
" Maaf aku tidak bisa."
Jeduarrrr....
Bagaikan di sambar petir di siang bolong, Bastian nampak sangat terkejut.
" Sayang, kenapa kamu menolakku? Apa alasanku kurang jelas bagimu? A.. Aku minta maaf untuk apa yang telah aku lakukan padamu. Siapapun aku, perasaanku kepadamu tidak berubah sayang. Aku mohon! Jangan menolakku seperti ini! Pernikahan kita sudah ada di depan mata. Aku tidak mau acara pernikahan kita batal begitu saja. Aku memang salah, kau boleh menghukumku sesuka hatimu. Tapi aku mohon jangan hukum aku seperti ini! Aku tidak mau kehilanganmu. Aku mohon terima aku kembali menjadi calon suamimu!" Ucap Bastian mengatupkan kedua tangan di depan dadanya.
Putri nampak sedang berpikir. Ia menatap ke semua orang yang saat ini menatap mereka berdua.
" Sejujurnya aku paling tidak bisa memaafkan seorang pembohong sepertinya, tapi di sini harga dirinya sedang di pertaruhkan. Berita kemunculan dia sebagai pimpinan baru saja terbit, masa' iya baru beberapa menit beritanya ganti menjadi seorang pimpinan BR corporation telah di tolak calon istrinya karena berani mengumumkan hubungannya dengan asistentnya. Yang ada nanti mereka akan merendahkan mas Bastian. Aku harus bersikap dewasa, aku tidak boleh egois. Baiklah Putri, untuk saat ini lebih baik kamu terima Bastian. Untuk ke depannya pikirkan nanti." Batin Putri menghembuskan nafasnya kasar.
Putri menarik tangan Bastian untuk berdiri. Keduanya berdiri berhadapan saling menatap satu sama lain.
" Baiklah aku terima." Ucap Putri membuat Bastian senang bukan main.
" Be.. Benarkah?" Tanya Bastian dengan mata berbinar.
" Hmm." Putri menganggukkan kepala.
" Terima kasih sayang." Bastian memeluk Putri dengan erat.
" Aku melakukan ini demi menjaga martabatmu, kau akan tetap mendapat hukuman dariku setelah ini karena kau berani membohongiku." Bisik Putri ke telinganya Bastian.
" Tidak masalah sayang, apapun hukuman darimu aku akan menerimanya. Yang jelas kau tidak boleh meninggalkan aku setelah ini. Jika kau berani melakukannya maka aku akan berbuat sesuatu hal yang tidak pernah kau bayangkan selama ini. Aku bukan lagi Bastian si miskin itu, aku punya kekuasaan di sini. Jadi jangan berani kabur dariku atau kau akan menanggung semua akibatnya." Balas Bastian.
" Sial! Aku terjebak dengannya." Umpat Putri dalam hati.
Setelah itu Bastian memasangkan cincin barunya ke jari manis Putri. Suara tepuk tangan mengiringi kebahagiaan mereka.
" Pernikahan kami tiga minggu lagi, saya akan mengundang kalian semua untuk menghadiri acara pernikahan kami di Jakarta. Terima kasih." Ucap Bastian.
Bastian menggandeng tangan Putri turun dari panggung. Awak media langsung mengerubungi keduanya untuk menanyakan kejelasan hubungan mereka.
" Apa lagi yang mau anda tanyakan? Hubungan kami sudah jelas, maaf jika sebelumnya saya telah mempermainkan kalian." Ucap Bastian.
Bastian membawa Putri ke mobilnya.
" Putri." Panggil Abel berlari menghampiri Putri.
" Kapan kau akan pulang? Mau pulang bersamaku atau bersama kak Bastian?" Tanya Abel.
" Putri akan pulang bersamaku, kau bisa pulang duluan." Sahut Bastian.
" Tidak, aku pulang bersamamu. Saat ini aku tidak mengenal siapapun di sini. Ayo kita pulang!" Ucap Putri.
__ADS_1
" Sayang aku..
" Aku akan menunggu mas Bastianku kembali, bukan tuan Bastian pemimpin perusahaan BR corporation. Pertemuan kita cukup sampai di sini. Maaf jika aku sudah merusak acaramu tapi aku juga sudah memperbaikinya." Sahut Putri memotong ucapan Bastian.
" Ayo Bel!" Putri menarii tangan Abel menuju mobilnya. Bastian hanya bisa mengacak rambutnya saja, rupanya ancaman yang ia berikan pada Putri tidak berpengaruh apa apa.
" Aku tidak menyangka jika kau keras kepala. Baiklah aku akan segera kembali menjadi mas Bastianmu setelah pekerjaan di sini selesai. Tunggu aku sayang." Gumam Bastian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi ini Putri sedang bermalas malasan di atas ranjang. Ia benar benar tidak menyangka telah di tipu oleh tunangannya sendiri.
" Dia benar benar lihai menyembunyikan semua ini dari semua orang, aku yang biasanya tidak bisa di tipu kali ini aku bisa tertipu dengannya. Hah... Dia seorang CEO perusahaan besar, padahal aku tidak menyukai pekerjaan itu. Aku ingin menikah dengan orang biasa saja. Aku terlalu malas untuk menghadapi masalah masalah orang besar sepertinya." Gumam Putri.
Tok tok...
" Putri, apa kamu sudah bangun?" Terdengar suara Ara.
" Sudah Kak." Sahut Putri berteriak.
" Ayo cepat turun sarapan! Kami semua sudah menunggumu." Ujar Ara.
" Iya Kak." Sahut Putri turun dari ranjang.
Ceklek....
" Kenapa senyum begitu Ra? Apa ada yang kau sembunyikan dariku?" Selidik Putri.
" Tidak sahabatku, hanya saja aku mau mengingatkan padamu. Setiap hubungan memiliki masalah masing masing, tinggal bagaimana kita menghadapinya. Aku harap kau bisa berpikir jernih untuk menyelesaikan setiap masalah yang akan datang menghampirimu." Ucap Ara merangkul Putri.
" Siap Besti.. Kau tidak perlu khawatirkan hal itu. Aku bisa menanganinya." Sahut Putri.
Mereka berdua turun ke bawah menuju meja makan sambil gandengan tangan.
Deg...
Putri menghentikan langkahnya begitu melihat Bastian ada di sana.
" Rupanya ini maksud dari ucapanmu. Apa dia sudah memberitahu semuanya?" Bisik Putri.
" Iya sudah, seharusnya kamu bangga memiliki pria yang bertanggung jawab sepertinya. Kalau dia berbohong masalah hubungannya dengan Amoora, dia pasti tidak akan memperkenalkanmu pada mereka semua. Itu berarti alasan dia benar Putri. Dia benar benar sedang mencari yang tulus." Ujar Ara.
" Iya aku tahu." Sahut Putri.
Mereka berdua duduk di kursi masing masing. Putri duduk di samping Bastian berhadapan dengan Yoga dan Ara.
__ADS_1
" Sekarang mari kita mulai makan!" Ucap nyonya Hana.
Ara mengambilkan makanan untuk Yoga dan Rere. Sedangkan Putri mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
" Putri... " Ucap nyonya Hana penuh dengan penekanan. Putri paham dengan maksud mamanya. Ia mengambil piring Bastian lalu mengisinya dengan makanan tanpa bertanya dulu apa yang ingin Bastian makan.
" Terima kasih." Ucap Bastian.
Bastian menatap isi piring di depannya. Nasi putih dengan lauk ayam lada hitam dan udang pedas cabai hijau.
" Silahkan di nikmati Bastian, maaf jika Putri salah mengambilkan makanan untukmu. Kalau tidak kau bisa ambil sendiri sesuai selera kamu." Ucap nyonya Hana.
" Makanya lebih baik ambil sendiri daripada aku yang mengambilkan." Ucap Putri.
" Tidak perlu Ma, aku akan memakannya." Ucap Bastian.
Dengan ragu Bastian menyuapkan sesendok nasi beserta lauknya. Ia mengunyahnya dengan pelan. Raut wajahnya mulai berubah, Putri menyadari akan hal itu.
" Kenapa wajah mas Bastian mendadak jadi merah merah begitu? Seperti ruam, apa mungkin dia alergi udang? Ya Tuhan... Ini tidak boleh biarkan."
Putri langsung mengambil piring Bastian membuat yang lainnya terkejut.
" Aunti kenapa makanan om Bas di ambil?" Tanya Rere.
" Kalau kau punya alergi terhadap udang, lalu kenapa kau memakannya Mas? Kamu mau cari penyakit?" Ujar Putri nenatap Bastian.
" Apapun yang kau berikan padaku, aku akan memakannya. Anggap saja ini hukuman darimu untukku." Ucap Bastian membuat hati Putri mencelos.
Tiba tiba nafas Bastian tersengal, dadanya terasa sesak.
" Astaga ya Tuhan, Kak tolong bawa mas Bastian ke rumah sakit." Ucap Putri panik.
" Baiklah."
Yoga segera membopong Bastian di bantu oleh Putri ke mobil. Mereka berdua membawa Bastian ke rumah sakit terdekat. Putri nampak sangat panik karena nafas Bastian semakin tersengal.
" Mas bertahanlah! Maafkan aku!" Ucap Putri menggenggam tangan Bastian.
" Ja.. Jangan.. kha.. watir... Sa.. yang, a.. ku tidak apa.. apa.. "
Setelah itu Bastian kehilangan kesadarannya.
" Mas bangunlah! Hiks.. Mas aku mohon bangunlah!"...
" Ya Tuhan semoga tidak terjadi apa apa pada mas Bastian."
__ADS_1
TBC....