
Setelah puas mendapatkan apa yang Dean mau, ia baru sadar dengan apa yang ia lakukan terhadap Riani.
" Riani." Gumam Dean menjauh dari tubuh Riani.
" Hiks... " Isak Riani meringkuk di atas sofa.
" Sa.. Sayang... " Ucap Dean. Dean segera memunguti pakaiannya lalu memakainya kembali.
" Sayang maafkan aku! Aku tidak bisa mengendalikan diriku." Sambung Dean menyentuh bahu Riani.
" Jangan sentuh aku! Aku membencimu!" Teriak Riani menepis tangan Dean.
" Sayang aku mohon maafkan aku!" Ucap Dean.
" Aku tidak akan pernah memaafkanmu." Sahut Riani mengepalkan erat tangannya. Ingin sekali ia menonjok wajah pria yang telah merenggut kehormatannya.
Dean mengambil tongkatnya, ia berjalan menuju kamarnya untuk mengambil selimut.
Ceklek....
Dean membuka pintu kamarnya, ia sangat terkejut saat melihat kamarnya yang nampak sangat indah. Nyala lilin menghiasi kamarnya yang gelap, rangkaian kelopak bunga mawar membentuk love di atas lantai dan satu lagi. Kue tart dengan lilin menyala yang menunjukkan angka tiga puluh. Ia melangkah mendekati kue itu, di sana nampak tertulis.
HBD Mr. Rodean, will you marry me?
Deg....
Jantung Dean terasa berhenti berdetak, dunianya seakan runtuh setelah menyadari semuanya.
" Riani... Apa ini kejutan untukku? Apa itu sebabnya kamu terus mengajakku ke kamar? Jadi ini alasannya? Ya Tuhan.... Di saat ia memberikan hidup baru kepadaku, kenapa aku malah menghancurkan hidupnya?" Ujar Dean menarik rambutnya.
Tubuh Dean luruh ke lantai. Ia benar benar menyesali perbuatannya yang telah menyakiti harga diri Riani.
Tanpa berpikir panjang, Dean segera beranjak lalu mengambil selimut di atas ranjang. Ia kembali menghampiri Riani di sofa.
" Sayang maafkan aku! Aku tidak tahu jika kau menyiapkan kejutan untukku. Aku merasa marah saat kau mengatakan ingin meninggalkan aku dan menikah dengan pria lain. Aku merasa tidak ikhlas melepas kepergianmu, itu sebabnya aku berusaha untuk menahanmu. Maafkan aku karena caraku mempertahankan telah salah!" Ucap Dean menyelimuti tubuh Riani.
Riani melilitkan selimut itu ke tubuhnya, ia berlari menuju kamar Dean di ikuti Dean dari belakang.
" Riani tunggu!" Ucap Dean.
Riani masuk ke dalam kamar Dean lalu ia mengambil kue ulang tahun di atas meja lalu membuangnya ke lantai.
Plek... Prang... Pyar....
Riani menghancurkan semua yang ada di atas meja termasuk gelas dan piring. Ia bahkan mengacak acak kelopak mawar yang ada di lantai.
" Sayang maafkan aku!" Ucap Dean.
" Gara gara kejutan ini hidupku hancur. Gara gara menyiapkan kejutan ini aku kehilangan harga diriku." Teriak Riani frustasi.
" Sayang aku minta maaf!" Ucap Dean.
__ADS_1
" Aku benci semua ini! Aku benci semuanya.. Aku membencimu, aku sangat membencimu Rodean." Ucap Riani kembali berteriak.
Grep....
Dean memeluk Riani dari belakang untuk mengendalikannya.
" Lepas!!!" Bentak Riani memberontak.
" Kendalikan dirimu Riani!" Ucap Dean.
" Aku bilang lepas!!" Riani menarik kasar kedua tangan Dean yang melingkar di perutnya hingga terlepas.
Brugh....
Riani mendorong tubuh Dean hingga jatuh ke lantai. Tangannya tertancap pecahan beling membuatnya berdarah.
Riani tidak peduli akan hal itu, ia keluar kamar meninggalkan Dean sendiri menuju kamarnya.
Brak....
Riani menutup pintu kamarnya dengan keras. Tubuh Riani luruh ke lantai bersandar pada pintu. Ia tidak mempedulikan rasa sakit di bagian bawahnya karena rasa sakit di dalam hatinya jauh lebih terasa.
" Hiks... Hiks... " Isak Riani memukul dadanya sendiri.
" Apa ini yang di namakan cinta buta? Apa aku bisa mengartikan perbuatan Mas Dean adalah cinta? Karena terlalu cinta dan takut kehilanganku dia memperlakukan aku seperti ini? Apa ini caranya menjadikan aku sebagai miliknya? Hiks... "
" Ya Tuhan... Sebesar inikah cinta Mas Dean padaku sehingga dia harus menyakitiku dengan cara seperti ini? Hiks.... " Isak Riani.
" Riani maafkan aku! Aku memang salah telah menyakitimu tapi hanya cara ini yang bisa aku lakukan untuk menjadikanmu milikku. Aku tidak mau berpisah darimu, aku tidak mau kau pergi meninggalkan aku! Aku ingin terus hidup bersamamu, aku tidak bisa jauh darimu Riani. Hiks.. Jika saja kau tidak melakukan kebohongan ini, aku pasti tidak akan melakukannya Riani. Aku mohon maafkan aku!" Ucap Dean sambil mengetok ketok pintunya.
" Riani... " Lirih Dean.
Tiba tiba...
Brugh..
Tubuh Dean ambruk ke lantai karena kehilangan kesadarannya. Riani yang mendengarnya pun terkejut.
" Astaga Mas Dean." Ucap Riani.
Riani segera memakai baju yang ia ambil dari almari lalu membuka pintunya.
" Mas." Ucap Riani berjongkok di depan tubuh Dean.
" Kebanyakan minum jadi hilang kesadaran dan kesabarannya." Ucap Riani.
Dengan. susah payah Riani menyeret tubuh Dean ke ranjangnya. Ia membaringkan tubuh Dean ke ranjang, lalu menyelimutinya. Saat wajah mereka berdekatan, Riani berhenti sejenak menatap Dean.
" Kau benar Mas, jika saja aku tidak mengerjaimu seperti ini. Jika saja aku tidak berbohong padamu hanya untuk memberikan kejutan untukmu, kau pasti tidak akan pernah melakukan hal ini. Selama ini kita selalu bersama namun tidak pernah sekalipun kamu menyentuhku, padahal jika kau mau kesempatan selalu ada. Aku memaafkanmu, kau menerimaku apa adanya begitupun dengan diriku. Semoga kita bisa hidup bahagia selamanya." Ucap Riani.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Pagi ini Dean mengerjapkan matanya saat sinar matahari masuk ke dalam celah celah korden kamarnya. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar, ia baru menyadari jika ternyata ia berada di kamar Riani.
" Riani." Gumam Dean saat ingat dengan apa yang ia lakukan pada Riani.
" Kemana Riani? Apa dia pergi meninggalkan aku? Tidak... Itu tidak boleh terjadi. Aku harus mencarinya." Ujar Dean turun dari ranjang.
Dean berjalan menggunakan tongkatnya keluar dari kamar Riani. Ia mencari Riani di dapur, di ruang laundry bahkan di taman belakang namun tidak menemukannya. Ia mendadak menjadi panik karena tidak menemukan Riani dimana mana.
" Ya Tuhan jangan biarkan Riani pergi meninggalkan aku!" Gumam Dean.
Dean menuju kamarnya, ia berharap Riani ada di sana. Dan benar saja, Riani sedang menyapu pecahan beling di sana. Tiba tiba....
Grep....
Dean memeluk Riani dari belakang, beruntung Riani tidak hilang keseimbangan.
" Maafkan aku!" Ucap Dean menyusupkan wajahnya ke tengkuk leher Riani.
" Aku tidak bermaksud menyakitimu, aku melakukannya karena aku takut kehilanganmu. Aku akan bertanggung jawab dengan menikahimu secepatnya. Terima kau dan hiduplah dengan bahagia bersamaku selamanya." Ucap Dean.
" Bagaimana kalau aku tidak mau?" Tanya Riani.
" Maka aku akan tiada." Sahut Dean.
" Memangnya apa yang akan kau lakukan?" Riani bertanya lagi sambil membalikkan badan menatap Dean.
" Aku akan melenyap...
" Sttt." Riani meletakkan jari telunjuknya ke bibir Dean.
" Jangan mengatakan hal menakutkan itu lagi! Aku tidak mau kehilangan kamu." Ucap Riani.
" Benarkah?" Tanya Dean dengan mata berbinar.
" Iya." Sahut Riani menganggukkan kepalanya.
" Lalu apa yang kau inginkan?" Kali ini gantian Dean yang bertanya.
" Aku ingin hidup bersamamu selamanya Mas. Aku mencintaimu." Ucap Riani memeluk Dean.
" Aku juga mencintaimu sayang, maafkan aku yang telah menyakitimu." Ucap Dean membalas pelukan Riani.
" Aku yang memulainya, maafkan aku!" Ucap Riani.
" Baiklah aku maafkan, tapi lain kali jangan seperti ini lagi. Terima kasih telah memaafkan dan menerimaku." Ucap Dean di balas anggukkan kepala oleh Riani.
Riani melepas pelukannya, ia mendongak menatap Dean dengan intens.
" Selamat ulang tahun, semoga panjang umur dan sehat selalu agar kamu bisa menjagaku seumur hidupku." Ucap Riani.
" Terima kasih, aku berjanji akan menjagamu selama hidupku. Aku mencintaimu." Ucap Dean mencium kening Riani.
__ADS_1
TBC....