DUDA SEDINGIN SALJU

DUDA SEDINGIN SALJU
MELAWAN NENEK LAMPIR


__ADS_3

Yoga baru saja turun dari kamarnya, ia mengernyitkan dahinya saat melihat Bastian yang sedang duduk di ruang tamunya.


" Bastian."


Bastian menoleh ke asal suara.


" Lhoh, Pak Yoga." Ucap Bastian terkejut.


" Ada perlu apa kamu kemari?" Tanya Yoga menghampiri Bastian.


Bastian adalah salah satu pekerja di perusahaannya.


" Tidak Pak, saya menjemput Putri." Sahut Bastian.


" Putri? Kamu kenal adik saya?" Tanya Yoga lagi.


" I.. Iya Pak. Maaf saya tidak tahu jika Putri adik Bapak." Ucap Bastian merasa sungkan.


" Lantas jika dia adikku kenapa? Apa kamu tidak mau berteman dengannya?" Tanya Yoga menatap Bastian.


" Bukan begitu Pak, saya sadar siapa saya dan siapa Bapak. Jika Bapak mengijinkan saya maka saya akan lanjut mengejar Putri sampai dia menjadi istri saya, tapi jika Bapak melarang, saya bisa apa Pak. Maka dengan terpaksa saya akan mundur dengan sendirinya." Ujar Bastian.


" Kalau Putri sendiri bagaimana?" Tanya Yoga lagi.


" Kalau Putri sendiri memberikan kesempatan kepada saya untuk mengambil hatinya. Itu sebabnya saya berada di sini." Sahut Bastian.


Yoga nampak mengangguk anggukkan kepalanya.


" Baiklah kalau begitu, lanjutkan saja. Saya tidak bisa melarang kalian berhubungan karena kalian sendiri yang menjalani. Tapi satu pesan saya, jangan pernah sia siakan adik saya apapun alasannya." Ucap Yoga.


" Terima kasih telah menerima saya dengan tangan terbuka Pak, saya berjanji tidak akan menyia-nyiakan adik Bapak. Saya tulus menyayanginya dan ingin menjadikan dia milik saya." Ucap Bastian.


" Saya percaya padamu." Ucap Yoga.


Tak lama Putri datang menghampiri mereka.


" Ayo Mas!" Ucap Putri.


" Cie udah panggil Mas aja. Emang udah resmi?" Goda Yoga menatap adiknya.


" Apa sih Kak. Orang dia lebih tua dari aku ya aku panggil aja Mas. Siapa tahu nanti jadi Mas ku beneran." Sahut Putri membuat Bastian tersenyum.


" Semua itu tergantung padamu Put, kalau kamu mau sama aku sudah pasti aku jadi Mas kamu beneran. Tapi kalau kamu tidak mau, ya terpaksa aku jadi Mas sementara." Ucap Bastian.


" Kalau kau bisa mengambil hatiku maka aku akan menerimamu. Tapi kalau tidak, maka please leave me!" Sahut Putri.


" Baiklah tuan Putri, ayo kita berangkat sebelum kesiangan. Mari Pak Yoga." Ucap Bastian.


" Silahkan! Hati hati!" Ucap Yoga.


Bastian dan Putri keluar dari rumah.

__ADS_1


" Sepertinya sebentar lagi akan ada pernikahan di keluarga kita Mas." Ucap Ara menghampiri Yoga.


" Iya sayang, semoga Bastian jodoh terbaik yang Tuhan kirimkan untuk Putri seperti Tuhan mengirimkan kamu untuk Mas." Ucap Yoga.


" Amin." Ucap Ara.


" Duduk sini!" Yoga menepuk sofa di sampingnya. Ara segera duduk di sana.


Yoga membungkukkan badannya, ia menempelkan telinganya ke perut Ara.


" Sayangnya Papa lagi apa ya di dalam sini? Lagi bobok apa lagi main bola nih. Sepertinya sekarang sudah lincah ya menendang bolanya, sampai sampai pipi Papa selalu kena tendangan." Ujar Yoga.


Dugh....


" Tuh kan menendang, ayo tendang Papa lagi." Ucap Yoga sambil mengelus perut Ara.


Dugh...


" Subhanallah anak Papa pintar sekali. Jadi anak sholeh sayang." Ucap Yoga.


" Amin." Sahut Ara.


" Mau makan apa sayang?" Tanya Yoga menatap Ara.


" Apa saja Mas, aku dan anak kita tidak pilih pilih." Ujar Ara.


" Iya Mas lupa, tapi maksud Mas saat ini kamu sedang ingin makan apa? Barangkali ingin makan rujak, bakso, steak, es krim, atau apa ya yang biasa di makan ibu hamil." Uajr Yoga nampak sedang berpikir.


" Aku tidak ingin makan apa apa Mas. Tidak perlu khawatir, nanti kalau aku ingin makan sesuatu aku pasti bilang sama Mas." Ujar Ara.


" Emm... Sejujurnya aku ingin makan sesuatu Mas."


" Benarkah?" Tanya Yoga dengan mata berbinar.


" Tapi aku tidak mau merepotkan Mas, makanya aku berbohong sama Mas kalau aku tidak ingin makan apa apa." Ujar Ara.


" Kenapa harus sungkan sayang? Mas ini suami kamu kan bukan ayah kamu." Ujar Yoga.


" Mas kan sudah capek bekerja selama ini, jadi aku tidak ingin Mas tambah capek dengan memenuhi semua keinginanku." Ujar Ara.


" Itu sudah menjadi tanggung jawab Mas sayang, sekarang katakan kamu mau makan apa!" Titah Yoga.


Ara nampak berpikir sambil membayangkan enaknya makan apa karena memang dia sedang tidak ingin mrmakan sesuatu. Tapi demi membuat suaminya senang, ia terpaksa mengatakan semua itu.


" Aku ingin makan seblak ceker yang ada di depan rumah sakit itu Mas. Rasanya enak sekali." Ucap Ara.


" Cuma itu? Atau ada yang lainnya? Sekalian Mas belikan untukmu." Ujar Yoga.


" Itu saja, paling sama es buah yang ada di dekat alun alun kalau Mas mau." Ujar Ara.


" Baiklah Mas akan membelikannya, kamu mau ikut atau di rumah saja?" Tanya Yoga beranjak dari kursinya.

__ADS_1


" Di rumah saja Mas." Sahut Ara.


" Baiklah Mas pergi dulu." Ucap Yoga mencium kening Ara.


" Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsallam."


Di tempat lain tepatnya di salon milik Putri. Anak dari Pak Ruli sang majikan dari orang tuanya Bastian, sedang mengacau di sana. Ia nampak marah marah sambil menuding wajah Putri.


" Dasar lo pelakor! Perebut laki orang. Tega teganya lo ngrebut ayah dari anak yang gue kandung hah. Apa segitu nggak lakunya lo sampai kegatelan ngambil laki orang hah!"


Plak...


Tamparan keras mendarat di pipinya.


" Beraninya lo." Geramnya.


" Siapa yang kegatelan hah? Ngaca dulu kalau mau ngomong. Lo bilang apa? Ayah dari anak lo? Yakin Bastian ayah kandung dari anak lo? Kalau gue sih nggak yakin. Bukannya ayah kandungnya rame rame sampai lo sendiri tidak tahu yang mana bapaknya. J@lang teriak j@lang lo." Sahut Putri tidak mau kalah membuat wanita itu bungkam.


" Kenapa diam saja? Apa lo pikir gue nggak tahu belang lo yang sebenarnya? Nggak usah munafik jadi orang, kalau ketahuan bakal malu sendiri." Sambung Putri.


" Lo tidak tahu apa apa, jika lo berani menganggu Bastian, lo akan tanggung akibatnya. Gue tidak akan diam saja Putri." Teriaknya.


" Dasar tidak tahu malu, kemarin aja lo ngehina Bastian, sekarang lo mau mengambilnya lagi dari gue. Sorry gue nggak sebaik itu Sist, gue nggak akan memberikan Bastian sama lo. Dan gue nggak takut sama ancaman lo, kalau lo berani jangan bawa bawa bokap lo. Cukup kita berdua saja, berani nggak lo." Tantang Putri menatap tajam kearahnya.


Wanita itu mundur lalu meninggalkan Putri yang nampak geram melihat tingkahnya dengan kesal.


" Cemen lo." Teriak Putri.


Abel segera menghampiri Putri.


" Busyet temen gue.... Nggak nyangka gue lo yang biasanya kalem jadi sebuas ini hanya karena seorang cowok. Ha ha ha." Abel. tertawa terbahak bahak.


" Sialan lo." Putri menyenggol lengan Abel.


" Ehm."


Keduanya menoleh ke asal suara.


" Mas.. Bastian." Ucap Putri gugup.


" Sepertinya tadi aku dengar, ada orang yang tidak mau melepaskan aku untuk orang lain. Apa itu tandanya orang itu sudah mulai menyukaiku ya?" Ucap Bastian menatap Putri sambil menaik turunkan alisnya.


" Masa' sih? Salah dengar kali kamu Mas." Ucap Putri.


" Apa iya aku salah dengar? Kayaknya enggak deh. Aku dengar dengan jelas kok." Sahut Bastian.


" Kalau dengar dengan jelas, memangnya siapa yang bilang seperti itu?" Tanya Putri.


" Kamu." Sahut Bastian dan Abel bersamaan.

__ADS_1


Ketiganya tertawa bersama.


TBC ...


__ADS_2