DUDA SEDINGIN SALJU

DUDA SEDINGIN SALJU
BABBY TAMPAN


__ADS_3

Hari hari berlalu, tak terasa usia kehamilan Ara sudah menginjak sembilan bulan. Hari ini ia, Yoga dan Rere memeriksakan kandungannya ke rumah sakit untuk USG. Setelah masuk ke poli kandungan, dokter segera memeriksa Ara.


Ara berbaring di atas brankar lalu dokter segera melakukan pemeriksaan USG. Saat dokter Mila mengoleskan gel tiba tiba Ara mengaduh kesakitan.


" Shhh... Sakit Dok." Rintih Ara.


" Sayang mana yang sakit?" Tanya Yoga khawatir.


" Perutku sakit Mas." Ucap Ara.


" Dokter perut istri saya sakit, bagaimana ini?" Tanya Yoga.


" Tidak perlu cemas Tuan, sepertinya nyonya Ara mau melahirkan. Biar saya periksa dulu Tuan." Ujar dokter Mila.


Dokter Mila segera memeriksa Ara untuk memastikan jika dugaannya benar.


" Bagaimana Dok?" Tanya Yoga.


" Benar Tuan, nyonya Ara mau melahirkan. Kita akan memindahkannya ke ruang bersalin." Sahut dokter Mila.


" Lakukan yang terbaik untuk istri saya Dok!" Ucap Yoga.


" Tentu Tuan." Sahut dokter Mila.


Setelah di pindahkan di ruang bersalin, Ara di sarankan untuk berjalan jalan sambil sesekali jongkok untuk mempercepat pembukaannya. Dengan setia Yoga menemaninya, ia mengikuti kemanapun Ara melangkah di belakangnya. Sedangkan Rere duduk di kursi yang ada di depan ruang bersalin sambil menunggu nyonya Hana datang.


" Shhh." Ara berjongkok sambil membuka kakinya saat merasakan kontraksi pada perutnya. Ia terus melafalkan doa agar persalinannya lancar.


" Sayang." Yoga ikut berjongkok, ia mengelus pinggang Ara yang terasa panas pegal.

__ADS_1


" Bagaimana sayang? Apa sakit banget?" Tanya Yoga.


" Tidak Mas, jangan khawatir! Aku baik baik saja." Ucap Ara.


" Sayang jangan berbohong! Kalau sakit katakan sakit! Jangan mencoba memendamnya sendiri sayang, Mas tidak mau terjadi hal buruk padamu." Ujar Yoga.


Ara tersenyum mendengar ucapan Yoga, ia tahu saat ini Yoga sedang berperang dengan rasa paniknya.


Ara kembali berdiri setelah rasa sakit itu menghilang. Ia membalikkan badannya menatap Yoga begitupun sebaliknya. Ara mengusap keringat yang mengalir deras di dahi Yoga.


" Tenanglah Mas! Aku baik baik saja. Rasa sakit ini wajar terjadi pada wanita yang mau melahirkan sepertiku. Rasa sakit yang aku rasakan masih normal Mas, jika aku merasakan sakit yang luar biasa aku akan memberitahu Mas." Ujar Ara.


" Benar ya sayang, jujur Mas sangat takut saat ini. Rasa trauma kembali menghampiri Mas sayang. Mas takut kehilanganmu." Ucap Yoga memeluk Ara.


" Aku tidak akan meninggalkanmu Mas, aku akan tetap di sini. Berdoalah kepada Tuhan agar Dia mengabulkan doa doa kita." Ucap Ara.


Yoga berjongkok di depan Ara. Ia mengusap perut Ara yang nampak membuncit dan melorot ke bawah.


" Jagoannya Papa, Papa mohon sayang! Jangan buat mamamu kesakitan. Kasihan mama sayang, Papa tidak sanggup melihatnya. Segera lahirlah dengan selamat sayang. Papa dan kakakmu tidak sabar menantimu." Ucap Yoga mencium perut Ara.


Tiba tiba Ara mengalami kontraksi hebat. Rasa sakit yang semula hilang timbul kini menetap pada perutnya.


" Mas tolong pangilkan dokter! Sepertinya anak kita sudah mau lahir Mas, rasanya sudah berada di bawah sini Mas." Ujar Ara.


" Baiklah sayang, tunggu di sini." Yoga segera berlari keluar memanggil dokter. Tak lama Yoga kembali bersama dokter Mila.


" Silahkan berbaring Nyonya!" Titah dokter Mila.


Ara naik ke atas ranjang, ia membuka kakinya lebar lebar lalu mengej@n mengikuti instruksi dokter. Yoga menggenggam tangan Ara sambil terus berdoa untuk keselamatan anak dan istrinya.

__ADS_1


Satu kali dorongan, dua kali dorongan sampai dorongan ketiga akhirnya...


Oek.. Oek...


Seorang bayi laki laki lahir dengan selamat. Yoga dan Ara bernafas lega mendengar tangisan sang putra tercinta.


" Alhamdulillah sayang, anak kita lahir dengan selamat. Mas mencintaimu." Yoga menciumi kening Ara meluapkan rasa bahagia yang membuncah di dalam hatinya.


" Iya Mas, alhamdulillah." Sahut Ara lemas.


" Selamat Tuan, Nyonya. Bayinya laki laki dan terlahir dengan sempurna. Silahkan lakukan inisiasi menyusu dini kepada putra anda Nyonya." Uajr dokter Mila menengkurapkan babby Ara di atas dadanya.


Sang babby tampan nampak mencari ****** susu ibunya. Yoga dan Ara terharu melihatnya.


" Lihatlah sayang! Dia nampak kehausan." Ujar Yoga.


" Iya Mas." Sahut Ara.


" Mas sangat bahagia sayang, akhirnya ketakutan Mas terbayar dengan kebahagiaan ini. Kau memang wanita terbaik yang pernah Mas miliki. Mas mencintaimu." Yoga kembali mencium kening Ara.


" Aku juga mencintaimu Mas." Ucap Ara.


Keduanya nampak sangat bahagia mendapat anugerah terindah dari yang Maha kuasa yaitu berupa babby tampan yang kini menjadi milik mereka.


TBC....


Mohon maaf hari ini sampai di sini dulu, author lagi tidak enak badan...


Next part end ya... Makasih...

__ADS_1


__ADS_2