
Pagi ini di dalam ruangan Dean, Dean sedang duduk bersandar di atas ranjang sambil melamun. Ia memikirkan nasibnya setelah ini, akibat kondisinya kemarin, kaki kanan Dean sulit di gerakkan. Ada syaraf yang tidak bekerja dengan baik. Ia akan menjadi pria pincang yang harus memakai tongkat penyangga jika berjalan atau hanya duduk di kursi roda saja. Dan ia tidak tahu sampai kapan ia akan menjalani hidup seperti itu.
Kehilangan Ara saja merupakan pukulan terberat untuknya apalagi di tambah keadaannya yang sekarang. Ia merasa benar benar putus asa.
Ceklek....
Suster Riani masuk ke dalam membawakan sarapan untuk Dean.
" Pagi dokter Dean, kenalkan saya Riani. Suster yang di tugaskan untuk merawat anda sampai anda sembuh." Sapa Riani.
Dean hanya meliriknya saja tanpa menjawab sapaannya.
" Sekarang saatnya dokter sarapan, setelah itu dokter bisa minum obat." Ujar Riani memberikan semangkuk bubur khas rumah sakit kepada Dean.
" Saya tidak mau makan." Ucap Dean dingin.
" Saya turut prihatin atas apa yang menimpa Dokter, tapi tidak baik jika dokter putus asa dan menyiksa diri sendiri dengan tidak mau makan dan meminum obat seperti ini." Ucapan Riani membuat Dean langsung menatap tajam ke arahnya.
" Mengalami cacat fisik itu bukan suatu halangan untuk kita melanjutkan hidup Dokter, apalagi masih ada harapan hidup seperti yang anda alami." Ucap Riani.
" Lima belas tahun saya merawat adik saya yang cacat fisik total. Dia hanya bisa berbaring di atas ranjang saja tanpa bisa bergerak kemana mana. Jangankan kembali normal, harapan untuk sembuh saja tidak ada. Tapi saya selalu memberikan suport kepadanya untuk tetap semangat hidup, saya juga selalu rutin membawa dia ke rumah sakit untuk check up. Walaupun selama lima belas tahun itu tidak ada perubahan sama sekali tapi saya selalu sabar menjalaninya. Saya yakin semua ini ujian untukku, jika saya berhasil melewatinya pasti akan ada hikmah yang luar biasa setelahnya. Tapi lagi lagi saya di kecewakan dengan keadaan, sebelum keyakinanku tercapai, adikku sudah dulu meninggalkan aku." Ucap Riani sedih. Tanpa terasa air mata menetes di pipinya, ia langsung mengusapnya.
Dean terkejut mendengar cerita Riani. Adakah orang yang punya kesabaran sebesar itu zaman sekarang?
" Tapi tidak apa apa, aku punya keyakinan jika Tuhan lebih sayang kepada adikku. Tuhan tidak mau membuat adikku semakin lama merasakan sakitnya, itulah sebabnya Tuhan memanggilnya." Sambung Riani meninggalkan sikap formalnya.
" Sudah berapa lama adikmu tiada?" Tanya Dean menatap Riani.
" Satu minggu yang lalu." Sahut Riani.
" Kau masih dalam masa berkabung tapi kau sudah bekerja. Saya turut berduka cita atas meninggalnya adikmu." Ucap Dean.
Riani tersenyum menatap Dean.
" Terima kasih Dok, dan maaf telah membuat Anda mendengarkan cerita saya yang tidak penting." Ucap Riani.
" Ceritamu memang tidak penting, tapi berhasil membuka hatiku. Aku ingin berjuang untuk sembuh dari keadaanku yang tidak seberapa ini. Terima kasih telah mengajarkan semangat untukku." Ucap Dean.
" Sama sama Dok." Sahut Riani.
" Sekarang makanlah!" Ucap Riani memberikan mangkoknya kepada Dean.
__ADS_1
Dean menerimanya lalu memakannya dengan pelan. Sesekali ia melirik ke arah Riani yang saat ini sedang berdiri di depannya.
" Dokter Dean." Ucap Riani.
" Ya." Sahut Dean menatapnya.
" Bolehkah saya memijat kaki anda yang sakit? Dulu kakek saya seorang therapis, dan sedikit sedikit saya menguasai tekniknya. Kalau dokter mau biar saya mencobanya." Ujar Riani.
" Apa kau sedang menjadikan aku sebagai bahan praktek?" Tanya Dean.
" Ah tidak Dok, maaf!" Sahut Riani.
Entah kenapa Dean tersenyum melihat Riani.
" Tidak masalah jika kamu mau mencobanya, tapi harus kau pastikan kalau kau tidak akan salah urat." Ujar Dean.
" InsyaAllah tidak Dok." Sahut Riani.
Riani mulai menyibak selimut yang Dean pakai. Dengan pelan ia memijat kaki Dean.
" Shh... " Rintih Dean.
Dean menatap Riani dengan tatapan entah. Wajah cantik, kulit putih, hidung mancung, buku mata lentik dan bibir pink yang sangat menggoda. Tanpa sadar Dean mengembangkan senyumnya.
" Astaga Dean... Apa yang kau pikirkan." Batin Dean.
Dean kembali melanjutkan makannya yang tinggal sedikit. Setelah menghabiskan makanannya Dean meletakkan mangkoknya namun tidak sampai.
" Biar saya saja." Riani mengambil mangkok dari tangan Dean lalu meletakkannya di atas nakas.
" Sekarang minum obatnya Dok." Riani memberikan tiga butir obat dan segelas air putih.
Dean segera meminumnya.
" Terima kasih." Ucap Dean.
" Sama sama." Sahut Riani tersenyum.
" Masih mau di pijat lagi?" Tanya Riani.
" Boleh, pijatanmu terasa enak." Sahut Dean.
__ADS_1
" Baiklah terima kasih." Riani kembali memijatnya.
Di dalam ruangan Yoga, saat ini Rere sedang menangis dalam gendongan Ara. Ia tidak mau pulang tanpa Ara, tapi ia harus masuk sekolah karena sudah satu minggu ijin.
" Rere tidak mau pulang tanpa Mama. Rere takut Mama akan pergi lagi." Ucap Rere mengeratkan pelukannya.
" Sayang, Mama tidak akan pergi kemana mana. Mama sama papa pasti pulang kalau papa sudah sembuh sayang. Rere sudah lama tidak berangkat sekolah, jadi Rere harus pulang sama oma dan tante Putri sekarang ya. Kalau Rere nanti ketinggalan pelajaran gimana? Masa' Rere mau mengulang lagi di taman kanak-kanak, katanya Rere mau cepat cepat masuk sekolah dasar. Kalau Rere tidak mau menurut, Mama sedih lhoh." Ujar Ara.
" Mama tidak boleh sedih, baiklah Rere akan pulang bersama oma. Tapi Mama harus janji kalau papa sudah sembuh, Mama harus ikut pulang sama Papa." Ucap Rere.
" Iya sayang, Mama pasti pulang." Ucap Ara menganggukkan kepala.
" Anak pintar, ayo kita pulang! Pak supir sudah menunggu kita di depan." Ucap nyonya Hana.
Ara menurunkan Rere dari gendongannya.
" Mama, papa, Rere pulang dulu ya. Papa cepet sembuh biar papa sama mama bisa cepat pulang. Rere pasti akan merindukan kalian." Ucap Rere menyalami Ara dan Yoga.
" Iya sayang, Papa pasti cepat sembuh. Begitu Papa sembuh, Papa pasti langsung pulang. Kamu hari hati ya, jangan bandel! Kasihan nanti oma sama tantenya." Ucap Yoga.
" Iya Pa." Sahut Rere.
" Anak Mama harus pintar, kan mau punya adik." Ucap Ara berjongkok di depan Rere sambil menciumi pipinya.
" Beneran ya Ma." Ucap Rere dengan riang.
" Coba bilang sama papa." Ucap Ara menatap Yoga.
" Pa pulang dari sini berikan adik buat Rere ya. Kemarin Rere sudah minta sama mama, kata mama nunggu Papa sehat dulu." Ujar Rere.
" Rere udah ingin punya adik?" Tanya Yoga.
" Iya Pa, Rere kesepian kalau di rumah nggak ada temennya buat main. Boleh ya Pa." Ujar Rere antusias.
" Iya deh akan Papa berikan apapun untuk Rere tercantik."
" Yeiiii." Sorak Rere.
Ara dan Yoga saling melempar senyuman. Mereka bahagia melihat putri mereka bahagia. Semoga Tuhan menyegerakan keinginan mereka.
TBC...
__ADS_1