Dusta Di Atas Cinta

Dusta Di Atas Cinta
Ancaman Pemberitaan


__ADS_3

Sutikno dapat bernapas lega untuk saat ini karena ia yakin bahwa saat ini kejaksaan tidak akan memproses lebih lanjut mengenai kasus korupsi yang menjerat namanya namun ia kini harus menyelesaikan sesuatu yang tidak lain adalah dengan Sun News akibat berita yang diterbitkan oleh mereka maka citra Sutikno makin buruk di masyarakat dan kemudian Sutikno pun mengundang jajaran direksi Sun News ke rumah dinasnya namun tentu saja ada


berbagai persyaratan yang harus mereka lalui yaitu tidak boleh ada alat perekam baik itu perekam suara maupun gambar karena semua peralatan yang berbau jurnalistik sudah disita sementara oleh tim Sutikno sebelum mereka diizinkan masuk menemui sang wali kota di ruang kerjanya.


“Silakan kalian semua duduk.”


Sutikno menyambut ramah mereka semua yang datang ke rumah dinasnya termasuk sang wartawan yang sudah mewawancarai mamanya Inez dan membuat pemberitaan itu viral di berbagai media.


“Saya tidak ingin berbasa-basi dengan kalian, saya tahu bahwa Sun News adalah portal berita terpercaya oleh masyarakat kota dan rasanya sayang bukan kalau izin kalian harus dibekukan atau mungkin dicabut?”


“Anda tidak bisa melakukan itu semua Pak Wali kota, anda tidak berhak melakukan semua itu, ini melanggar aturan kebebasan pers!”


“Tentu saja saya dapat melakukan semua itu, kamu lupa saya siapa? Saya memiliki wewenang besar di kota dan ini saya dapat melakukan apa pun yang menurut saya perlu untuk memertahankan kekuasaan saya.”


Namun kemudian Sutikno kembali tersenyum dan mengatakan bahwa ia membawa kabar baik untuk Sun News, Sutikno tidak akan mencabut izin Sun News asalkan mereka mau membuat berita klarifikasi dan menarik pemberitaan yang viral itu.


“Dengan begitu kalian bisa kembali menjadi portal berita yang dipercaya oleh masyarakat dan popularitas kalian saya yakin akan dapat melejit.”


“Namun kami memberitakan berita palsu padahal kami memberitakan yang sebenarnya,” ujar Dea.


Sutikno nampak tersenyum pada Dea dan ia mengatakan bahwa ia suka dengan keberanian wartawan ini ketika berhadapan dengannya.


****


Mamanya Inez berulang kali mengatakan pada putrinya bahwa Belinda bukanlah orang yang jahat dan Sutikno adalah orang yang coba membunuhnya hingga perlahan Inez pun berpikir bahwa mungkin saja apa yang mamanya katakan mengenai Belinda ada benarnya. Ketika Inez tengah sendirian di ruangan inapnya seorang perawat muncul di ruangan ini namun ada sesuatu hal yang membuat Inez heran yaitu perawat itu nampak asing sekali ditambah perawat itu mengenakan masker yang menutupi wajahnya.


“Saya datang untuk melakukan pemeriksaan terhadap anda.”


“Kenapa saya tidak pernah melihat suster ya?”

__ADS_1


“Karena saya baru diterima di sini.”


Inez masih belum percaya dengan apa yang dikatakan oleh perawat ini dan tiba-tiba saja perawat itu mengambil sebuah jarum suntik dan hendak menyuntikan sesuatu ke dalam botol infus Inez.


“Apa yang akan anda lakukan?”


Namun perawat itu hanya diam dan di balik masker yang dikenakan oleh perawat itu, Inez yakin bahwa perawat itu tengah menyeringai padanya. Buru-buru Inez berteriak sebelum perawat itu ingin menyuntikan jarum suntik itu ke botol infus miliknya dan rupanya mamanya segera muncul dan memergoki aksi perawat gadungan yang hendak mencelakai putrinya barusan.


“Kamu ingin melakukan apa pada putriku?!”


Perawat gadungan barusan nampak terkejut dan langsung berlari keluar dari ruangan inap sambil mamanya Inez berteriak meminta tolong.


****


Seperti yang diminta oleh Sundari, Laila menemui Hanggara untuk bicara dengan pria itu. Awalnya Hanggara tentu saja menolak keinginan Laila dengan berbagai alasan namun pada akhirnya pria itu pun luluh juga dan mau menemuinya di restoran ini. Hanggara nampak tak mau berbasa-basi dengan Laila dan mendesak wanita ini segera mengatakan apa yang ia inginkan.


“Hanggara, kenapa Mamamu ingin sekali supaya kita menikah? Apakah ada sesuatu hal yang terjadi padanya?”


Laila pun menceritakan apa yang Sundari katakan padanya waktu itu dan Laila pun jadi berpikir bahwa Sundari tengah mengidap suatu penyakit serius dan usianya tidak akan lama lagi.


“Kamu terlalu berpikiran buruk mengenai kondisi kesehatan mamaku, dia baik-baik saja.”


“Kalau memang dia baik-baik saja kenapa dia bersikap seperti itu?”


Hanggara awalnya tidak mau jujur pada Laila mengenai alasan Sundari jadi bersikap seperti itu namun pada akhirnya Hanggara yakin bahwa memberitahu Laila bahwa ia mencintai wanita lain akan membuat semua ini berakhir.


“Baiklah, aku akan memberitahumu sesuatu mengenai alasan kenapa mamaku bersikap seperti itu, alasannya adalah dia tidak suka dengan wanita yang aku cintai.”


“Jadi kamu sudah memiliki wanita yang kamu cintai?”

__ADS_1


“Iya, aku sudah memilikinya.”


“Kalau begitu, siapa dia? Kenapa mamamu sampai tidak setuju dengan wanita pilihanmu?”


****


Sutikno menahan Dea di ruangan kerjanya dan mengatakan pada Dea bahwa ia akan melakukan apa pun untuk membuat hidup Dea lebih baik jika Dea mau bekerja sama dengannya membuat berita palsu untuk menaikan


popularitasnya yang tengah terpuruk di mata masyarakat. Sebagai seorang jurnalis yang berintegritas tentu saja Dea menolaknya dan mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Sutikno adalah tindakan yang menjijikan.


“Kamu mengatakan kalau aku ini menjijikan? Memangnya semua politisi yang kamu temui tidak menjijikan, hm? Mereka tidak lebih baik dariku.”


Dea memilih pergi dari ruangan kerja Sutikno karena tidak nyaman dengan pembicaraan ini apalagi Sutikno memintanya dengan sangat memaksa dan pengancaman yang membuat Dea makin muak dengan semua ini.


“Apakah kamu butuh uang tambahan? Apakah gajimu sebagai seorang jurnalis cukup untuk membiayai hidupmu?”


“Apakah anda berpikir bahwa saya adalah wanita murahan yang dapat digadaikan dengan sejumlah uang? Anda salah Pak, saya bukan wanita seperti itu!”


Namun Sutikno menyeringai dan kemudian ia mendorong Dea hingga punggung wanita itu menabrak dinding dan wajah mereka sangat dekat sekali saat ini.


“Kamu cantik sekali, maukah kamu bercinta denganku? Aku akan memberikanmu apa pun yang kamu inginkan.”


****


Belinda kembali ke rumah sakit untuk menjenguk Inez dan ketika ia menjenguk Inez itu nampak Inez meminta maaf padanya karena sudah berprasangka buruk padanya waktu itu namun Belinda sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut.


“Syukurlah kalau kamu sudah sadar kalau aku tidak seperti apa yang kamu pikirkan.”


“Iya, aku terlalu bodoh dan naif karena terlalu percaya jika Sutikno menginginkan anak yang aku kandung nyatanya dia malah merencanakan semua itu dan terus berulang kali ingin membunuhku.”

__ADS_1


“Apa katamu? Dia sudah berulang kali ingin membunuhmu?”


Inez menceritakan apa yang dialaminya tadi ketika mamanya pergi membeli sarapan, Belinda nampak tak habis pikir dengan Sutikno rasanya apa yang Sutikno lakukan itu sudah sangat keterlaluan. Pintu ruangan inap Inez terbuka dan menampakan sosok Sutikno di sana yang sontak saja membuat Inez dan Belinda menatap ke arah pria itu.


__ADS_2