DUDA SEDINGIN SALJU

DUDA SEDINGIN SALJU
PENDEKATAN LAGI


__ADS_3

Di dalam ruangan, Dean sedang menanti kedatangan Riani sambil duduk bersandar di atas ranjang. Pasalnya ia sudah menunggu Riani dari sore sampai malam namun Riani belum juga datang. Padahal jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.


" Kemana sih Riani? Kenapa jam segini belum juga datang, harusnya kan dia datang jam empat sore. Membantu aku mandi, mengurus obat dan makan malamku. Ini malah belum nongol sama sekali. Atau jangan jangan dia jadi pergi ke Jakarta ya?" Gumam Dean.


" Tidak tidak... Professor Ardan tidak mungkin membohongiku. Riani pasti datang, ya... Dia pasti datang. Aku harus menunggunya sebentar lagi, kalau dia tidak datang juga aku akan menemui professor Ardan lagi." Monolog Dean.


Ceklek....


Pintu terbuka dari luar.


Dean menoleh ke arah pintu, ia langsung menyunggingkan senyumannya saat melihat Riani yang berdiri di depan pintu.


" Malam Dok." Sapa Riani masuk ke dalam.


" Kenapa jam segini baru datang? Bukankah seharusnya kamu datang jam empat sore?" Selidik Dean menatap Riani yang sedang berjalan menghampirinya.


" Kalau kehadiran saya tidak di perlukan di sini, saya akan keluar. Dan maaf saya terlambat karena saya harus mengurus kembali kelengkapan saya untuk kembali bekerja di rumah sakit ini dan itu bukan hal mudah yang hanya membutuhkan waktu sebentar saja." Sahut Riani dingin.


" Maaf kalau begitu, aku tidak tahu kalau itu yang terjadi. Sekarang silahkan kerjakan tugasmu!" Ucap Dean.


" Terima kasih." Ucap Riani.


Sekilas Riani melihat wadah makanan yang masih tertutup rapat seperti belum tersentuh sama sekali. Dua butir obat juga masih utuh di dalam plastik kecil.


" Anda belum minum obat?" Tanya Riani menatap Dean.


" Belum." Sahut Dean.


" Kalau begitu anda harus makan lebih dulu lalu meminum obatnya." Ujar Riani.


" Aku mau makan tapi di suapi sama kamu." Ucap Dean.


" Maaf itu tidak termasuk pekerjaan saya." Sahut Riani.

__ADS_1


" Riani tolong jangan bersikap formal seperti ini! Bersikaplah seperti biasa, seperti sebelum kau pergi. Aku minta maaf jika telah melukai hatimu, aku tidak nyaman kau bersikap seperti ini padaku." Ujar Dean menatap Riani.


Riani memutar bola matanya malas. Ia tidak suka dengan orang yang plinplan pada ucapannya sendiri.


" Saya tidak mau mendapat surat teguran dari rumah sakit ini lagi Dok. Tolong pahami jika pekerjaan ini sangat penting untukku. Sekarang silahkan anda makan! Kalau anda butuh sesuatu anda bisa panggil saya. Saya akan menunggu di sofa." Ucap Riani berjalan menuju sofa tanpa menunggu jawaban Dean lagi.


Dean menghela nafasnya pelan. Bukannya makan, ia justru memejamkan matanya. Ia menahan rasa sakit di dalam hatinya. Sekarang ia tahu bagaimana sakitnya Riani saat ia berkata kasar pada Riani.


Riani yang melihat itu hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar.


" Benar benar keras kepala." Gumam Riani.


Riani beranjak mendekati Dean. Ia membuka penutup makanannya. Bubur ayam dengan lauk tahu dan tempe panggang ala rumah sakit.


" Sudah dingin." Gumam Riani.


" Tunggu sebentar Dok!" Ucap Riani.


" Ternyata dia masih peduli padaku, buktinya dia tidak membiarkan aku memakan makanan yang sudah dingin itu karena dia tahu kalau makanan itu sudah tidak enak. lagi." Monolog Dean.


Tak lama Riani kembali dengan membawa sekotak makanan yang masih hangat.


" Saya memesan makanan baru yang masih hangat, kalau anda keberatan anda bisa meminta pihak rumah sakit untuk memasukkan tagihannya ke tagihan saya." Ucap Riani.


" Tidak perlu, terima kasih telah peduli padaku." Ucap Dean.


" Bukan peduli tapi ini tugas saya untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pasien saya agar tidak mengeluh tentang pelayanan rumah sakit ini, atau saya akan di pecat." Sahut Riani.


" Silahkan Dok." Ucap Riani memberikan tempat makanan itu kepada Dean.


" Tidak mau menyuapi ku seperti waktu itu?" Tanya Dean memastikan.


" Maaf, saya tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi." Sahut Riani.

__ADS_1


" Baiklah maaf merepotkan." Akhirnya mau tidak mau Dean memakannya dengan tangannya sendiri. Ia melirik ke arah Riani, tiba tiba terbesit ide jahil di dalam otaknya. Ia tersenyum smirk lalu...


Uhuk uhuk uhuk


Mendengar Dean tersedak, Riani langsung berlari mendekatinya. Ia segera memberikan segelas air minum kepada Dean.


" Minumlah Dok!" Ucap Riani.


Dean mengambil gelas dari tangan Riani lalu ia segera meminumnya sampai habis.


" Terima kasih." Ucap Dean memberikan gelas kosong kepada Riani.


" Apa sudah mendingan?" Tanya Riani menatap Dean.


" Sudah." Sahut Dean menganggukkan kepalanya.


" Syukurlah kalau begitu." Gumam Riani kembali ke sofa, ia duduk di sana sambil memainkan ponselnya.


"Benar benar berubah, dia bisa berubah menjadi dingin kepadaku. Aku benar benar tidak menyangka, maafkan aku yang telah membuatmu berubah menjadi seperti ini. Tapi aku yakin di balik sikap dinginmu masih tersimpan kepedulian untukku. Aku akan mencoba mendekatimu kembali dan aku akan mendapatkan hatimu Riani. Aku tidak mau kehilangan orang yang aku sayangi untuk yang kedua kalinya." Ujar Dean dalam hati.


Selesai makan Dean segera meminum obatnya. Lebih tepatnya pura pura meminumnya karena ternyata ia membuang obatnya di balik bantalnya. Ia tidak mau sembuh dulu karena ia tidak mau kehilangan Riani lagi. Ia mencoba mengulur waktu agar punya kesempatan dekat dengan Riani. Ia rela cacat seumur hidup asalkan Riani bisa selalu bersamanya. Benar benar pemikiran konyol.


" Istirahatlah Dokter Dean! Saya akan membangunkan anda jam enam pagi. Anda harus berjemur di taman rumah sakit besok pagi dan mulai besok anda juga mulai latihan berjalan tanpa kursi roda." Ujar Riani.


" Hmm." Gumam Dean.


Riani kembali ke sofa, ia merebahkan tubuhnya di atas sofa sambil memainkan ponselnya. Sesekali ia tersenyum dan tertawa sendiri membuat hati Dean terusik.


" Dengan siapa dia chat an sih? Kenapa dari tadi nampak bahagia banget? Atau jangan jangan dia chat dengan pacarnya? Ah tidak.. Sepertinya dia tidak punya pacar. Kenyataannya selama ini dia tidak terlihat dekat dengan seorang pria. Atau aku yang tidak tahu ya? Aku harus menyelidikinya. Aku tidak mau sampai keduluan orang lagi seperti saat bersama Ara dulu. Aku sudah melabuhkan hatiku untuk suster Riani dan aku tidak mau yang lain lagi. Aku harus segera membujuk dan mengungkapkan perasaanku dengan benar kepadanya. Suster Riani... Kau benar benar membuatku gila dan kacau seperti ini. Pesonamu mengalahkan perasaanku terhadap Ara yang telah aku miliki selama lima tahun ini, kau hanya butuh waktu seminggu untuk mengambil segalanya. Aku harus terus berusaha supaya aku berhasil." Ucap Dean dalam hati.


TBC....


Author ucapkan selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan batin 🙏

__ADS_1


__ADS_2