
Inez datang ke rumah dinas tempat di mana Sutikno berada karena pria itu sendiri yang mengundangnya untuk datang. Inez tanpa menaruh curiga pun datang ke rumah itu dengan hati yang berbunga-bunga karena sudah agak lama hubungan mereka merenggang akibat pertengkaran yang disebabkan oleh janin yang tengah dikandung dalam perutnya. Tidak ada penolakan dari satpam yang berjaga di pintu bahkan Inez langsung dipersilakan masuk ke dalam yang artinya memang Sutikno tidak main-main ketika mengundangnya datang ke sini. Inez langsung masuk ke dalam rumah dinas itu dan menemui Sutikno yang telah menantinya di meja makan, Inez nampak terkejut dengan banyaknya hidangan yang tersaji di atas meja itu.
“Silakan duduk.”
“Kenapa banyak sekali makanan di sini?”
“Bukankah sudah lama kita tidak makan malam bersama seperti ini sayang?”
Inez begitu bahagia karena kembali diperlakukan layaknya ratu oleh Sutikno, ia tentu saja menyambut baik acara makan malam ini tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun akan tetapi saat akan minum minuman yang sudah dituangkan oleh Sutikno, Inez merasa ragu untuk meminum itu.
“Kenapa kamu tidak mau minum? Ini hanya jus jeruk.”
“Tidak, bukan apa-apa.”
“Apakah kamu ragu kalau aku mencampur sesuatu di dalam minuman ini?”
Inez terdiam mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Sutikno barusan, Inez memang ragu akan hal itu namun dengan suasana yang seperti ini tentu saja tidaklah mudah baginya untuk mengutarakan semua itu pada Sutikno.
“Kenapa kamu hanya diam saja, Inez? Apakah kamu mau menolak minuman dariku?”
“Tidak, bukan seperti itu hanya saja aku ingin minum air putih biasa saja.”
Sutikno nampak menggeram dalam hati karena rencananya tidak berhasil untuk membuat Inez mengakhiri hidupnya malam ini dan rupanya dari sudut matanya Inez bisa melihat ada sesuatu yang membuat Sutikno marah
hingga akhirnya Inez yakin bahwa Sutikno ingin melakukan hal yang buruk padanya.
“Bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?” tanya Inez.
“Apa itu?”
“Apakah kamu ingin membunuhku?”
__ADS_1
****
Sutikno menolak apa yang dikatakan oleh Inez barusan, Sutikno mengatakan bahwa Inez sepertinya terlalu berburuk sangka padanya. Inez pun meminta maaf pada Sutikno akan hal tersebut karena sejujurnya Inez khawatir
kalau Sutikno akan melakukan hal yang buruk padanya.
“Kamu kan sedang mengandung anak kita, tidak mungkin kalau aku akan membunuhmu.”
“Jadi kamu mau menerima anak ini?” tanya Inez dengan gembira.
“Tentu saja, dia adalah anakku, bukankah kamu yang mengatakannya padaku?”
Inez tentu saja bahagia sekali karena akhirnya Sutikno mau juga menerima anak yang tengah ia kandung ini, Inez bertekad akan memertahankan anak ini sampai kapan pun karena dengan anak ini maka ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Inez pun kemudian pamit dari rumah Sutikno dan pulang menuju apartemennya, semua tidak ada yang terasa aneh hingga secara tiba-tiba ketika menjelang lampu lalu lintas Inez baru menyadari bahwa rem di
mobilnya sama sekali tidak berfungsi.
“Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba saja remnya blong?”
“AAAAAA.”
****
Sutikno mendapatkan kabar bahwa Inez mengalami kecelakaan parah akibat mobilnya ditabrak oleh truk, tentu saja ia sama sekali tidak terkejut dengan berita itu karena nyatanya Sutikno adalah dalang di balik kejadian itu. Ketika Inez tengah makan malam dengannya, Sutikno sudah menyuruh orang suruhannya untuk membuat rem di mobil Inez tidak berfungsi dan rencananya berjalan dengan baik, kini Inez sudah mengalami kecelakaan dan sepertinya nyawa wanita itu tidak akan lama lagi akan melayang dan kalau Inez sudah pergi untuk selama-lamanya maka tentu saja Sutikno dapat dengan leluasa pergi tanpa beban akibat wanita itu mengatakan kalau ia mengandung anaknya.
“Rasakan kamu Inez, kamu harus tahu dengan siapa kamu berurusan.”
Sutikno melirik ponselnya dan menemukan sebuah nomor tertera di sana, dengan segera Sutikno pun menjawab telepon orang itu karena ia begitu yakin kalau saat ini Inez sudah meninggal dunia.
“Bagaimana? Apakah saat ini dia sudah meninggal dunia?”
“Dia sedang berada di ruang IGD dan kami belum tahu apa yang terjadi padanya saat ini.”
__ADS_1
“Kalau begitu kamu terus pantau apa yang akan terjadi pada wanita itu, jangan pernah menghubungiku selama wanita itu belum mati, kamu paham?!”
Setelah mengatakan itu Sutikno menutup sambungan teleponnya dan menyeringai, ia sudah tidak sabar menunggu kabar bahwa Inez sudah pergi meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya.
****
Belinda mendapatkan kabar bahwa Inez mengalami kecelakaan, Belinda teringat bahwa Inez mengatakan bahwa ia tengah mengandung anaknya dengan Sutikno. Awalnya Belinda ingin bersikap masa bodoh dengan wanita itu dan calon anak yang tengah dikandungnya namun naluri sebagai seorang ibu yang pernah mengandung membuatnya ingin tahu lebih jauh dengan keadaan Inez. Belinda pun tahu bahwa saat ini kondisi Inez masih kritis dan belum sadarkan diri akibat kecelakaan hebat yang ia alami malam itu, Belinda meminta asisten pribadinya untuk menyelidiki lebih lanjut mengenai kecelakaan itu karena Belinda yakin bahwa kecelakaan Inez adalah sebuah kecelaakaan yang disengaja. Saat sedang sibuk dengan pekerjannya, ponsel Belinda berdering menandakan da
sebuah panggilan masuk yang ternyata itu dari Hanggara, Belinda nampak ragu untuk sejenak menjawab panggilan itu hingga akhirnya Belinda memutuskan untuk menjawabnya.
“Ada apa kamu menelponku?”
“Apakah kamu tidak merindukanku? Aku merindukanmu, Belinda.”
“Aku sedang sibuk sekarang, bisakah kita bicara nanti saja?”
“Kalau begitu nanti malam aku akan main ke rumahmu, kita akan makan malam bersama dengan kedua anakmu.”
“Apa? Hanggara aku….”
Sebelum Belinda menyelesaikan ucapannya, Hanggara sudah keburu mematikan sambungan teleponnya dan membuatnya hanya dapat menghela napasnya panjang, semoga saja nanti malam tidak ada hal buruk yang terjadi.
****
Kondisi Inez kritis dan masih dirawat di ruang ICU, seseorang dengan pakaian perawat masuk ke dalam ruangan itu dan berjalan menuju tempat di mana Inez terbaring nampak perawat itu menatap sejenak ke arah Inez yang sekujur tubuhnya dipasangi alat supaya ia tetap dapat hidup dan tangan perawat itu sudah terjulur untuk membuka maasker oksigen yang menutupi mulut dan hidung Inez baru saja ia hendak melakukan aksinya tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu yang membuat perawat itu menoleh dan rupanya di sana nampak mamanya Inez yang tengah memerhatikannya dengan raut wajah khawatir. Sontak saja perawat itu langsung melarikan diri dan mamanya Inez berteriak yang membuat para perawat datang menghampirinya.
“Ada apa, Bu?”
“Tadi ada perawat yang mencoba untuk membunuh anakku!”
“Ke mana dia pergi?”
__ADS_1