DUDA SEDINGIN SALJU

DUDA SEDINGIN SALJU
RASA YANG TAK LAGI SAMA


__ADS_3

" Ayahku."


Deg...


Jantung Yoga terasa berhenti berdetak.


" Bagaimana ayah bisa melakukan hal itu Ara? Apa kau tahu? Setiap hari aku ke rumahnya hanya untuk menanyakan hal yang sama yaitu tentang keberadaanmu. Tapi selama lima tahun ini ayah sama sekali tidak memberikan petunjuk satu pun kepadaku dimana kamu berada. Aku tidak menyangka jika ayah memang sengaja menyembunyikan kamu dariku, ayah tidak mau sampai kita bertemu dan kembali bersatu. Sepertinya dia sengaja ingin memisahkan kita." Ujar Yoga merasa kecewa.


" Ayah memang bersalah tapi aku tidak bisa menyalahkan ayah sepenuhnya Mas, ayah pernah berkata kepadamu sebelumnya. Jika kau menyakitiku maka saat itu juga ayah akan mengambilku kembali darimu dan dia tidak akan memberikan kesempatan untuk Mas menemukan aku. Aku rasa kau mengingatnya Mas." Ujar Ara menatap Yoga.


" Iya aku ingat, maafkan aku! Memang akulah yang bersalah dalam hal ini. Aku tidak pandai bersyukur sehingga aku menyia-nyiakan kebaikanmu saat itu. Aku menyesali perbuatanku Ara. Maafkan aku." Ucap Yoga.


" Kalau hanya untuk kata maaf aku sudah lama memaafkanmu Mas. Tapi untuk menjadi seperti dulu, aku tidak bisa." Sahut Ara.


" Keanap Ara? Kau tahu benar kan jika saat ini aku benar benar menginginkanmu kembali. Aku ingin membuka lembaran baru bersamamu, aku ingin kita hidup bahagia sebagai satu keluarga. Aku, kau dan Rere. Apa kau mau mewujudkan impianku itu?" Tanya Yoga menatap Ara.


" Maaf Mas aku tidak bisa."


Jeduarrrr..


" Ke... Kenapa tidak bisa Ara? Kita masih sah menjadi suami istri. Aku mencintaimu dan aku rasa kau juga mencintaiku kan? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi? Atau kau sudah punya cinta yang lain?" Tanya Yoga memastikan.


" Aku dulu memang pernah merasakan cinta kepadamu, tapi rasa itu entah sudah menghilang kemana karena luka yang kau torehkan di hatiku begitu dalam Mas. Bahkan waktu lima tahun tidak mampu menghapus rasa sakit di hatiku. Walaupun aku sudah berusaha untuk mengikhlaskan semuanya."


Ara menghela nafasnya pelan.


" Keadaanku sudah tidak lagi sama seperti dulu lagi, aku baru saja merintis karierku sebagai dokter spesialis di sini. Aku tidak bisa meninggalkan tanggung jawabku begitu saja. Dulu aku pernah mengorbankan semuanya walaupun pada akhirnya pengorbananku sia sia. Tapi kali ini tidak lagi, aku tidak akan mengorbankan hidupku untuk yang kedua kalinya. Lagian Rere sudah besar, dia tidak terlalu membutuhkan sosokku di sampingnya lagi. Ada kamu, mama dan Putri yang bisa menjaganya. Biarkan semua ini berjalan seperti selama ini Mas." Ujar Ara.


" Ara aku mohon jangan seperti ini! Aku tahu kau pasti belum bisa mempercayaiku sepenuhnya. Tapi aku mohon, kembalilah kepada kami. Aku akan membuktikan padamu jika aku benar benar sudah berubah. Tidak masalah jika kau tetap bekerja di sini, aku dan Rere yang akan pindah ke sini mengikutimu. Aku dan Rere sangat membutuhkanmu Ara, kami tidak bisa hidup tanpamu. Cukup lima tahun ini kami hidup seperti bayangan yang tidak punya tujuan. Aku mohon Ara! Jika kau tidak mau melakukannya demi aku, setidaknya kau bisa melakukannya demi Rere, putri kita. Aku mohon Ara! Jika kau masih marah, kau bisa menghukumku sesuai keinginanmu tapi tolong jangan tinggalkan kami lagi! Hiduplah menua bersamaku Ara! Aku mohon." Ucap Yoga mengatupkan kedua tangan di dadanya.


Ara merasa dilema, ia bingung antara memilih kembali atau tetap pada pendiriannya. Ia merasa takut akan merasakan hal yang sama seperti dulu lagi jika kembali pada Yoga. Apalagi ia sudah lama tidak mengenal Yoga, apakah Yoga sudah benar benar berubah atau tidak.


" Apa semua ini karena dokter itu?"

__ADS_1


Ara menatap Yoga begitupun sebaliknya.


" Kau merasa nyaman berada di dekat dokter Dean? Atau kau sudah ada rasa dengannya karena kedekatan kalian selama ini? Katakan Ara! Jangan berbohong lagi!" Ucap Yoga.


" Jujur selama lima tahun ini dokter Dean lah yang selalu ada untukku, bahkan di saat saat aku terpuruk karena memikirkan perbuatanmu waktu itu. Jika soal nyaman, ya aku merasa nyaman ada di dekatnya, dia seperti seorang pahlawan bagiku. Dia yang menjaga dan melindungiku selama ini. Aku bisa seperti sekarang ini itu karena dia. Karena bantuannya, baik secara materil maupun non materil. Aku merasa jika tidak ada dia aku tidak bisa melewati hari hariku dengan sempurna selama lima tahun ini."


Yoga mengepalkan erat tangannya mendengar ucapan Ara yang nampak sedang memuji pria lain.


" Tapi untuk cinta, aku rasa aku sudah tidak punya cinta Mas." Sambung Ara membuat Yoga terkejut.


" Setelah aku bertekad untuk mencintaimu, aku merasa hidupku akan bahagia. Tapi semua bena rbenar di luar dugaan. Bukannya mendapat bahagia, aku justru hanya mendapatkan luka. Aku merasa tersiksa dengan cintaku sendiri, itu sebabnya cinta sudah lama pergi dari dalam jiwaku. Aku tidak punya cinta untuk siapapun. Baik itu untuk pria lain ataupun untukmu. Aku permisi." Ara pergi meninggalkan ruangan Rere. Kebetulan Rere sudah terlelap di ranjangnya.


Yoga menarik kasar rambutnya.


" Apa arti dari pertemuan ini jika kau tidak kembali Ara. Aku akan berusaha menyakinkanmu jika aku benar benar mencintaimu. Aku akan memberikanmu waktu untuk memikirkan hal ini. Aku yakin, kau pasti akan kembali kepadaku." Monolog Yoga.


Ara berjalan keluar meninggalkan rumah sakit. Ia menuju parkiran dimana mobilnya terparkir. Sayup sayup ia mendengar seseorang mengobrol melalui panggilan telepon.


" Aku tidak bisa melakukan apa apa lagi Om."


Deg...


" Dokter Dean." Gumam Ara.


Ara mengendap endap mendekati mobil Dean yang terparkir di depan mobilnya. Ia melihat dokter Dean yang sedang duduk bersandar pada jok mobil dengan ponsel di telinganya.


" Ara rasa sudah mengetahui semuanya Om, Yoga pasti sudah menjelaskan semuanya pada Ara soal bukti bukti yang om kirim padanya. Ara pasti menyadari jika semua bukti itu palsu. Aku tidak tahu bagaimana menghadapi Ara setelah ini Om. Yang jelas aku tidak mau kehilangan Ara, aku sudah menunggunya selama lima tahun ini. Aku tidak mau penantianku selama ini hanya sia sia saja." Ucap Dean.


Ara membekap mulutnya, ia tidak menyangka jika Dean bekerja sama dengan ayahnya.


" Jika kedatangan Yoga dan anaknya menghambat semuanya, maka dengan terpaksa om harus melenyapkannya."


Deg...

__ADS_1


Jantung Ara berdetak dua kali lebih kencang dari biasanya.


" Tidak... Ini tidak boleh terjadi. Aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi. Aku tidak akan membiarkan Dean menyakiti Mas Yoga ataupun Rere. Aku tidak menyangka jika ternyata kau ular yang berbisa Kak. Kau baik padaku karena ada tujuannya. Benar benar sampah." Umpat Ara dalam hati.


Ara berusaha menjauh dari mobil Dean, ia berjalan mundur sampai...


Krosak...


Ara menginjak botol mineral kosong sehingga menimbulkan suara. Dean yang mendengarnya segera menghampiri suara itu.


" Ara." Gumam Dean menatap Ara.


Ara nampak ketakutan, ia mencoba untuk lari dari sana namun Dean berhasil mencekal tangannya.


" Ikut aku!" Dean menarik tangan Ara menuju mobilnya.


" Lepas! Lepaskan aku!" Bentak Ara.


" Aku tidak akan melepaskanmu." Ucap Dean mendorong Ara masuk ke dalam mobilnya.


" Kak Dean lepaskan aku! Biarkan aku pergi!" Teriak Ara.


Dean segera melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah sakit.


" Turunkan aku! Kau mau membawaku kemana hah?" Ara kembali berteriak.


" Aku akan membawamu ke tempat yang seharusnya."


Dimanakah itu? Biar author pikir pikir dulu ha ha ha...


Jangan lupa untuk selalu tekan like koment vote dan 🌹yang banyak buat author...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...

__ADS_1


Miss U All...


TBC....


__ADS_2