
Dean tersenyum smirk.
" Dengan begitu kalian sudah resmi bercerai, aku akan mengirimkan surat itu ke pengacaraku sekarang juga." Ucap Dean.
" Suster Leni berikan dokumen itu pada pria yang ada di depan ruangan." Sambung Dean.
Suster Leni tampak menganggukkan kepala di depan kamera lalu membawa stopmap itu keluar.
" Dokter Dean aku sudah melakukan apa yang kamu mau, sekarang jauhkan pistolmu dari kepala Ara! Aku mohon jangan sakiti Ara! Jika kau mau menikahinya, aku mohon berikan dia kebahagiaan yang tidak pernah aku berikan kepadanya selama ini. Ucap Yoga.
" Tenanglah Yoga! Kau tidak perlu mengajariku bagaimana cara membahagiakan Ara. Aku sudah melakukannya selama bertahun-tahun. Bukan begitu sayang?" Ucap Dean mencium pipi Ara.
Tiba tiba Dean merebut ponsel Ara, ia menaruh ponsel Ara pada sofa lalu...
Dor...
Seketika ponsel Ara hancur berkeping-keping.
" Ara!!!" Teriak Yoga saat layar ponselnya menjadi gelap bersamaan dengan putusnya sambungan teleponnya.
" Ya Tuhan Ara... Apa yang terjadi di sana? Hiks... Hiks... Ara aku harap kau baik baik saja. Aku sudah memenuhi keinginanmu untuk berpisah dariku, semoga kau bahagia. Mungkin inilah yang di sebut tidak berjodoh sehingga kita harus berpisah kembali. Kali ini aku benar benar kehilanganmu Ara hiks... Tidak ada harapan lagi untuk aku bisa mendapatkanmu, maafkan aku! Maafkan aku Ara hiks." Isak Yoga memukuli dadanya sendiri.
Suster Leni yang melihatnya dari pintu hanya bisa mengelus dada. Ia merasa iba dengan kisah percintaan Ara dan Yoga. Ya.. Suster Leni sudah mengetahui semua yang terjadi pada Ara karena Ara pernah curhat dengannya, mungkin Ara tidak sadar saat itu atau terlalu mungkin Ara merasa sesak jika semua di pendam sendiri.
Di tempat Dean, saat ini tubuh Ara luruh ke lantai. Ia tak kuasa menahan kesedihan yang ia rasakan saat ini. Kesedihan yang terasa begitu mendalam. Dulu ia pergi karena keinginannya sendiri, tapi kali ini ia pergi karena paksaan dari Dean. Rasanya benar benar menyesakkan dadanya.
" Hiks... Hiks.. " Tangisan Ara nampak begitu memilukan dan menyayat hati Dean.
" Ara sayang jangan menangis!" Ucap Dean menangkup wajah Ara dengan kedua tangannya.
" Kenapa kau melakukan ini padaku Kak? Kenapa kau tidak membiarkan aku kembali kepada keluargaku setelah kesalahpahaman teratasi?" Tanya Ara di sela sela isakannya.
" Akulah yang akan menjadi keluargamu satu satunya Ara. Aku tidak akan membiarkan orang lain memilikimu termasuk ayahmu." Ucap Dean.
__ADS_1
Ara nampak terkejut mendengar semua itu.
" Apa maksudmu Kak?" Tanya Ara.
" Kita akan hidup berdua di sini tanpa gangguan dari siapapun. Kita tidak akan menggunakan ponsel ataupun mobil. Kita akan menjadi rakyat biasa yang jauh dari dua hal itu agar tidak ada yang bisa menemukan kita di sini. Kau juga tidak bisa pergi kemanapun karena rumah ini jauh dari kota dan dari rumah penduduk lain. Maaf jika aku terpaksa melakukan semua ini. Itu aku lakukan karena aku ingin hidup bersamamu dan tidak mau kehilanganmu. Aku akan menikahimu setelah sidang perceraianmu di setujui oleh hakim." Ucap Dean memeluk Ara.
" Lepaskan aku Kak!" Ucap Ara.
" Maafkan aku!" Ucap Dean melepaskan pelukannya.
" Sekarang istirahatlah! Tenangkan pikiranmu dan ingat! Jangan pernah membenciku ataupun mengumpatku. Yang aku mau hanya cinta darimu." Ucap Dean.
Saat ini Ara hanya bisa diam. Ia benar benar tidak bisa berpikir harus berbuat apa.
" Ayo aku bantu ke kamarmu." Ucap Dean membantu Ara berdiri.
Dean merangkul pundak Ara, ia membawa Ara ke kamar yang akan menjadi kamar Ara. Kamar sederhana tapi tetap terlihat luas untuk ukuran rumah adat seperti itu.
" Istirahatlah!" Dean membantu Ara berbaring di atas ranjang.
" Aku tidak akan kabur, terima kasih telah menjadikan aku tawananmu." Ucap Ara.
Bukannya marah tapi Dean malah tersenyum. Dean segera berlalu dari sana setelah menutup pintu. Ia masuk ke kamarnya yang berada di sebelah kamar Ara. Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
" Akhirnya aku bisa mendapatkanmu Ara. Kali ini aku tidak akan melepaskanmu. Kau akan menjadi milikku, aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu sayang." Ucap Dean tersenyum senang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi hari Dean segera bangun dari tidurnya, ia segera mandi lalu menuju kamar Ara. Ia tidak mau jika Ara sampai kabur walaupun ia sudah meminta anak buahnya untuk mengambil mobilnya semalam.
Ceklek...
Dean membuka pintunya, ia tersenyum saat melihat Ara sedang tertidur pulas. Sepertinya setelah sholat subuh Ara kembali tidur. Dean mendekati Ara, ia menatap wajah cantik Ara dalam balutan hijab. Tanpa sadar ia ingin menyentuh wajah Ara namun Ara segera menepisnya.
__ADS_1
" Jangan pernah menyentuhku sembarangan! Aku tidak mau menanggung dosa karena bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahromku." Ucap Ara tegas.
" Baiklah maaf! Kalau begitu segeralah menikah denganku agar aku bisa bebas menyentuhmu. Berada di dekatmu membuatku selalu ingin menyentuhmu, aku sudah menahannya selama lima tahun ini." Ujar Dean.
" Terserah apa yang mau kau lakukan, aku sudah tidak punya tujuan hidup lagi." Ucap Ara.
" Jangan pernah bicara seperti itu Ara, kau punya tujuan hidup yaitu hidup bahagia bersamaku dan anak anak kita nanti. Aku tidak akan membiarkanmu mengalami penderitaan sayang. Aku mencintaimu." Ucap Dean.
Ara memutar bola matanya malas. Rasa hormat telah hilang dari dalam dirinya untuk Dean saat tahu sifat Dean yang sebenarnya.
" Kamu mandilah! Aku akan menyiapkan sarapan untukmu. Jangan berani pergi keluar rumah apalagi berusaha kabur dari sini. Oke." Ujar Dean menatap Ara.
Ara berlalu begitu saja menuju kamar mandi tanpa membalas ucapan Dean. Ia terlalu malas berhadapan dengan pria licik seperti Dean. Di dalam kamar mandi, Ara mengguyur tubuhnya di bawah shower. Ia meratapi nasibnya yang tidak beruntung baginya.
" Aku serahkan hidup dan matiku hanya kepadamu Ya Rob. Aku tidak terlalu mengurusi urusan dunia, karena aku yakin Kau lebih tahu apa yang terbaik untukku. Jika memang kak Dean jodoh terbaik yang kau kirimkan untukku, aku mohon lancarkan segala urusannya. Tapi jika tidak, segera berikan jalan keluarnya. Aku yakin apa yang terjadi padaku merupakan bagian dari takdirku. Maafkan aku mas Yoga, Rere. Mungkin aku hanya di jadikan figuran saja dalam hidup kalian berdua tanpa bisa menjadi pemeran utama." Monolog Ara.
Setengah jam kemudian, Ara sudah berpakaian rapi lengkap dengan hijabnya. Ia berdiri di depan jendela menatap pemandangan indah di depannya. Sepertinya saat ini Ara berada di daerah pegunungan.
Tak lama Dean masuk ke kamarnya dengan membawa nampak berisi makanan di tangannya.
" Makanlah sayang! Aku tidak mau kau kelihatan kurus di foto pernikahan kita nanti." Ucap Dean meletakkan nampannya di atas nakas.
" Kau saja yang makan, aku tidak lapar." Sahut Ara.
" Jangan seperti itu sayang! Kau akan sakit nanti, dan aku tidak mau sampai itu terjadi. Karena apa? Karena aku tidak akan membawamu keluar dari sini apalagi membawamu ke rumah sakit. Kau tidak butuh rumah sakit karena ada dokter di sini. Jangan lupakan akan hal itu, aku tahu benar apa niatmu." Ucap Dean.
" Sial!!!! Rencanaku sudah terbaca olehnya. Sepertinya aku tidak bisa kabur dari sini." Batin Ara.
Setuju nggak nih kalau Ara menikah dengan Dean? Tulis di kolom komentar ya...
Jangan lupa kirim like koment vote dan 🌹yang banyak buat author...
Terima kasih...
__ADS_1
TBC....