
" Mas Doni, aku ingin makan rujak pedas." Ucap Leni menghampiri Doni yang sedang sibuk dengan laptopnya.
Doni menatap jam yang melingkar di tangannya.
" Ini sudah jam sembilan malam sayang, dimana aku bisa mendapatkannya jam segini?" Tanya Doni menatap Leni.
" Aku juga tidak tahu Mas, yang penting kamu dapat rujaknya. Aku tidak mau tahu dimana kamu mencarinya." Ujar Leni duduk di pangkuan Doni.
" Baiklah akan aku belikan, tapi kamu harus ikut. Aku nggak mau kalau harus mencari sendiri, aku akan kesepian di mobil sayang." Ucap Doni menempelkan hidungnya di pipi Leni.
" Baiklah." Sahut Leni beranjak.
Doni menutup laptopnya lalu keluar kamar sambil menggandeng tangan Leni.
Setelah masuk ke dalam mobil, Doni segera melajukan mobilnya membelah jalanan kota. Leni menatap ke luar jendela menikmati indahnya suasana kota di malam hari.
" Memangnya biasanya yang jual rujak dimana sayang?" Tanya Doni celingak celinguk barang kali ada pedagang rujak.
" Biasanya sih aku beli di cafe xx Mas tempat Ara suka membeli, tapi tidak tahu apakah sekarang masih ada atau tidak." Sahut Leni.
" Baiklah kita ke sana saja." Sahut Doni.
Doni melajukan mobilnya menuju kafe xx. Sampai di sana, Doni dan Leni segera turun dari mobil. Mereka masuk ke dalam sambil bergandengan tangan sampai mereka berdua menabrak seorang wanita.
Brugh...
" Maaf maaf." Sahut Leni dan wanita itu bersamaan.
Wanita itu mendongak, ia terkejut saat melihat Doni.
" Doni." Ucap wanita itu menunjuk Doni.
Leni menatap Doni dan wanita itu secara bergantian.
" Lu.. Luna." Ucap Doni.
" Aku tidak menyangka akhirnya kita bisa bertemu di sini setelah sekian lama. Ayo silahkan duduk! Kita ngobrol ngobrol dulu." Luna menarik tangan Doni menuju meja nomer tiga tanpa menghiraukan Leni.
" Duduk sini!" Ucap Luna duduk di depan Doni.
Doni menatap Leni yang menampakkan wajah kesalnya.
" Sayang sini duduk!" Ucap Doni melambaikan tangannya.
Leni mendekati mereka sambil menghentakkan kakinya. Ia duduk di kursi samping Doni.
" Doni, siapa dia?" Tanya Luna menunjuk Leni.
" Kenalkan, dia Leni istriku." Ucap Doni membuat Luna terkejut.
__ADS_1
" Apa??" Pekik Luna membulatkan matanya.
" Bagaimana bisa kau menikahi wanita lain setelah kau berjanji mau menikahiku Doni? Apa kau tidak memikirkan nasib anak kita?"
Jeduarrrr.....
Bagai di sambar petir di siang bolong, Leni benar benar terkejut akan hal ini. Pasalnya selama ia dekat dengan Doni, Doni tidak pernah menyinggung tentang anak. Ia menatap Doni dengan tajam, Doni hanya bisa membuang muka saja.
" Aku sudah bilang jangan pernah membahas soal Deni, Luna." Ucap Doni tegas.
" Bagaimana aku tidak membahasnya Doni? Sudah bertahun tahun kamu meninggalkan kami, Deni selalu menanyakan keberadaanmu dan aku terus saja berbohong. Saat ini Deni berusia tiga tahun, dia sudah tidak bisa di bohongi lagi Doni. Dia terus mendesak memintaku untuk mempertemukannya dengan papanya. Aku sudah mencarimu selama ini tapi aku tidak bisa menemukanmu. Aku pikir kamu masih tinggal di Jogja." Ujar Luna.
" Tapi sekarang aku tidak akan melepaskanmu lagi, temui Deni dan nikahi aku secepatnya. Tidak masalah jika aku menjadi yang kedua, asalkan anakku punya identitas yang sebenarnya." Sambung Luna membuat Leni terkejut.
Hati wanita mana yang tidak sakit mendengar semua kebenaran yang sangat menyakitkan baginya. Sebisa mungkin Leni menyembunyikan air matanya. Tak tahan dengan rasa sesak yang mendera hatinya, Leni beranjak meninggalkan mereka.
" Sayang tunggu." Doni segera mengejarnya.
Leni terus berjalan menuju jalan raya untuk menyetop taksi.
" Sayang tunggu!" Doni mencekal tangan Leni.
" Lepaskan aku Mas!" Ucap Leni.
" Tidak sayang, aku tidak akan melepaskanmu. Maafkan aku karena aku telah menyakitimu. Tapi aku mohon dengarkan penjelasanku. Aku akan memberitahumu yang sebenarnya." Ujar Doni.
" Aku tidak mau mendengar apapun darimu Mas. Sekarang lepaskan aku! Biarkan aku pergi!" Ucap Leni menyentak kasar tangan Doni hingga terlepas.
" Leni tunggu!" Teriak Doni.
Karena kurang fokus, Leni tersandung batu hingga tubuhnya terhuyung ke depan.
" Leni... " Doni segera menarik tangan Leni hingga berbalik menubruk dadanya.
Brugh...
Doni memeluk tubuh Leni, Leni nampak mengatur nafasnya yang terkenal di tambah detakan jantung tiga kali lebih cepat. Bahu Leni naik turun, dadanya terasa semakin sakit sampai...
Brugh...
Leni tidak sadarkan diri dalam pelukan Doni.
" Sayang sadarlah!" Ucap Doni menepuk pipi Leni. Leni tetap setia memejamkan matanya.
Tanpa membuang waktu, Doni segera membawa Leni ke rumah sakit terdekat dengan mobilnya.
Sampai di rumah sakit, Doni membopong Leni menuju ruang UGD. Leni segera mendapat perawatan dari dokter. Doni menunggu di depan ruangan, ia menelepon Dean untuk meminta bantuannya.
Setengah jam Doni menunggu sampai dokter keluar dari ruangan itu. Doni segera menghampirinya.
__ADS_1
" Bagaimana keadaan istri dan calon anak saya Dok?" Tanya Doni menatap dokter pria berkacamata itu.
" Keduanya baik baik saja Tuan, pasien mengalami syok berat yang membuat tubuhnya drop. Untuk saat ini pasien butuh perawatan untuk beberapa hari, setelah kondisinya stabil pasien boleh pulang." Ucap dokter.
" Lakukan yang terbaik untuk istri saya Dok." Ucap Doni.
" Tentu Tuan, pasien akan segera di pindahkan ke ruang rawat. Silahkan anda mengurus administrasi lebih dulu. Saya permisi." Ucap dokter meninggalkan Doni.
Doni segera mengurus administrasi rumah sakit, setelah itu ia menuju ruang VIP nomer dua dimana Leni di rawat di sana.
Ceklek....
Doni membuka pintunya, ia menatap Leni yang terbaring lemah di atas ranjang. Ia menutup pintu dengan pelan lalu menghampiri Leni.
" Sayang." Ucap Doni duduk di kursi dekat ranjang.
Leni memalingkan wajahnya, saat ini ia tidak mau menatap Doni.
" Sayang dengarkan aku! Saat ini aku tidak ingin menjelaskan apapun karena aku yakin, apapun yang akan aku katakan kamu tidak akan mempercayainya. Tuan Dean yang akan menjelaskan semuanya kepadamu tentang Luna dan anaknya. Aku berharap kau percaya dengan apa yang akan Tuan Dena sampaikan padamu." Ucap Doni.
Leni tidak bergeming, ia terlalu malas untuk membahas hal itu.
Tok tok...
Pintu di ketuk dari luar.
" Masuk." Teriak Doni dari dalam.
Ceklek...
Doni menoleh ke arah pintu, nampak Dean masuk ke dalam menghampiri mereka.
" Tuan Dean, maaf merepotkan anda." Ucap Doni menatap Dean.
" Tidak usah sungkan seperti sama siapa saja, kita tidak sedang di kantor jadi tidak perlu bersikap formal." Ujar Dean.
" Baiklah." Sahut Doni.
" Bagaimana keadaanmu Leni?" Tanya Dean membuat Leni terpaksa menoleh ke arahnya. Doni tersenyum ke arahnya namun Leni tidak mempedulikannya.
" Seperti yang kau lihat Kak." Sahut Leni.
" Sepertinya kau baik baik saja, apa Doni membuat masalah denganmu?" Dean bertanya lagi.
" Tidak." Sahut Leni.
" Berarti yang membuat masalah adalah wanita itu." Ucap Dean membuat Leni terkejut.
" Aku yakin pasti Luna mengatakan sesuatu yang membuatmu marah kepada Doni. Akan aku jelaskan di sini! Luna hadir setelah Doni menjadi anak buahku beberapa tahun. Jadi bisa aku pastikan jika apa yang aku ucapkan adalah kebenaran yang aku tahu sendiri." Ujar Dean.
__ADS_1
" Luna adalah.....
TBC.....