Dusta Di Atas Cinta

Dusta Di Atas Cinta
Sebuah Salah Paham


__ADS_3

Hanggara tentu saja terkejut dengan ancaman yang dilakukan oleh mamanya barusan, ia menghela napasnya panjang dan kemudian setelah itu ia pun mengatakan kalau akan menuruti apa yang dikatakan oleh mamanya. Sundari yang mendengar ucapan Hanggara barusan tentu saja bahagia bukan main, ia tidak dapat melewatkan kesempatan ini begitu saja, Sundari pun kemudian meminta Hanggara untuk menelpon wanita yang kelak akan dijodohkan dengannya, Sundari mengatakan kalau setelah ini mereka harus bertemu dan berkencan. Hanggara hanya mengiyakan saja apa yang dikatakan oleh Sundari, Hanggara me-loudspeaker ponselnya ketika ia menelpon wanita itu supaya Sundari percaya bahwa ia benar-benar menelpon wanita itu. Sundari yang mendengar suara


wanita itu dari seberang sana merasa lega karena Hanggara benar-benar menelpon wanita yang telah dijodohkan olehnya. Selepas pembicaraan singkat, Hanggara menutup sambungan teleponnya dan menatap sang mama.


“Apakah Mama sudah puas sekarang?”


“Terima kasih karena kamu sudah mau mendengarkan keinginan Mama.”


Hanggara tidak mengatakan apa pun saat ini, sejujurnya ia merasa marah dengan cara Sundari yang seperti ini namun ia juga tidak dapat membiarkan kalau mamanya meninggal dunia karena meminum obat tidur secara


berlebihan. Hanggara pun kemudian pamit pada Sundari untuk pergi dari rumah sakit ini, tidak lama setelah Hanggara datang pintu ruangan inap Sundari terbuka dan menampakan sosok Belinda di sana. Sundari sendiri nampak terkejut dan tak percaya kalau Belinda datang ke rumah sakit ini dan sedang berdiri tidak jauh dari tempatnya berbaring.


“Apa yang membawamu ke sini?” tanya Sundari dingin.


“Saya datang ke sini karena mendengar kalau anda sedang sakit, oleh sebab itu saya datang ke sini.”


Sundari yang mendengar alasan yang dikemukakan oleh Belinda tentu saja tak memercayainya begitu saja, Sundari menuduh bahwa Belinda datang ke sini untuk menyogoknya dan menampakan sisi baiknya supaya Sundari mau luluh namun Sundari mengatakan pada Belinda bahwa rencana Belinda itu sama sekali tidak akan pernah berhasil.


“Dengarkan aku Belinda, sampai kapan pun keputusanku tidak akan pernah berubah, sampai kapan pun aku tidak akan pernah menerima hubunganmu dengan anakku!”


****


Belinda datang ke rumah sakit karena mendengar kabar bahwa Sundari masuk rumah sakit akibat wanita itu nekat ingin mengakhiri hidupnya. Kedatangan Belinda itu murni untuk menjenguk Sundari dan memastikan kalau wanita itu baik-baik saja karena walau bagaimanapun juga sampai saat ini Sundari masih berstatus sebagai ibu mertuanya karena dirinya dan Sutikno sama sekali belum bercerai. Sundari mengatakan pada Belinda bahwa sampai kapan pun ia tidak akan pernah merestui hubungannya dengan Hanggara dan Belinda mengatakan pada Sundari bahwa antara dirinya dengan Hanggara sudah tidak ada lagi hubungan apa pun.


“Saya mengatakan yang sejujurnya.”


“Dan apakah kamu pikir aku akan percaya begitu saja dengan ucapanmu itu, Belinda? Sayangnya tidak, asal kamu tahu saja kalau saat ini Hanggara sudah aku jodohkan dengan wanita lain.”


Belinda sama sekali tidak terkejut dengan ucapan Sundari barusan, walaupun hatinya merasa sedih ketika mendengar Hanggara sudah dijodohkan oleh orang lain namun ia tidak dapat berbuat apa-apa, ia tidak mau


membuat kondisi Sundari makin memburuk dan oleh sebab itu Belinda memilih untuk diam dan kemudian pergi dari ruangan inap wanita itu akan tetapi ketika ia baru saja keluar dari ruangan inap Sundari justru ia bertemu dengan seseorang.

__ADS_1


“Apa yang kamu lakukan di sini?”


****


Belinda sama sekali tidak menyangka kalau ia akan bertemu dengan Hanggara di rumah sakit ini, ia memilih untuk diam dan mengabaikan pria itu kemudian berjalan menjauh namun Hanggara langsung menahan tangannya dan mengatakan pada Belinda bahwa mereka harus bicara saat ini.


“Sepertinya sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan lagi.”


“Kalau begitu untuk apa kamu datang ke rumah sakit ini?”


“Tentu saja untuk menjenguk mamamu, bagaimanapun juga dia masih ibu mertuaku.”


“Kamu hanya mencari alasan saja kan? Kamu sebenarnya datang ke rumah sakit ini untuk menemuiku kan? Tolong jangan berkelit Belinda, aku tahu itu.”


Belinda melepaskan tangan Hanggara yang mencengkramnya sejak tadi, Belinda mengatakan pada Hanggara bahwa di antara mereka berdua sudah tidak ada lagi hubungan dan ia meminta supaya Hanggara mengerti akan hal itu.


“Belinda….”


Tanpa membuang waktu Belinda lansung berbalik badan dan pergi meninggalkan Hanggara yang terdiam di tempatnya menatap kepergian Belinda. Akhirnya Belinda pun berhasil masuk ke dalam mobilnya dan di sana ia


nampak memegangi dadanya yang terasa begitu sesak menahan sakit dan tangis namun Belinda berusaha untuk menahan semua itu.


“Ini adalah keputusan yang benar, aku tidak boleh meratapinya.”


****


Angkasa menunggui Chelsea di depan gerbang sekolah dan seperti yang sudah ia duga, Chelsea tidak ada yang menjemput saat ini dan Angkasa dengan secepat kilat langsung menghampiri gadis itu yang membuat Chelsea terkejut dengan kehadiran pemuda ini.


“Chelsea tunggu dulu.”


“Lepaskan aku atau aku akan berteriak.”

__ADS_1


“Tolong jangan seperti ini, kita bisa bicara baik-baik kan?”


“Tidak, lepaskan tanganku!”


Tentu saja Angkasa tidak dapat untuk bicara dengan Chelsea di sini karena terlalu ramai oleh lalu lintas orang, ia mengajak Chelsea untuk bicara di tempat yang sepi namun Chelsea menolaknya, Chelsea mengancam Angkasa jika masih memertahankannya seperti ini maka dirinya akan berteriak maka mau tidak mau Angkasa harus mengiyakan keinginan Chelsea.


“Kamu pikir dapat menghindariku begitu saja?” seringai


Angkasa.


Rupanya Angkasa mengikuti ke mana Chelsea pergi dan saat Chelsea turun dari taksi yang ia tumpangi dan hendak masuk ke apartemen tempat di mana Austin tinggal, Angkasa sudah terlebih dahulu mendekapnya dari


belakang.


“Apa yang Kakak lakukan? Lepaskan aku!”


“Aku merindukanmu, maafkan aku Chelsea.”


“Kita sudah tidak memiliki hubungan apa pun, lepaskan aku!”


“Siapa yang bilang begitu? Kita kan masih berpacaran!”


“Tidak lagi, aku ingin kita akhiri semua sampai di sini dan aku harap kamu tidak menggangguku lagi!”


Selepas mengatakan itu Chelsea melepaskan diri dari Angkasa, tentu saja penolakan dari Chelsea itu membuat Angkasa marah dan ia bersumpah akan mendapatkan Chelsea bagaimanapun caranya.


“Kamu pikir dapat melakukan ini padaku, Chelsea? Lihat saja nanti apa yang dapat aku lakukan untuk mendapatkanmu!”


****


Austin dalam perjalanan menuju apartemennya sepulang kerja, cuaca ketika ia pulang kerja terpantau hujan lebat disertai petir dan angin kencang hingga membuat pengelihatannya agak terganggu namun Austin tetap melajukan mobilnya pulang, ia melalui sebuah jalan yang sepi untuk menghindari kemacetan namun di jalan yang sepi itu mobilnya dihadang oleh dua orang tak dikenal dan kedua orang itu langsung memukul kaca mobilnya dan menyuruhnya untuk keluar. Austin merasa dalam bahaya dan memutuskan ia tidak mau turun dari mobil namun tindakan itu membuat kedua orang itu marah dan langsung memukul kaca mobil Austin hingga pecah di bagian depan dekat kemudi.

__ADS_1


“KELUAR KAMU!”


__ADS_2