
" Luna adalah mantan sekretarisku. Saat itu aku memaksanya untuk lembur karena ada pekerjaan yang sangat penting sampai dia pulang jam sebelas malam. Aku meminta Doni untuk mengantarnya, tapi dia tidak mau. Dia bilang, dia sudah memesan taksi online. Kami membiarkannya pulang sendiri. Entah bagaimana dan entah apa yang terjadi, aku mendengar kabar kalau dia di hadang oleh lima preman, kami berusaha menuju lokasi namun naas, kami terlambat. Sampai di sana kondisinya sangat memprihatinkan, ternyata dia di gilir oleh kelima preman itu." Terang Dean membuat Leni sangat terkejut.
" Dia mengalami guncangan psikis saat itu, dia bahkan di rawat di rumah sakit jiwa karena terus berusaha bunuh diri. Hingga suatu hari dia benar benar mengalami gangguan jiwa saat mengetahui dirinya hamil. Dia tidak bisa di ajak komunikasi dengan baik, yang ada adalah berteriak histeris dan mengamuk. Aku tidak tega melihatnya seperti itu, aku merasa iba dengannyadengannya dan aku merasa bersalah kepadanya karena tanpa sengaja aku telah membuat dirinya menjadi seperti itu." Dean nampak menghela nafasnya panjang.
" Sampai saat dia melompat dari gedung dan mengalami koma selama enam bulan, dokter menyarankan untuk membawa seseorang yang di cintai kepadanya untuk membantu kesembuhannya. Aku bingung saat itu, siapa orang yang di cintai Luna? Sampai ada teman Luna yang mengatakan jika sebenarnya Luna menyukai Doni sejak lama. Saat itulah aku meminta Doni untuk membantu kesembuhan Luna. Aku semakin merasa bersalah karena aku kembali mengorbankan hidup orang lain. Aku merasa tidak bisa menjadi pimpinan yang baik, akhirnya aku mengundurkan diri sebagai CEO di perusahaanku, aku lebih memilih menjadi dokter, dan aku pindah ke kota Y."
" Selama satu bulan Doni menemani Luna di rumah sakit, dan pada akhirnya Luna sadar dari komanya. Awalnya dia bingung kenapa perutnya membesar, akhirnya Doni mengatakan jika Luna hamil dan Doni mengakui jika ia ayah dari bayi yang dia kandung sesuai saran dokter. Sejak saat itu, kondisi Luna mulai membaik. Gangguan jiwa yang pernah dia alami di nyatakan sembuh setelah Luna melahirkan putranya."
" Setelah kelahiran Deni, Luna terus menuntut Doni untuk menikahinya. Namun Doni tidak mencintainya, Doni merasa jengah dengan sikap Luna, itulah sebabnya Doni menyusulku ke kota Y." Terang Dean panjang lebar.
" Begitulah ceritanya Leni. Doni tidak ada sangkut pautnya dengan putra Luna, Doni bukan ayah kandungnya. Bahkan mereka sama sekali tidak ada hubungan asmara." Sambung Dean menatap Leni.
" Bagaimana jika Luna masih menuntut Mas Doni untuk menikahinya? Apakah Mas Doni bersedia menikahinya untuk mempertanggung jawabkan ucapannya?" Tanya Leni.
Deg...
Jantung Doni berdetak sangat kencang. Ia belum memikirkan apa yang akan ia lakukan jika sampai itu terjadi.
" Yang jelas aku tidak akan membiarkan Doni menikahi Luna. Aku tidak akan mengorbankan kebahagiaan keluarga kalian. Aku akan memberitahu Luna yang sebenarnya, tapi sebelumnya aku harus konsultasi dulu dengan dokter kejiwaan. Aku tidak mau jika kebenaran ini mengancam seorang anak kecil yang tidak bersalah." Sahut Dean membuat Doni bernafas lega.
" Apa aku bisa mempercayai kata katamu Kak?" Tanya Leni menatap Dean.
" Aku pastikan jika ucapanku ini dapat di percaya." Sahut Dean.
" Aku harap kau bisa menepati ucapanmu itu." Ujar Leni.
" Baiklah kalau begitu, aku rasa masalah ini sudah selesai. Aku harus pulang, Riani pasti menungguku di rumah." Ujar Dean di balas anggukkan kepala oleh Leni.
" Terima kasih Tuan Dean." Ucap Doni.
__ADS_1
" Sama sama, memang seharusnya aku melakukan ini. Kau tidak bersalah, rasanya tidak akan adil kalau kau di adili untuk masalah ini. Aku pulang dulu!" Ucap Dean menepuk pundak Doni.
" Hati hati." Ucap Doni.
Doni mengantar Dean sampai depan ruangan, ia kembali masuk lalu duduk di kursi di samping ranjang.
" Sayang." Doni menggenggam tangan Leni.
" Kau sudah tahu ceritanya langsung dari Dean, itulah kenyataannya. Maafkan aku jika aku tidak menceritakan hal ini kepadamu. Aku merasa ini bukan hal penting untuk di ceritakan. Aku pikir aku dan Luna tidak akan pernah bertemu lagi, tapi malah kenyataannya begini." Ujar Doni.
" Sudahlah Mas, aku tidak mau memikirkan masa lalu. Yang harus kau pikirkan adalah masa depan, bagaimana caramu menghindari Luna ataupun putranya. Aku tidak mau berbagi kasih sayang dengan orang lain. Kau hanya milikku dan anakku." Ucap Leni.
Doni tersenyum mendengar ucapan Leni.
" Iya sayang, aku hanya milikmu dan anak kita. Dan kamu hanya milikku dan anak kita. Aku mencintaimu." Ucap Doni mencium tangan Leni.
" Aku tahu." Sahut Leni.
" Iya Mas." Sahut Leni mencoba memejamkan matanya.
" Alhamdulillah Leni bisa menerima penjelasan Dean dengan baik, semoga kw depannya tidak akan ada masalah yang akan memisahkan kami." Batin Doni.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dean masuk ke dalam kamarnya, ia mendapat tatapan tajam dari Riani yang saat ini sedang duduk bersandar di ranjang.
" Sayang kamu bangun?" Tanya Dean mendekati Riani.
" Darimana saja kamu Mas jam segini? Apa kamu menemui seseorang di belakangku?" Tanya Riani dengan nada ketus. Dean sangat paham maksud ucapan Riani.
__ADS_1
" Tidak sayang, tadi Doni memintaku ke rumah sakit." Sahut Dean.
" Rumah sakit? Siapa yang sakit? Apa terjadi hal buruk terhadap Leni Mas?" Tanya Riani khawatir.
" Tiba tiba tadi Leni pingsan, dia..... " Den menceritakan apa yang terjadi dengan sahabat istrinya itu.
" Tapi sekarang semuanya sudah terselesaikan. Tinggal memikirkan bagaimana caranya aku memberitahu Luna yang sebenarnya." Ucap Dean.
" Kamu katakan saja yang sebenarnya Mas, walaupun menyakitkan tapi dia harus bisa menerima keadaan yang sesungguhnya. Aku tidak mau kebahagiaan sahabatku menjadi taruhannya." Ujar Riani.
" Yang aku pikirkan adalah nasib Deni, jika Luna sampai mengalami gangguan jiwa lagi sayang. Dia masih sangat kecil, dia masih sangat membutuhkan kasih sayang dari ibunya. Bagaimana kalau Luna kambuh seperti dulu lagi? Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan." Ucap Dean.
" Aku akan membesarkan putranya." Ucap Riani membuat Dean terkejut.
" A... Apa?" Tanya Dean memastikan.
" Ya... Jika Luna kambuh seperti dulu lagi, aku yang akan merawat anaknya. Aku akan membesarkan anaknya seperti aku membesarkan anakku sendiri. Dan itu bisa mengurangi rasa bersalahmu kepadanya Mas." Ujar Riani.
Dean tersenyum menatap Riani, ia benar benar kagum dengan ketulusan yang Riani tunjukkan kepadanya.
" Aku bangga kepadamu sayang. Aku tidak salah memilihmu menjadi pendamping hidupku. Terima kasih telah menyelesaikan masalahku. Masalah beban pikiran yang membuatku pusing memikirkannya tadi. Aku semakin mencintaimu." Ucap Dean mencium.
kening Riani.
" Aku juga mencintaimu Mas." Sahut Riani.
Dean mengelus perut rata Riani.
" Lihatlah kebesaran hati mamamu sayang, kelak Papa berharap kau bisa memiliki ketulusan yang sama dengan mamamu. Kau akan di sayangi oleh semua orang yang dekat denganmu. Tumbuhlah dengan sehat! Papa selalu sabar menantikan kelahiranmu. Papa mencintaimu." Ucap Dean mencium perut Riani.
__ADS_1
TBC.....