DUDA SEDINGIN SALJU

DUDA SEDINGIN SALJU
PRIA ANEH


__ADS_3

Ayah dan ibu bastian menatap Putri dengan seksama sambil menunggu jawaban darinya.


" Nak, apa benar kamu kekasih Bastian? Tolong jawab ibu! Jawablah dengan jujur Nak! Kalau benar, ibu sangat bahagia akhirnya Bastian bisa menemukan wanita tambatan hatinya. Kalau memang bukan, tidak apa apa. Tapi jujur ibu kecewa kalau sampai Bastian membohongi ibu." Ucap wanita paruh baya itu.


" Maaf Ibu! Saya tidak mengenal putra anda."


Jeduarrrr....


Bastian memejamkan matanya mendengar pernyataan Putri. Kedua orang tua Bastian menatapnya sekilas lalu kembali menatap Putri.


" Baiklah tidak apa apa Nak, ibu menghargai kejujuranmu." Sahutnya.


" Ayo Pak, kita pulang." Ucap Ibu Bastian menggandeng tangan suaminya meninggalkan Bastian.


" Ibu, Bapak tunggu!" Panggil Bastian namun mereka tidak menghiraukan Bastian sama sekali.


Bastian mengacak rambutnya dengan kesal.


" Maaf jika aku membuat kalian kecewa. Entah kebohongan apa yang sedang kau mainkan saat ini aku tidak tahu, yang jelas aku tidak mau terlibat di dalamnya." Ucap Putri.


Bastian menatap Putri dengan intens lalu ia duduk di kursi depan Putri.


" Bagaimana kalau aku akan melibatkanmu dalam urusan ini? Bukan dalam kebohongan tapi dalm kenyataan." Ucapan Bastian membuat Putri mengerutkan keningnya. Ia merasa bingung dengan apa yang coba Bastian katakan padanya.


" Katakan yang jelas! Jangan berbelit dan penuh teka teki." Ucap Putri.


" Ternyata kau tidak suka bertele tele rupanya." Ucap Bastian terkekeh.


" Begini... " Ujar Bastian.


" Jujur saat pertama kali aku melihatmu di salon waktu itu, hatiku merasa tertarik kepadamu. Aku seolah menemukan belahan jiwaku yang telah lama hilang dari dalam hidupku. Dan aku ingin menjalin hubungan baru denganmu. Apa kau bersedia menjadi kekasihku?"


Uhuk uhuk uhuk...


Putri yang sedang meminum jusnya kini tersedak. Dadanya terasa sesak hingga ia kesulitan bernafas. Dengan sigap Bastian beranjak lalu menepuk punggung Putri dengan pelan.


" Pelan pelan!" Ucap Bastian.

__ADS_1


" Hah..." Putri menghembuskan nafasnya lega.


" Bagaimana? Apa kau bersedia?" Tanya Bastian kembali duduk di kursinya.


" Mas itu sedang mencari pacar apa sedang membeli cabe di pasar sih?" Tanya Putri menatap Bastian.


" Mencari pacar, dan aku hanya menginginkan dirimu." Ucap Bastian percaya diri.


" Maaf aku tidak bisa." Ucap Putri beranjak dari kursinya. Ia terlalu malas untuk meladeni orang seperti Bastian.


" Kenapa? Apa karena aku orang miskin yang tidak punya apa apa?"


Pertanyaan Bastian melukai harga diri Putri. Ia kembali duduk di kursinya.


" Bukan seperti itu. Kalau aku lihat lihat Mas termasuk orang yang terlibat banyak masalah. Apa aku benar?" Tanya Putri.


" Ya kau benar. Tapi masalahku hanya satu, yaitu menjadi orang miskin." Ucap Bastian.


" Mas, menjadi orang miskin itu bukan masalah. Hanya nasib saja yang kurang menguntungkan. Tidak perlu di pikirkan! Jalani saja dan perbanyaklah bersyukur, itu akan membuatmu tenang." Sahut Putri.


" Bagaimana aku bisa bersyukur ataupun hidup tenang jika aku akan di jadikan sebagai tameng penutup kehormatan keluarga besar majikan orang tuaku? Apa aku tidak boleh memilih jalan kebahagiaanku sendiri hingga mereka memaksaku untuk melakukan itu?" Tanya Bastian membuat Putri terkejut.


" Wanita tadi adalah anak majikan orang tuaku. Dia hamil di luar nikah entah dengan siapa dia sendiri tidak tahu. Lalu kedua orang tuanya memaksa orang tuaku untuk menikahkan aku dengan anaknya." Ucap Bastian membuat Putri terkejut.


" Awalnya aku setuju karena majikan orang tuaku mengancam akan memecat ibu dan bapakku, tapi setelah aku bertemu denganmu. Keberanian untuk memberontak muncul dalam diriku secara tiba tiba. Aku berniat untuk menolak pernikahan ini, namun aku merasa bimbang karena pekerjaan orang tuaku sedang di pertaruhkan. Tapi saat melihatmu tadi, keberanian itu muncul kembali. Dan pada akhirnya dengan tegas aku menolak pernikahan ini di depan Nona Raya." Sambung Bastian.


" Lalu bagaimana jika orang tua Mas di pecat? Mereka akan kerja dimana?" Tanya Putri.


" Aku membuat sebuah toko kelontong untuk ibu dan bapak usaha. Jadi mereka tidak perlu khawatir tidak bekerja setelah di pecat oleh tuan Ruli." Ujar Bastian.


" Syukurlah kalau begitu, semoga tidak akan ada masalah ke depannya." Ujar Putri.


" Tapi aku yakin tuan Ruli tidak akan diam begitu saja, dia pasti tidak akan melepaskanku. Untuk itu aku mohon padamu! Jadilah kekasihku dan terus berada di sampingmu agar aku punya kekuatan untuk melawan tuan Ruli." Ucap Bastian.


Putri nampak memijat pelipisnya sambil memikirkan sesuatu yang harus ia lakukan.


" Aku mohon terima aku sebagai calon suamimu. Aku tidak mau kehilanganmu karena kau lah sumber kekuatanku." Ucap Bastian tiba tiba menggenggam tangan Putri.

__ADS_1


" Berapa usia Mas?" Tanya Putri memastikan.


" Tiga puluh tahun." Sahut Bastian.


Putri nampak menganggukkan kepala.


" Kenapa? Apa kau pikir aku terlalu tua untukmu?" Tanya Bastian.


" Tidak.. Kakakku yang usianya tiga puluh dua tahun menikah dengan temanku yang usianya dia puluh satu tahun. Lagian selisih umur kita tidak jauh beda sih." Ujar Putri.


" Kau terlihat berusia dua puluh enam tahunan." Ujar Bastian.


" He he udah ketebak tuir ya Mas." Ucap Putri.


" Enggak.. Kamu masih cantik kok." Sahut Bastian.


" Kenapa Mas menyukai aku?" Tanya Putri.


" Rasa suka ataupun cinta tidak butuh alasan Putri. Dia datang dengan sendirinya tanpa kabar ataupun pemberitahuan lebih dulu. Perasaan itu alamiah dari dalam diri kita masing masing." Ucap Bastian.


" Tapi kau dan aku berbeda, bahkan dari segi sudut pandang pun kota sangat berbeda. Bagaimana kita bisa bersama? Rasanya itu tidak mungkin." Ujar Putri.


" Itulah tugas kita, mempersatukan perbedaan di antara kita dan menjadikannya sesuatu yang indah yang bisa membuat kita bahagia. Yaitu cinta." Sahut Bastian.


" Abel bagaimana pendapatmu?" Tanya Putri menatap Abel yang sedari tadi diam saja.


" Aku rasa tidak ada salahnya dicoba, siapa tahu memang jalan jodoh kalian seperti ini. Yang jelas apapun keputusanmu, aku akan selalu mendukungmu." Ucap Abel.


" Tidak perlu banyak di pikirkan! Lebih baik kita jalani saja. Jika nanti sampai di tengah jalan kau tidak bahagia, kau bisa mengatakannya padaku. Maka saat itu juga aku akan mundur dan menjauh darimu sejauh jauhnya." Ujar Bastian.


" Ini terlalu cepat untukku, lebih baik kita berteman saja. Masalah jodoh kita serahkan pada yang Kuasa saja. " Ujar Putri.


" Maksudmu kita menjalin pertmenaan lebih dulu?" Tanya Bastian memastikan.


" Begitu lebih baik, ada baiknya kita saling mengenal lebih dulu. Jika kita sudah saling mengenal satu sama baru kita melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius. Lagian aku tidak mau terburu buru dalam mengambil keputusan karena sesuatu yang di paksakan tidak akan berakhir dengan baik. Apa Mas mengerti ucapanku?" Tanya Putri menatap Bastian.


" Aku mengerti, baiklah sekarang kita teman." Ucap Bastian menyodorkan jari kelingkingnya.

__ADS_1


" Teman." Sahut Putri menautkan jari kelingkingnya ke jari Bastian.


TBC....


__ADS_2