
Hari hari berlalu dengan cepat. Pagi ini setelah mengantar Rere ke sekolah, Ara menuju kantor Yoga. Ia berjalan menuju ruangan Yoga dengan santai, saat sampai di ruangan sekretaris ia mengerutkan keningnya pasalnya Dini tidak ada di sana.
" Kemana Dini? Apa dia sudah di pindah ya sama Mas Yoga? Atau dia ada di dalam bersama Mas Yoga? Aku harus memastikannya." Gumam Ara.
Ara mendekati pintu ruangan Yoga.
Ceklek.....
Ara membuka pintunya, kedua pria yang sedang duduk di sofa menoleh ke belakang.
" Ara."
" Zain." Ucap Ara dan pria yang bersama Yoga bersamaan.
Ara menghampiri keduanya.
" Assalamu'alaikum Mas." Ucap Ara mengalami Yoga dengan takzim.
" Wa'alaikumsalam sayang. Kenalkan dia Zain sekretaris baruku, tapi sepertinya kamu sudah mengenalnya." Ucap Yoga.
" Iya Mas, Zain ini teman sekelasku saat masa abu abu." Sahut Ara.
" Lama tidak bertemu Zain." Ucap Ara mengatupkan kedua tangan di depan dadanya begitupun dengan Zain.
" Senang bertemu denganmu lagi Ara, aku tidak menyangka kau menikah dengan seorang CEO, aku pikir kamu mau menikah dengan seorang dokter." Ujar Zain.
" Jodoh sudah di takdirkan oleh Tuhan Zain, Bagaimana kabarmu dan keluargamu? Apa mereka baik baik saja?" Tanya Ara duduk di samping Yoga.
" Seperti yang kamu lihat, aku baik baik saja Ra, begitupun dengan keluargaku." Sahut Zain.
" Alhamdulillah kalau begitu." Ucap Ara.
Keduanya terus mengobrol hingga melupakan Yoga yang ada di sekitar mereka. Yoga nampak kesal melihat kedekatan mereka berdua.
" Sudah selesai mengobrolnya? Saya memanggilmu ke sini untuk bekerja membantuku bukan mengobrol dengan istriku. Saya tidak jadi menerimamu, silahkan kau tinggalkan tempat ini sekarang juga." Ucap Yoga membuat Ara dan Zain terkejut.
" Mas kok gitu? Jangan mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan Mas." Ujar Ara.
" Kalau dia tahu itu, dia tidak akan mengobrol di sini apalagi saat jam kerja. Saya tidak suka dengan orang yang tidak menghargai waktu dengan baik." Ucap Yoga tegas.
" Saya minta maaf Pak. Saya tidak akan mengulanginya, mohon berikan saya kesempatan satu kali lagi." Ucap Zain.
Yoga nampak sedang berpikir, ia menatap Ara yang di balas anggukkan kepala oleh Ara.
" Saya tidak suka memberi kesempatan kedua, kau sudah menyia-nyiakan kesempatan yang saya berikan jadi tidak akan ada kesempatan kedua untukmu. Silahkan pergi dari sini!" Titah Yoga.
" Baik Pak saya minta maaf. Saya permisi." Ucap Zain.
Zain keluar dari ruangan Yoga, Ara menatap tajam ke arah Yoga.
" Hanya karena Mas merasa cemburu, Mas menghancurkan karier orang." Ucap Ara.
" Itu juga yang kamu lakukan terhadap Dini, aku hanya ingin menjaga istriku dari seorang pebinor." Sahut Yoga.
__ADS_1
Ara membulatkan matanya menatap Yoga.
" Zain dan Dini itu jauh berbeda Mas. Dini ada niat untuk merebutmu kalau Zain tidak. Zain tahu batasan antara aku dan dengannya Mas. Lagian Mas tidak memecat Dini kan? Dia hanya di pindahkan saja." Ujar Ara.
" Bagiku sama saja sayang." Sahut Yoga.
" Baiklah terserah Mas saja, Mas tidak mau memberi kesempatan kedua kepada orang lain padahal Mas sendiri pernah membutuhkannya. Aku kecewa dengan sikap Mas kali ini." Ucap Ara membuat Yoga terkejut.
" Sa...
" Aku pulang dulu Mas, assalamu'alaikum." Ucap Ara meninggalkan Yoga.
Melihat itu Yoga segera mengejarnya.
" Sayang tunggu!" Panggil Yoga namun tidak membuat Ara menghentikan langkahnya.
" Sial." Umpat Yoga.
Yoga hanya bisa menatap kepergian Ara karena sebentar lagi ada meeting dengan client penting. Ia terpaksa kembali ke ruangannya dengan perasaan kacau. Ia sangat takut jika Ara marah padanya.
Malam hari Yoga baru kembali dari kantor jam sepuluh malam. Ia masuk ke kamarnya mendekati Ara yang sudah tertidur lelap di ranjangnya.
" Apa sebegitu marahnya kamu sama Mas sayang sampai sampai kamu tidak menyambut Mas pulang? Tidak biasanya kamu tidur lebih dulu seperti sekarang sebelum Mas pulang." Gumam Yoga mengelus kepala Ara.
Yoga membungkukkan badannya lalu mengecup pipi Ara.
" Tidurlah dengan nyenyak sayang." Ucap Yoga.
Yoga menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari lengketnya keringat.
Huek... Huek...
Ara memuntahkan semua isi perut di wastafel kamar mandi. Yoga yang masih tertidur langsung membuka matanya saat mendengar suara istrinya muntah muntah. Ia segera turun dari ranjang lalu berlari menghampiri Ara di kamar mandi.
" Sayang kamu kenapa?" Tanya Yoga.
Ara hanya menggerakkan tangannya tanda tidak apa apa. Yoga memijat tengkuk Ara dengan pelan membuat Ara kembali muntah.
" Kamu masuk angin sayang." Ujar Yoga.
Ara menganggukkan kepalanya.
" Mas kerokin mau?" Tawar Yoga di balas gelengan kepala oleh Ara.
" Ya sudah kamu istirahat saja! Nanti Mas buatin teh madu jahe biar tubuhmu hangat." Ujar Yoga.
Setelah merasa mendingan, Yoga membantu Ara kembali ke ranjang. Ara duduk bersandar pada head board sambil memijat kepalanya yang terasa nyeri.
" Sini Mas pijitin." Ucap Yoga memijat pelan kepala Ara.
" Maafkan Mas sayang! Mas telah membuatmu kecewa. Mas tidak bermaksud menyakiti hatimu tapi Mas hanya merasa takut kamu di bawa oleh pria lain. Mas pernah kehilanganmu jadi Mas tidak mau kehilanganmu lagi. Maafkan aku!" Ucap Yoga.
" Entahlah Mas aku merasa tidak bisa mengendalikan amarahku." Sahut Ara.
__ADS_1
" Kenapa sayang? Apa kamu benar benar marah sama Mas?" Tanya Yoga.
" Aku tidak marah tapi aku merasa kesal Mas. Aku juga tidak tahu kenapa. Maafkan aku jika aku bersikap kasar pada Mas." Ucap Ara.
" Mungkin kamu sedang dama masa PMS sayang." Tebak Yoga.
" PMS?" Ara mengerutkan keningnya.
" Mas ini tanggal berapa?" Tanya Ara menatap Yoga.
" Kenapa sayang? Hari ini tanggal enam Mei." Sahut Yoga.
" Apa??? Tanggal enam??" Pekik Ara terkejut.
" Iya kenapa? Nggak terasa kan sudah satu bulan lebih kamu kembali ke rumah." Ujar Yoga.
" Bukan itu Mas." Ucap Ara.
" Lalu?" Tanya Yoga.
" Seharusnya aku kedatangan tamu tanggal dua sembilan bulan lalu Mas. Aku sudah telat satu minggu." Ucap Ara.
" Apa itu berarti kamu.... " Yoga menjeda ucapannya.
" Semoga saja Mas." Sahut Ara tersenyum.
" Amin.. Semoga apa yang kita harapkan akan menjadi kenyataan sayang. Mas akan sangat bahagia kalau benar itu terjadi." Ucap Yoga menciumi pucuk kepala Ara.
" Iya Mas semoga saja, biasanya siklus haidku maju satu minggu ini malah mundur satu minggu. Semoga saja di dalam sini ada calon anak kita Mas." Ucap Ara mengelus perutnya sendiri.
" Mas akan ke apotik untuk membeli alat tes kehamilan. Kamu tunggu di sini tidak apa apa kan." Ujar Yoga.
" Iya Mas tidak apa apa, beli yang paling bagus dan akurat ya Mas." Sahut Ara.
" Oke, mas berangkat dulu." Ucap Yoga meninggalkan kamarnya.
Sambil menunggu Yoga, Ara mencoba memejamkan matanya. Ia berharap sakit di kepalanya bisa sedikit berkurang.
Tak lama Yoga kembali dengan membawa empat buah alat tes kehamilan.
" Sayang apa kamu tidur." Ucap Yoga.
" Tidak Mas." Sahut Ara membuka matanya.
" Ini Mas sudah membelinya, kamu coba tes gih biar semuanya jelas." Ujar Yoga.
" Iya Mas." Sahut Ara.
Yoga membantu Ara menuju kamar mandi. Ara segera mengetes urinenya dengan alat tersebut. Setelah menunggu lima menit akhirnya hasinya terlihat dengan jelas.
" Gimana hasilnya sayang? Apa hasilnya benar benar positif?" Tanya Yoga menghampiri Ara.
" Ini Mas." Ucap Ara memberikan dua alat tes kehamilan itu pada Yoga.
__ADS_1
Yoga menatapnya lalu....
TBC....