan perbuatan buruknya dari siapapun. Tapi sekarang jangan takut lagi, ada Papa di sini yang akan menolongmu." Ucap Dean mencium pipi Deni.


Tiba tiba Deni merangkul leher Dean.


" Hiks hiks.. Mama jahat, mama selalu memukuliku kalau mama sedang marah. Mama bilang akan membuangku ke laut kalau aku tidak menuruti perkataan mama." Ucap Deni mengadu.


" Tenanglah sayang, sekarang kamu sudah bertemu papa dan mamamu yang sebenarnya. Ayo kita pulang! Mama pasti sudah menunggu kita di rumah." Ucap Dean membawa Deni ke mobil.

__ADS_1


Sekarang giliran Doni yang melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah. Masalah Luna biar menjadi tugas Evan. Dean nampak duduk sambil memangku Deni.


" Papa apa mama yang papa bicarakan tidak sejahat mama Luna?" Tanya Deni menatap Dean.


Dean tersenyum menatap Deni.


" Tentu saja tidak, mama Deni yang sekarang namanya mama Riani. Mama Riani seperti dewi yang berhati malaikat. Mama Riani pasti akan menyayangimu dengan sepenuh hati. Kau pasti akan senang hidup bersama kami. Dan ya... Sebentar lagi kamu bakal jadi abang karena mama Riani sedang hamil saat ini." Ucap Dean.


" Yeiii Deni mau jadi abang." Sorak Deni.


" Deni harus ingat! Deni tidak boleh nakal di rumah, Deni harus menjaga mama saat papa ada di kantor. Papa akan membelikan mainan untukmu nanti, tapi setelah mainan kamu harus membereskannya sendiri. Tidak boleh bergantung pada mama karena mamamu tidak boleh sampai kecapekan. Apa kamu mengerti?" Tanya Dean menatap Deni.


" Mengerti Pa." Sahut Deni.


Tiga puluh menit mereka sampai di rumah. Dean segera turun dari mobil masuk ke dalam rumahnya sambil menggendong Deni. Riani dan Leni yang sedang duduk menunggu mereka di ruang tamu segera berdiri setelah melihat kedatangan Dean.


" Mas dia.. " Riani menjeda ucapannya.


" Iya, ini Deni. Putra kita." Sahut Dean.


Riani nampak menatap Deni dengan intens. Wajah mungil, kulit bersih, hidung mancung dan pipi tirus. Sepertinya Luna tidak merawatnya dengan baik, pikir Riani.


" Papa yang mana mama Riani?" Tanya Deni membuat Riani tersenyum.


Deni menatap Riani dan Leni bergantian.


" Ini." Ucap Deni menunjuk Riani.


" Sayang." Ucap Riani mengulurkan kedua tangannya.


" Nggak mau." Deni menggelengkan kepalanya membuat Riani terkejut dengan penolakan Deni.


" Kata papa, Mama tidak boleh menggendong Deni karena Mama sedang hamil. Deni tidak mau adek bayi kenapa napa." Sambung Deni.


Riani tersenyum mendengarnya.


" Baiklah kalau tidak mau Mama gendong, maka Mama akan memangkumu. Duduk sini, mama merindukanmu sayang." Ucap Riani kembali duduk di sofa.


Riani dan Dean sepakat untuk mengadopsi Deni dan bersikap seolah olah mereka adalah orang tua dan anak yang lama terpisahkan. Dengan begitu Deni akan menganggap jika mereka kedua orang tua kandungnya.


Deni duduk di pangkuan Riani, sedangkan Dean duduk di sebelah Riani. Riani mengelus elus kepala Deni.


" Terima kasih sayang atas kebesaran hatimu. Aku akan mengurus proses adopsi Deni dan mencari tahu siapa orang tua kandungnya. Aku khawatir Luna menculiknya dari seseorang." Ujar Dean.


" Iya Mas, kita harus melindunginya dari wanita sejahat Luna." Ujar Riani.

__ADS_1


Tanpa sengaja kaos yang di pakai Deni tersingkap.


" Astaga." Ucap Riani saat melihat ruam ruam di punggung Deni.


" Ada apa sayang?" Tanya Dean.


Riani melepas kaos yang di pakai Deni. Betapa terkejutnya mereka semua saat melihat beberapa luka lebam nampak menghiasi punggung dan perut Deni.


" Sayang ini bekas luka apa?" Tanya Riani.


Deni bungkam, ia tidak mau bicara.


" Katakan pada Mama, siapa yang melakukan ini? Mama tahu ini bekas cubitan. Apa Luna yang melakukannya?" Tanya Riani menangkup wajah Deni. Deni menganggukkan kepalanya.


" Benar benar wanita biadab, bagaimana bisa di melakukan hal seperti ini pada anak sekecil Deni? Ya Tuhan... Manusia seperti apa Luna itu? Aku yang tadinya iba mendengar kisah pilunya sekarang berubah menjadi benci. Aku membenci wanita yang tega menyakiti putranya. Walaupun Deni bukan darah dagingnya setidaknya dia telah menjadi ibunya selama bertahun-tahun. Dia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya mendambakan seorang anak sepertiku." Ucap Riani geram.


" Kasihan sekali Deni, beruntung Deni berhasil di selamatkan." Ucap Leni.


" Aku mengutuk wanita itu karena telah berbuat hal buruk pada putraku, jika sampai dia selamat, aku akan menamparnya berkali kali sampai pipinya memerah." Ucap Riani.


" Aku akan menjambak rambutnya sampai rontok." Sahut Leni memutar mutar tangannya.


Dean dan Doni bergidik ngeri melihatnya.


" Ternyata emak emak kalau lagi emosi serem juga Don." Ucap Dean.


" Iya, aku juga ngeri melihatnya." Sahut Doni.


" Makanya jangan membuat masalah dengan para emak emak. Atau kalian akan tahu betapa dahsyatnya the power of emak emak." Ucap Leni.


" Mas tolong ambilkan salep di kotak p3k, luka lebam seperti ini harus di obati. Kasihan nanti rasa sakitnya akan menjadi." Ujar Riani.


" Baiklah sayang, akan aku ambilkan." Ucap Dean beranjak.


Tak lama Dean kembali dengan membawa salep di tangannya. Dengan telaten Riani mengoleskan salep itu pada luka lebam di tubuh Deni.


" Semoga proses adopsinya cepat ya Mas, aku tidak sabar ingin menjadikan Deni milikku. Aku akan merawatnya dengan penuh kasih sayang dan cinta yang selama ini tidak ia dapatkan dari Luna. Aku benar benar prihatin melihatnya seperti ini." Ujar Riani.


" Akan aku usahakan sayang, Deni akan menjadi anak kita selamanya." Sahut Dean.


Doni dan Leni menatap haru pada kedua pasangan yang sama sama memiliki kebesaran hati. Ia bahkan merasa jika dirinya tidak bisa seperti Dean dan Riani.


" Semoga kalian berbahagia sahabatku." Batin Leni.


TBC....

__ADS_1


__ADS_2