DUDA SEDINGIN SALJU

DUDA SEDINGIN SALJU
WELLCOME TO THE WORD


__ADS_3

Hari hari berlalu dengan cepat tak terasa usia kehamilan Ara menginjak sembilan bulan. Perutnya sudah membuncit sebesar bola, tinggal menunggu waktu kapan dia akan melahirkan. Yoga sudah merasa was was dengan trauma dalam dirinya. Setiap waktu ia berdoa kepada Tuhan agar keduanya selamat saat persalinan nanti. Terkadang rasa ketakutan timbul di dalam hatinya, namun Ara selalu menguatkan dengan memintanya terus berdzikir.


Seperti saat ini, Yoga yang baru selesai sarapan langsung menghampiri Ara di kamarnya. Yoga masuk ke dalam mendekati Ara yang sedang duduk bersandar di atas ranjang.


" Sayang apa kau merasa baik baik saja? Apa kau tidak merasakan sakit pada tubuhmu?" Tanya Yoga khawatir.


" Alhamdulillah tidak Mas, Mas tidak perlu sekhawatir itu. Kalau aku merasakan kesakitan, aku pasti akan mengatakannya pada Mas." Ujar Ara.


" Mas benar benar takut sayang, Mas tidak mau kecolongan. Mas tidak mau terjadi hal buruk kepadamu." Sahut Yoga.


" InsyaAllah aku baik baik saja Mas." Sahut Ara.


" Syukurlah." Sahut Yoga.


Sudah satu minggu Yoga tidak pergi ke kantor. Ia selalu berada di dekat Ara. Bahkan Rere ia titipkan kepada omanya, segala keperluan Rere omanya yang menyiapkannya.


" Sayangnya Papa, jangan membuat mama sakit ya. Kamu juga tidak boleh sakit! Sehat terus di dalam sini. Papa sudah tidak sabar menanti kamu lahir sayang. Dengan begitu Papa akan merasa lega. Papa tidak akan merasa ketakutan lagi. Papa menyayangi kalian berdua." Ucap Yoga mengelus perut buncit Ara.


Dugh...


" Eh dia menendang sayang." Ucap Yoga senang.


" Sepertinya dia merespon ucapanku, Mas sudah tidak sabar ingin menggendongnya." Ujar Yoga.


" Tunggu sebentar lagi Mas! Tidak lama lagi kita pasti akan bersama." Sahut Ara.


Tiba tiba perut Ara terasa mulas seperti mau pup. Lama kelamaan rasa mulas itu menjadi panas dan pegal.


" Shhh." Rintih Ara mengelus perutnya.


" Kenapa sayang? Apa ada yang sakit?" Tanya Yoga panik.


" Perutku sakit Mas." Ucap Ara.


" Kita harus ke rumah sakit, Mas tidak mau sampai kita terlambat." Ujar Yoga.


" Tenanglah Mas! Aku baik baik saja." Ujar Ara.


" Baik baik saja bagaimana? Kamu kesakitan Ara. Sekarang juga kita harus ke rumah sakit. Mas tidak mau menanggung resiko, sekarang menurutlah! Mas akan menggendongmu ke mobil." Ujar Yoga menggendong Ara ala bridal style.


" Sayang kamu mau melahirkan." Ujar Yoga saat menyadari bagian bawah Ara basah.


" Alhamdulillah Mas, semoga lancar." Ucap Ara mengalungkan tangannya ke leher Yoga.


" Semoga saja sayang." Sahut Yoga berjalan menuju mobilnya.

__ADS_1


Setelah menurunkan Ara di kursi samping kemudian, Yoga segera melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia terus menggenggam tangan kanan Ara dengan tangan kirinya sambil sesekali melafalkan doa mau melahirkan.


" Astaghfirullah hal'adzim." Ucap Ara menahan sakit yang menjalar di perut dan punggungnya.


" Sayang apa sakit banget rasanya?" Tanya Yoga.


" Tidak Mas, hanya mulas seperti mau buang air besar saja." Sahut Ara tidak mau membuat Yoga khawatir.


" Kalau sangat sakit kamu harus bilang kepada Mas. Jangan di pendam sendiri atau berusaha menutupinya." Ujar Yoga.


" Iya Mas." Sahut Ara tersenyum manis.


Dua puluh menit kemudian mereka sampai di rumah sakit khusus ibu dan anak. Yoga menggendong Ara menuju ruang gawat darurat.


" Suster tolong istri saya mau melahirkan." Ucap Yoga merebahkan tubuh Ara di atas brankar.


" Baik Tuan, dokter akan memeriksanya lebih dulu." Sahut seorang suster yang berjaga di sana.


Dokter Sinta segera memeriksa Ara dengan intens.


" Sudah pembukaan delapan Nyonya, kita langsung ke ruang bersalin saja." Ujar dokter Sinta.


Suster mendorong brankar menuju ruang bersalin di ikuti oleh Yoga. Ara menggenggam tangan Yoga seolah tidak mau melepaskannya.


" Sayang apakah sakit?" Tanya Yoga mengelus kepala Ara.


" Semoga semuanya berjalan lancar sayang, semoga kalian berdua selamat." Ucap Yoga.


" Berjanjilah untuk tidak meninggalkan aku ataupun putra kita. Mas tidak sanggup kehilanganmu sayang." Sambung Yoga nampak sedih. Ia tidak bisa membayangkan jika Ara sampai kenapa napa seperti mantan istrinya dulu.


" InsyaAllah Mas." Sahut Ara.


Sampai di ruang persalinan, Yoga memindahkan Ara ke ranjang yang ada di sana. Perut Ara merasa semakin kencang.


" Dok perut saya terasa kencang sekali, sepertinya anak saya sudah minta di dorong." Ujar Ara.


" Baiklah Nona, ikuti instruksi saya!" Ucap Dokter Sinta.


Dokter Sinta meminta Ara membuka kakinya lebar, lalu ia memberi instruksi kepada Arab untuk segera mengej@n dengan kuat.


" Tarik nafas dalam dalam lalu keluarkan Nyonya, setelah itu dorong lagi. Kepala bayinya sudah mulai kelihatan." Ucap dokter Sinta.


Ara melakukan sesuai instruksi dari dokter sambil menggenggam tangan Yoga, sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk mencengkeram sprei. Satu kali dorongan, dua dorongan, dan ketiga kalinya lahirlah seorang putra pewaris keluarga dengan sempurna.


Oek... Oek...

__ADS_1


" Alhamdulillah." Ucap Ara dan Yoga merasa lega.


" Terima kasih sayang." Ucap Yoga mencium kening Ara dengan lama.


" Sama sama Mas." Sahut Ara lirih.


" Selamat Tuan, Nyonya. Anaknya laki laki, dia sehat dan sempurna tampan seperti ayahnya." Ucap dokter Sinta.


" Terima kasih Dok." Ucap Yoga.


" Sambil saya membersihkan Nyonya, silahkan Nyonya melakukan inisiasi menyusu dini kepada bayi anda." Ujar dokter Sinta.


" Baik Dok." Sahut Ara.


Ara melepas pakaian bagian atasnya, dokter menengkurapkan babby Ara di atas dada Ara, sang babby pun segera mencari put!ng susu milik Ara lalu menyesapnya.


" Sayang lucu sekali dedek bayinya. Sepertinya dia kehausan setelah berjalan dari kegelapan sampai ke luar sini." Ujar Yoga.


" Iya Pa, dedek haus dan lapar." Sahut Ara.


" Mas bahagia banget sayang, akhirnya kalian berdua selamat. Sehat terus sayang, Mas tidak mau sampai kamu kenapa napa." Ucap Yoga mencium kening Ara.


" InsyaAllah aku sehat Mas." Sahut Ara.


" Dokter bagaimana kondisi istri dan anak saya sekarang? Apa mereka baik baik saja?Apa tidak ada tanda tanda yang bisa mengakibatkan hal fatal pada anak dan istri saya Dokter? Tolong jelaskan kepada saya, saya benar benar khawatir dengan keadaan mereka berdua." Ujar Yoga.


Dokter Sinta menatap Ara.


" Suami saya pernah kehilangan mantan istrinya saat melahirkan Dokter, trauma kehilangan itu belum hilang dari hatinya. Tolong jelaskan semuanya agar suami saya tidak khawatir berlebihan." Ucap Ara tersenyum menatap dokter Sinta.


" Baiklah dokter Ara, akan saya jelaskan kepada suami anda." Ujar dokter Sinta.


" Begini tuan Yoga..... " Dokter Sinta menjelaskan sejelas jelasnya atas keadaan Ara dan bayinya. Yoga nampak menghela nafasnya lega mendengar penjelasan dari dokter Sinta.


" Baiklah Dok terima kasih, dengan begitu rasa kekhawatiran saya sedikit berkurang. Tolong berikan yang terbaik untuk anak dan istri saya." Ucap Yoga.


" Tentu Tuan, saya permisi dulu. Sebentar lagi suster akan mengurus bayi anda dan akan memindahkan Nyonya Ara ke ruang vvip nomer dua." Ujar dokter Sinta.


" Baik Dok terima kasih." Sahut Yoga.


" Sama sama Tuan." Sahut dokter Sinta keluar ruang bersalin.


Yoga mengelus kepala Ara sambil tersenyum bahagia.


" Sehat sehat sayang, teruslah bersamaku dan anak anak sampai tua nanti. Aku mencintaimu." Ucap Yoga kembali mencium kening Ara.

__ADS_1


TBC....


Yang mau request nama bisa ketik di kolom komentar ya...


__ADS_2