
Hari ini Yoga dan Ara sedang bersiap siap untuk kembali pulang ke kota Jakarta. Tidak banyak yang mereka bawa, hanya keperluan pribadi saja. Ara memutuskan untuk resign dari pekerjaannya dan akan fokus pada keluarganya. Walaupun sulit melepas pekerjaan yang menjadi impiannya selama ini namun ia khawatir tidak bisa membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan. Bukankah kewajiban seorang istri mengurus anak dan suaminya? Itulah sebabnya ia memilih menjalankan kodratnya sebagai wanita yang sudah berumah tangga.
" Mas apa aku boleh menemui kak Dean lebih dulu? Aku ingin pamit padanya." Ucap Ara menatap Yoga yang saat ini sedang duduk di tepi ranjang.
" Iya boleh, nanti Mas yang akan mengantarmu. Mas juga mau bilang terima kasih kepadanya karena telah menjaga istri Mas selama ini." Sahut Yoga.
" Apa Mas tidak menaruh kebencian kepada kak Dean setelah apa yang dia lakukan pada Mas?" Tanya Ara duduk di samping Yoga.
" Mas tidak mau menanam kebencian di dalam hati Mas sayang, karena kebencian itu hanya akan menghancurkan kita sendiri. Selepas perlakuannya kepada kita, semua itu Mas sendirilah yang menjadi penyebabnya. Seandainya Mas tidak memintamu untuk pergi semua ini pasti tidak akan pernah terjadi." Ucap Yoga.
" Mas minta maaf!" Ucap Yoga menggenggam tangan Ara.
" Aku memaafkan Mas sejak lama." Sahut Ara tersenyum menangkup wajah Yoga.
Yoga menyusupkan tangannya ke leher belakang Ara, ia memajukan wajahnya lalu..
Cup...
Yoga mengecup bibir Ara, ia mencecap bibir Ara dengan lembut. Ara memejamkan matanya memenikmati kelembutan sentuhan Yoga. Yoga menggigit pelan bibir bawah Ara membuat Ara membuka sedikit mulutnya. Yoga menyusupkan lidahnya mengekspos setiap inchi mulut Ara. Keduanya saling menikmati manisnya bertukar saliva hingga suara decapan memenuhi ruang kamar mereka.
Di rasa kehabisan oksigen, Yoga melepas pagutannya. Ia mengusap lembut bibir Ara dengan jempolnya.
" Bernafas sayang, tidak perlu di tahan." Ucap Yoga terkekeh.
" Bagaimana aku bisa bernafas Mas, aku tidak tahu caranya mengambil nafas di saat saat seperti ini." Sahut Ara.
" Nanti Mas ajarkan." Sahut Yoga.
" Ara." Ucap Yoga menatap Ara.
" Ya Mas." Sahut Ara.
" Pihak rumah sakit memberimu waktu tiga bulan untuk memikirkan keputusanmu resign dari profesimu. Professor Ardan siap memberikan surat pemindahan tugasmu ke rumah sakit besar yang ada di Jakarta. Apa kamu tidak mau memikirkan semua itu?" Tanya Yoga.
Ara tersenyum menatap Yoga.
" Aku sudah memikirkannya matang matang Mas, keputusanku adalah menjadi ibu dan istri yang baik untuk kalian berdua." Ucap Ara.
" Profesi ini adalah impianmu selama ini sayang, aku dan Rere tidak mau menjadi penghalang kariermu. Tidak apa apa kalau kau tetap bekerja di rumah sakit. Kami bisa memahamimu dan profesimu dengan menerima sisa waktumu untuk kami, jangan pertaruhkan impianmu hanya demi kami berdua." Ujar Yoga.
__ADS_1
" Kalau aku bekerja, lalu apa gunanya kita kembali bersama Mas? Bukankah akan sama saja jika aku kembali namun aku tetap bekerja? Rere akan tetap di urus oleh mama, dan Mas bisa mengurus diri Mas sendiri. Itu artinya aku tidak perlu kembali pada kalian berdua." Ucap Ara membuat Yoga terkejut.
" Bukan begitu maksudku sayang. Aku... "
" Mas dengarkan aku!" Ucap Ara memotong ucapan Yoga. Ia menggenggam tangan Yoga sambil mengelus punggung tangannya.
" Kewajiban seorang istri yaitu mengurus suami dan anaknya. Seorang istri boleh bekerja dengan tujuan membantu perekonomian suaminya. Jika Mas saja bisa mencukupi keluarga kita, lalu untuk apa aku bekerja Mas? Memang profesiku bukan hanya masalah uang, aku membantu mereka yang membutuhkan pertolongan. Tapi itu tidak ada artinya jika aku menelantarkan kalian." Ujar Ara.
" Menurut pandangan aku pribadi, aku lebih memilih menjalankan kewajibanku sebagai istri daripada sebagai dokter. Setiap yang aku lakukan untuk Mas dan Rere adalah pahala yang Tuhan siapkan untukku Mas. Harta dan tahta tidak akan di bawa mati tapi pahala akan menolong kita di akhirat nanti. Dan aku tidak akan pernah menyesali keputusanku ini. Aku lebih memilih keluargaku daripada profesiku." Ucap Ara tegas.
" Baiklah jika kau tidak mau merubah keputusanmu, Mas sangat berterima kasih karena kamu menjadikan kami istimewa dalam hidupmu. Kamu menjadikan kami prioritas utama dari hidupmu. Terima kasih sayang." Ucap Yoga mencium kening Ara.
(Mohon maaf! Author tidak bermaksud menyudutkan sebuah profesi ataupun sejenisnya. Author hanya menulis berdasarkan sudut pandang author sendiri)
" Sama sama Mas." Sahut Ara tersenyum.
" Ya udah ayo kita ke rumah sakit sekarang Mas!" Ajak Ara.
" Baiklah ayo!" Sahut Yoga.
Mereka berdua berjalan sambil bergandengan tangan menuju mobil.
" Baiklah, pelan pelan saja." Sahut Yoga.
Ara melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit dr. xx tempatnya dulu bekerja. Sampai di sana mereka segera menuju ruangan Dean.
Di ruangan Dean saat ini Riani sedang membantu Dean berjalan menuju kamar mandi. Ia merangkul tubuh Dean lalu mereka berjalan dengan pelan.
" Pelan pelan Dok!" Ucap Riani.
" Nggak mau kalau di panggil Dok." Ucap Dean protes, ia menghentikan langkahnya tepat di depan bathup.
" Kamu sudah setuju memberikan kesempatan untuk aku dekat denganmu, tapi kalau kamu masih bersikap formal seperti ini aku merasa kalau kamu sedang membentengi dirimu agar tidak jatuh ke dalam pelukanku. Lalu apa artinya usaha yang baru mau aku jalani Ria?" Ujar Dean menatap wajah Riani yang saat ini hanya berjarak beberapa centi saja.
Riani menghela nafasnya dalam dalam.
" Baiklah Mas Dean." Ucap Riani.
Dean mengembangkan senyuman di sudut bibirnya. Entah mengapa panggilan Mas dari Riani membuat hatinya berbunga bunga.
__ADS_1
Dean menatap Riani begitupun sebaliknya. Tiba tiba Dean tidak bisa mengimbangi tubuhnya hingga...
Byurrrr.....
" Awh... "
Mereka berdua terjatuh ke dalam bath up dengan posisi Riani di bawah. Dean menahan kepala Riani agar tidak terpenting pinggiran bath up. Keduanya kembali saling melempar pandangan dengan jantung berdebar.
" Ya Tuhan jantungku, kenapa harus ada posisi seperti ini sih. Ini posisi yang tidak menguntungkan untukku. Posisi yang bikin sport jantung." Ujar Riani dalam hati.
" Ya Tuhan debaran jantungku kuat sekali, Riani tidak tahu kalau aku benar benar jatuh cinta padanya. Wajahnya nampak begitu cantik dan manis, senyumannya benar benar meneduhkan hatiku. Aku semakin jatuh mencintainya." Batin Dean sambil mengelus pipi Riani dengan lembut.
Tanpa Riani sadari ia memejamkan matanya. Dean memajukan wajahnya lalu mencium bibir Riani membuat Riani membulatkan matanya dengan sempurna karena terkejut. Sadar tidak ada penolakan, Dean mulai mencecap bibir Riani dengan lembut. Entah terakhir atau memang terpesona, Riani hanya diam saja.
Dean terus mencium bibir Riani sampai...
" Ya Tuhan maaf!" Ucap Ara keluar dari kamar mandi.
Dean dan Riani menatap ke arah pintu lalu keduanya saling menatap satu sama lain membuat keduanya menjadi salah tingkah.
" Maaf Mas." Ucap Riani menggeser tubuhnya. Ia beranjak berdiri lalu membantu Dean membenarkan posisi duduknya.
" Kamu mandi dulu, aku akan mengganti pakaianku dan menemui mereka." Ujar Riani membuang pandangannya ke sembarang arah karena masih malu untuk menatap Dean.
" Baiklah, maafkan aku!" Ucap Dean.
" Its ok." Sahut Riani keluar dari kamar mandi.
" Maaf dokter Ara, saya tinggal dulu. Dokter Dean sedang mandi, jadi mohon tunggu sebentar!" Ucap Riani menundukkan kepalanya.
" Baiklah tidak apa apa, jangan salting begitu suster Riani! Aku tidak melihat apa apa." Ucap Ara tersenyum.
Riani keluar ruangan Dean dengan membawa rasa malu yang teramat sangat karena ketahuan dalam posisi intim.
" Bodoh bodoh bodoh kamu Riani... Kenapa malah terbawa suasana sih. Tapi... "
Riani menyentuh bibirnya, sentuhan bibir Dean masih terasa menempel pada bibirnya. Ia tersenyum senang melanjutkan langkahnya.
TBC....
__ADS_1