DUDA SEDINGIN SALJU

DUDA SEDINGIN SALJU
CHEK UP KANDUNGAN


__ADS_3

Hari ini Yoga dan Rere mengantar Ara ke dokter kandungan untuk memastikan kesehatan kandungannya. Mereka masuk keruang periksa setelah suster memanggil nomer antriannya.


" Selamat siang Nyonya, silahkan duduk!" Ucap dokter Sinta.


" Terima kasih Dok." Ucap Ara duduk di depan dokter bersebelahan dengan Yoga, sedangkan Rere di pangku oleh Yoga.


" Apa keluhan anda Nyonya?" Tanya dokter Sinta.


Ara memberikan dua buah alat test kehamilan kepada dokter Sinta lalu meminta penjelasan dokter Sinta.


" Untuk lebih jelasnya kita lakukan USG saja Nyonya, silahkan berbaring di sana." Ucap dokter Sinta menunjuk brankar rumah sakit.


" Baik Dok." Sahut Ara.


Ara menuju brankar lalu berbaring di sana. Yoga dan Rere dengan setia berdiri di samping brankar.


Dokter Sinta menyelimuti bagian bawah Ara lalu menyibak gamis yang di pakai Ara hingga menampakkan perutnya. Ia mengoleskan gel lalu menggerakkan transduser ke kanan dan kiri.


" Lihatlah Nyonya dan Tuan!" Ucap dokter Sinta menunjuk layar monitor.


" Lingkaran ini merupakan rahim Nyonya Ara, sedangkan titik hitam ini adalah calon janinnya." Ucap dokter Sinta.


" Alhamdulillah." Ucap Ara dan Yoga bersamaan.


" Dokter, apakah itu calon adik Rere?" Tanya Rere memastikan sambil menunjuk layar monitor.


" Iya sayang, selamat ya sebentar lagi kamu akan menjadi kakak cantik." Ucap dokter Sinta.


" Yeii.... Terima kasih Dokter." Sorak Rere di balas senyuman oleh dokter Sinta.


" Dokter bolehkah Rere mengabadikan momen ini? Rere akan memberinya nama momen periksa pertama, besok kalau adik Rere udah besar, Rere mau menunjukkan kepadanya." Ujar Rere.


" Boleh." Sahut dokter Sinta.


" Terima kasih Dokter." Ucap Rere.


" Sama sama." Sahut dokter Sinta.


" Papa Rere pinjam ponselnya." Ucap Rere menatap Yoga.


Yoga mengambil ponsel di saku celananya lalu memberikannya kepada Rere.


" Ini sayang."


Rere segera membuka gambar kamera lalu mengaktifkan rekaman video.


" Dokter lanjut periksa ya." Ujar dokter Sinta.


" Oke Dok." Sahut Rere mengacungkan jempolnya.


" Titik hitam ini calon janin anda, umurnya baru enam minggu Nyonya jadi masih sebesar biji kacang hijau. Kandungan anda sehat, kita akan melihat perkembangan janin anda bulan depan." Terang dokter Sinta.

__ADS_1


" Apa yang harus kami lakukan untuk menjaga kesehatan bayi dan ibunya Dok?" Tanya Yoga. Ia harus memastikan kesehatan Ara dan calon bayinya supaya tidak terjadi hal buruk kepadanya.


" Istirahat cukup, makan makanan bergizi, minum vitamin dan tablet tambah darah setiap hari. Jangan melakukan pekerjaan berat seperti mengangkat benda berat atau terlalu memforsir tenaga hingga membuat Nyonya Ara kelelahan." Sahut dokter Sinta.


" Bagaimana dengan berhubungan..


Tiba tiba Ara mencubit perut Yoga membuat Yoga memekik kesakitan.


" Awh sakit sayang." Ucap Yoga.


" Mas Ara sedang merekamnya, jadi jangan tanyakan yang aneh aneh." Ucap Ara membuat dokter Sinta tersenyum.


" Nyonya Ara seorang dokter spesialis Tuan, jadi jangan khawatir! Nyonya Ara tahu semuanya." Ujar dokter Sinta.


" Ah iya saya lupa Dok, maaf." Ucap Yoga.


Selesai pemeriksaan, Ara menuju apotik untuk menebus resep. Setelah itu mereka meninggalkan rumah sakit. Di dalam mobil, Rere memutar video yang tadi ia rekam terus menerus.


" Rere apa kamu tidak bosan menonton video itu sayang?" Tanya Ara menoleh ke belakang.


" Tidak Ma, Rere senang melihat gambar dedek bayi dan Mama saat di periksa tadi. Apa dulu saat Mama mengandung Rere, Rere juga seperti ini Ma?"


Deg....


Jantung Ara terasa berhenti berdetak, ia menatap Yoga begitupun sebaliknya.


" Tentu saja sayang, kamu sama dedek bayi kan sama." Sahut Yoga.


" Kenapa tidak Papa rekam saat itu? Kalau di rekam kan Rere bisa melihatnya sekarang." Ujar Rere.


" Sudah Papa rekam sayang, tapi ponsel yang untuk merekam waktu itu hilang. Jadi Papa tidak punya lagi deh rekaman videonya." Ucap Yoga berdusta.


" Itu sebabnya Rere mengunggahnya ke internet."


" Apa???" Pekik Ara dan Yoga bersamaan.


Yoga menghentikan mobilnya di tepi jalan, ia menatap Rere begitupun dengan Ara.


" Apa kamu mengarahkan kamera ke perut Mama tadi?" Selidik Yoga.


" Iya tapi hanya sebentar." Sahut Rere polos.


" Lalu kamu mengunggahnya ke internet begitu?" Tanya Yoga lagi.


" Tidak." Sahut Rere membuat Ara dan Yoga bernafas lega.


" Rere sudah mengeditnya Pa lewat aplikasi lebih dulu, jadi tidak ada gambar Mama yang menampakkan auratnya." Ujar Rere.


Ara tersenyum bangga ke arah Rere.


" Ternyata anak Mama sangat pintar, jadi anak sholehah sayang yang taat pada agama dan selalu sabar dalam menghadapi semuanya. Mama menyayangimu." Ucap Ara mengelus pipi Rere.

__ADS_1


" Amin... Terima kasih Ma." Ucap Rere.


" Sama sama sayang." Sahut Ara.


Yoga kembali melajukan mobilnya ke jalan raya.


" Sayang apa kamu ingin ke suatu tempat atau ingin makan sesuatu?" Tanya Yoga menatap Ara sekilas.


" Tidak Mas, aku mau istirahat saja di rumah. Sepertinya bawaan bayi kita mengantuk itu sebabnya aku mengantukdi pagi hari." Ujar Ara.


" Baiklah tidak apa apa, katanya itu normal terjadi pada wanita hamil muda sepertimu." Sahut Yoga.


" Rere, apa kamu ingin pergi ke suatu tempat? Wahana mainan misalnya." Tanya Ara menatap Rere.


" Sebenarnya Rere ingin ke water park Ma, tapi Rere ke sananya sama oma sama aunti saja. Rere tidak mau membuat Mama dan dedek bayi susah." Sahut Rere.


" Kalau Rere mau ke sana kita ke sana saja, Mama akan menemani Rere bermain." Ujar Ara.


" Tidak Ma, Mama istirahat aja di rumah. Mama kan harus menjaga kesehatan, Rere tidak mau terjadi hal buruk pada Mama dan dedek bayi." Ucap Rere membuat Ara terharu.


" Terima kasih sayang." Ucap Ara.


" Kembali kasih Ma." Sahit Rere tersenyum memamerkan gigi bersihnya.


" Ma kemarin aunti Dini menghampiri Rere di sekolah." Ucap Rere membuat Ara terkejut.


" Mau apa dia sayang? Apa aunti Dini mengganggumu?" Tanya Ara.


" Aunti Dini bilang kalau Azzam tidak ada teman, Azzam sangat sedih Ma. Dan aunti Dini meminta Rere untuk selalu menemani Azzam. Aunti Dini juga meminta Rere untuk selalu mengajak Azzam kalau Rere jalan jalan atau makan siang." Jelas Rere.


Ara menatap Yoga sekilas lalu kembali menatap Ara.


" Kalau di sekolah, Rere bisa bermain dengan Azzam. Tapi kalau untuk jalan jalan dan makan siang, Mama tidak setuju sayang. Kamu punya kehidupan sendiri begitupun dengan Azzam, Mama harus membatasi waktu bermainmu apalagi bermain dengan teman laki laki. Maafkan Mama jika Mama terkesan mengekangmu." Ucap Ara.


" Mama tidak salah, Rere sendiri yang tidak mau bermain dengan Azzam. Rere tidak suka sama Azzam yang selalu bilang kalau Papa Rere sama mamanya pacaran. Padahal kan kata Mama kita tidak boleh pacaran, karena pacaran itu hanya akan mengundang dosa. Bukan begitu Ma?" Ujar Rere.


" Iya benar sayang, rupanya kamu sudah bisa memahami apa yang Mama ajarkan. Mama bangga sama kamu." Ucap Ara.


" Rere juga bangga sama Mama." Sahut Rere.


Yoga tersenyum bahagia melihat ikatan Ara dan Rere yang nampak saling menyayangi.


" Aku harus berhari hati dengan Dini. Sepertinya dia berniat buruk kepada keluarga. Semoga Tuhan selalu menjaga keluargaku selamanya." Ujar Yoga dalam hati.


TBC....


Jangan lupa selalu dukung author dengan tekan like koment vote dan mawarnya ya...


Yang belum mampir ke cerita baru author, author tunggu di sana ya...


Miss u All....

__ADS_1



__ADS_2