DUDA SEDINGIN SALJU

DUDA SEDINGIN SALJU
MALAM PERTAMA YANG TERTUNDA


__ADS_3

Malam ini Yoga mendekati Ara yang sedang duduk bersandar di ranjang sambil memainkan ponselnya. Ia baru saja menerima telepon dari Rere yang menanyakan tentang kepulangannya.


" Ada apa Mas? Apa Mas membutuhkan sesuatu?" Tanya Ara menatap Yoga. Ia meletakkan ponselnya di atas nakas.


" Aku membutuhkan kamu sayang, aku ingin meminta hakku malam ini." Ucap Yoga merapikan anak rambut Ara. Ia tidak menyangka jika Ara akan terlihat sangat cantik tanpa hijabnya. Kulit seputih susu, hidung mancung dan bibir tipis membuat Ara terlihat begitu sempurna.


" Mas tapi aku.. Aku... " Ucap Ara gugup.


" Tidak perlu gugup sayang, jalani saja dan ikuti nalurimu. Semua tidak seburuk yang kau bayangkan selama ini. Aku bukan pria yang suka bermain kasar, aku akan melakukannya dengan lembut. Dan akan aku pastikan kau tidak akan merasakan sakit. Apa kau mengijinkan aku untuk menyentuhmu malam ini?" Tanya Yoga memastikan.


Ara nampak sedang menimbang nimbang, jujur saja walaupun ia sudah terlihat dewasa tapi dalam hal itu ia sama sekali tidak punya pengalaman ataupun pengetahuan yang berarti. Ingin menolak tapi itu kewajiban yng harus ia jalani. Ingin mengatakan iya tapi ia takut karena kata teman temannya akan terasa sakit.


" Bagaimana hmm?" Tanya Yoga dengan suara seraknya. Sepertinya ia tidak mampu menunggu lebih lama lagi.


Ara menghembuskan nafasnya kasar.


" Bismillah aku siap Mas." Sahut Ara.


" Terima kasih." Ucap Yoga.


" Kita ambil wudhu dulu Mas." Ucap Ara.


" Baiklah." Sahut Yoga.


Mereka menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu lebih dulu sebelum berhubungan. Setelah itu Yoga membaca doa sebelum menyentuh istrinya, hal itu membuat Ara merasa terharu, ia tidak menyangka jika Yoga tahu cara melakukan hubungan dengan baik.


Yoga mendorong pelan tubuh Ara ke atas ranjang. Ia menatap wajah Ara sambil tersenyum. Tidak tahu saja jika. jantung Ara berdetak sangat kencang. Yoga memajukan wajahnya, ia mencium bibir Ara dengan lembut. Sadar Ara tidak meresponnya, ia menggigit pelan bibir bawah Ara sehingga Ara membuka sedikit mulutnya.


Yoga menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Ara, ia mengekspos setiap inchi mulut Ara. Suara decapan memenuhi kamar mereka. Ara memejamkan matanya menikmati sensasi indah yang Yoga ciptakan untuknya.


Ciuman Yoga turun ke leher Ara, ia memainkan lidahnya di sana sambil sesekali menyesapnya hingga meninggalkan jejak kemerahan di sana.


" Shh Massss."


Tangan Yoga mulai bergerilya kemana mana. Ia meremas gundukan kembar milik Ara membuat sang empu mendesih merasakan sensasi yang luar biasa. Waktu terus berlalu dan Yoga terus memainkan perannya dengan sangat baik. Hingga tanpa mereka sadari kini keduanya sama sama polos tanpa sehelai benang pun.


" Aku datang sayang." Bisik Yoga di balas anggukkan kepala oleh Ara.


Dengan pelan tapi pasti Yoga menuntun senjatanya menuju goa milik Ara. Ara mencengkeram sprei dengan kuat saat merasakan sesak menghantam bagian bawahnya. Namun itu hanya bertahan selama beberapa saat saja, karena setelah itu ia merasakan kenikm@t@n yang luar biasa. Yoga benar benar berhasil membuatnya terlena.


Yoga memacu tubuhnya di atas tubuh Ara dengan pelan. Suara des@h@n dan er@ng@n memenuhi kamar Ara. Keduanya sama sama terlena dan saling menikmati indahnya surga dunia menuju puncak nirwana.


Setelah hampir satu jam lamanya, mereka berhasil menyelesaikan permainannya setelah sama sama mencapai puncak nirwana. Yoga merasa sangat bahagia bisa menjadikan Ara miliknya sepenuhnya malam ini.


" Terima kasih sayang telah menjaganya untukku." Ucap Yoga mencium kening Ara.


" Sama sama Mas." Sahut Ara.

__ADS_1


Yoga merebahkan tubuhnya di samping Ara. Ia memeluk Ara dari belakang di balik selimutnya.


" Semoga segera hadir Yoga junior di sini sayang." Ucap Yoga mengelus perut Ara.


" Amin, semoga saja Mas. Aku sudah siap menjadi ibu dari kedua anakku nanti." Sahut Ara.


" Terima kasih sayang, aku mencintaimu." Ucap Yoga.


" Aku juga." Sahut Ara.


Yoga memeluk Ara dengan perasaan bahagia. Keduanya terlelap menuju alam mimpi karena lelah.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Pagi ini Dean sedang latihan berjalan dengan di bantu oleh Riani di taman rumah sakit. Riani berdiri di depan Dean sambil menyatukan tangan keduanya.


" Ayo Dok coba melangkah sekarang." Ucap Riani.


Dean mulai melangkahkan kakinya yang tidak sakit, lalu ia mencoba melangkahkan kakinya yang sulit di gerakkan. Tiba tiba...


" Awh."


Brugh....


Keduanya jatuh di atas rerumputan dengan posisi Dean menindih tubuh Riani. Riani membulatkan matanya saat bibirnya Dean menyatu dengan bibirnya.


Jantung keduanya berdetak sangat kencang. Bahkan mungkin mereka bisa mendengar detak jantung satu sama lain.


" Ya Tuhan cantiknya Riani, membuat hatiku berdesir hebat." Ujar Dean dalam hati.


" Diamlah kau jantung! Jangan berdetak sekeras ini! Bisa bisa dokter Dean mendengarnya, kan aku jadi malu kalau sampai dia tahu jantungkh berdebar saat berada di dekatnya. Kenapa mesti jatuh segala sih, mana sialnya dengan posisi intim seperti ini." Gerutu Riani dalam hati.


Sadar mereka menjadi sorotan para pengunjung yang lewat, Riani langsung beranjak sambil mendorong tubuh Dean dengan kuat membuat Dean jatuh terduduk.


" Awh." Pekik Dean.


" Ah maaf Dok! Maafkan saya!" Ucap Riani.


Riani membantu menyelonjorkan kedua kaki Dean.


" Shh sakit Riani." Rintih Dean memijat kakinya yang sakit.


" Sini saya pijat Dok." Ucap Riani memijat kaki Dean dengan pelan.


" Shhh... Pelan pelan Riani! Ini sangat sakit." Ujar Dean meringis kesakitan.


" Ini sudah pelan Dok." Sahut Riani.

__ADS_1


Riani kembali fokus pada pijatannya. Ia merasa ada yang aneh di sini. Tiba tiba ia menatap tajam ke arah Dean membuat Dean mengerutkan keningnya.


" Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Dean.


" Aku merasa tidak ada perubahan pada kaki anda Dokter Dean, seharusnya kaki anda bisa cepat pulih. Apalagi saya memilihkan obat yang paling baik dan manjur. Apa anda tidak meminum obatnya selama ini?" Selidik Riani menatap Dean.


" Ehh... Aku.. Aku meminumnya setiap hari sesuai anjuran. Bukankah kau sendiri juga tahu kalau aku selalu meminum obatnya?" Ucap Dean balik bertanya.


Riani nampak menganggukkan kepalanya. Dean tersenyum melihat itu semua, ia menatap wajah Riani yang nampak sangat cantik.


" Apa sudah tidak sakit lagi Dok?" Tanya Riani menatap Dean.


Untuk sesaat mata mereka saling beradu, Riani segera membuang pandangannya ke segala arah.


" Silahkan berdiri Dok! Kita coba lagi." Ujar Riani mengulurkan tangannya.


Riani membantu Dean berdiri, Dean kembali melangkahkan kakinya depan pelan. Dengan bantuan Riani, Dean bisa berjalan selangkah demi selangkah walaupun hanya tiga langkah saja.


" Aku tidak sanggup lagi Riani, kakiku masih terasa sangat sakit." Ujar Dean.


" Baiklah kita sudahi sampai di sini, besok kita bisa mulai lagi." Sahut Riani.


Dean kembali duduk di kursi rodanya. Riani mendorong kursi roda kembali ke kamarnya.


" Sebentar Dok saya ganti dulu spreinya." Ucap Riani.


Deg...


Jantung Dean berdetak sangat kencang.


" Tidak usah di ganti, itu masih bersih." Ucap Dean.


" Tidak apa apa Dok." Sahut Riani mengganti sprei Dean dengan yang baru.


Tiba tiba...


Klutik...


Beberapa butir obat jatuh ke lantai, Dean memejamkan matanya sedangkan Riani melongo. Ia mengambil obat obat tersebut lalu menelitinya. Ia menatap Dean dengan tajam.


" Apa ini Dok?" Tanya Riani.


" Maafkan aku!" Ucap Dean.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Riani pergi meninggalkan Dean. Ia merasa kesal karena Dean telah mempermainkannya.


" Astaga salah lagi.. Sial!!!" Umpat Dean.

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2