
Ara menatap Dini yang sedari tadi hanya menundukkan kepala.
" Mas kalau aku meminta Mas untuk mengganti sekretaris Mas apa Mas mau mengabulkan permintaanku?" Ujar Ara membuat Dini terkejut. Sontak ia langsung menatap Ara dengan tatapan tajam.
" Memangnya kenapa sayang? Kamu tidak nyaman melihat Mas bersama wanita lain?" Bukannya menjawab Yoga justru balik bertanya.
" Iya Mas, lagian aku tidak mau sampai ada gosip negatif yang menimpa kalian berdua." Sahut Ara kembali menatap Yoga.
" Baiklah sayang akan Mas pikirkan nanti. Mas akan mencari sekretaris pria untuk membantu pekerjaan Mas." Sahut Yoga.
Bukan munafik karena Ara dulu juga berdekatan dengan Dean, tapi Ara tidak mau hal yang sama juga menimpa suaminya. Karena Ara tidak yakin Yoga tidak akan tergoda dengan sekretarisnya sama seperti ia tidak tergoda dengan Dean.
" Terima kasih Mas." Ucap Ara di balas senyuman oleh Yoga.
" Maaf Pak! Dalam hal ini anda tidak bisa memecat saya begitu saja. Saya..
" Aku tidak akan memecatmu tapi aku akan memindahkan kamu ke bagian lainnya. Lagian selama ini kamu tidak kompeten dalam bekerja. Kamu lebih banyak menempel pada saya daripada bekerja. Saya akan membicarakan hal ini kepada pimpinan pusat." Ucap Yoga membuat Dini bungkam.
" Baiklah Mas karena aku sudah mendengar penjelasan dari Mas, sekarang aku pamit pulang dulu. Bekerjalah dengan baik! Kami selalu menantimu di rumah." Ucap Ara.
" Kenapa pulang hmm? Mending di sini menemani Mas menyelesaikan pekerjaan Mas. Lagian kamu harus jemput Rere jam sepuluh nanti kan? Hanya tinggal beberapa jam lagi, bukankah tidak ada pekerjaan di rumah?" Ujar Yoga.
Ara nampak sedang berpikir.
" Baiklah aku akan menemani Mas di sini." Sahut Ara.
" Terima kasih sayang." Ucap Yoga mencium pipi Ara.
" Mas ada orang lain di sini." Ucap Ara melirik Dini.
Yoga menatap Dini begitupun sebaliknya.
" Sudah tidak ada yang mau kamu kerjakan di sini kan? Kamu bisa kembali ke ruanganmu." Titah Yoga.
" Baik Pak." Sahut Dini.
Dini berjalan keluar sambil menghentakkan kakinya. Ara tersenyum penuh kemenangan menatap kepergiannya.
" Aku tidak akan memberi kesempatan padamu untuk mendekat ke arah suamiku. Maafkan aku jika aku harus melakukan hal ini, tujuanku bukan mengacaukan hidupmu tapi melindungi suamiku." Ujar Ara dalam hati.
" Mas menyelesaikan pekerjaan Mas dulu, kamu tunggu di sini! Kalau bosan kamu bisa tiduran di ruang pribadi Mas." Ucap Yoga kembali ke kursinya.
" Memangnya aku boleh masuk ke dalam Mas?" Tanya Ara menatap Yoga.
" Kenapa tidak? Kamu istriku jadi kamu berhak atas apa yang menjadi milikku." Sahut Yoga.
__ADS_1
" Baiklah terima kasih." Sahut Ara tersenyum. Ia berjalan menuju pintu ruangan Yoga.
Ceklek....
Ara masuk ke dalam, ia mengedarkan pandangan ke setiap penjuru kamar. Ia tersenyum melihat fotonya terpapang dimana mana. Ia menuju almari Yoga melihat lihat isinya. Ada dua stel pakaian ganti milik Yoga. Tiba tiba ia melihat sebuah gaun yang tergeletak di bawah baju Yoga.
" Gaun, gaun siapa ini?" Gumam Ara mengambil gaun tersebut.
Ara menjereng gaun seluruh berwarna hitam itu sambil mengerutkan keningnya.
" Kenapa ada gaun di sini? Apa Mas Yoga punya.... " Ara menjeda ucapannya.
" Massss." Teriak Ara membuat Yoga terkejut.
Yoga segera berlari masuk ke dalam kamarnya.
" Ada apa sayang?" Tanya Yoga menghampiri Ara yang masih berdiri di depan almari.
" Punya siapa ini Mas?" Tanya Ara menatap Yoga dengan tatapan menyelidik.
Yoga menatap gaun yang ada di tangan Ara.
" Apa kamu lupa kalau itu milikmu?" Tanya Yoga menatap Ara.
Ara melongo membulatkan matanya.
" Kamu pikir pikir dulu deh, apakah lima tahun lalu kamu punya baju itu atau tidak." Ucap Yoga menyentuh dagu Ara.
Ara mencoba mengingat ingat tentang lima tahun lalu.
Deg...
Ara merasa malu sendiri saat mengingat kejadian lima tahun lalu. Dimana Ara membeli gaun itu untuk malam pertamanya, namun semuanya gagal karena sikap buruk Yoga padanya.
" Bagaimana? Apa kau sudah mengingatnya sekarang?" Tanya Yoga menatap Ara begitupun sebaliknya.
" Ya aku mengingatnya Mas, aku terpaksa mengingat hal yang menyakitkan itu." Sahut Ara lirih.
Yoga segera memeluk Ara dari belakang.
" Maafkan aku sayang!" Ucap Yoga menyandarkan dagunya pada bahu Ara.
" Saat itu aku tidak menyadari perasaanku padamu, maafkan aku! Aku sangat menyesal karena pernah memperlakukanmu dengan buruk. Maafkan aku!" Ucap Yoga.
Ara membalikkan badannya menatap Yoga.
__ADS_1
" Aku sudah memaafkan kesalahan itu Mas, tidak perlu di bahas lagi! Kita sudah berjanji untuk tidak membahas hal ini lagi kan? Aku minta maaf!" Ucap Ara.
" Kau tidak salah sayang, baiklah sekarang lebih baik kita membahas hal hal menyenangkan saja. Misalnya tentang program kehamilanmu, apa kamu jadi konsultasi dengan dokter Sinta?" Tanya Yoga menatap Ara.
" Tidak Mas, aku malu untuk berkonsultasi dengannya. Aku pasrahkan saja pada takdir Tuhan Mas. Kapan Tuhan akan memberikan amanah itu kepadaku, aku siap menerimanya." Ujar Ara.
" Baiklah tidak masalah, lagian usiamu juga masih produktif. Yang penting kita harus rajin berdoa dan berusaha." Ucap Yoga mencium pipi Ara.
" Iya Mas. Tapi yang aku bingungkan di sini, kenapa gaun ini ada di sini Mas? Mas menyimpannya untuk apa?" Tanya Ara menatap Yoga.
" A... Aku.. Aku.." Ucap Yoga gugup.
" Aku apa Mas? Aku jadi penasaran deh." Ujar Ara.
" Aku selalu memeluk gaun itu saat aku merindukanmu." Ucap Yoga malu malu.
Ara terkekeh mendengar ucapan Yoga.
" Apa Mas tersiksa selama kepergianku Mas?" Tanya Ara.
" Sangat sayang, Mas sangat tersiksa saat kepergianmu selama ini. Tiada hari tanpa Mas memikirkanmu. Mas benar benar merasa hidup segan mati tak mau sayang, tidak ada semangat Mas untuk hidup lagi. Mas sangat tersiksa sayang." Ucap Yoga menggenggam tangan Ara.
" Aku minta maaf Mas. Karena aku hidup Mas jadi tersiksa. Aku meninggalkan kewajibanku lama sekali. Aku benar benar menyesal telah percaya kepada ayah dan kak Dea. Maafkan aku Mas." Ucap Ara memeluk Yoga.
" Sudahlah sayang, tinggalkan masa lalu. Jangan membahas soal itu lagi." Ucap Yoga.
" Iya Mas. Sekarang selesaikan pekerjaan Mas! Aku akan menunggu di sini." Ujar Ara.
" Baiklah Mas akan menyelesaikan pekerjaan Mas, nanti kita jemput Rere sama sama." Ucap Yoga mencium kening Ara.
" Iya Mas." Sahut Ara.
Yoga kembali ke kursi kebesarannya, ia kembali mengerjakan pekerjaannya sedangkan Ara membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Tepat jam setengah sepuluh Yoga telah menyelesaikan pekerjaannya. Ia menghampiri Yoga di kamarnya.
" Sa.... " Yoga menjeda ucapannya saat melihat Ara yang malah tertidur. Ia tersenyum menatap wajah Ara.
Cup...
Yoga mengecup bibir Ara.
" Tidurlah sayang! Biar aku yang menjemput Rere. Kasihan kamu, kamu pasti sangat lelah karena mengurus kami berdua. Aku mencintaimu." Ucap Yoga.
Yoga meninggalkan Ara di kamarnya karena tidak tega membangunkannya.
__ADS_1
TBC....