DUDA SEDINGIN SALJU

DUDA SEDINGIN SALJU
KEHIDUPAN BARU


__ADS_3

Pagi ini Ara nampak sibuk mengurus babby Arham. Namun ia tidak melupakan kewajibannya untuk mengurus suami dan anak pertamanya. Ara memakaikan baju dan popok kepada babby Arham yang baru saja selesai berjemur.


" Dedek Arham." Rere berlari menghampiri Arham di ranjang.


" Kak Rere sudah siap ke sekolah rupanya. Apa Kak Rere sudah sarapan?" Tanya Ara sambil mengancingkan baju Arham.


" Belum Ma, Rere menunggu Mama sama papa." Sahut Rere.


" Rere bisa makan lebih dulu bersama papa, kalau Mama nanti saja. Dedek Arham mau minum ASI dulu." Ujar Ara.


" Oke Ma, aku tunggu papa di sini saja." Sahut Rere duduk di tepi ranjang.


Ara naik ke atas ranjang, ia duduk bersandar sambil memangku Arham. Ia menyusui Arham dengan telaten.


" Ma dedek Arham kelihatannya haus banget sampai segitunya minum susunya." Ujar Rere menatap wajah Arham yang sangat imut menurutnya.


" Iya sayang, dedek Arham kan baru saja mandi. Habis mandi dedeknya nangis, terus berjemur. Pasti capek dan haus kan, makanya dedek Arham minumnya kuat." Sahut Ara.


" Dulu Rere begitu nggak Ma?"


Deg...


Lagi lagi pertanyaan Rere membuat jantung Ara terasa berhenti berdetak. Ia tidak mau sampai ia salah memberikan jawaban kepada Rere. Sebenarnya Ara ingin sekali memberitahu Rere yang sebenarnya, namun ia takut jika kebenaran itu akan mempengaruhi psikis Rere.


" Ma, kok diam aja. Apa Rere dulu minumnya sekuat dedek Arham?" Tanya Rere lagi.


" Sayang, laki laki dan perempuan itu beda. Kalau laki laki cenderung lebih kuat, tapi kalau perempuan tidak. Rere dulu minumnya lumayan kuat kok, tapi Rere tidak minum ASI Mama melainkan minum susu formula." Ujar Ara.


" Kenapa Rere tidak minum Asi Mama?" Tanya Rere yang punya rasa keingintahuan yang tinggi.


" Karena ASI Mama belum keluar waktu itu." Sahut Yoga.


Lagi lagi Yoga menyelamatkan Ara dari jawaban yang mengandung kebohongan kepada Rere.


" Oh begitu ya Pa." Ucap Rere.


" Iya sayang." Sahut Yoga mengelus rambut putrinya.


" Mas ajak Rere sarapan duluan! Atau dia akan terlambat sekolah nanti." Ucap Ara menatap Yoga.


" Baiklah, sekalian Mas akan membawa makanan untukmu kemari." Sahut Yoga.


" Tidak perlu Mas, aku nanti makan di bawah saja." Ujar Ara.


" Mas tidak mau sampai kamu kecapekan, kamu sudah mengurus kedua anak kita dan Mas. Mas tidak mau sampai kamu kenapa napa, apalagi naik turun tangga bisa membuat perutmu sakit. Tunggu disini sampai Mas kembali." Ucap Yoga menunjukkan sikap posesifnya.

__ADS_1


" Baiklah Mas, terima kasih." Sahut Ara.


" Ayo sayang kita makan dulu keburu mobil jemputanmu datang." Ajak Yoga.


" Iya Pa." Sahut Rere turun dari ranjang.


" Ma Rere sekalian berangkat ya, Mama jaga diri dan dedek Arham di rumah." Ucap Rere mencium punggung tangan Ara.


" Iya sayang, Kak Rere juga harus hati hati ya." Ujar Ara.


" Iya Ma, assalamu'alaikum." Ucap Rere.


" Wa'alaikumsallam sayang." Sahut Ara sambil tersenyum.


Yoga dan Rere meninggalkan Ara di dalam kamarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di dalam kamar Dean, saat ini Riani masih setia bergelung di dalam selimut. Dean yang melihatnya menggelengkan kepala. Ia menarik selimutnya membuat tidur sang empu terganggu.


" Bangun sayang sudah pagi." Ucap Dean.


" Apaan sih Mas! Jangan ganggu aku donk! Aku masih pengin tidur, lagian dingin banget." Gumam Riani menarik kembali selimutnya.


" Atau kamu sedang tidak enak badan? Kalau benar ayo kita ke klinik." Ujar Dean duduk di tepi ranjang sambil mengelus kepala Riani.


" Tidak Mas aku baik baik saja, aku hanya masih mengantuk. Aku mau tidur lagi ya, jangan ganggu aku." Ucap Riani.


Tiba tiba Dean menekan pergelangan tangan Riani untuk memastikan sesuatu. Dean nampak tersenyum setelah merasakan denyut nadi Riani yang menurutnya ganda.


" Kenapa Mas? Kenapa kau memeriksa denyut nadiku? Apa kau pikir aku susah mati?" Tanya Riani.


" Hust!! Ngomong apasih kamu. Aku hanya ingin memastikan jika dugaanku benar." Ucap Dean sontak membuat Riani terbangun. Ia duduk bersila di atas ranjang sambil menatap Dean.


" Dugaan apa Mas?" Selidik Riani.


" Kapan terakhir kali kamu haid?" Tanya Dean membuat Riani terkejut.


" Ckk kau membuatku malu saja Mas dengan bertanya seperti itu." Ucap Riani kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


" Sayang aku serius, aku merasa kamu sedang hamil saat ini." Ucap Dean membuat Riani terkejut.


" Apa?" Riani kembali beranjak duduk sambil menatap Dean tidak percaya.


" Pelan pelan donk sayang! Nanti kalau kamu hamil beneran gimana? Kan kasihan anak kita." Ujar Dean.

__ADS_1


" Kamu bilang ada kemungkinan aku sedang hamil saat ini, tapi kalau di lihat dari tanggal haidku sih memang sudah terlambat. Tapi aku baru terlambat dua hari Mas, bisa saja kan jadwal ku mundur dari biasanya." Ujar Riani.


" Biar lebih jelas, mending kita periksakan saja." Ucap Dean.


" Nggak mau Mas ah, kalau hasilnya negatif aku akan malu sendiri sama dokternya. Mending kita test sendiri pakai tespack saja. Aku kan masih punya stok bulan kemarin Mas. Kalau nggak salah masih ada tiga." Ujar Riani.


Ya sejak berkeinginan untuk hamil, ia selalu mengecek setiap bulannya. Itu sebabnya ia menyetok alat tersebut.


" Baiklah tidak masalah, mumpung kamu baru bangun tidur hasilnya akan lebih akurat. Buruan gih!" Ucap Dean.


" Iya Mas tunggu." Ucap Riani turun dari ranjang.


Riani mengambil alat test kehamilan di lacinya lalu masuk ke dalam kamar mandi. Ia melakukan test sesuai prosedur yang ada, lima menit kemudian hasilnya terlihat sempurna.


Ceklek...


" Bagaimana sayang?" Tanya Dean menghampiri Riani.


" Kau benar Mas, aku hamil." Pekik Riani senang.


" Apa???"


" Ka... Kamu beneran hamil?" Tanya Dean memastikan.


" Iya Mas, aku hamil. Aku mengandung anak kamu di sini." Riani menarik tangan Dean lalu menempelkannya pada perutnya yang masih rata.


" Alhamdulillah ya Tuhan... Akhirnya kau mengabulkan doa doa kami." Ucap Dean penuh syukur.


" Aku merasa sangat bahagia sayang. Aku ucapkan selamat untukmu. Semoga kau dan calon anak kita selalu di beri kesehatan, di beri kemudahan selama kau mengandungnya, dan semoga di beri kelancaran saat persalinan nanti." Ucap Dean memeluk Riani.


" Amin... Terima kasih Mas. Aku juga sangat bahagia Mas dengan semua ini. Akhirnya yang aku tunggu tunggu datang juga. Benar kata Ara kalau kita bersabar suatu saat pasti kita akan memetik buah kesabaran itu." Ucap


" Iya sayang, mulai sekarang kau tidak boleh kecapekan. Kau tidak boleh melakukan pekerjaan yang berat berat. Biarkan aku yang memasak dan mencuci baju. Kau cukup mencuci piring saja." Ujar Dean.


" Kenapa tidak sekalian kamu yang mencuci piring Mas? Kan tanggung kalau aku mengerjakan satu pekerjaan saja." Ujar Riani melakukan negosiasi.


" Baiklah aku yang akan melakukan semua pekerjaan rumah." Sahut Dean.


Riani tersenyum manis.


" Kalau begitu biarkan aku melanjutkan tidurku."


" Hah??" Dean menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


TBC.....

__ADS_1


__ADS_2