DUDA SEDINGIN SALJU

DUDA SEDINGIN SALJU
INSIDEN & UNGKAPAN CINTA


__ADS_3

Ara mulai menarik pelatuknya sampai...


Dorrrr.......


Tembakan melesat tepat saat Dean mengarahkan pistol ke dada kanannya.


Brugh....


Tubuh Dean ambruk ke tanah, Ara menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia tidak menyangka jika Dean akan mengorbankan dirinya untuk melindungi Ara dari kejahatannya sendiri.


" Kak Dean." Ucap Ara.


" Ara." Ucap Dean menatap Ara di sisa sisa kesadarannya.


" Maafkan aku!" Lirih Dean memejamkan matanya.


" Ya Tuhan apa yang telah aku lakukan." Ucap Ara syok.


Orang orang berlari ke arah mereka lalu membawa Dean dan Yoga ke rumah sakit.


" Dokter Ara apa kau baik baik saja?" Tanya Leni menatap Ara yang saat ini masih terbengong. Ia terlihat sangat syok.


" Leni.. Apakah aku membunuh Dean?" Tanya Ara.


" Tidak, kamu hanya membela diri." Sahut Leni.


" Bagaimana kalau polisi menangkapku setelah ini?"


" Aku punya bukti rekaman tadi. Kau tidak perlu khawatir Ara! Kau tidak bersalah. Dan yakinlah jika semua pasti akan baik baik saja. Lebih baik sekarang kita ke rumah sakit, pak Yoga sangat membutuhkanmu di sampingnya. Dan untuk itu kamu harus kuat lebih dulu." Ucap Leni sebagai sahabat.


" Apa mas Yoga akan baik baik saja?" Ara kembali bertanya.


" Kau seorang dokter, kau lebih tahu apa yang terjadi pada pak Yoga. Keadaan pak Yoga tidak kritis Ara. Peluru hanya bersaranh di punggungnya, bukan di jantungnya. Dan aku yakin pak Yoga adalah pria yang kuat. Ia mampu menahan rasa sakit akibat tembusan peluru itu. Jangan khawatir! Semua akan baik baik saja, kita berdoa bersama sama semoga pak Yoga bisa terselamatkan." Ujar Leni.


" Terima kasih Leni." Ucap Ara.


Leni menggandeng Ara menuju mobil Yoga. Mereka menuju rumah sakit dengan Doni sebagai sopir mereka. Ara dan Leni duduk di kursi penumpang. Leni terus menggenggam tangan Ara yang terasa dingin.


" Bagaimana kalian bisa terlihat sedekat ini?" Tanya Ara menatap Leni.


" Leni mencoba menggodaku supaya aku mau bekerjasama dengannya nyonya Ara." Sahut Doni.


" Apa kau mencintai Leni sehingga kau berani mengkhianati orang seperti Dean?" Tanya Ara.


" Ya saya mencintainya setelah apa yang kami lalui bersama." Sahut Doni.


Ara menatap Leni seolah meminta penjelasannya.


" Begini Ara, saat aku melihat pak Yoga menandatangani surat perpisahan itu, aku merasa iba dan kasihan padanya. Aku merasa dia sangat mencintaimu dan tidak mau kehilanganmu. Saat itu aku memang menggoda Doni agar Doni mau bekerjasama denganku untuk menyatukan kalian berdua. Dan dengan kecantikan serta kepawaianku, Doni tertarik padaku. Akhirnya kami bekerjasama untuk membantu pak Yoga menyelamatkanmu dari dokter Dean. Dan kami berhasil, walaupun mesti ada drama insiden mendebarkan ini." Ucap Leni mengerlingkan sebelah matanya.

__ADS_1


" Apa yang kau berikan padanya sehingga dia dengan mudah mau bekerja sama denganmu?" Tanya Ara.


" Emmm aku... Aku.. " Leni menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Dia memberikan segalanya untukku Nyonya. Cinta, jiwa, dan raganya, aku sudah memiliki semuanya." Sahut Doni.


Ara paham betul apa maksud ucapan Doni. Ia menatap Leni dengan haru.


" Maafkan aku Ara!" Ucap Leni takut membuat Ara kecewa.


Grep...


Ara memeluk Leni dengan erat.


" Aku yang seharusnya meminta maaf padamu, karena aku kau jadi kehilangan semuanya. Maafkan aku!" Ucap Ara.


" Tidak masalah! Aku yang menginginkan semua ini. Lagian Doni akan bertanggung jawab kepadaku. Kami akan segera menikah." Ujar Leni.


" Benarkah?" Tanya Ara memastikan.


" Iya Nyonya." Sahut Doni.


" Syukurlah kalau begitu." Ucap Ara bernafas lega.


" Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku! Fokuslah pada keluargamu saja! Fokuslah pada rumah tanggamu, kau harus menuruti apa kata hatimu untuk menentukan langkah selanjutnya." Ujar Leni.


" Terima aksih Leni, kau memang yang terbaik." Ucap Ara.


Mobil terus melaju sampai di rumah sakit. Mereka bertiga menunggu Yoga dan Dean di depan ruang operasi. Ara nampak berjalan mondar mandir sambil terus berdoa.


" Ya Allah selamatkanlah suami hamba. Kuatkan dia! Berikan kesembuhan dan umur yang panjang ya Rob. Beri hamba kesempatan untuk mengabdi padanya ya Rob. Hamba mohon! Hamba sama sekali belum menjalankan kewajiban hamba sebagai seorang istri yang baik, hamba mohon ya Robbi." Doa Ara dalam hatinya.


" Ara tenanglah! Pak Yoga pasti baik baik saja, pelurunya mengenai punggung kanan jadi peluang untuk selamat sangatlah besar. Duduklah dengan tenang! Kalau kau cemas begini bisa bisa kondisimu yang akan drop." Ujar Leni.


Ara mengatur nafasnya, lalu ia duduk di sebelah Leni sambil terus mengenggam tangan Leni. Leni mengelus punggung tangan Ara seolah memberikan kekuatan untuknya. Doni yang melihatnya semakin terharu dengan sikap dan kecantikan hati Leni.


" Aku tidak salah memilihmu sebagai pendamping hidupku. Aku akan membawamu pergi jauh dari sini jika tuan Dean selamat. Karena aku yakin dia tidak akan melepaskan aku begitu saja." Ujar Doni dalam hati.


Dokter bedah keluar dari ruang operasi, Ara segera menghampirinya.


" Bagaimana keadaan suami saya Dok?" Tanya Ara.


" Operasi berjalan dengan lancar, kami berhasil mengeluarkan pelurunya yang mengenai punggungnya cukup dalam. Anda tidak perlu khawatir, kondisi pasien stabil. Tidak ada hal yang harus di cemaskan. Saat ini pasien sedang dalam masa pemulihan dan sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang inap. Anda bisa menemuinya di sana dokter Ara." Ucap dokter Hans.


" Terima kasih dokter Hans." Ucap Ara di balas anggukkan kepala oleh Hans.


" Kalau begitu saya permisi." Dokter Hans berlalu dari sana.


Ara, Leni dan Doni menuju ruang rawat inap VIP nomer satu setelah mendapat kabar jika Yoga sudah di pindahkan ke sana.

__ADS_1


Ceklek...


Ara membuka pintunya, ia menghampiri Yoga yang terbaring lemas di atas ranjang. Yoga masih dalam pengaruh biusnya itu sebabnya ia tidak sadarkan diri. Ara duduk di kursi samping ranjang sedangkan Doni dan Leni menunggunya di luar.


" Mas bangun!" Ucap Ara menggenggam tangan Yoga.


" Maafkan aku! Karena aku Mas jadi seperti ini. Seandainya aku punya pilihan, aku pasti akan memilih kamu dan Rere Mas. Tapi sayangnya kak Dean tidak memberikan aku pilihan. Dia mengancam akan menyakitimu jika aku tidak menuruti keinginannya. Semua aku lakukan karena aku menyayangi kalian. Aku mencintaimu sama seperti saat kita bersama dulu Mas. Aku masih mencintaimu dan hanya mencintai dirimu."


" Benarkah?"


Ara menatap Yoga yang saat ini sedang menatapnya juga.


" Kapan Mas sadar?" Tanya Ara sedikit gugup. Ia menjadi salah tingkah karena ia yakin Yoga mendengar semua ucapannya.


" Saat kau mengatakan jika kau mencintaiku sayang, apakah itu benar." Ucap Yoga lirih.


" A... Aku... Aku... " Ucap Ara gugup.


" Aku apa hmm?" Tanya Yoga.


" Sepertinya Mas salah dengar." Sahut Ara.


Yoga terkekeh mendengar jawaban Ara.


" Kenapa tidak mau mengaku hmm? Apa kamu malu?" Tanya Yoga mengelus pipi Ara dengan tangan kanannya.


" Tidak." Sahut Ara.


" Aku ingin mendengar ungkapan cintamu sekali lagi, aku akan sangat bahagia jika kau mau mengatakannya sekali lagi untukku." Ujar Yoga.


Ara nampak diam saja, sejujurnya ia merasa sangat malu jika harus mengatakannya lebih dulu.


" Ara... Aku mencintaimu." Ucap Yoga.


" Aku juga mencintaimu Mas." Sahut Ara tersipu malu.


Yoga merentangkan kedua tanganya seolah meminta Ara masuk ke dalam pelukannya. Dengan perlahan Ara memeluk Yoga. Keduanya nampak bahagia, akhirnya mereka bisa kembali bersama setelah sekian lama terpisah.


" Terima kasih sayang, kau telah menjaga cinta kita berdua." Ucap Yoga.


" Untukmu juga Mas, Mas juga sudah menjaga cinta kita berdua selama lima tahun ini. Aku tidak menyangka jika akhirnya Mas bisa membalas perasaanku. Perasaan yang selama bertahun-tahun aku tunggu balasannya." Ujar Ara.


" Gimana kamu thu Mas sudah lama membalasnya orang kamu menghilang begitu saja. Mas sudah memendam perasaan ini selama lima tahun terakhir, Mas punya keinginan untuk mengungkapkan cinta Mas padamu sejak dulu. Tapi baru hari ini Mas bisa mengungkapkannya dan mendapat balasan darimu. Mas bahagia sayang, akhirnya kita bisa kembali bersama." Ujar Yoga.


" Aku juga Mas, semoga setelah ini kita akan hidup bahagia bersama keluarga kecil kita." Ujar Ara.


" Amin." Sahut Yoga mencium pucuk kepala Ara.


Sudah saatnya bahagia ya...

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2