Dusta Di Atas Cinta

Dusta Di Atas Cinta
Jalan Kejujuran


__ADS_3

Chelsea hanya diam saja sepanjang perjalanan pulang menuju rumah, Austin sendiri tidak mau terlalu banyak bicara pada adiknya karena kalau dilihat dari bagaimana ekspresi adiknya saat ini sepertinya Chelsea sedang tidak baik-baik saja selepas pertemuannya dengan Angkasa barusan. Austin pun kemudian berusaha untuk bicara dengan Chelsea mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada adiknya.


“Chelsea, kamu tidak perlu khawatir soal pemuda itu.”


Chelsea masih diam dan tidak menanggapi apa yang menjadi ucapannya barusan namun setelah lama terdiam akhirnya Chelsea pun mengatakan sesuatu pada Austin yang membuatnya terkejut.


“Sejujurnya aku tidak memikirkan dia, Kak.”


“Benarkah? Lalu apa yang sedang kamu pikirkan?”


Chelsea nampak ragu ketika mendapatkan pertanyaan seperti itu dari kakaknya, ia bingung apakah harus mengatakan yang ada di dalam kepalanya atau tidak.


“Tidak apa Chelsea, kamu dapat bicara denganku.”


Chelsea nampak menghela napasnya dan kemudian setelah berpikir cukup lama ia memutuskan untuk mengatakan sesuatu pada kakaknya.


“Sejujurnya aku memikirkan soal mama dan om Hanggara.”


“Kenapa kamu memikirkan soal mereka?”


“Karena aku melihat sesuatu.”


Chelsea kemudian menceritakan apa yang tidak sengaja ia lihat pada kakaknya dan tentu saja Austin terkejut dengan apa yang Chlesea katakan namun ia tidak mau terlalu berpikiran negatif akan hal tersebut.


“Iya, aku sendiri pun juga tidak mau berpikiran negatif hanya saja aku tidak habis pikir kenapa om Hanggara sampai harus masuk ke dalam kamar mama.”


“Jadi itu alasan kenapa kamu bersikap aneh belakangan ini di rumah?”


Chelsea menganggukan kepalanya, ia mengatakan pada kakaknya bahwa ia takut kalau mama mereka dan om Hanggara memiliki hubungan khusus namun Austin berusaha untuk menenangkan adiknya dan mengatakan bahwa semua itu tidak mungkin.


“Kamu jangan berpikiran terlalu jauh Chelsea, mereka tidak seperti apa yang ada di dalam pikiranmu.”

__ADS_1


“Semoga saja begitu,” lirih Chelsea.


Chelsea pun kemudian terdiam dan tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka berdua hingga mereka berdua tiba di rumah.


****


Sutikno kembali mendapatkan surat pemanggilan dari kejaksaan untuk diperiksa sebagai saksi atas kasus yang tengah menjeratnya. Tentu saja Sutikno datang ke kejaksaan dengan pengawalan yang super ketat sementara


itu sudah banyak sekali wartawan yang berkumpul di sana dan ingin melakukan wawancara dengannya namun Sutikno memilih untuk bungkam dan ketika masuk ke dalam area gedung kejaksaan pun Sutikno nampak menunduk dan tidak berkomentar sepatah kata pun pada awak media. Sutikno terus berjalan masuk ke dalam gedung kejaksaan hingga pemeriksaan yang berlangsung hampir 4 jam lamanya itu pun membuahkan hasil Sutikno tidak ditahan namun ia harus kembali lagi ke kejaksaan ketika kejaksaan membutuhkannya untuk menjadi saksi. Sontak saja saat Sutikno keluar dari pintu kejaksaan nampak para wartawan masih mengarahkan kamera padanya dan memberondongnya dengan berbagai pertanyaan namun yang membuatnya terkejut salah seorang wartawan menanyakan sesuatu hal yang tidak biasa padanya.


“Apakah anda tahu di mana reporter Sun News bernama Dea? Terakhir kali saya mendengar bahwa dia bertemu dengan anda?”


Sutikno menatap tajam pada seorang wartawan yang menanyakan hal itu padanya namun ia sama sekali tidak mengatakan apa pun padanya dan memilih kembali melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam mobil dinas


dengan pengawalan super ketat.


“Bagaimana bisa dia menanyakan hal itu padaku?” lirih Sutikno saat ia sudah dalam perjalanan pulang dari gedung kejaksaan.


****


untuk membongkar hubungannya dengan Sutikno selama ini pada awak media walaupun sang mama sudah berulang kali mengatakan padanya untuk jangan melakukan itu namun Inez tetap berpendapat bahwa ia tidak dapat menahannya lagi, ia tidak ingin Sutikno hidup tenang setelah apa yang ia lakukan pada dirinya dan calon anak mereka.


“Maafkan aku Ma, akan tetapi aku harus melakukan ini.”


Inez sudah duduk bersama kuasa hukumnya di depan awak media yang siap meliput konfrensi persnya saat ini, Inez nampak berterima kasih pada awak media yang bersedia hadir di acara ini dan Inez pun tidak mau membuat


para awak media menunggu terlalu lama.


“Baiklah, saya langsung mulai saja kenapa saya mengundang kalian semua ke sini, alasan saya mengundang kalian ke sini adalah karena saya memiliki sesuatu hal yang ingin saya katakan pada kalian semua yaitu sebuah kebenaran yang selama ini saya rahasiakan.”


Inez nampak terdiam sejenak selepas mengatakan kalimat barusan, ia berusaha untuk menguatkan dirinya supaya tidak lemah dan setelahnya akhirnya Inez pun memberanikan diri untuk mengatakan yang sejujurnya mengenai

__ADS_1


hubungan terlarangnya dengan Sutikno selama ini.


****


Sutikno baru saja tiba di kantor wali kota dan ia mendapatkan kabar bahwa Inez sedang melakukan konfrensi pers yang sedang ditayangkan secara langsung, Sutikno sontak saja melihat tayangan langsung konfrensi pers tersebut dan terkejut kenapa Inez melakukan konfrensi pers.


“Apa-apaan wanita itu? Kenapa dia membongkar semuanya di depan wartawan?!”


Inez nampak tenang dan percaya diri ketika membongkar hubungan terlarangnya dengan Sutikno selama ini bahkan Inez pun menceritakan apa yang sudah Sutikno lakukan padanya hingga membuat dirinya celaka dan nyaris mati. Sutikno tidak dapat hanya duduk diam dan membiarkan Inez akan menghancurkannya.


“Inez, kamu pikir dapat melakukan hal ini padaku? Tunggu dan lihat saja apa yang dapat aku lakukan padamu!”


Sutikno kemudian meraih ponselnya dan kemudian menelpon seseorang, ia mengatakan sebuah rencana untuk melenyapkan Inez selayaknya ia melenyapkan Dea dan lagi-lagi Sutikno mengancam bahwa rencana mereka haruslah berhasil dan ia ingin supaya Inez bisa segera ditangani.


“Kami mengerti, Pak.”


“Baguslah kalau kalian mengerti, jangan kecewakan aku.”


Selepas menutup sambungan teleponnya Sutikno menghembuskan napasnya kesal karena makin banyak saja masalah yang datang ke dalam hidupnya.


“Inez, kamu tidak dapat menghancurkanku dengan cara seperti itu, tidak akan pernah.”


****


Sundari menemui keluarga calon besannya di rumah namun ketika ia datang keluarga calon besannya sama sekali menolak untuk bertemu dengannya, tentu saja Sundari merasa sedih dan kecewa dengan kelakuan keluarga


calon besannya. Ia sudah mempersiapkan perjodohan ini jauh-jauh hari dan ia berpikir bahwa semua akan baik-baik saja namun rupanya ia salah perhitungan karena justru hal buruklah yang terjadi.


“Kenapa semua harus berakhir seperti ini?!”


Sundari merasa tak terima dengan semua ini, ia pun kemudian pulang ke rumah dan mengunci dirinya di dalam kamar hingga kemudian ia meraih obat yang ada di dalam laci nakas dan meminumnya tanpa dosis yang jelas,

__ADS_1


setelah meminum obat dalam dosis yang tak terkendali maka Sundari pun akhirnya jatuh tertidur di atas kasurnya.


__ADS_2