DUDA SEDINGIN SALJU

DUDA SEDINGIN SALJU
RASA YANG TERPENDAM


__ADS_3

Sampai hari menjelang siang, Riani belum. juga kembali. Hal itu membuat Dean merasa cemas, resah, gelisah dan merana menjadi satu.


" Kemana sih dia? Kenapa dia tidak bertanggung jawab sama sekali pada pasiennya? Benar benar tidak profesional." Gerutu Dean.


Ceklek....


Dean menoleh ke arah pintu, ia tersenyum saat melihat Riani yang berjalan menghampirinya.


" Darimana saja suster Riani? Apa ini cara kerjamu merawat pasienmu? Kau benar benar...


" Untuk apa saya merawat pasien yang tidak mau sembuh Dokter Dean?" Tanya Riani memotong ucapan Dean.


" Si... Siapa yang tidak mau sembuh?" Dean balik bertanya sambil menatap Riani.


" Anda... Buktinya anda tidak meminum obatnya itu artinya anda tidak mau sembuh kan? Lalu untuk apa saya membuang waktu untuk merawat anda? Masih banyak pasien yang membutuhkan tenaga saya dokter Dean." Ucap Riani.


" Bukannya tidak mau sembuh Riani, tapi karena... " Dean menjeda ucapannya. Ia harus memberikan alasan yang tepat agar Riani tidak marah lagi.


" Karena apa?" Selidik Riani.


" Karena aku tidak bisa minum obat." Ucap Dean lirih tapi masih terdengar oleh Riani.


" Apa???" Pekik Riani terkekeh.


" Benar benar tidak bisa di percaya, bagimana anda tidak bisa meminum obat sedangkan anda seorang dokter. Dan jangan lupakan selama saya merawat anda sebelumnya, anda lancar lancar saja tuh minum obatnya." Ujar Riani.


" Kamu tidak tahu saja kalau sebenarnya aku membuang obatnya."


" Hah???" Riani melongo membulatkan matanya sambil membuka sedikit mulutnya.


" Iya.. Aku membuang semua obatnya. Tanya saja sama suster Puput kalau tidak percaya." Ucap Dean.


" Semoga saja dia tidak bertanya beneran, bisa mampus gue kalau dia tahu kebohonganku." Batin Dean.


" Ya sudahlah sekarang dokter harus makan, setelah minum obatnya biar cepat sembuh. Dan biar cepet pulang dari sini." Ucap Riani.

__ADS_1


" Entah mengapa rasanya begitu berat jika harus berpisah dengan dokter Dean." Batin Riani.


" Kalau aku pulang nanti, kamu juga ikut pulang."


" Hah? Apa?" Tanya Riani terkejut.


" Ya, kau bukan perawat di rumah sakit ini lagi tapi kau perawat pribadiku. Kau sudah menandatangani kontrak kerja denganku dalam waktu yang hanya aku yang bisa menentukan sampai kapan kami bekerja padaku. Tanpa kau sadari mulai sekarang nasibmu bergantung padaku. Aku bisa memecatmu kapan saja aku mau, jadi menurutlah dan bersikap baik padaku atau kau akan kehilangan pekerjaanmu. " Sahut Dean.


Riani membulatkan matanya sambil membuka sedikit mulutnya. Ia benar benar tidak percaya jika hidupnya akan terikat dengan Dean selamanya.


" Sial.... Bagaimana bisa aku tidak m m baca dengan teliti saat menandatangani kontrak kerja itu. Aku kira menjadi perawatnya saat dia di rawat di sini saja. Kalau begini caranya bagaimana bisa aku membentengi hatiku untuk tidak tertarik padanya lagi. Hatiku begitu rapuh soal cinta. Ya Tuhan... Kenapa harus seperti ini? Sial sial sial." Umpat Riani dalam hati.


" Riani." Ucap Dean penuh penekanan.


" Ah iya Dok." Sahut Riani.


" Mulai sekarang jangan panggil aku Dok lagi karena aku bukan dokter di rumah sakit ini lagi. Sekarang namaku Dean, aku seorang pengusaha yang akan menjalankan bisnis papaku. Kau paham kan?" Ucap Dean menatap Riani.


" Lalu aku harus memanggilmu apa? Pak atau Tuan?" Tanya Riani.


Riani membekap mulutnya menahan tawanya.


" Kenapa malah tertawa?" Tanya Dean menatap Riani.


" Enggak cuma lucu aja, wajah anda blasteran masa' mau di panggil mas sama perawatnya. Kedengarannya aneh aja, aku bawahanmu dan kau atasan ku. Apa pantas aku memanggilmu dengan sebutan itu tuan Dean." Ucap Riani menekan kata terakhirnya.


Tiba tiba Dean menggenggam tangan Riani. Riani menatap Dean begitupun sebaliknya.


" Seperti yang aku katakan sebelumnya Ria, aku mencintaimu. Entah sejak kapan tapi aku menyadarinya setelah kepergianmu. Sangat berat bagiku berada jauh darimu, aku merasa gelisah jika sehari tidak melihatmu. Jangankan sehari, satu jam saja aku sudah merasa cemas luar biasa Ria. Aku membuatmu menjadi perawatku itu satu satunya cara agar aku bisa selalu berada di dekatmu. Jujur... Aku memang sengaja tidak meminum obatnya, aku tidak mau sembuh. Karena jika aku sembuh kau pasti akan meninggalkan aku. Dan aku tidak mau sampai itu terjadi Ria. Aku rela lumpuh seumur hidupku asalkan kau selalu bersamaku. Aku harap kau bisa mengerti keinginanku dan mengerti perasaanku. Aku tidak memaksamu untuk membalas perasaanku sekarang, aku ingin kita jalani sebagaimana air mengalir sampai kau merasakan hal yang sama denganku. Tetaplah bersamaku, jika selama kau bersamaku kau tidak bisa memiliki perasaan cinta untukku maka aku akan melepasmu." Ucap Dean menundukkan kepalanya. Ia tidak rela dengan apa yang ia ucapkan di akhir kalimatnya.


" Sampai kapan?" Tanya Riani.


Dean kembali mendongak menatap Riani.


" Sampai kapan pun kamu mau. Kau butuh waktu berapa hari? Atau berapa bulan? Atau mungkin berapa tahun? Aku akan memberikannya." Ujar Dean.

__ADS_1


" Bagaimana jika selama satu tahun, dua tahun, tiga tahun bahkan sampai lima tahun seperti kau menunggu dokter Ara selama ini aku tidak bisa membalas perasaanmu? Apa kau yakin akan melepasku begitu saja? Kau tidak akan melakukan hal yang merugikan orang lain seperti yang kau lakukan pada tuan Yoga?" Tanya Riani memastikan.


" Aku tidak akan melakukan hal yang merugikan orang lain, tapi aku akan melakukan hal yang merugikan diriku sendiri." Sahut Dean.


" Apa maksudmu dokter Dean?" Tanya Riani mengerutkan keningnya.


" Kau akan melihatku mati di depan matamu."


Jeduar.....


Bagai di sambar petir di siang bolong. Riani benar benar terkejut.


" Bagaimana bisa anda berbicara seperti itu Dok? Apa hidup anda tidak lebih berarti dari perasaan saya?" Selidik Riani.


" Tidak... Aku sudah pernah merasakan kehilangan Ara, setelah itu kau berhasil mencuri hatiku. Aku melabuhkan hati dan cintaku untukmu, lalu untuk apa aku hidup jika aku kehilangan semua itu lagi? Mungkin aku di takdirkan mencintai namun tidak di takdirkan untuk di cintai." Ucap Dean sedih.


" Kau tahu aku punya semuanya, harta, tahta, jabatan aku punya. Mobil mewah, rumah mewah dan apapun yang aku mau aku bisa membelinya. Tapi apa arti dari semua itu jika aku tidak bisa mendapatkan cinta? Aku ingin hidup bahagia bersama orang yang aku cintai dan mencintaiku seperti pria lainnya. Aku ingin memiliki keluarga yang utuh seperti mereka yang selalu bahagia bersama keluarganya. Dari kecil aku sudah terbiasa sendiri, aku kesepian sampai saat ini. Apa aku tidak pantas untuk bahagia? Apa aku harus menanggung rasa sepi ini sendirian untuk selamanya?" Tanya Dean menangkup wajah Riani.


Hati Riani trenyuh melihat pria yang selama ini terlihat sempurna ternyata memiliki sisi kerapuhan yang selama ini ia sembunyikan dari orang lain. Bahkan dengan Ara dia tidak mengatakan apa apa.


" Ria... Apa kau tidak mau menemaniku untuk mengusir rasa sepi dalam hidupku? Mungkin kau berpikir aku hanya menjadikanmu sebagai pelarian saja. Tapi percayalah Ria, aku tidak seperti itu. Aku benar benar menginginkanmu dan akan aku pastikan kamulah wanita terakhir dalam hidupku. Aku mohon Riani, belajarlah untuk menerimaku dan membalas perasaanku saat ini. Aku akan menunggumu, aku akan menunggu sampai kau memiliki perasaan padaku. Apa kau mau Riani?" Tanya Dean penuh harap.


Riani nampak sedikit berpikir.


" Baiklah akan aku coba." Ucap Riani.


Grep...


Dean menarik Riani ke dalam pelukannya.


" Terima kasih Riani. Aku sangat bahagia, mulai sekarang aku akan meminum obatnya supaya aku cepat sembuh. Biar kamu tidak malu punya pasangan cacat sepertiku." Ucap Dean.


" Tanpa kau minta aku sudah lama memberikan hati dan cintaku padamu dokter Dean. Hanya saja kau tidak bisa melihat semua itu. Jujur aku sangat bahagia mendengar ungkapan cintamu tapi aku terlalu malu untuk membalasnya. Aku tidak mau sampai kau tahu jika aku lebih dulu mencintaimu." Batin Riani.


TBC....

__ADS_1


__ADS_2