
Pagi ini Ara, Rere dan Yoga sedang sarapan bersama di meja makan. Mereka nampak makan dengan khidmat sambil sesekali mengobrol.
" Ma besok kalau Mama periksa lagi, Rere ikut ya Ma." Ujar Rere.
" Iya sayang." Sahut Ara.
" Rere mau melihat perkembangan dedek bayinya. Apa dedek bayinya sudah besar atau belum." Ujar Rere membuat Ara tersenyum.
Ting tong...
Bel rumah berbunyi, Ara dan Yoga saling melempar pandangan.
" Biar aku yang buka Mas." Ucap Ara beranjak.
Ara meninggalkan meja makan menuju pintu rumahnya.
Ceklek...
" Surprise... "
Ara membulatkan matanya karena saking terkejutnya saat melihat Dean, Riani, Leni dan Doni berdiri di depan pintu. Ia tidak menyangka mereka berempat akan datang secepat ini.
" Kalian." Pekik Ara senang.
" Aaa... Aku kangen Dokter Ara." Ujar Leni memeluk Ara.
" Aku juga kangen sama kamu suster Leni. Kenapa nggak bilang kalau jamu mau ke sini juga?" Tanya Ara.
" Biar jadi surprise." Sahit Leni.
" Sama aku nggak kangen nih." Ujar Riani.
Ara melepas pelukannya lalu menatap Riani.
" Kangen juga donk." Sahut Ara menarik Riani. Mereka bertiga berpelukan layaknya sahabat yang baru bertemu setelah sekian lama.
" Ehm ehm." Dean berdehem membuay para wanita melepaskan pelukannya.
" Hai Kak. Gimana kabarmu?" Tanya Ara basa basi.
" Seperti yang kamu lihat." Sahut Dean. Ara menganggukkan kepalanya.
" Silahkan masuk!" Ucap Ara.
Mereka semua masuk ke dalam mengikuti Ara.
" Silahkan duduk dulu! Aku akan membuatkan minuman untuk kalian." Ucap Ara.
" Mau minuman dingin atau hangat?" Tawar Ara menatap mereka bergantian.
" Teh hangat saja." Sahut Dean.
" Baiklah." Sahut Ara meninggalkan mereka semua.
Mereka berempat duduk saling berdampingan.
" Mas gimana rasanya ketemu masa lalu setelah sekian lama tidak bertemu?" Tanya Riani menatap Dean.
" Mulai." Ucap Dean.
" Serius aku nanya." Ujar Riani.
__ADS_1
" Biasa saja." Sahut Dean tidak berani mengatakan yang sebenarnya. Sejujurnya ia sangat senang bisa bertemu dengan Ara. Bagaimanapun Ara pernah menjadi penghuni hatinya selama bertahun-tahun.
" Nggak percaya." Gumam Riani.
" Nanti kalau aku bilang iya, kamu sakit hati. Terus ngambek, nggak mau menikah sama aku." Ujar Dean.
" Ih nggak gitu ya, aku tidak pernah mempermasalahkan masa lalu orang lain. Yang lalu biarlah berlalu aku hanya ingin tahu perasaanmu saja." Sahut Riani.
" Perasaanku senang bisa bertemu dengan seseorang yang menganggap aku Kakak. Hanya rasa senang bukan cinta." Ucap Dean membuat Riani tersenyum.
Doni menggenggam tangan Leni membuat Leni menatapnya.
" Kenapa Mas?" Tanya Leni menatap Doni.
" Enggak apa apa, cuma mau pegang tangan kamu aja." Sahut Doni.
" Perasaan dari kemarin di perjalanan kamu terus menggenggam tangan aku. Apa kamu takut hilang karena terpisah dariku?" Ujar Leni terkekeh.
" Iya kamu benar, aku tidak mau kehilangan kamu." Sahut Doni.
" Heh laki laki mah sukanya gombal. Sekarang bilang begitu, besok kalau dapat yang lebih lupa sama janji janji manisnya." Ucap Leni.
" Iya kamu benar Len, makanya kita harus mempersiapkan fisik dan mental kalau mau menikah. Harus siap sakit hati dan pikiran." Sahut Riani.
" Eh nggak gitu juga ya." Ujar Dean.
" Iya aja." Sahut Riani.
" Enggak sayang... Aku cintanya sama kamu jadi nggak akan ngelirik wanita la... " Dean menjeda ucapannya saat Ara menyajikan minuman di depannya. Ia menatap Ara dengan intens karena wajah mereka yang hampir berdekatan.
" Tuh kan." Riani menepis tangan Dean membuat Dean tersadar.
" Eh enggak sayang." Ucap Dean.
" Lagi bercanda aja." Sahut Leni.
" Oh ya dimana Rere? Apa dia sudah berangkat ke sekolah jam segini?" Sambung Leni menatap jam yang melingkae di tangannya yang menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.
" Ada, dia lagi sarapan sama mas Yoga. Sebentar lagi selesai pasti ke sini." Sahut Ara.
" Oh ya udah pada sarapan belum? Kalau belum ayo sarapan dulu!" Sambung Ara.
Mereka berempat malah saling melempar pandangan satu sama lain.
" Kenapa?" Tanya Ara.
" He he sebenarnya kami belum sarapan Ra, tadi begitu sampai Jakarta kita langsung ke sini. Dokter Dean di ajak mampir ke restoran dulu tidak mau, katanya keburu kakinya sakit mau selonjoran di sini." Ujar Leni.
" Ya udah kalau begitu kita makan dulu, ngobrolnya nanti setelah makan biar nyambung. Kalau perut kelaparan tidak akan sinkron apa yang akan kita obrolkan nanti." Ujar Ara.
" Nanti aja kami makan di luar, kami nggak mau merepotkanmu Dok." Ucap Riani.
" Nggak apa apa, aku nggak repot kok. Seperti sama siapa saja, oh ya jangan panggil aku Dok lagi. Aku bukan dokter sekarang tapi ibu rumah tangga." Ucap Ara membuat mereka tertawa.
Akhirnya mereka semua menuju meja makan.
" Hai Rere, apa kabar?" Sapa Riani dan Leni bersamaan.
" Halo Aunti, kapan Aunti Aunti cantik datang?" Tanya Rere turun dari kursi lalu menyalami mereka.
" Baru saja." Sahut Riani.
__ADS_1
" Anak pintar, anaknya siapa?" Tanya Leni mengusap kepala Rere yang tertutup hijab.
" Anaknya Mama." Sahut Rere bangga.
" Hai dokter Dean, bagaimana kabarmu?" Tanya Yoga menjabat tangan Dean.
" Seperti yang kau lihat, kakiku masih belum sembuh total." Sahut Dean.
" Bersabarlah! Semoga cepat sembuh." Ucap Yoga.
" Amin." Sahut Dean.
Yoga beralih menatap Doni, mereka bersalaman layaknya seorang teman.
" Bagaimana kabarmu Don?" Tanya Yoga.
" Saya baik baik saja Tuan." Sahut Doni.
" Tidak perlu sungkan, panggil Yoga saja." Uajr Yoga.
" Baiklah." Sahut Doni.
" Silahkan duduk!" Ucap Ara.
Mereka semua makan bersama, suasana sarapan pagi ini sangat seru karena kedatangan mereka. Rere nampak antusias menceritakan kejadian kemarin saat periksa kepada Dean dan yang lainnya.
" Wah aku ikut bahagia Ra, akhirnya kau akan menjadi seorang ibu. Selamat ya, semoga sehat wal'afiat dan di lancarkan proses persalinannya." Ucap Leni.
" Amin.. Terima kasih." Sahut Ara.
" Aku juga berdoa yang terbaik untuk kalian berdua, semoga sehat dan selalu dalam lindunganNya." Ucap Riani.
" Amin terima kasih doanya." Ucap Ara.
" By the way kapan kalian mau menikah?" Tanya Ara menatap Riani dan Leni bergantian.
" Kalau aku rencananya bulan depan, iya kan Mas?" Ujar Leni menatap Doni.
" Iya, kami akan menyelenggarakan pernikahan di sini setelah pernikahan Tuan Dean." Sahut Doni menunjuk Dean.
" Berarti kak Dean dulu yang menikah." Ujar Ara.
" Maunya sih begitu, tapi aku lagi membujuk Riani supaya dia mau segera menikah denganku." Ujar Dean.
" Ayolah Riani! Mau menunggu apa lagi? Menikah itu suatu ibadah lhoh." Ujar Ara.
" Jujur aku masih takut untuk menikah, kalau Leni sudah siap biar mereka duluan yang menikah. Aku mah belakangan aja." Sahut Riani.
" Yah terserah kamu saja, kamu yang jalanin." Ujar Ara.
" Oh ya ngomong ngomong kalian berdua juga mau pindah ke sini?" Tanya Ara menatap Doni dan Leni.
" Iya, Mas Doni menjadi asisten pribadi dokter Dean dalam mengurus perusahaan." Sahut Leni.
" Terus pekerjaanmu?"
" Kami berdua resign sebagai perawat di rumah sakit, karena kami harus menjadi perawat pribadi suami masing masing." Sahut Leni membuat Ara terkekeh.
" Ada ada saja kamu, tapi benar kata kamu sih. Kewajiban kita setelah menikah memang mengurus suami dan rumahnya, dan juga anak anaknya kelak. Aku dukung keputusan kalian. Dengan begitu kita bisa sering sering berkumpul saat para suami sedang pergi bekerja." Ujar Ara.
" Iya bener banget kamu." Sahut Riani.
__ADS_1
Mereka melanjutkan makan sambil mengobrol. Bagi mereka waktu makan adalah waktu yang tepat untuk mengobrol dan mendekatkan diri kepada keluarga. Karena di waktu lain mereka tidak punya kesempatan.
TBC....