
Jleb....
Pisau yang Amoora pegang menancap tepat di perut bagian kiri Bastian. Bastian memekik kesakitan sambil memegangi perutnya yang mengeluarkan banyak darah.
" Shh.. Kenapa kau melakukan ini Amoora?" Lirih Bastian.
" Maafkan aku! Aku terpaksa berbuat seperti ini agar kau tidak di miliki oleh siapapun termasuk aku. Selamat jalan Bastian, aku akan membawa cinta ini sampai mati. Aku tunggu cintamu di kehidupan selanjutnya. Aku sangat mencintaimu." Ucap Amoora.
Amoora mengayunkan pisau tepat di bagian dada sebelah kiri.
Jleb... Crattt....
Darah memercik ke penjuru ruangan dari dada Amoora.
" Amoora..." Lirih Bastian.
Brugh....
Tubuh Bastian ambruk ke lantai beserta hilangnya kesadarannya begitupun dengan Amoora.
Di lain tempat, Putri sedang duduk bersandar pada head board sambil memainkan game favoritenya.
Drt... Drt...
Ponsel Putri berdering tanda panggilan masuk dari Bastian. Putri segera menolak panggilannya.
Drt... Drt...
Ponsel Putri kembali berdering, ia kembali menolaknya namun lagi lagi ponselnya terus berdering hingga akhirnya ia terpaksa mengangkatnya dengan perasaan kesal.
" Ada apa sih, ganggu aja." Omel Putri.
" Maaf Nyonya, ini saya sekretaris tuan Bastian. Saya ingin mengabarkan jika tuan Bastian mengalami kecelakaan."
Jeduarrrr.....
Bagaikan di sambar petir di siang bolong. Berita ini benar benar mengejutkan bagi Putri.
" Kecelakaan? Dimana?" Tanya Putri.
" Beliau tertusuk pisau bersama nona Amoora di ruangannya. Saat ini tuan Bastian di bawa ke rumah sakit xx, keadaannya kritis Nona."
" Baiklah tolong jaga Mas Bastian, saya akan segera ke sana." Ucap Putri.
" Baik Nona."
Putri mematikan sambungan ponselnya, ia segera bersiap. Ia berjalan tergesa gesa menuruni anak tangga. Ia berpapasan dengan Ara.
__ADS_1
" Kak aku pergi dulu!" Ucap Putri.
" Kamu mau kemana? Kenapa sepertinya kamu terburu buru?" Tanya Ara.
" Mas Abbas mengalami kecelakaan, entah apa yang terjadi dia di temukan dalam kondisi kritis bersama Amoora di ruangannya Ra. Sekretarisnya bilang mereka berdua tertusuk pisau." Jelas Putri.
" Ya Tuhan... Kamu jangan ke sana sendiri! Tunggulah kakakmu pulang, aku akan segera mengabarinya." Ucap Ara.
" Tapi Ra...
" Jangan membantah! Pikiranmu sedang tidak tenang saat ini. Aku tidak mau kamu kenapa napa di perjalanan karena kamu tidak fokus menyetir. Duduklah dulu! Berdoa pada Tuhan semoga Bastian baik baik saja. Aku akan menelepon mas Yoga dulu." Ujar Ara.
Ara segera menelepon Yoga, Yoga segera pulang ke rumah. Setelah Yoga pulang mereka berdua segera berangkat ke kota kembang. Yoga melajukan mobilnya dengan kecepatan cepat.
Putri hanya bisa diam sambil menyangga kepalanya.
" Ya Tuhan... Apa yang sedang Kau rencanakan sebenarnya? Kenapa hubunganku dengan Mas Abbas menjadi serumit ini? Tolong selamatkan Mas Abbas ya Tuhan. Aku tidak mau kehilangannya. Jujur aku mencintainya tapi aku bingung untuk memutuskan sikap. Aku harap bisa menemukan petunjuk setelah ini." Batin Putri memijat pelipisnya.
Sampai di rumah sakit xx Putri dan Yoga menuju bagian informasi namun seorang suster memanggilnya.
" Nona Arsya Putri."
Putri menoleh ke arah suster tersebut.
" Iya saya." Sahut Putri.
Deg....
Jantung Putri berdetak sangat kencang.
" Ka... Kamar jenazah?" Putri mengerutkan keningnya.
" Silahkan ikuti saya Nona."
Putri menatap Yoga dengan tatapan bingung. Yoga menganggukkan kepalanya ia merangkul Putri mengikuti suster itu dari belakang.
Jantung Putri terus berdetak kencang, pikiran buruk menghantui pikirannya saat ini. Sampai di depan kamar jenazah, nampak seorang dokter pria sedang berdiri menunggunya.
" Dokter bagaimana keadaan calon suami saya? Kenapa saya di bawa ke sini?" Tanya Putri cemas.
" Maafkan kamu Nona, kami sudah berusaha semaximal mungkin untuk menyelamatkan tuan Bastian. Tapi Tuhan berkata lain, tuan Bastian tidak bisa di selamatkan."
Jeduaarrr.....
Lagi lagi Putri nerasa seperti di sambar petir.
" Ti.. Tidak.. Ini tidak mungkin."
__ADS_1
" Dokter pasti bohong, ini tidak mungkin. Mas Abbas tidak mungkin meninggalkanku secepat ini. Tidak mungkin, ini tidak mungkin." Putri memundurkan langkahnya.
" Tapi ini kenyataannya Nona, kami turut berduka cita."
" Tidak... Tidak mungkin.. Tidak!!!" Teriak Putri menutup kedua telinganya sambil berjongkok.
" Putri sabarlah sayang!" Yoga mengelus kepala Putri.
" Mas Abbas Kak, dia.. Dia meninggalkan aku. Dia... Hiks." Isak Putri.
" Semua sudah menjadi kehendak Tuhan sayang, kamu yang sabar ya. Kakak juga pernah mengalami hal seperti ini. Hal yang sangat menyakitkan adalah kehilangan." Ucap Yoga mengelus punggung Putri.
" Tidak.. Aku tidak terima di tinggalkan begitu saja. Dia harus bangun! Dia harus bertanggung jawab karena telah membuat aku seperti ini. Dia membuat hatiku mencintainya, tapi dengan mudahnya dia meninggalkan aku begitu saja. Aku tidak akan membiarkannya. Aku akan membangunkannya." Putri mengusap air matanya.
Ceklek....
Putri membuka pintunya, ia menatap Bastian yang terbaring lemah di atas ranjang dengan tertutup kain putih. Melihat hal itu, hati Putri terasa di sayat sembilu. Dengan langkah pelan, ia menghampiri ranjang Bastian. Semakin dekat dada Putri semakin tercekat. Tak terasa air mata menetes begitu saja.
Dengan tangan gemetar, Putri membuka kain penutupnya. Nampak wajah pucat Bastian.
" Hiks... Hiks... " Putri semakin terisak melihat semua itu.
" Bangun Mas!... Jangan tinggalkan aku! Aku tidak mau kehilanganmu hiks... " Putri memeluk tubuh Bastian sambil terus menangis mengeluarkan kesedihannya.
" Aku mohon bangunlah! Jangan tinggalkan aku seperti ini! Pernikahan kita sudah di depan mata. Aku tidak mau menjadi janda sebelum aku menjadi seorang istri Mas. Aku mohon hiks... Kau harus bangun! Kau harus bertanggung jawab karena telah membuat hatiku takut kehilanganmu. Aku mencintaimu Mas.. Hiks.. Aku mohon bangunlah! Bangun Mas!!" Teriak Putri mengguncang tubuh Bastian.
Yoga yang melihat adiknya begitu terpuruk, tidak bisa menahan air matanya. Ia teringat dengan kematian istri yang telah meninggalkannya. Ia tidak menyangka jika adiknya juga merasakan hal yang sama dengannya.
" Mas aku mohon hiks... Bangunlah! Maafkan aku yang keras kepala ini. Sekarang aku tidak akan memikirkan orang lain lagi, aku hanya akan memikirkan perasaan kita berdua saja. Bangunlah! Ayo kita menikah! Ayo hidup bahagia bersamaku, aku mohon jangan tinggalkan aku! Bangunlah Mas hiks.. Aku memaafkanmu, aku menerimamu. Bangunlah! Jangan keras kepala seperti ini! Aku mohon.. Hiks... " Isak Putri semakin menjadi.
Putri menatap tubuh Bastian yang tidak bergeming.
" Baiklah kalau kau keras kepala, aku tidak akan memaksamu lagi. Aku tidak akan menikah denganmu, tapi kau akan melihat aku menikah dengan orang lain. Tidurlah selama yang kau mau, aku tidak akan memintamu untuk bangun lagi. Tinggalkan aku selamanya bersama perasaan ini. Biarkan aku yang menanggung rasa cinta dan sakit ini sendiri. Aku akan mencari penggantimu setelah ini hiks... "
Putri beranjak pergi, namun tubuhnya terasa sangat lemas hingga tubuh Putri luruh ke lantai. Ia tidak kuasa menahan kesedihannya.
" Hiks... Hiks... Kak Yoga, minta Mas Abbas untuk bangun. Bilang padanya untuk tidak meninggalkan aku hiks... Aku tidak bisa hidup tanpa dia. Hiks... "
Tiba tiba.....
Tiba tiba apa ya? Penasaran? Jangan lupa tekan like koment dan kasih hadiah yang banyak buat author biar author makin semangat melanjutkan ceritanya.
Terima kasih...
Miss U all...
TBC....
__ADS_1