
Ara membuka matanya, ia melihat ke arah jarum jam yang menunjukkan pukul sepuluh pagi.
" Astaghfirullah hal'adzim. Kenapa aku malah ketiduran? Ya Tuhan aku harus menjemput Rere." Ucap Ara segera turun dari ranjang.
Tak sengaja tatapan Ara tertuju pada selembar kertas yang ada di atas nakas. Ternyata sebuah surat dari Yoga.
Mas menjemput Rere, kamu tunggu di sini saja. Kita akan makan siang bersama, kamu terlihat begitu lelap membuat mas tidak tega membangunkanmu. Mas mencintaimu.
Ara tersenyum membaca tulisan tangan Yoga. Ia kembali duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponselnya menunggu Yoga dan Rere.
Ting..
Ponsel Ara bergetar tanda pesan masuk.
Pagi dokter Ara, bagaimana kabarmu di sana ~ Riani
Ara segera mengetik kalimat balasan.
Aku baik Riani, bagaimana denganmu dan kak Dean di sana ~Ara
Kami baik baik saja dok, hari ini mas Dean sudah di perbolehkan pulang ~ Riani
Syukurlah kalau begitu, apa sudah ada perkembangan dengan kakinya ~Ara
Sudah dok, mas Dean sudah bisa menggerakkan kakinya. Dia sudah bisa berjalan dengan dua kaki walupun masih menggunakan tongkat penyangga ~Riani
Aku turut senang mendengarnya, kapan undangan pernikahan kalian sampai ke tanganku ~Ara
Doakan saja secepatnya dok, bulan depan kami pindah ke Jakarta karena mas Dean harus mengurus perusahaan ayahnya di sana. Aku ingin sekali bertemu denganmu dan putrimu dok setelah kami sampai di sana~Riani
Benarkah? Aku akan menemui kalian jika kalian sampai di sini ~Ara
Terima kasih dok, sudah dulu ya aku harus kembali bekerja. Sampaikan salamku untuk putrimu dokter Ara ~ Riani
Akan aku sampaikan ~Ara
Ara menatap layar ponsel nya tiba tiba ia teringat dengan sahabatnya, suster Leni.
" Oh ya apa kabar dengan suster Leni? Apa dia sudah menikah dengan Doni? Ah aku lupa menanyakan kabar padanya. Aku akan meneleponnya." Ujar Ara.
Belum sempat Ara meneleponnya tiba tiba Rere memeluknya dari belakang.
" Assalamu'alaikum Mama." Ucap Rere.
" Wa'alaikumsallam warohmatullohi wabarokatuh sayang." Sahut Ara sambil tersenyum.
__ADS_1
" Kamu sudah bangun sayang." Ucap Yoga duduk di samping Ara.
" Iya Mas, maaf aku ketiduran." Ucap Ara.
" Tidak apa apa sayang, tadi kamu kelihatan sangat lelah. Apa sekarang sudah mendingan?" Tanya Yoga.
" Sudah Mas, aku juga tidak tahu kenapa aku bisa selelah ini." Ujar Ara.
" Itu karena semalam... " Yoga menjeda ucapannya saat melihat Rere yang saat ini sedang menatapnya.
" Semalam kenapa Pa?" Tanya Rere.
" Semalam mamamu tidak bisa tidur sayang karena memikirkanmu. Mama berpikir kalau kamu tidak bisa tidur tanpa mama, itu sebabnya mama kamu juga tidak bisa tidur." Sahut Yoga.
" Rere baik baik saja Ma jadi tidak perlu Mama pikirkan. Mama harus tidur dengan nyenyak supaya Mama sehat, Mama kan mau mengandung dedek bayi." Sahut Rere membuat Ara terkejut.
" Iya sayang, Mama sudah lega sekarang jadi Mama tidak akan memikirkan Rere lagi. Sekarang ayo kita makan siang, kamu pasti lapar setelah belajar selama beberapa jam." Ujar Ara.
" Ma, Rere mau minta maaf." Ucap Rere.
Ara membalikkan badannya menatap Rere.
" Kenapa harus meminta maaf sayang? Apa Rere punya salah sama Mama? Perasaan nggak ada." Ujar Ara menangkup wajah putri cantiknya.
" Soal ucapan Azzam tentang papa, pasti membuat hati Mama sakit." Ucap Rere.
" Mama sudah meminta penjelasan dari papa soal itu, dan papa sudah menceritakan semuanya sayang. Mama tidak mempermasalahkan hal ini, jadi kamu tidak perlu merasa bersalah. Lagian Mama baik baik saja, Mama percaya pada papamu kalau papamu tidak akan menduakan Mama. Kan papamu cintanya cuma sama Mama." Ujar Ara.
" Sekarang mending kita cari makan siang biar anak Mama yang cantik ini tidak kelaparan." Sambung Ara.
" Baik Ma." Sahut Rere.
Rere berada di tengah tengah kedua orang tuanya, ia menggandeng tangan kedua orang tuanya berjalan meninggalkan ruangan Yoga. Saat tiba di lobby perusahaan, mereka berpapasan dengan Dini dan Azzam.
" Rere apa kau mau makan siang?" Tanya Azzam menghentikan langkah mereka bertiga.
" Iya, aku mau makan siang sama mama sama papa." Sahut Rere.
" Bolehkan aku ikut denganmu seperti biasa? Kebetulan kami juga belum makan siang." Ucap Azzam menatap Rere.
Rere mendongak menatap kedua orang tuanya sekilas lalu ia kembali menatap Azzam.
" Maaf Zam aku tidak bisa, aku mau menghabiskan waktu bertiga saja." Sahut Rere membuat Azzam nampak kecewa.
" Yah berarti mulai sekarang aku kesepian donk, kamu sudah tidak mau mengajakku bersama lagi." Ujar Azzam.
__ADS_1
" Bagus Azzam, bujuk Rere supaya dia mau mengajakmu dan mama." Batin Dini tersenyum smirk.
" Sepertinya Dini telah menjadikan Azzam benalu dalam hidup putriku. Dia sengaja memanfaatkan Azzam untuk mendekati mas Yoga. Selama ada aku kau tidak akan mendapatkan apa yang kamu mau Dini." Ujar Ara dalam hati menatap Dini.
" Kamu mau makan siang bersama kami?" Tanya Ara menatap Azzam.
" Iya Tante." Sahut Azzam.
" Kamu boleh ikut bersama kami." Ucap Ara membuat mata Dini berbinar dan tersenyum lebar.
" Tapi hanya kamu, tidak dengan mama kamu." Ujar Ara.
Senyuman yang sempat terpancar di wajahnya mendadak hilang sudah. Dini mengepalkan erat tangannya menahan kesal terhadap Ara.
" Terus mama gimana Tante? Mama sedari tadi juga belum makan." Ucap Azzam menatap Ara.
" Mama bisa makan di kantin bersama pegawai lain sayang." Sahut Dini basa basi.
" Ya mama kamu benar, dia bisa makan di kantin bersama karyawan lain. Mama kamu pasti kangen berkumpul sama teman temannya di sana. Sudah lama kan mama kamu tidak makan dengan mereka? Jadi biarkan mama kamu makan bersama teman temannya. Bukankah begitu nona Dini?" Tanya Ara tersenyum sinis.
" Ah iya anda benar nyonya." Sahut Dini.
" Bagaimana? Apa kamu mau makan bersama kami atau mau makan bersama mama kamu?" Tanya Ara menatap Azzam.
"Jangan mau kalau tidak sama mama Azzam. Kamu harus bisa membujuk nyonya Ara." Batin Dini.
" Baiklah aku mau makan bersama Tante, biar mama punya waktu dengan teman temannya." Sahut Azzam membuat Ara tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan Dini memejamkan matanya merutuki kebodohan anaknya.
" Sial... Aku kehilangan kesempatan berduaan sama pak Yoga. Azzam bego' banget sih lo. Bukannya membantu aku malah memihak pada Ara." Ujar Dini dalam hati.
" Ya sudah ayo!" Ucap Yoga.
" Iya Mas." Sahut Ara.
" Ayo sayang!" Ajak Ara menggandeng tangan Azzam. Mereka nampak seperti sebuah keluarga harmonis.
Dini menghentakkan kakinya kesal meninggalkan lobby perusahaan.
" Mengkhayal mau jadi nyonya, nggak bisa lah."
" Bagai punduk merindukan bulan."
" Miskin miskin aja kali, sok sok an mau menaikkan derajat dengan mendekati pak Yoga."
" Dasar tidak tahu malu."
__ADS_1
Berbagai cibiran teman teman lontarkan kepada Dini. Dini hanya bisa diam sambil terus melangkahkan kakinya kembali ke ruangannya. Ruangan yang akan ia huni terakhir kali.
TBC....