
Sutikno kini berada di dalam ruangan kerja ketua partai yang tadi memanggilnya untuk datang ke sini, sejujurnya Sutikno merasa risau jika ada sesuatu hal yang akan dikatakan oleh ketua partai padanya apalagi sekarang menjelang pemilihan umum gubernur dan Sutikno sudah terlanjur digadang-gadang akan menjadi calon gubernur dari partai ini.
“Anda pasti tahu kenapa saya mengundang anda datang ke sini.”
“Sejujurnya saya tidak tahu kenapa anda memanggil saya ke sini.”
“Baiklah, saya tidak ingin banyak berbasa-basi dengan anda, belakangan ini nama anda sering disebut buruk oleh media dan masyarakat dan menurut poling serta survei yang dilakukan oleh berbagai lembaga survey menunjukan bahwa elektabilitas anda berada sangat jauh dari apa yang kami harapkan.”
“Tunggu dulu kalau soal survey dan elektabilitas bisa saja kan lembaga survey itu dibeli oleh lawan politik dan digunakan untuk menggiring opini masyarakat?”
“Anda memang pandai sekali dalam memikirkan itu akan tetapi banyak lembaga survey independen yang juga melakukan survey dan hasilnya pun tidak jauh dari lembaga survey yang cenderung lebih berat sebelah.”
Sutikno tentu saja gelisah mendengar komentar ketua umum partai dan Sutikno sudah tahu akan ke mana arah dari pembicaraan ini, Sutikno meminta ketua partai untuk tetap tenang dan tetap mengusungnya sebagai calon gubernur karena Sutikno sangat yakin sekali bahwa ia tetap akan memenangkan pemilihan gubernur namun sayangnya ketua umum partai memiliki pandangan yang lain akan hal tersebut.
“Kita memiliki suara di daerah ini paling banyak dan tidak mungkin saya ingin salah dalam mengambil sebuah keputusan yang penting apalagi hal ini akan mencoreng wajah partai.”
“Pak, saya yakin bahwa saya akan memenangkan pertarungan dalam pemilihan gubernur ini tolong jangan tarik dukungan partai untuk saya karena saya butuh dukungan partai untuk melaju ke pemilihan gubernur.”
“Sepertinya nanti kita akan tahu bagaimana sikap kader dalam musyawarah kerja nasional yang akan digelar beberapa waktu lagi.”
****
Sutikno tidak dapat tenang begitu saja selepas mendengar dirinya bakal dalam ancaman tidak jadi dicalonkan oleh partai sebagai gubernur padahal ia sudah mengabdi dan memberikan banyak hal pada partai namun sayangnya partai justru tidak mau mendukungnya saat ini. Sutikno benar-benar stres berat karena ia takut ambisinya tidak tercapai, jika memang ia tidak akan diusung oleh partainya sekarang untuk menjadi bakal calon gubernur tentu saja
Sutikno tudak akan tinggal diam dan ia akan mencari cara lain untuk mendapatkan kendaraan politik yang akan ia gunakan untuk memuluskan jalannya.
“Aku tidak akan membiarkan mereka semua menjegal langkahku menduduki orang nomor satu di provinsi ini, tidak akan pernah.”
Sutikno kemudian mendengar keributan di depan gerbang rumah karena satpam tengah berbicara dengan seseorang dan ketika Sutikno pergi untuk mengintip dari jendela rumah nampak ada sosok wanita yang selama ini
__ADS_1
dekat dengannya dan selalu menemaninya ke mana pun ia pergi. Tentu saja wanita yang dimaksud tidak lain dan tidak bukan adalah Inez, ia datang ke sini dan meminta supaya satpam mau mengizinkannya masuk ke dalam namun sayangnya satpam tidak mau membukakan pintu untuknya bahkan malah mengusirnya.
“Kamu tidak tahu siapa aku?! Aku sering masuk ke sini untuk menemani gubernur namun kamu malah tidak mengizinkanku?!”
“Maaf, akan tetapi di sini saya hanya menjalankan tugas saja.”
****
Inez tidak patah arang, ia mendatangi kantor Belinda dan mengatakan bahwa ia ingin bertemu dengan Belinda saat ini namun lagi-lagi kedatangannya mendapatkan penolakan dari satpam. Satpam yang berjaga mengatakan
pada Inez bahwa Belinda tidak dapat ditemui saat ini oleh sembarang orang karena wanita itu sangat sibuk sekali. Inez tentu saja tidak tinggal diam, ia mengatakan bahwa ia adalah orang yang tahu betul Belinda namun sayangnya satpam tetap tidak mengizinkan wanita ini untuk masuk.
“Kenapa kamu menyebalkan sekali?!”
“Lebih baik anda pergi saja dari sini atau saya akan menyeret anda keluar sekarang juga!”
“Apa katamu barusan?! Berani sekali kamu mengancamku seperti barusan! Kamu pikir aku takut dengan ancamanmu barusan?!”
“Tidak, anakku!”
Inez panik sekali dan langsung bergegas pergi dari sana, selepas Inez pergi nampak sebuah mobil berhenti di lobi dan seseorang turun di lobi itu dan ternyata orang yang baru saja tiba di sana adalah Belinda.
“Sepertinya barusan aku melihat ada seseorang di sini,” ujar Belinda pada satpam.
“Iya Bu, tapi memang ada seorang wanita dan dia mencari anda namun saya tidak memberikannya izin untuk masuk.”
****
Angkasa mencoba untuk mendatangi rumah di mana Chelsea tinggal namun tentu saja ia tidak dapat masuk ke dalam karena satpam yang berjaga di sana sama sekali tidak memberikannya izin untuk masuk.
__ADS_1
“Ini adalah perintah dari nyonya langsung, saya tidak dapat membantahnya.”
Angkasa mencoba untuk menghubungi Chelsea namun sayangnya Chelsea sama sekali tidak mau menjawab telepon darinya hingga berkali-kali Angkasa mencoba untuk menghubungi Chelsea namun gadis itu tidak kunjung mau menjawab telepon darinya.
“Kenapa dia tidak mau menjawab telepon dariku?!”
Ketika Angkasa tengah mencoba masuk ke dalam sebuah mobil berhenti di depan pintu pagar, satpam langsung membukakan pintu dan kesempatan itu digunakan oleh Angkasa untuk masuk ke dalam rumah namun tentu
saja satpam bergegas cepat menangkap Angkasa yang sudah berusaha menyelinap masuk ke dalam rumah.
“Lepaskan aku!”
“Kamu akan saya bawa ke kantor polisi.”
“Tidak, tolong lepaskan aku!”
Angkas atetap dibawa keluar oleh satpam dan kemudian orang yang barusan datang itu turun dari dalam mobil. Orang yang datang barusan adalah Austin, ia menatap satpam yang membawa pergi Angkasa dari rumah ini dan
sepertinya satpam menjalankan tugasnya dengan baik.
“Baguslah kalau memang dia tidak dapat masuk ke dalam.”
****
Inez menghela napasnya lega karena dokter mengatakan bahwa tidak ada hal yang terjadi pada kandungannya namun dokter meminta Inez untuk lebih berhati-hati. Selepas dari memeriksakan dirinya ke dokter kini Inez pergi ke rumah Belinda untuk menunggu wanita itu sampai pulang ke rumah. Inez benar-benar tidak sabar untuk memberitahu Belinda mengenai kabar baik ini dan ia sangat penasaran dengan apa yang akan menjadi reaksi Belinda saat tahu suaminya yang berselingkuh dengannya itu akhirnya akan menjadi seorang ayah dari bayi yang
tengah dikandungnya saat ini.
“Kita lihat saja nanti bagaimana reaksimu saat tahu bahwa aku sedang mengandung anak dari suamimu.”
__ADS_1
Inez tiba di rumah Belinda tepat ketika mobil yang ditumpangi oleh Belinda masuk ke dalam rumah, sontak saja Inez mengikuti dan memanggil Belinda yang baru saja turun dari mobil.