
" Bagaimana saksi? Sah?"
" Hentikan semua ini!!!"
Semua orang menoleh ke belakang, Ara tersenyum saat melihat Yoga berdiri tegak di depan pintu bersama suster Leni.
" Kalian tidak bisa melanjutkan pernikahan ini karena Ara masih sah menjadi istri saya."
Jeduarrrr...
Dean nampak terkejut saat Yoga mengucapkan itu sambil memperlihatkan akta nikahnya.
" Bohong, pasti itu akta palsu." Ucap Dean berdiri menatap Yoga begitupun dengan Ara.
Yoga menghampiri keduanya.
" Yang palsu itu akta cerai yang aku kirimkan padamu."
Deg...
Dean langsung menatap anak buahnya yang bernama Doni. Doni nampak ketakutan karena memang ia membuat kesalahan. Suster Leni tersenyum manis melihat Doni.
" Bagaimana bisa surat itu palsu? Aku melihat logo dari pengadilan dan aku yakin surat cerai kalian yang ada padaku itu asli." Ucap Dean.
" Bukankah kamu pernah melakukan ini padaku? Jangan kau pikir aku tidak bisa melakukan hal yang sama sepertimu." Sahut Yoga.
Dean mengepalkan erat tangannya, ia mencurigai Doni telah berkhianat kepadanya karena hanya Doni yang punya koneksi dengan orang yang bisa membuat akta cerai itu tampak asli.
" Ara ayo kita pulang! Ayah sudah menunggu di rumah." Ucap Yoga menggandeng tangan Ara.
" Tidak bisa! Ara milikku, dan dia akan menjadi milikku seutuhnya." Ucap Dean.
" Apa kau gila? Bagaimana wanita bersuami bisa kau nikahi? Dia istriku dan selamanya akan menjadi milikku. Bukan orang lain." Ucap Yoga penuh penekanan.
Dean menatap Ara dengan tajam.
" Aku harap kau ingat kata kataku selama ini Ara. Keputusan ada di tanganmu, sekarang kau harus memilih antara aku dan Yoga. Atau salah satu dari kami harus tiada." Ucap Dean.
" Tidak Ara! Kau tidak perlu takut, ada aku di sini. Dan kau juga tidak perlu memilih karena kau tidak punya pilihan kecuali kembali padaku." Ujar Yoga.
" Ya Tuhan... Kenapa Kau menempatkan aku di posisi sulit seperti ini? Aku bagaimana makan buah simalakama. Jika aku memilih Mas Yoga itu berarti aku akan kehilangan Mas Yoga dan Rere, walaupun aku percaya hidup dan mati seseorang adalah takdirMu tapi aku tidak mau sampai mereka terluka. Kalau aku memilih kak Dean, aku tidak bisa bahagia hidup bersama pria yang tidak aku cintai. Seharusnya Mas Yoga tidak perlu kemari agar aku tidak dalam kesulitan seperti ini. Ya Tuhan berikan petunjukMu kepadaku, pilihan mana yang terbaik untuk kami semua." Ujar Ara dalam hati.
" Ayo Ara!" Yoga kembali menarik tangan Ara.
" Tidak Mas."
Deg...
Yoga membalikkan badannya menatap Ara.
" Apa kau lebih memilih dia daripada aku?" Tanya Yoga memastikan.
" Maaf aku terpaksa melakukan semua ini demi kamu dan Rere." Ucap Ara menundukkan kepala.
__ADS_1
" Apa kamu tidak menghargai perjuanganku dan suster Leni untuk sampai di sini? Apa kau tidak tahu betapa besar pengorbanan yang suster Leni lakukan untukmu?" Yoga menatap Ara begitupun sebaliknya.
" Untuk bisa menemukanmu di sini suster Leni sampai mengorbankan harkat dan martabatnya sebagai seorang wanita."
Ara mengerutkan keningnya. Yoga memajukan wajahnya dan membisikkan sesuatu di telinga Ara.
" Suster Leni rela kehilangan mahkotanya demi membujuk anak buah Dean untuk bekerja sama denganku. Jadi tolong! Jangan sia siakan pengorbanan suster Leni untukmu."
Ara membulatkan matanya sambil melongo, ia menatap suster Leni di balas anggukkan kepala olehnya.
" Ikutlah dengan kami dokter Ara! Apapun yang terjadi, mari kita hadapi sama sama. Yang jelas kau harus kelaur dari tempat ini karena kau tidak akan bahagia hidup bersama dokter Dean." Ucap Leni.
" Tahu apa kau suster Leni. Lebih baik kau tidak perlu ikut campur dalam urusan ini. Atau aku akan membunuhmu sekarang juga." Ancam Dean.
" Sejak aku memutuskan untuk membantu pak Yoga, saat itu juga aku kehilangan rasa takut akan kematianku. Aku tidak takut mati demi membela yang benar, kalau kau mau melenyapkan aku lenyapkan saja. Lagian hidupku sudah tidak ada artinya." Tantang Leni.
" Leni!!" Bentak Doni tiba tiba.
Doni menarik tangan Leni keluar dari rumah Dean. Yoga menggandeng Ara menuju pintu keluar.
" Ara... Jika kau berani melangkahkan kakimu keluar dari sini, maka kau akan kehilangan suami dan anakmu. Aku sudah menempatkan anak buahku untuk menyandera putrimu." Ancam Dean.
Dean menyalakan ponselnya lalu melakukan panggilan video kepada salah satu anak buahnya.
" Mama... Papa.. "
Deg...
" Ya Tuhan Rere." Ara nampak terkejut saat melihat Rere yang sedang di sekap oleh seorang pria kekar.
" Mama tolong Rere! Rere takut Ma." Ucap Rere.
Ara langsung melepas genggaman tangan Yoga. Ia berlari menghampiri Dean.
" Nikahi aku sekarang juga, tapi aku mohon lepaskan putriku hiks... " Isak Ara mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
" Ara jangan lakukan itu!" Ucap Yoga.
" Lalu aku harus melakukan apa Mas? Apa aku harus membiarkan Rere terluka begitu?" Teriak Ara tidak tahu harus bagaimana.
" Ara kita pasti bisa menyelamatkan Rere tanpa kau menikah dengannya." Ujar Yoga.
" Siapa yang akan menolongnya kalau bukan aku sendiri Mas." Ucap Ara.
" Kak Dean, lakukan pernikahan ini secepatnya! Dan lepaskan Rere sekarang juga!" Titah Ara.
" Aku akan melepaskan Rere kalau aku sudah berhasil menikahimu." Ujar Dean.
" Pak penghulu mari kita lakukan pernikahannya." Ucap Dean menarik tangan Ara.
Keduanya duduk kembali di tempat sebelumnya. Yoga hanya bisa menarik kasar rambutnya. Penghulu kembali membacakan doa ijab qobul. Sampai...
" Hentikan semua ini Dean!!"
__ADS_1
Yoga, Ara dan Dean melihat ke kamera ponsel Dean.
" Ayah." Ucap Ara.
" Ara jangan menikah dengan Dean, dia iblis nak bukan manusia. Pulanglah dengan Yoga! Ayah akan menyelamatkan Rere di sini." Ucap tuan Alif di seberang sana.
Tanpa membuang waktu Ara segera berdiri, ia berlari menggandeng tangan Yoga.
" Ara tunggu!" Teriak Dean.
Ara dan Yoga berlari menuju pintu keluar sampai saat mereka berhasil keluar dari rumah itu tiba tiba...
Dorrrr....
Ara dan Yoga menghentikan langkahnya, tiba tiba tubuh Yoga ambruk di tanah dengan punggung bersimpah darah.
" Mas Yoga!!!!!" Teriak Ara.
" Hiks... Mas." Ara berjongkok sambil mengguncang baju Yoga.
" Mas bertahanlah! Aku akan membawaku ke rumah sakit." Ucap Ara sambil terisak.
Yoga tersenyum menatap Ara.
" Ara, jika nanti aku mati kau tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri. Kau tetap harus bahagia dengan hidup yang akan kau jalani. Aku mencintaimu hingga akhir nyawaku Ara. Aku sangat mencintaimu." Lirih Yoga.
" Hiks... Aku juga mencintaimu Mas, tolong bertahanlah demi keluarga kita! Aku tidak mau kehilanganmu." Ucap Ara.
Yoga kembali tersenyum lalu menutup kedua matanya.
" Mas bangun Mas! Mas Yoga bangun!!" Teriak Ara.
Ara menatap tajam ke arah Dean. Ia berdiri di samping Yoga yang tidak sadarkan diri.
" Kau telah menembak Mas Yoga, sekarang kau harus menembakku juga! Biarkan aku mati bersamanya. Biarkan cinta kami menyatu dalam kematian Dean. Aku tidak bisa hidup tanpanya, aku mencintainya. Aku mencintai suamiku hingga aku rela berbuat apa saja untuknya termasuk kesediaanku menikahimu. Sekarang tidak ada lagi yang harus aku korbankan. Semuanya telah berakhir, semuanya telah berakhir." Ucap Ara mendekati Dean.
" Aku tidak akan menyakitimu, aku sudah bilang padamu sebelumnya tetaplah hidup bersamaku maka semuanya akan baik baik saja." Ucap Dean.
" Kalau begitu biarkan aku yang melukai diriku." Ucap Ara.
Tiba tiba Ara menggenggam tangan Dean yang masih memegang pistol. Ia mengarahkan pistol itu ke kepalanya sendiri. Dean nampak terkejut akan hal itu.
" Apa yang kau lakukan Ara!!" Bentak Dean.
" Biarkan aku mati bersama cinta pertama dan terakhirku." Ucap Ara.
Ara memejamkan mata, pikirannya kalut, hatinya bimbang. Saat ini ia tidak bisa berpikir apa apa. Ia terlalu lelah menjalani hidup yang tidak sesuai dengan harapannya. Walaupun ia selalu menjalani semuanya dengan ikhlas tapi ia hanya manusia biasa. Bukankah tidak ada manusia yang sempurna dimuka bumi ini? Begitu juga dengan Ara.
Ara mulai menarik pelatuknya sampai...
Dorrrr.......
TBC.....
__ADS_1