DUDA SEDINGIN SALJU

DUDA SEDINGIN SALJU
KEHILANGAN SUSTER


__ADS_3

Satu minggu berlalu, kondisi Yoga sudah membaik. Luka di pundak kanannya sudah mengering. Ia sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit, tapi untuk pulang ke Jakarta ia belum berani. Karena beresiko untuk duduk dalam waktu lama. Akhirnya ia pulang ke rumah Ara.


Ara membantu Yoga duduk bersandar di atas ranjang.


" Istirahatlah Mas! Aku akan membangunkan Mas saat makan siang nanti." Ujar Ara menyelimuti Yoga hingga batas dada.


" Aku ingin di temani sama kamu, duduklah di sini!" Ucap Yoga menepuk sisi kasur sebelah Yoga.


" Baiklah." Sahut Ara. Ia naik ke atas ranjang lalu duduk bersandar di samping Yoga.


Yoga menarik kepala Ara ke bahu kirinya.


" Apa tidak sakit Mas?" Tanya Ara memastikan.


" Tidak sayang." Sahut Yoga membuat Ara tersipu malu.


Ara merubah posisinya menjadi miring, ia memeluk perut Yoga dan menjadikan bahu Yoga sebagai bantalan.


" Hmm manjanya istriku ini." Ucap Yoga mengelus kepala Ara.


" Sekali kali nggak apa apa Mas, selama lima tahun ini aku tidak pernah bermanja manja dengan Mas kan." Ujar Ara.


" Iya kau benar, aku minta maaf untuk hal itu. Jangankan memanjakanmu, melihatmu saja tidak pernah. Dan itu hal yang paling aku sesali selama ini." Ucap Yoga nampak sedih.


" Maaf Mas bukan maksudku mengungkit hal itu lagi. Aku benar benar minta maaf padamu." Ucap Ara.


" Tidak apa apa sayang, mau di lupakan bagaimanapun tetap saja pasti suatu saat kita akan mengingatnya. Entah sengaja atau tidak." Ujar Yoga.


" Iya Mas." Sahut Ara.


" Oh ya kamu sudah janji sama Rere mau memberikannya adik. Apa kita bisa memulainya malam ini?" Tanya Yoga.


Ara nampak sedang berpikir untuk menjawab pertanyaan Yoga.


" Aku ingin membuat kenangan indah di sini. Akan menjadi kenangan yang sangat indah dan sangat berharga jika pulang dari sini kita bisa memberikan kabar bahagia untuk keluarga kita kan?" Sambung Yoga.


" Mas masih sakit, jangan aneh aneh! Nanti malah nggak sembuh sembuh lagi." Ujar Ara.


" Kalau untuk melakukan satu hal itu, tenagaku cukup kuat sayang. Bahkan aku tidak akan merasakan sakit, karena rasa sakit itu tertutup oleh rasa bahagia dan lega." Sahut Yoga.


" Bahagia dan lega?" Ara mengerutkan keningnya menatap Yoga.


" Ya bahagia karena bisa mendapatkanmu dan lega karena bisa memilikimu sepenuhnya." Sahut Yoga.

__ADS_1


Ara terkekeh mendengarnya.


" Jadi gimana? Mau ya? Nanti malam kita unboxing membuat dedek bayi untuk Rere sesuai janjimu padanya." Ujar Yoga.


" InsyaAllah Mas." Sahut Ara.


Mereka melanjutkan mengobrol dan bercerita sampai tak terasa keduanya sama sama terlelap.


...----------------...


Jam dua belas siang adalah jadwal makan dan meminum obat untuk Dean, namun suster Riani belum juga kehilangan batang hidungnya. Entah mengapa Dean merasa resah menantikan kehadirannya. Kedekatannya dengan suster Riani menimbulkan perasaan nyaman di dalam hatinya.


" Kemana sih suster Riani? Kenapa jam segini belum juga datang? Tadi pagi juga bukan dia yang membawakan sarapan dan obatnya. Apa ada masalah ya dengannya?" Gumam Dean.


Tiba tiba...


Deg....


Jantung Dean terasa berhenti berdetak saat mengingat perbuatan yang Ia lakukan pada suster Riani.


Flashback On


Dean duduk termenung di atas ranjang, ia merasa sedih setelah Ara berpamitan kepadanya.


Ya... Ara memang tidak membawa kasus penembakan yang di lakukan Dean terhadap Yoga ke kantor polisi, namun ia meminta pihak rumah sakit untuk memberikan hukuman kepada Dean karena telah melanggar kode etik sebagai seorang dokter.


Alhasil pihak rumah sakit memecat Dean dengan cara tidak hormat. Mau tidak mau Dean harus menerima keputusan itu, lebih baik di pecat daripada hidup di dalam penjara dengan kondisinya saat ini. Setidaknya ia bisa menjalankan bisnis keluarga yang orang tuanya wariskan kepadanya.


Saat sedang bersedih, suster Riani masuk ke dalam menghampirinya.


" Dokter Dean, apa anda sudah meminum obatnya?" Tanya Riani menatap Dean.


" Aku tidak mau meminum obat lagi. Tidak ada gunanya aku meminum obat, kesembuhanku tidak akan berarti apa apa. Aku sudah kehilangan semuanya. Wanita yang aku cintai, pekerjaan yang aku impikan dan sekarang kaki yang sehat pun, aku sudah kehilangannya. Lalu untuk apa aku sembuh lagi? Bukankah tidak ada gunanya aku sembuh?" Sahut Dean menyembunyikan air matanya.


" Jangan berpikir seperti itu Dok! Itu tidak baik. Sesuatu yang datang pasti akan pergi jika masanya tiba, jangan pernah sesali kehadirannya. Tetap semangat dan optimis untuk sembuh. Karena masih ada kehidupan indah yang menanti Dokter." Seperti biasa Riani selalu memberikan semangat kepada para pasiennya.


" Heh hidup indah?" Dean tersenyum sinis.


" Iya, bukankah ada pepatah semua akan indah pada waktunya? Tinggal kapan tepatnya waktu itu akan datang kita tidak tahu." Ujar Riani.


" Tahu apa kau tentang hidup indah sedangkan kehidupanmu sendiri suram dan sampai sekarang tidak menemukan kebahagiaan ataupun keindahan itu sendiri."


Deg...

__ADS_1


Hati Riani mencelos mendengar ucapan Dean.


" Anda benar Dok, hidup saya memang belum menemukan keindahannya. Tapi saya percaya, kalau suatu hari nanti saya akan mendapatkannya." Sahut Riani.


" Begitupun dengan Dokter, Dokter harus yakin akan hal itu. Untuk itu minumlah obatnya bair Dokter cepat sembuh." Ucap Riani memberikan obat kepada Dean.


" Aku bilang aku tidak mau meminum obatnya!!" Bentak Dean menepis tangan Riani hingga gelas yang ia pegang jatuh ke lantai.


Prang....


" Astaga ya Tuhan." Gumam Riani.


" Dari kemarin kamu selalu memberikanku nasehat yang aku rasa hanya omong kosong saja. Jangan pernah menasehatiku lagi! Pikirkan saja hidupmu yang tidak ada arah kemana kau akan berlabuh. Dan ingat! Jangan campuri urusan pribadiku lagi, kau hanya suster di sini jadi jaga batasanmu untuk itu." Ucap Dean menunjuk wajah Riani.


" Dan satu lagi, aku minta ganti suster yang tidak cerewet seperti dirimu. Aku tidak mau bertemu denganmu lagi." Sambung Dean.


" Baiklah maafkan saya karena saya telah melewati batasan saya sebagai seorang perawat. Saya permisi!" Ucap Riani meninggalkan ruangan Dean.


Flashback off


" Ah bodoh kau Dean... Kenapa kau berkata seperti itu pada Riani? Kau mengusirnya rapi sekarang kau sendiri yang menanti kehadirannya." Monolog Dean merutuki kebodohannya.


" Aku harus meminta dia kembali, entah mengapa hatiku terasa sepi tanpa kehadirannya. Semangat hidupku mendadak menjadi hilang karena tidak melihatnya. Ya Tuhan... Ada apa dengan hatiku saat ini? Apa iya aku menyukai suster Riani? Apa secepat ini?"


" Ah tidak... Aku rasa karena aku sudah terbiasa dengannya. Ya... Pasti itu sebabnya. Aku harus menunggu dia sampai tiga hari untuk memastikan perasaanku, jika hatiku gelisah karenanya itu artinya aku mulai menyukainya." Gumam Dean.


Ceklek....


" Suster Ria.... " Dean menjeda ucapannya. Hatinya kecewa karena yang datang bukanlah yang ia harapkan.


" Maaf dokter Dean, saya suster Puput pengganti suster Riani yang akan menjaga anda ke depannya." Ucapnya.


" Kemana suster Riani?" Tanya Dean.


" Dia resign Dokter."


Jeduaarrr.......


Nah loh....


Jodoh nggak nih? Tulis di kolom komentar ya


TBC.....

__ADS_1


__ADS_2