
Hari ini adalah hari pernikahan Doni dan Leni yang di selenggarakan di rumah baru mereka yang ada di kawasan perumahan permai jaya baru. Ara mengapit lengan Yoga masuk ke dalam rumah Doni yang nampak ramai oleh beberapa tamu undangan. Memang tidak begitu banyak orang karena mereka hanya mengundang tetangga dekat saja.
Mereka duduk di lantai beralaskan karpet merah menatap kedua mempelai yang duduk di depan meja ijab qobul di depan sana. Pak penghulu segera memulai acara ijin qobul dengan khidmat. Dengan sekali tarikan Doni berhasil menjadikan Leni sebagai istrinya.
" Alhamdulillah."
Pak penghulu melanjutkan membacakan doa doa setelah pernikahan. Selesai acara, para tamu undangan di persilahkan menikmati hidangan yang ada. Ara dan Yoga mendekati sang pengantin baru.
" Selamat Leni, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah dan segera di beri momongan yang sholeh dan sholehah." Ucap Ara memeluk Leni.
" Amin... Terima kasih Ra." Ucap Leni di balas anggukkan kepala oleh Ara.
Dean dan Riani gantian mengucapkan selamat dan memberikan doa restu kepada kedua mempelai. Setelah itu mereka berani berkumpul di meja khusu keluarga.
" Riani, mereka sudah menikah sekarang. Lalu kapan kita akan menikah? Aku sudah tidak sabar menjadikanmu sebagai istriku agar aku bisa bebas menyentuhmu." Ucap Dean menggenggam tangan Riani.
" Hmm... Melihat mereka menikah aku jadi ingin menikah juga." Ucap Riani.
" Beneran sayang?" Tanya Dean menatap Riani dengan mata berbinar.
" Iya." Sahut Riani menganggukkan kepala.
" Kalau begitu besok kita menikah." Ujar Dean.
" Memangnya siapa yang bilang aku mau menikah denganmu Mas?" Tanya Riani membuat Dean terkejut.
" Lalu kamu mau menikah dengan siapa?" Tanya Dean.
" Menikah dengan kekasihku."
Deg...
Jantung Dean terasa berhenti berdetak, ia menatap Riani dengan tatapan menyelidik.
" Kamu punya kekasih?" Tanya Dean.
" Iya." Sahut Riani.
Dean langsung melepaskan tangan Riani.
" Siapa dia? Apa dia orang yang selalu kau telepon setiap hari?" Tanya Dean.
" Ya kau benar tapi kau tidak perlu tahu siapa dia. Yang jelas kamu tidak mengenalnya Mas." Ucap Riani.
" Lalu apa artinya kedekatan kita selama ini Riani? Aku berpikir dengan kamu terus berada di sampingku itu membuat kita menjadi sepasang kekasih. Itu sebabnya aku memanggilmu sayang karena memang aku sangat menyayangimu." Ujar Dean.
" Aku berada di sampingmu karena aku terikat kontrak denganmu. Entah sampai kapan aku terikat dengan kontrak ini, aku sendiri tidak tahu." Ujar Riani.
Dean nampak sangat kecewa dengan ucapan Riani. Ia merasa di permainkan oleh Riani selama ini. Harapan untuk hidup bersama musnahlah sudah, yang ada hanya harapan hampa.
__ADS_1
" Baiklah, kalau kau memang tidak bisa menerima perasaanku, tidak masalah. Mulai sekarang aku menghentikan kontrak ini. Kau bisa bebas kembali ke rumahmu atau kembali kepada kekasihmu itu. Maafkan aku jika selama ini aku telah merepotkanmu." Ucap Dean. Ia segera beranjak dari kursinya lalu berjalan menggunakan tongkatnya meninggalkan Riani.
" Riani apa yang kau katakan? Kenapa kau membuat dokter Dean marah? Sebenarnya apa yang kau inginkan? Dokter Dean nampak sangat kecewa dengan ucapanmu barusan." Ujar Leni menatap Riani.
" Biarin saja Len, cinta tidak bisa di paksakan." Sahut Riani.
" Kalau benar kau tidak mencintai kak Dean, lalu kenapa kau memberikan harapan padanya selama ini Riani? Bahkan kau sampai mengikutinya pindah ke sini." Ucap Ara menatap Riani.
" Aku sudah bilang tadi kalau aku melakukannya karena kontrak. Sekarang dia sudah membebaskan aku dari kontraknya, aku akan kembali ke rumah malam ini juga." Terang Riani.
" Apa kau benar benar tidak mencintai kak Dean?" Tanya Ara memastikan.
" Tidak." Sahut Riani tegas.
" Baiklah terserah kau saja, aku tidak bisa memaksamu menerima kak Dean karena aku pernah berada di posisimu saat ini. Aku hanya berdoa semoga kau mendapatkan kebahagiaanmu sendiri." Ujar Ara.
" Terima kasih." Ucap Riani.
...****************...
Jam delapan malam Riani baru kembali dari rumah Leni. Ia masuk ke dalam rumah Dean yang nampak gelap. Ia menyalakan saklar lampunya membuat ruang tamu nampak terang benderang.
Riani mengerutkan keningnya saat melihat Dean yang duduk termenung di sofa. Nampak beberapa botol minuman kosong berserakan di lantai.
" Astaga Mas Dean." Ucap Riani mendekati Dean.
" Aku bantu ke kamar Mas." Ucap Riani menyentuh bahu Dean.
" Mas kamu sudah terlalu banyak minum, padahal aku sudah bilang minuman ini tidak baik untukmu Mas." Ujar Riani.
" Tahu apa kau soal kesehatan? Aku jauh lebih tahu daripada kamu." Ketus Dea.
" Sekarang ayo istirahat ke kamarmu!" Ucap Riani membantu Dean berdiri.
" Aku bilang minggir ya minggir! Apa kau tuli hah? Kau bisa berkemas sekarang, bukankah kau ingin pergi malam ini? Sekarang pergilah! Aku tidak membutuhkanmu lagi! Aku sudah mentransfer semua bayaranmu ke rekeningmu, sekarang pergilah tinggalkan rumah ini!" Ucap Dean mendorong pelan tubuh Riani.
" Mas, jangan keras kepala! Ayo kita ke kamar! Kamu harus istirahat. Urusanku nanti belakangan." Ucap Riani menarik tubuh Dean.
" Lepas Riani!!" Bentak Dean mendorong tubuh Riani hingga membentur tembok.
Bugh...
" Awh... " Pekik Riani mengusap bahunya.
" Ri.. Riani." Ucap Dean mendekat Rini saat menyadari perbuatannya.
" Ma.. Maafkan aku!" Ucap Dean menangkup wajah Riani, Riani menganggukkan kepalanya.
Keduanya saling menatap satu sama lain membuat jantung keduanya berdetak kencang tidak seperti biasanya. Tiba tiba Dean memajukan wajahnya lalu...
__ADS_1
Cup....
Dean menempelkan bibirnya ke bibir Riani cukup lama. Sadar tidak ada penolakan, Dean mencium bibir Riani dengan lembut. Entah tersihir atau bagaimana, Riani justru terhanyut dalam kelembutan ciuman Dean. Dean mencecap bibir Riani, sesekali ia menggigit bibir bawah Riani membuat Riani membuka sedikit mulutnya.
Sadar dengan apa yang ia lakukan, Riani segera mendorong tubuh Dean dengan keras.
" Aku harus berkemas." Ucap Riani.
Mendengar itu emosi Dean memuncak, ia menarik tangan Riani hingga tubuhnya membentur dada bidang Dean.
" Lepas!" Ucap Riani.
" Aku tidak akan melepaskanmu." Ucap Dean.
" Lepas Mas! Aku harus pergi." Ucap Riani menatap pintu kamar Dean.
" Kau tidak boleh pergi." Ucap Dean.
" Bukankah kau sendiri yang memintaku untuk pergi?" Ujar Riani.
" Aku berubah pikiran, aku tidak akan mengijinkanmu meninggalkan aku." Ucap Dean menyusupkan wajahnya ke leher Riani.
" Aku mohon lepaskan aku! Jangan seperti ini!" Ucap Riani was was.
" Aku sudah bilang aku tidak akan melepaskanmu. Kenapa kau keras kepala sekali hah?" Teriak Dean mendorong tubuh Riani ke sofa.
Dean mendekati Riani, ia mengukung tubuh Riani di bawah tubuhnya.
" Ma.. Mau apa kau Mas?" Tanya Riani cemas.
" Aku harus melakukan sesuatu agar kau tidak pergi meninggalkan aku." Ucap Dean mengelus pipi Riani.
" Apa maksudmu Mas?" Tanya Riani.
Srek...
Riani membulatkan matanya saat Dean merobek gaunnya.
" Lepaskan aku!" Ucap Riani mendorong tubuh Dean namun tidak membuat Dean bergerak sedikit pun.
Dean mencium kasar bibir Riani membuat Riani mencoba melakukan perlawanan.
" Emmpttttt." Riani menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri membuat Dean semakin murka.
Srettt...
Dean kembali merobek gaun Riani hingga terlepas dari tempatnya. Dengan sekuat tenaga Riani mencoba melakukan perlawanan namun tetap saja, tenaganya kalah besar dari Dean.
Malam ini Dean menjadikan Riani miliknya dengan paksa. Air mata mengiringi kebejatan yang Dean lakukan kepada Riani. Riani mengutuk Dean yang telah menghancurkan hidupnya.
__ADS_1
TBC.....