DUDA SEDINGIN SALJU

DUDA SEDINGIN SALJU
BERTEMU KELUARGA


__ADS_3

Malam hari Rere, Putri dan nyonya Hana mengunjungi Yoga di rumah sakit. Mereka masuk ke dalam menghampiri Yoga di ranjangnya.


" Papa... Mama dimana?"


Bukannya menanyakan kabar papanya, Rere malah lebih tertarik menanyakan mamanya.


" Ada di kamar mandi, mama sedang mandi sayang." Sahut Yoga.


" Apa kamu tidak khawatir dengan kondisi Papa? Kenapa yang di tanyakan cuma mama saja?" Sambung Yoga.


" Rere sudah melihat kondisi Papa, Papa baik baik saja kan? Rere kangen sama Mama." Sahut Rere.


Ceklek....


Ara keluar dari kamar mandi, melihat mamanya berdiri di depan pintu Rere langsung berlari memeluk pinggang Ara.


" Mama Rere kangen sama Mama." Ucap Rere.


" Mama juga kangen sama Rere, kamu baik baik saja? Apa mereka menyakitimu?" Tanya Ara mengaku wajah Rere.


" Tidak Ma, opa Alif menolong Rere dari mereka semua. Mereka telah di bawa polisi." Sahut Rere.


" Opa tidak ikut ke sini?" Tanya Ara celingak celinguk.


" Kata opa, opa lelah. Mungkin opa ke sininya besok pagi." Ucap Rere.


" Baiklah tidak masalah." Sahut Ara.


Ara menggandeng Rere mendekati mertua dan adik iparnya.


" Mama." Ucap Ara memeluk nyonya Hana.


" Bagaimana kabar Mama?" Tanya Ara.


" Sekarang Mama merasa lebih baik karena kamu sudah kembali Ra." Sahut nyonya Hana.


" Maafkan aku Ma! Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata yang terjadi di sini hanya salah paham saja." Ujar Ara.


" Iya Nak, tidak masalah. Inilah yang di namakan ujian, tapi setelah kalian berhasil melewatinya kalian mendapatkan kebahagiaan kan? Semoga setelah ini tidak akan lagi perpisahan. Kalian akan tetap bersama selamanya hingga melahirkan cucu yang lucu lucu untuk Mama." Ucap nyonya Hana.


" InsyaAllah Ma." Sahut Ara.


Ara beralih menatap putri, mereka saling melempar pandangan untuk beberapa saat sampai...


" Ara."


" Putri."


Mereka berpelukan layaknya teletubbies.


" Aku kangen banget sama kamu Ara." Ucap Putri.


" Aku juga kangen Put." Sahut Ara.


" Gimana kamu hidup selama lima tahun ini? Apa kamu baik baik saja?" Tanya Putri menatap Ara.


" Kamu lihat sendiri kan kalau aku baik baik saja." Ujar Ara.


" Iya kau benar, kau memang baik baik saja tapi aku yakin hatimu yang tidak baik baik saja. Kau pasti sangat tersiksa karena harus berpisah dengan Rere. Pikiranmu pasti tidak fokus pada pekerjaanmu, kau pasti memikirkan Rere kan?" Tebak Putri.

__ADS_1


" Jujur saja aku memang selalu memikirkan Rere, tapi itu hanya di awal saja. Selebihnya aku bisa menatap hidupku dengan baik. Terima kasih sudah menjaga Rere untukku." Ucap Ara.


" Kembali kasih Ara." Sahut Putri.


" Mama sudah belum ngobrolnya? Rere mau main game di temani sama Mama." Ucap Rere.


" Baiklah sayang, ayo!" Ara menggendong Rere menuju sofa.


" Duh ternyata anak Mama sudah besar, sudah berat buat di gendong." Ujar Ara.


" Iya Ma, kata papa kalau mau ketemu Mama, Rere harus makan yang banyak biar cepat besar. Biar Mama makin sayang sama Rere kalau Rere jadi anak penurut." Sahut Rere.


" Pintar." Ucap Ara memangku Rere duduk di sofa.


" Rere duduk sendiri, kasihan mama nanti kakinya bisa sakit." Ujar Yoga menatap mereka berdua.


" Iya Ma Rere duduk sendiri saja." Ujar Rere.


" Tidak apa sayang, katanya Rere kangen sama Mama? Masa' duduknya jauh jauhan. Udah sekarang main game nya! Mama mau lihat Rere pandai memenangkan game atau tidak." Ucap Ara.


" Iya Ma." Sahut Rere mulai memainkan game teka tekinya.


" Ara kakimu akan kebas nanti, Rere sudah besar sayang." Ucap Yoga.


" Tidak apa apa Mas, Mas tenang saja." Sahut Ara.


Yoga hanya menghela nafasnya pelan.


" Hmm sudah mulai posesif aja nih kak Yoga." Ucap Putri menggoda Yoga.


" Apaan sih kamu." Sahut Yoga.


" Ya nggak gitu juga kali Put, sudah ah kamu diam saja jangan menggoda Kakak begitu." Ujar Yoga.


" Iya deh iya." Sahut Putri.


Putri dan nyonya Hana ikut bergabung dengan Ara dan Rere. Mereka duduk di sofa di depan Ara. Yoga selalu menatap Ara, ada perasaan membuncah dalam hatinya.


Satu menit, dua menit, tiga puluh menit hingga hampir satu jam lamanya Yoga merasakan di abaikan. Hatinya merasa kesal dengan Ara yang malah memilih menemani Rere daripada dia.


" Awh sakit." Pekik Yoga melirik Rere.


" Kenapa mas?" Tanya Ara cemas.


" Sayang kamu duduk dulu." Ara menurunkan Rere di sofa lalu ia mendekati Yoga.


Putri dan nyonya Hana saling melempar senyum dan tatapan. Mereka tahu apa yang coba Yoga lakukan.


" Mana yang sakit Mas?" Tanya Ara menatap Yoga.


" Kamu tahu suaminya lagi sakit malah di abaikan gitu aja." Ucap Yoga.


" Maaf Mas! Mana yang sakit biar aku obati." Ucap Ara.


Yoga menggenggam tangan Ara lalu meletakkannya di dadanya.


" Hatiku sakit karena tidak kau perhatikan." Ucapan Yoga.


" Hmm mulai manja nih." Ujar Ara

__ADS_1


" Iya, Mas pengin di manja sama kamu. Mas ingin kamu menebus waktu yang telah hilang selama lima tahun ini. Tetaplah berada di dekatku karena aku tidak mau jauh darimu sayang. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Ucap Yoga mencium punggung tangan Ara.


Ara tersenyum menatap Yoga.


" Senyumanmu meneduhkan hatiku Ara. Maaf jika selama ini aku hanya bisa membuatmu menangis. Aku menyesali semua perbuatanku kepadamu. Aku minta maaf." Ucap Yoga.


" Aku sudah memaafkanmu Mas, mari kita lupakan masa lalu dan kita buka lembaran yang baru. Jangan pikirkan masa masa yang sudah berlalu itu Mas, cukup jadikan pelajaran saja." Ujar Ara.


" Tentu sayang." Sahut Yoga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi ini Ara sedang menyuapi Yoga, tiba tiba pintu di ketuk dari luar.


" Masuk." Ucap Ara.


Ceklek.....


Ara menoleh ke arah pintu, ia tersenyum melihat kedua orang tuanya berdiri di sana.


" Ayah, Bunda." Ucap Ara.


Ara meletakkan piringnya di atas nakas lalu ia menghampiri kedua orang tuanya.


" Bunda Ara kangen banget." Ucap Ara menyalami nyonya Aisyah dengan takzim. Lalu ia memeluk bundanya dengan erat meluapkan kerinduan yang mendalam di dalam hatinya.


" Bunda juga kangen sama kamu sayang, alhamdulillah kamu baik baik saja. Bunda lega melihatnya sayang." Ucap nyonya Aisyah menangkup wajah Ara. Ia menciumi pipi putri yang selama ini sangat ia rindukan.


Ara beralih menatap ayahnya, tuan Alif menarik Ara ke dalam pelukannya.


" Ayah minta maaf Ara!" Ucap tuan Alif.


" Ara sudah memaafkan Ayah." Sahut Ara.


" Ayah menyesal telah memisahkan kalian berdua dan mempercayakan kamu kepada Dean. Ayah berpikir kau akan bahagia hidup bersama Dean, tapi ternyata Ayah salah. Ayah justru membawamu kepada penderitaan dan kesepian. Maafkan Ayah Nak! Ayah tidak bisa menjadi Ayah yang baik untuk putrinya sendiri. Ayah menyesal Nak." Ucap tuan Alif meneteskan air matanya.


Ara melepas pelukannya, ia mengusap air mata di pipi tuan Alif yang mulai keriput di makan usia.


" Jangan bersedih Ayah! Semuanya sudah berlalu. Sekarang saatnya kita bahagia tanpa ada air mata lagi. Aku sayang Ayah." Ucap Ara kembali memeluk tuan Alif.


" Ayah lebih menyayangimu sayang." Shaut tuan Alif.


Tiba tiba suster Leni masuk ke dalam menghampiri Ara dengan tergesa gesa.


" Apa ada Sus?" Tanya Ara menatap Leni.


" Dokter Dean Dok..."


" Dokter Dean kenapa?" Tanya Ara.


" Dokter Dean.... Kondisi dokter Dean kritis dokter Ara. Kondisinya sangat lemah dan kemungkinan untuk selamat sangatlah kecil. Dokter senior sedang membantu menanganinya namun hasilnya belum sesuai yang di harapkan. Anda di minta membantu menangani dokter Dean, siapa tahu dia menginginkan anda saat ini." Ujar Leni.


" Baiklah ayo kita ke sana."


Ara dan Leni keluar meninggalkan ruangan Yoga. Yoga hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar.


" Beginilah nasib punya pasangan seorang dokter, aku harus siap di tinggal begitu saja." Batin Yoga.


TBC.....

__ADS_1


__ADS_2