
Sudah tiga hari Putri mengurung diri di dalam kamar. Ia tidak mau keluar atau menemui siapapun. Hal ini membuat Bastian nampak uring uringan. Di tambah berita tentang hubungannya dan Amoora semakin menjadi, padahal ia sudah meminta Amoora untuk mengurus semuanya namun pada kenyataannya berita itu tidak bisa redam.
Bastian duduk di kursi kerjanya saat ini, ia bekerja di bagian divisi keuangan di perusahaan Yoga.
Tok tok...
Bastian menoleh ke arah pintu.
" Pak Yoga." Bastian berdiri dari kursinya.
" Tidak apa di situ saja." Sahut Yoga mendekati Bastian.
" Aku cuma mau bilang, kalau aku sudah meminta bantuan Yoseph untuk mengungkap siapa dalang di balik berita itu menyebar. Dia sudah mendapatkan hasilnya, dia meminta kita untuk menemuinya sekarang. Apa kau punya waktu?" Tanya Yoga menatap Bastian.
" Iya Pak, kebetulan saya sudah menyelesaikan pekerjaan saya. Jadi besok saya tinggal menandatangani surat resign saja." Ujar Bastian.
" Oke, ayo kita temui sekarang!"
Yoga dan Bastian menuju cafe xx yang ada di pusat kota. Lima belas menit mereka sampai di cafe itu. Keduanya masuk ke dalam menghampiri Yoseph yang sudah duduk di meja nomer tujuh belas.
" Hai Bang, apa kabar?" Yoga nampak mengalami Yoseph.
" Alhamdulillah baik." Sahut Yoseph.
" Kenalin Bang, Bastian. Calon adik ipar gue." Ucap Yoga menunjuk Bastian.
Bastian dan Yoseph saling berjabat tangan. Ia dan Yoga duduk di kursi depan Yoseph. Mereka memesan tiga cangkir kopi latte.
" Gimana hasilnya Bang?" Tanya Yoga menatap Bastian.
" Kalian akan terkejut jika mengetahui siapa dalang di balik semua ini." Ujar Yoseph.
" Siapa Bang?" Tanya Bastian.
" Amoora."
" Apa????" Pekik Bastian tidak percaya.
" Amoora sengaja meminta pihak media dari daun tiga news untuk tetap menyebarkan berita yang kau unggah pertama kali. Dia juga meminta media untuk menyebarkan berita yang menyudutkan Putri agar hubungan kalian hancur. Ini semua buktinya." Yoseph memberikan sebuah stopmap yang berisi lembaran lembaran bukti bukti kejahatan Amoora.
Bukti pesan Amoora kepada salah satu wartawan daun tiga news, bukti transferan uang dari rekening Amoora ke rekening wartawan tersebut. Bastian mengepalkan erat tangannya.
__ADS_1
" Aku sudah meminta wartawan itu dan yang lainnya untuk menghapus semua beritanya. Kini tinggal giliranmu mengurus asistent pribadimu itu. Sepertinya dia punya perasaan yang terpendam terhadapmu. Itu sebabnya dia menggunakan kesempatan ini untuk mendapatkanmu." Ucap Yoseph menatap Bastian.
" Aku akan menuntutnya secara hukum Bang. Aku tidak terima calon istriku di hina oleh para netizen yang bisanya hanya nyinyir itu tanpa tahu yang sebenarnya. Jika Amoora pikir hubungan kami akan hancur, akan aku pastikan jika dia salah. Hubungan kami tidak akan hancur hanya karena masalah ini, tapi hubungan kami justru akan semakin kuat." Ucap Bastian.
" Kau sangat hebat sebagai pria Bro, tidak seperti pria yang ada di sampingmu." Ucap Yoseph menyindir Yoga.
" Mulai lagi deh kamu Bang, udah jangan bahas gue. Kita bahas bagaimana ke depannya Putri bisa menghadapi publik setelah ini." Ujar Yoga.
" Lakukan konferensi pers! Gampang kan." Sahut Yoseph.
" Iya kau benar juga Bang." Sahut Yoga.
" Ya sudah aku duluan Bang, aku akan menyelesaikan masalah ini dengan Amoora dulu. Setelah masalahku dengannya selesai, aku akan membujuk Putri lagi. Aku titip Putri, jangan sampai dia pergi meninggalkan aku selama kepergianku." Ucap Bastian menepuk pundak Yoga.
" Oke siap! Aku akan mengawasinya." Sahut Yoga.
Bastian segera berlalu dari sana dengan membawa bukti bukti di tangannya. Ia segera melajukan mobilnya menuju kota kembang.
Sekitar tiga jam, Bastian sampai di perusahaannya yang ada di kota Bandung. Ia segera turun dari mobil lalu berjalan masuk menuju ruangannya. Para karyawan menyambutnya dengan hormat.
Ceklek...
" Bastian." Ucap Amoora beranjak dari kursinya.
" Kau datang kemari tidak mengabariku lebih dulu?" Amoora menatap Bastian.
Bastian menatapnya dengan tatapan tajam, Amoora mengerutkan keningnya melihat ekspresi Bastian yang seperti itu.
" Ada apa?" Tanya Amoora.
Plek...
Bastian memberikan stopmap yang ia bawa kepada Amoora.
" Apa ini?" Amoora bertanya lagi.
" Buka!" Titah Bastian tegas.
Amoora membukanya, dan berapa terkejutnya ia saat melihat semua bukti bukti itu. Bastian segera mengambilnya kembali.
" Jelaskan apa tujuanmu sebenarnya!" Ucap Bastian tegas.
__ADS_1
" A... Aku.. " Amoora nampak gugup. Mau berkilah tetap tidak bisa karena bukti seratus persen mengarah padanya.
" Katakan Amoora!!!" Bentak Bastian.
" Katakan kenapa kau tega melakukan ini padaku!" Ucap Bastian dengan nada tinggi.
" A.. Aku mencintaimu."
Jeduarrr....
Bagaikan di sambar petir di siang bolong, Bastian benar benar terkejut.
" Apa?" Bastian mengerutkan keningnya.
" Bagaimana bisa Amoora? Kau orang yang aku percaya selama ini. Kita berteman sudah bertahun tahun. Dan tidak pernah ada kata cinta yang terucap dari bibirmu selama ini. Kenapa Amoora? Kenapa di saat aku menemukan cinta sejatiku kau malah berbuat seperti ini? Kau tahu aku hanya menganggapmu sebagai sahabat dan tidak akan bisa melebihi batasan itu. Aku benar benar kecewa padamu Amoora. Aku sangat kecewa padamu." Ucap Bastian menarik kasar rambutnya.
" Maafkan aku! Sebenarnya aku sudah lama memendam perasaan ini padamu, aku tidak berani mengungkapnya karena aku tahu kamu hanya menganggapku sebagai teman. Entah apa yang merasuki pikiranku kemarin, hingga aku bisa melakukan semua itu. Aku merasa punya kesempatan untuk mendapatkanmu waktu itu, perasaan dalam hatiku terus mendorong aku untuk berbuat seperti itu. Maafkan aku Bastian." Ucap Amoora jujur.
" Aku tidak bisa memaafkan perbuatanmu Amoora. Karena di sini wanita yang aku cintai lah yang menjadi korbannya. Dia di bully para netizen hingga dia tidak berani keluar rumah. Aku juga minta maaf karena aku tidak bisa membiarkan hal ini terjadi lagi. Aku membawa kasus ini ke jalur hukum. Bersiaplah polisi akan menjemputmu sebentar lagi."
Amoora langsung menatap Bastian dengan terkejut. Ia tidak menyangka Bastian bisa melakukan semua ini padanya.
" Apa kesalahanku tidak bisa di tebus dengan pengabdianku padamu selama ini Bastian? Aku yang menemanimu berjuang selama ini, aku yang selalu menjadikan kamu prioritas utamaku. Sesibuk apapun aku, aku selalu ada untukmu. Apapun masalahmu aku selalu menyelesaikannya dengan baik. Tapi apa balasanmu kepadaku? Hanya karena satu kesalahan, pengabdianku selama bertahun-tahun tidak ada artinya. Ingat Bastian! Putri hanya wanita yang baru kau kenal beberapa bulan, sedangkan aku." Amoora menunjuk dirinya sendiri meluapkan kekecewaannya pada Bastian.
" Kau mengenalku selama bertahun-tahun, apa aku pernah melakukan kesalahan?"
" Tidak Bastian... Kesalahanku hanya satu, aku salah telah memiliki perasaan ini padamu." Ucap Amoora.
" Jika hanya karena satu kesalahan aku di hukum, itu tidak akan adil untukku Bastian."
Amoora melirik sebuah pisau buah yang ada di meja tamu. Perlahan ia berjalan ke sana dan tanpa sepengetahuan Bastian, Amoora mengambil pisau itu.
" Jika aku di hukum, maka kamu juga harus di hukum. Karena semua ini terjadi karena ulahmu, biarkan kita mendapat hukuman bersama. Jika aku tidak bisa memilikimu maka tidak akan aku biarkan wanita manapun memilikimu Bastian." Ucap Amoora.
" Apa maksudmu Amoora?" Tanya Bastian.
Tiba tiba Amoora mengarahkan pisau itu ke perut Bastian dan...
Jleb.....
TBC.....
__ADS_1