DUDA SEDINGIN SALJU

DUDA SEDINGIN SALJU
MENJADI PERAWATNYA LAGI


__ADS_3

" A.. Apa? Resign? Kenapa dia resign?" Tanya Dean memastikan.


" Dia pindah rumah sakit yang lebih besar di Jakarta Tuan." Sahut suster Puput.


" Kapan dia mulai pindah?" Tanya Dean.


" Hari ini, sore nanti jadwal keberangkatannya." Sahut suster Puput.


" Bisakah kau membawaku kepadanya?" Tanya Dean menatap suster Puput.


" Anda ingin bertemu dengannya?" Suster Puput balik bertanya.


" Ya, aku ingin bertemu dengannya." Ucap Dean.


" Anda ingin bertemu dengan suster Riani?" Tanya suster Puput memastikan.


" Iya, bisakah kamu mengantarku kepadanya?" Tanya Dean.


" Bisa Dok, kebetulan suster Riani ada di ruangan professor Ardan." Sahut suster Puput.


" Kalau begitu antar aku ke sana." Ujar Dean.


Suster Puput membantu Dean duduk di kursi rodanya. Setelah itu ia mendorong kursi roda Dean keluar ruangan menuju ruangan professor Ardan.


" Kita mau masuk atau tunggu di sini Dok?" Tanya suster Puput setelah sampai di depan pintu ruangan Profesor Ardan.


" Kita tunggu di sini aja, kau bisa tinggalkan aku sendiri! Aku hanya ingin bicara berdua dengan suster Riani." Ujar Dean.


" Baik Dok." Sahur suster Puput.


Dean menunggu di depan pintu. Tak lama Riani membuka pintu lalu kelaur dari ruangan professor Ardan.


Deg..


Jantung Riani berdetak kencang saat melihat Dean, begitupun sebaliknya.

__ADS_1


" Riani." Ucap Dean.


" Mari Dokter Dean." Ucap Riani berlalu begitu saja.


" Riani tunggu!" Ucap Dean.


Riani tidak mendengarkan panggilan Dean, ia terus berjalan sampai...


Brak...


Riani menghentikan langkahnya, ia menoleh ke belakang di mana Dean jatuh dari kursi rodanya.


" Astaga dokter Dean." Riani menghampiri Dean.


" Saya bantu Dok." Ucap Riani membantu Dean duduk di kursi rodanya.


" Riani jangan pergi!" Ucap Dean memegang tangan Riani.


" Maaf Dok saya harus pergi, tolong lepaskan tangan saya!" Ucap Riani.


" Riani aku tahu aku salah, aku telah menyinggung dan melukai perasaanmu. Aku minta maaf!" Ucap Dean mendongak menatap Riani.


" Riani, bisakah aku memintamu untuk menjadi perawatku kembali? Aku merasa nyaman denganmu bukan orang lain." Ucap Dean.


" Maaf saya tidak bisa, saya sudah di pindah tugaskan ke kota besar. Jadi saya sudah tidak ada urusan di sini. Mungkin anda belum terbiasa dengan suster Puput tapi lambat laun pasti terbiasa seperti apa yang anda rasakan kepada saya. Saya harus pergi." Ucap Riani melangkahkan kakinya meninggalkan Dean.


" Riani aku mencintaimu." Teriak Dean.


Deg...


Riani menghentikan langkahnya namun ia tidak berani menoleh ke arah Dean.


Dean mendorong kursi rodanya mendekati Riani.


" Entah sejak kapan perasaan ini ada, mungkin kau tidak akan percaya karena waktunya yang terlalu singkat. Tapi hatiku mengatakan seperti itu. Aku merasa nyaman dekat denganmu, aku merasa senang kamu ada di sekitarmu, tapi aku merasa sepi tanpa kehadiranmu. Aku merasa sangat kehilanganmu Riani. Aku mohon pahami perasaanku. Kembalilah menjadi perawat yang akan merawatku sampai sembuh. Aku akan membayarmu dia kali lipat dari gaji normalmu. Atau kalau kau mau kau bisa mendapatkan seluruh hartaku, asal kau mau menikah denganku. Aku akan memberikan apa yang kamu mau." Ucap Dean panjang lebar.

__ADS_1


" Hidup ini bukan hanya tentang uang dan harta saja, tapi juga tentang harga diri. Dimana harga diriku di hargai makan di situ aku akan tinggal. Namun sebaliknya, jika harga diriku tidak berarti maka aku tidak akan berada di tempat itu walaupun dunia kau tawarkan sekalipun." Ucap Riani.


" Aku tidak punya tempat dan tujuan pasti untuk berlabuh, hidupku suram dan tidak punya masa depan. Yang aku punya hanyalah angan angan akan mendapat kebahagiaan suatu hati nanti, angan angan akan memiliki masa depan yang cerah. Dan keyakinan yang begitu dalam kepada yang Maha Kuasa jika aku pasti akan mendapatkan buah dari kesabaranku selama ini."


" Berbeda dengan dirimu yang punya segalanya dokter Dean. Memang ada batasan yang tidak bisa kita lampaui bersama. Maaf aku tidak punya banyak waktu lagi. Aku harus pergi." Ucap Riani meninggalkan Dean.


" Riani... Riani tunggu!... Riani... " Dengan tergesa gesa Dean terus memutar besi melingakr pada kursi rodanya supaya berjalan cepat. Namun tetap saja ia kalah dengan Riani yang berlari menjauh darinya.


" Hah.. Hah... Riani maafkan aku!" Monolog Dean menatap kepergian Riani.


" Argghhh... " Teriak Dean menarik kasar rambutnya.


Dean segera kembali ke ruangan professor Ardan. Ia ingin membicarakan sesuatu kepada professor Ardan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Riani berada di kamarnya sedang mengemas semua pakaian yang akan ia bawa ke Jakarta. Tiba tiba ponselnya berderinh tanda panggilan masuk dari professor Ardan, ia segera mengangkatnya.


" Selamat siang Prof." Sapa Riani.


" Riani kau tidak jadi di pindah tugaskan ke Jakarta, saya sudah membatalkan surat resign dan pemindahan tugas yang kau ajukan tadi. Kau masih bekerja di sini dan tugasmu masih sama, yaitu merawat dokter Dean sampai sembuh."


Jeduarrr...


Terkejut memang, tapi yang lebih mendominasi perasaan Riani saat ini adalah kesal. Ia yakin jika ini pasti perbuatan Dean.


" Dokter Dean benar benar menyebalkan, apa dia tidak tahu kalau dia telah mempermainkan perasaan aku? Kemarin dia ingin aku menjauh darinya, setelah aku menjauh darinya kini dia menarikku kembali. Tidak tahu apa hatiku masih terasa sakit karena ucapannya tempo hari. Aku merasa di hina sehina hinanya olehnya." Gerutu Riani.


" Dan apa tadi? Cinta? Dia mencintaiku?"


" Bulshit. Dia bahkan tidak tahu apa itu cinta dn cara mencintai dengan benar. Rumornya dengan dokter Ara saja masih menjadi topik terhot di rumah sakit itu. Masa' baru satu minggu dekat denganku sudah bilang cinta. Kemana saja selama ini? Selama ini aku selalu berada di dekatnya tidak di lirik sama sekali. Dia bahkan selalu mengacuhkan aku selama ini, apalagi setelah dokter Ara datang. Dia sama sekali tidak menoleh ke arahku lagi." Monolog Riani.


Sebenarnya Riani sudah lama suka dengan dokter Dean, jauh sebelum kedatangan Ara. Namun Dean tidak pernah menganggapnya ada. Apapun yang Riani lakukan sama sekali tidak terlihat oleh Dean. Hal itu membuat Riani mulai berusaha melupakan perasaannya.


Namun siapa sangka setelah lima tahun berusaha, ia justru di hadapkan pada kenyataan menjadi perawat dokter Dean. Perasaannya kembali kacau dan ia semakin tidak bisa mengendalikan diri saat berdekatan dengan Dean.

__ADS_1


" Ternyata satu minggu bisa mengalahkan lika tahun. Heh... Riani Riani... " Kekeh Riani.


" Sabar Riani... Mungkin ini ujian yang Tuhan kirimkan untukmu kembali. Baiklah dokter Dean, kau ingin menguji kesabaranku? Akan aku perlihatkan padamu jika kesabaranku tidak ada batasannya. Bahkan aku mengklaim diriku sendiri sebagai wanita tersabar di dunia ini. Aku ucapkan selamat datang kembali dokter Dean. Aku ingin melihat apakah yang kau ucapkan tadi siang itu sebuah kebenaran atau hanya kebohongan belaka." Monolog Riani menyemangati dirinya sendiri.


__ADS_2