
Tiba tiba...
Grep....
Tubuh Putri menegang saat ada seseorang yang memeluknya dari belakang.
" Jangan menangis! Aku di sini. Ayo kita menikah."
Deg...
Jantung Putri berdetak dengan sangat kencang. Ia merasa sangat familiar dengan suara itu. Ia menoleh ke belakang menatap wajah pucat milik orang yang saat ini sedang memeluknya.
" Mas Abbas." Putri nampak sangat terkejut. Ia segera beranjak menatap Bastian yang saat ini berdiri di depannya dalam kondisi lemah.
" A.. Apa ini? Apa kau sedang mempermainkan aku Mas?" Tanya Putri seperti orang linglung.
" Hanya ini yang ada di pikiranku untuk mendapatkan kamu kembali sayang. Kau begitu keras kepala menolakku, maka aku lebih keras kepala untuk mendapatkanmu kembali. Kau sudah berjanji jika aku terbangun, kau akan menerimaku dan akan menikahiku. Sekarang aku menagih janji itu. Mari kita menikah dan hidup bahagia selamanya. Dan jangan keras kepala lagi." Ucap Bastian menggenggam tangan Putri.
" Tidak mau, kamu jahat." Ucap Putri memukul dada Bastian.
" Masih keras kepala?" Tanya Bastian menatap Putri.
Putri mengusap air matanya, perasaannya menjadi tidak karuan. Antara bahagia dan kesal yang menjadi satu.
" Kalau masih keras kepala, lebih baik aku tiada saja." Ucap Bastian membalikkan badannya.
" Jangan." Ucap Putri mencekal tangan Bastian.
Bastian tersenyum, ia kembali menghadap Putri.
" Aku tidak akan keras kepala lagi! Jangan pergi! Aku tidak sanggup kehilanganmu Mas." Ucap Putri.
Bastian menarik tubuh Putri ke dalam pelukannya.
" Terima kasih sayang." Ucap Bastian menciumi pucuk kepala Putri.
Putri menyusupkan wajahnya ke dada Bastian. Tatapannya turun tertuju pada perut Bastian yang terbalut kassa.
" Apa ini sakit?" Putri menyentuh pelan kassa tersebut.
" Tidak sesakit penolakanmu." Sahut Bastian.
__ADS_1
" Sekarang aku sudah tidak menolak lagi, apa masih terasa sakit?" Putri kembali bertanya.
" Tidak... Aku bahkan tidak merasakan sakit sedikitpun. Rasa sakit dalam tubuhku telah terobati dengan kebahagiaan ini. Jangan pernah meninggalkan aku! Aku tidak bisa hidup tanpamu." Sahut Bastian membuat Putri terharu.
" Aku tidak akan meninggalkanmu, begitupun denganmu. Kau tidak boleh meninggalkan aku apapun yang terjadi." Ujar Putri.
" Aku janji." Sahut Bastian mengelus kepala Putri.
" Ehem ehem... " Dehem Yoga membuat keduanya tersadar.
" Sudah adegan pelukannya? Kalau sudah mari kita pindah ke ruang rawat. Atau mau di sini saja menemani jenazah lainnya?" Ucapan Yoga membuat Putri tersadar sedang dimana dia sekarang. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, ia bergidik ngeri melihat jenazah lainnya yang terbaring di atas ranjang.
Menyadari hal itu, Bastian segera merangkul Putri keluar dari sana. Di depan ruangan, Bastian menatap dokter yang telah membantunya.
" Terima kasih atas bantuannya Dok." Ucap Bastian.
" Sama sama Tuan." Sahutnya.
" Setelah ini saya akan menuntut anda Dokter karena anda telah menyalah gunakan kekuasaan anda untuk mengelabuhi saya." Ancam Putri.
" Eh jangan Nona! Saya hanya membantu tuan Bastian saja untuk mendapatkan cinta sejatinya." Ujar dokter.
" Nggak mau tahu." Sahut Putri.
" Saya pastikan hal itu tidak terjadi." Ucap Bastian menganggukkan kepala.
" Bagaimana kalau aku meminta syarat padamu Mas, aku mau memintamu kalau kamu bisa membuat dokter ini di pecat dari rumah sakit ini. Siapa yang akan kamu pilih? Aku atau dokter ini?" Pertanyaan Putri membuat dang dokter ketakutan.
" Sayang jangan membuatnya takut! Kasihan dia, nanti kalau dia tidak mau merawat aku gimana hmm." Ujar Bastian.
" Hah baiklah, aku memaafkannya. Tolong ambilkan kursi roda untuk tunangan saya. Kasihan kalau dia harus berjalan. Sepertinya tunangan saya merasa kesakitan." Ucap Putri menatap dokter tersebut.
" Anggap saja sebagai hukuman karena telah membuat saya hampir mati berdiri." Sambung Putri.
" Baik Nona." Sahutnya.
Setelah duduk di kursi roda, Putri segera mendorong kursi rodanya menuju ruangan vvip nomer dua dimana Bastian akan mendapat perawatan. Sampai di ruangan, Bastian segera berbaring di atas ranjang. Dokter memasang selang infus di tangan kirinya. Setelah itu dokter undur diri dari sana.
" Bagaimana kamu bisa punya rencana seekstrim ini Mas?" Tanya Putri duduk di kursi samping ranjang.
" Aku benar-benar merasa menjadi manusia paling bodoh di dunia ini karena bisa di tipu olehmu. Ternyata benar, orang berkuasa bisa mendapatkan dan melakukan apa saja. Hal seperti inilah yang membuat aku tidak suka dengan pria yang memiliki jabatan. Aku lebih suka pria biasa, itu sebabnya aku jatuh hati padamu. Tapi ternyata perasaan ini salah sasaran. Yang ada bukan pria biasa yang aku dapatkan tapi pria yang luar biasa. Luar biasa mencintaiku sampai sampai bermain main dengan kematian." Sindir Putri.
__ADS_1
" Maafkan aku sayang jika aku telah membuatmu kesal, membuatmu kecewa lagi, aku melakukan ini atas usulan dari pak Yo... " Bastian menjeda ucapannya begitu melihat Yoga yang menggelengkan kepalanya. Putri menoleh ke arah Yoga, Yoga segera membuang pandangannya ke segala arah.
" Jadi ini rencanamu Kak?" Tanya Putri.
" Bu.. Bukan.. Kakak tidak tahu apa apa." Sahut Yoga.
" Lalu siapa yang berbohong di sini?" Tanya Putri lagi.
" Kalau tidak mau mengaku, aku akan mengadukan ini pada Ara." Sambung Putri mengancam.
" Ah baiklah baiklah.. Kakak mengaku, memang ini rencana Kakak. Salah siapa jadi anak keras kepala, Kakak menyukai Bastian. Dan menurut Kakak, Bastian pria terbaik untuk menjadi pendamping hidupmu karena dia tulus mencintaimu." Terang Yoga.
Putri menghela nafasnya pelan.
" Lain kali jangan bermain main dengan kematian! Aku takut mendengarnya, ucapan adalah doa. Bagaimana jika sandiwara kalian jadi kenyataan? Siapa yang rugi hah?" Putri menatap Yoga dan Bastian bergantian.
" Kami minta maaf." Ucap Bastian dan Yoga bersamaan.
" Baiklah aku maafkan, aku sudah terlalu pusing menghadapi masalah ini. Aku mau istirahat." Ucap Putri menuju sofa.
Putri merebahkan tubuhnya di atas sofa sebelah Yoga.
" Baiklah kau istirahat saja! Kakak akan menjaga Bastian." Ucap Yoga.
" Oh ya, bagaimana kabar Amoora Kak?" Tanya Putri.
" Dia meninggal dunia."
" Apa???" Sontak Putri langsung bangun dari tidurannya. Ia duduk bersila menghadap Yoga.
" Yang bener Kak? Jangan berbohong lagi!" Ucap Putri.
" Iya, dia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Lukanya dalam dan tepat mengenai jantungnya. Beruntung Bastian sempat mengelak sehingga pisau yang di pegang Amoora meleset ke perutnya. Kalau tidak mungkin Bastian juga mengalami hal yang sama." Ujar Yoga.
Ya.. Yoga tahu apa yang sebenarnya terjadi setelah meneliti rekaman CCTV ruangan Bastian.
" Benar benar tragis, inilah yang di namakan cinta mati. Tidak bisa memiliki akhirnya dia memilih untuk mengakhiri hidupnya. Sungguh sangat di sayangkan, sebagai seorang wanita aku menganggapnya bodoh. Bukankah banyak pria di luar sana yang bisa membuatnya bahagia? Lalu kenapa harus mengakhiri hidupnya sendiri. Ya Tuhan... Dunia tidak selebar daun kelor, pria di dunia bukan hanya mas Bastian saja. Kalau jadi dia aku lebih memilih pergi mencari pria lain daripada mengakhiri hidupnya sendiri." Ujar Putri.
" Sayang... " Tekan Bastian yang tidak terima mendegar ucapan Putri.
" He he maaf Mas." Ucap Putri nyengir kuda.
__ADS_1
TBC....