DUDA SEDINGIN SALJU

DUDA SEDINGIN SALJU
KEBAHAGIAAN KELUARGA UTUH


__ADS_3

Di dalam kamar Yoga, saat ini Ara sedang memakaikan dasi pada leher Yoga. Hari ini Yoga ada meeting bersama para dewan direksi dari perusahaan induk, ia tidak boleh terlambat. Jika sampai terlambat bisa bisa Yeshi akan memecatnya dari jabatan CEO.


" Mas diamlah! Mas akan terlambat nanti." Ucap Ara menatap Yoga yang terus bergerak ke kanan dan ke kiri. Sepertinya Yoga sengaja menggoda Ara kali ini.


" Baiklah Mas diam." Sahut Yoga.


Ara kembali memasangkan dasi dengan benar.


" Nah begini dari tadi kan sudah selesai Mas, Mas tidak boleh terlambat kan sampai kantor. Bisa bisa mbak Yeshi memarahi Mas lagi." Ujar Ara.


" Iya sayang maaf, Mas senang aja menggoda kamu. Mas rindu saat saat kebersamaan kita dulu. Sebenarnya Mas ingin menghabiskan waktu berdua denganmu saat ini." Ujar Yoga menarik pinggang Ara mengikis jarak keduanya.


" Mas." Ucap Ara.


Yoga menatap Ara dengan tatapan penuh cinta membuat Ara tersipu malu.


" Kenapa malu malu begitu hmm?" Goda Yoga.


" Mas tatap begitu bagaimana aku tidak malu Mas, udah ah jangan menggodaku lagi! Mas harus berangkat ke kantor secepatnya." Sahut Ara.


" Mas masih ingin seperti ini sayang." Ucap Yoga mengelus pipi Ara yang nampak bercahaya.


Cup...


Yoga mencium pipi Ara dengan lembut, Ara tersenyum menyembunyikan wajahnya ke dada Yoga.


" Sudah besar masih malu malu sama suami sendiri." Ucap Yoga terkekeh.


" Udah buruan Mas berangkat! Sarapannya udah aku siapkan di kotak bekal, Mas bisa memakannya sebelum meeting di mulai." Ujar Ara.


" Ck.. Sebenarnya Mas tidak ingin pergi sayang, percuma Mas mengikuti meeting kalau pikiran Mas ada di sini." Ujar Yoga membuat Ara tersenyum.


" Kita bisa menghabiskan waktu berdua malam nanti Mas, sekarang saatnya Mas bekerja mencari nafkah untuk aku dan Rere." Ucap Ara mendorong tubuh Yoga dengan pelan.


" Hah baiklah." Ucap Yoga menghembuskan namanya kasar.


" Tapi bener ya, nanti malam. Awas aja kalau berani bohong sama Mas." Sambung Yoga.


" Iya Mas Yoga sayang." Sahut Ara lembut.


Nyesss....


Hati Yoga bagaikan di siram air es.


" Mama." Rere masuk ke dalam menghampiri Ara.


" Ya sayang." Sahut Ara menatap Rere.


" Mama kucirkan rambut Rere!" Ucap Rere memberikan sisir dan ikat rambut kepada Ara.


Ara tersenyum menatap Rere.

__ADS_1


" Mama akan mengikat rambutmu, tapi mama Minta biasakan mengucapkan tolong jika Rere membutuhkan bantuan orang lain. Oke?" Ujar Ara.


" Iya Ma maaf." Ucap Rere.


" Mama tolong kucir rambut Rere." Rere mengulangi ucapannya.


" Nah itu baru anak Mama." Ujar Ara.


" Sini Mama ikat rambut putri Mama yang sangat cantik ini, setelah itu pakai hijabnya dengan benar ya." Ucap Ara memangku Rere di tepi ranjang.


" Siap Ma." Sahut Rere.


" Ma Rere bahagia banget, akhirnya Rere bisa memperkenalkan Mama kepada teman teman Rere. Selama ini mereka tidak percaya kalau Rere punya mama. Tapi hari ini akan Rere buktikan kepada mereka semua." Ucap Rere antusias.


Hati Ara mencelos mendengar ucapan Rere. Ia menjadi merasa bersalah karena telah membuat putri tercintanya menjadi bullyan teman temannya.


" Maafkan Mama sayang, karena Mama mengejar karier Mama kamu jadi di bully sama teman teman kamu." Ucap Ara.


" Tidak apa apa Ma, lagian kan Mama sama seperti Rere. Kita sama sama mengejar masa depan." Sahut Rere.


" Anak Mama memang benar benar pintar. Mama bahagia sekali memiliki seorang putri sepertimu sayang." Ucap Ara menciumi pipi Rere.


" Rere juga bahagia memiliki Mama sebagai Mama Rere. Rere sayang Mama." Ucap Rere memeluk Ara.


" Mama juga sayang Rere." Sahut Ara.


Yoga tersenyum bahagia melihat kedekatan mereka berdua.


" Kenapa Mas masih di sini? Apa Mas tidak takut terlambat? Atau Mas membutuhkan sesuatu?" Tanya Ara menatap Yoga.


" Hmm aku tahu Mas." Sahut Ara.


" Mas menanti balasan cintamu nanti malam sayang, Mas berangkat dulu."


Ara mencium punggung tangan Yoga dengan takzim begitupun dengan Rere.


" Jangan nakal di rumah, assalamu'alaikum." Ucap Yoga mencium pipi Rere.


" Wa'alaikumsallam, hati hati Mas."


" Wa'alaikumsallam, hati hati Pa." Ucap Ara dan Rere bersamaan.


Yoga segera berangkat kerja menuju kantornya.


" Sekarang ayo kita makan sayang!" Ucap Ara.


" Ayo Ma." Sahut Rere.


...****************...


Jam menunjukkan pukul sembilan malam, Ara duduk di ranjang menunggu Yoga sedari tadi namun yang di tunggu tidak kunjung datang.

__ADS_1


" Mas Yoga kemana sih? Apa biasanya mas Yoga pulang selarut ini ya? Kenapa dia tidak memberi kabar kepadaku? Aku jadi khawatir. Ya Tuhan lindungilah suami hamba, semoga dia segera pulang dengan selamat." Monolog Ara.


Ceklek...


Yoga membuka pintunya, Ara segera menghampirinya.


" Alhamdulillah Mas, Mas sudah pulang." Ucap Ara mencium punggung tangan Yoga.


" Iya sayang, maaf jika membuatmu khawatir karena menunggu Mas. Ada pekerjaan yang harus Mas selesaikan hari ini juga, mau meneleponmu ponsel Mas kehabisan saya dan Mas tidak membawa chargernya." Ujar Yoga.


" Iya tidak apa apa Mas, yang penting Mas baik baik saja." Sahut Ara.


" Aku siapkan air hangat dulu Mas." Sambung Ara.


" Tidak perlu!" Ucap Yoga mencekal tangan Ara.


" Kenapa Mas?" Tanya Ara menatap Yoga.


" Mandinya nanti aja sekalian." Ucap Yoga.


" Sekalian?" Ara mengerutkan keningnya.


Tiba tiba Yoga mendorong Ara ke ranjang dengan pelan. Keduanya saling menatap satu sama lain.


" Mas menginginkanmu saat ini." Ucap Yoga mengelus pipi Ara.


" Aku akan memberikannya Mas, mending kita ambil wudhu dulu Mas." Sahur Ara.


" Baiklah." Sahut Yoga.


Setelah bersuci, Yoga kembali mendorong Ara ke ranjang. Ia menindih tubuh Ara dengan bertumpu pada kedua lengannya.


" Mas tidak menyangka punya istri secantik ini." Ucap Yoga.


" Cantik fisik tidak begitu berarti Mas, yang penting cantik hatinya itulah yang utama." Sahut Ara.


" Iya kamu benar, tapi kamu benar benar istimewa sayang. Tidak hanya wajah kamu yang cantik, tapi kepribadianmu juga sangat antik membuat cinta Mas semakin hari semakin besar saja." Ujar Yoga.


" Jangan berlebihan mencintaiku! Itu tidak baik. Cintailah Tuhanmu itu akan menenangkan hidup Mas." Ucap Ara.


" Baiklah sayang, Mas akan selalu mengingat kata katamu ini." Ucap Yoga.


Yoga mencium bibir Ara dengan lembut, sesekali ia mencecapnya dengan pelan. Suara decapan memenuhi kamar mereka, Yoga mengajari bagaimana mengambil nafas saat sedang berciuman seperti ini.


Mereka berdua terhanyut dalam suasana yang begitu memabukkan. Entah siapa yang memulai kini tubuh keduanya sama sama polos tanpa sehelai benang pun.


Yoga memulai permainan dengan penuh kelembutan membuat Ara begitu menikmatinya. Tiada malam yang indah selain malam yang bisa menyatukan cinta mereka berdua. Yoga memacu tubuhnya di atas tubuh Ara dengan pelan. Tubuh Ara menggeliat seperti cacing kepanasan.


Suara des@h@n dan erangan mengiringi permainan yang sedang mereka mainkan malam ini. Hingga satu jam berlalu tubuh Yoga tumbang di samping Ara.


" Terima kasih sayang." Ucap Yoga memeluk Ara.

__ADS_1


" Kembali kasih Mas." Sahut Ara memejamkan matanya.


TBC....


__ADS_2