
Ara melakukan mobilnya menuju sekolah Rere. Lima belas menit kemudian mereka sampai di sekolah TK negeri putra bangsa. Rere dan Ara segera turun dari mobil, mereka bergandengan tangan masuk pintu gerbang menuju kelas Rere.
Di depan kelas masih banyak wali murid yang menunggu bel masuk. Mereka duduk di teras sambil berbincang bincang.
" Rere siapa dia? Apa dia mama kamu?" Tanya salah satu wali murid yang ada di sana.
" Iya Oma, kenalkan ini mama Rere." Ucap Rere.
" Assalamu'alaikum ibu ibu semua." Sapa Ara sambil melempar senyuman manisnya.
" Wa'alaikumsallam." Sahut mereka serempak.
" Wah saya tidak menyangka jika ibunya Rere masih sangat muda, cantik lagi. Oh ya saya dengar anda seorang dokter spesialis anak. Apa benar ibunya Rere?" Tanya wanita berambut panjang.
" Iya Bu, selama ini saya di tugaskan di kota Y. Itu sebabnya selama ini saya tidak pernah mengantar Rere." Sahut Ara.
Mereka melanjutkan mengobrol, lebih tepatnya Ara menjawab pertanyaan pertanyaan dari wali murid lainnya seputar dirinya dan pekerjaannya. Ara menjawabnya dengan senang hati selama itu tidak menyangkut urusan pribadi.
Sampai seorang wanita dan anak laki laki menghampirinya.
" Rere siapa dia?" Tanya anak laki laki itu menunjuk Ara.
" Kenalkan Zam, ini mama Rere." Sahut Rere menatap anak laki laki itu yang ternyata bernama Azzam.
Tiba tiba Azzam menarik tangan Rere menjauh dari kerumunan ibu ibu. Melihat itu Ara dan ibu dari Azzam mengikutinya.
" Azzam ngapain sih tarik tarik tangan Rere, sakit tahu." Ucap Rere.
" Rere kenapa kamu punya ibu? Bukankah papamu dan mamaku saling mencintai? Mereka pacaran Rere, kamu tahu kan kalau mereka sering pergi kencan."
Ucapan Azzam membuat Ara terkejut namun tidak dengan ibunya Azzam. Ia malah tersenyum sinis menatap Ara.
" Bagus Azzam. Ceritakan semua di depan wanita ini agar dia tahu kalau suaminya sering pergi kencan denganku. Kena kau pak Yoga." Batinnya.
Rere menatap Ara dengan tatapan bersalah, Ara membalasnya dengan tersenyum.
" Mereka tidak pacaran Azzam, kalau masalah kita sering makan bareng itu karena ibumu pegawai di kantor papaku. Jadi kami mengajakmu makan sekalian." Ujar Rere.
__ADS_1
" Ibuku mencintai papamu, aku juga pernah dengar kalau papamu juga berbicara seperti itu kepada mamaku."
Deg...
Jantung Ara berdetak sangat kencang.
" Benarkah mas Yoga melakukan itu? Benarkah mereka memiliki hubungan? Lalu untuk apa Mas Yoga memintaku kembali? Ya Tuhan... Apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini. Apa ucapan anak kecil ini bisa di percaya?" Tanya Ara dalam hati.
" Kenapa kamu berkata seperti itu di depan mamaku? Kamu salah mengartikan kebaikan kami Azzam." Ujar Rere.
" Tapi memang begitu kenyataannya Rere. Kita akan jadi saudara walaupun mamaku tidak bisa menikah dengan papamu." Ucap Azzam.
" Azzam jangan katakan apapun atau pak Yoga tidak akan mengajak kita bermain lagi. Sekarang masuklah ke dalam! Ajak Rere bersamamu juga. Bel masuk sudah berbunyi." Ucap wanita itu. Wanita berpakaian seksi dengan rambut sebahu yang di gerai.
" Baiklah Ma, ayo Rere kita masuk!" Ajak Azzam menarik tangan Rere menuju kelas.
Rere menatap Ara, Ara hanya bisa tersenyum menandakan dia baik baik saja.
" Kamu sudah mendengar semuanya kan? Aku tidak takut kamu kembali karena pak Yoga masih berhubungan baik denganku. Walaupun kedepannya pertemuan kami tidak akan seintens dulu aku tidak masalah, toh di kantor kami masih bisa bertemu. Berhati hatilah jika suamimu mengatakan lembur. Bisa jadi dia sedang bersamaku saat itu." Ucapnya segera berlalu meninggalkan Ara.
" Astaghfirullahal'adzim, kok ada ya wanita tidak tahu malu sepertinya." Gumam Ara mengelus dadanya.
" Apa benar hubungan mereka sedekat itu? Apa mungkin Mas Yoga membohongiku tentang perasaannya? Kenapa aku jadi berprasangka buruk kepada suamiku sendiri? Ya Tuhan... Hilangkan pikiran buruk ini! Aku tidak boleh percaya begitu saja dengan orang lain. Aku harus mempercayai suamiku lebih dari apapun. Kejadian kemarin harus aku jadikan pelajaran untuk kedepannya. Aku akan ke kantor Mas Yoga. Aku akan menanyakan hal ini agar hatiku bisa tenang. Aku tidak mau mengambil kesimpulan sendiri tanpa mendengar penjelasannya." Batin Ara.
Ara melajukan mobilnya menuju kantor Yoga yang berjarak dua kilometer dari sekolah Rere. Sampai di sana ia segera menemui Yoga di ruangannya setelah bertanya pada resepsionis.
Ceklek...
Ara membuka pintunya tanpa mengetuk lebih dulu. Ia membulatkan matanya saat melihat wanita tadi sedang membungkukkan badan di depan Yoga yang saat ini sedang duduk di kursinya. Di lihat dari posisi Ara, mereka nampak sedang berciuman.
" Assalamu'alaikum Mas." Ucap Ara.
Yoga dan wanita itu menoleh ke arah Ara.
" Sayang." Ucap Yoga mendorong wanita tadi.
" Mas belum menjawab salamku." Ucap Ara.
__ADS_1
" Wa'alaikumsallam sayang, kenapa datang tidak bilang bilang hmm? Apa ada yang kamu butuhkan?" Tanya Yoga menghampiri Ara.
" Aku butuh penjelasanmu Mas." Sahut Ara melirik wanita yang saat ini sedang berdiri di belakang Yoga.
" Kamu jangan salah paham dulu sayang, kami tidak melakukan apa apa. Tadi mataku kelilipan dan Dini mencoba membantuku dengan meniup mataku." Terang Yoga.
" Lalu bagaimana dengan berita tentang kedekatan kalian Mas? Aku dengar kalian sering keluar makan bersama, atau mungkin sekedar bermain bersama." Ucap Ara.
" Ternyata istriku ini sangat cepat mendapat informasi ya. Sini duduk dulu! Mas bisa menjelaskan semuanya." Ucap Yoga menarik tangan Ara lalu duduk di sofa bersebelahan dengan Ara.
" Dengarkan aku sayang!" Ucap Yoga menggenggam tangan Ara.
" Aku dan dia tidak ada hubungan apa apa kecuali hubungan direktur dan sekretaris saja. Sudah tiga tahun ini Dini menjadi sekretarisku dan anaknya Dini adalah teman dekat Rere. Kebetulan mereka satu kelas. Jadi saat aku menjemput Rere, aku bareng Dini sekalian. Kasihan Dini kalau harus pulang pergi naik angkot. Kan sayang uangnya, uangnya bisa di gunakan untuk keperluan lain." Ujar Yoga.
" Dan biasanya Rere merasa kesepian saat kami makan berdua saja sayang. Biar Rere ada teman, aku mengajak Azzam makan bareng. Dan tentunya Dini pasti ikut kan? Begitulah ceritanya sayang. Kami tidak punya hubungan apa apa. Boro boro mikirin hubungan sayang, di dalam pikiranku hanya memikirkan kamu, kamu dan kamu."
" Istri solehah yang menjadi penghuni hatiku." sambung Yoga mencolek dagu Ara.
Ara melirik ke arah Dini, ia melihat jelas jika Dini mengepalkan tangannya tanda kesal.
" Apa bekerja sebagai seorang sekretaris tidak bisa membuatnya membeli mobil? Kenapa harus naik angkot?" Tanya Ara.
" Dini seorang janda sayang, jangankan beli mobil, rumah saja masih mengontrak. Dia harus membayar semua hutang hutang almarhum suaminya. Jadi gajinya hanya habis untuk keperluan sehari hari." Sahut Yoga.
" Sekarang kita tidak perlu memikirkan orang lain, yang jelas Mas tidak ada hubungan apa apa dengannya. Kamu percayakan pada Mas?" Tanya Yoga menatap Ara yang hanya diam saja.
" Mas minta maaf kalau perbuatan Mas justru menimbulkan gosip yang mengusik hatimu. Mas tidak berpikir sampai ke situ sayang, yang ada di pikiran Mas saat itu adalah kebahagiaan Rere. Mas melakukannya demi membuat Rere tidak merasa kesepian. Kamu paham kan maksud Mas?" Tanya Yoga menatap Ara.
" Iya Mas aku memahaminya, maafkan aku jika aku sempat berpikir buruk tentang Mas." Ucap Ara membuat hati Yoga merasa lega.
" Terima kasih sayang, Mas mencintaimu." Ucap Yoga mencium punggung tangan Ara.
" Aku juga mencintaimu Mas." Sahut Ara.
Ara melirik ke arah Dini yang menampakkan wajah kesalnya.
" Ternyata seorang pelakor, aku harus berhati hati padanya."
__ADS_1
TBC.....