
Chelsea menanti kakaknya pulang dengan gelisah, semenjak pertemuannya kembali dengan Angkasa ia menjadi khawatir kalau pemuda itu akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Chelsea sudah tidak ingin lagi berhubungan dengan Angkasa namun pemuda itu terus saja berusaha mendekatinya dan ingin kembali menjalin cinta dengannya, tentu saja Chelsea tidak akan mudah memercayai itu, Chelsea yakin bahwa Angkasa melakukan semua itu karena ia ingin melakukan hal yang buruk padanya. Contohnya saja waktu itu
Angkasa ingin melecehkannya dan perbuatan yang dilakukan oleh Angkasa tentu saja tidak dapat ia terima begitu saja.
“Kenapa kakak belum pulang juga?” lirihnya.
Chelsea akhirnya dapat menghela napas lega karena melihat kakaknya pulang ke apartemen ini, akan tetapi Chelsea dibuat terkejut dengan wajah kakaknya yang babak belur. Sontak saja ia bertanya pada Austin mengenai
apa yang sebenarnya terjadi padanya.
“Kak, kamu kenapa?”
“Aku baik-baik saja.”
Namun Chelsea tentu saja tidak dapat memercayai itu, ia yakin kalau Austin telah mengalami hal yang buruk. Awalnya Austin tidak mau mengatakan apa pun pada adiknya karena tidak mau membuatnya cemas namun Chelsea terus saja memaksanya untuk mengatakan kebenaran padanya hingga akhirnya Austin pun menceritakan semua yang ia alami tadi ketika dalam perjalanan pulang kerja.
“Apa katamu?”
“Begitulah ceritanya.”
Chelsea nampak langsung berpikiran buruk bahwa mungkin saja semua ini ada kaitannya dengan Angkasa, akan tetapi Chelsea segera menepis pemikiran buruk itu dan berusaha berpikir postif bahwa mungkin saja Austin
dikeroyok oleh orang lain yang tidak ada hubungannya dengan Angkasa.
“Kamu kenapa diam saja?”
“Aku tidak kenapa-kenapa, kok.”
Chelsea kemudian membantu kakaknya dalam membersihkan luka di wajah dan kemudian mereka berdua pun masuk ke dalam kamar, ketika sudah di dalam kamar nampak Chelsea duduk di tepian kasur dan menghela napasnya, baru saja ia hendak berbaring di atas kasur secara mengejutkan ponselnya berdering dan ketika melihat siapa nama yang tertera di layar ponselnya sontak saja ia terkejut.
__ADS_1
****
Belinda merasa heran saat tahu bahwa hari ini Austin tidak datang ke kantor, ia mencoba menelpon Austin namun ponsel Austin tidak aktif hingga akhirnya Belinda memutuskan untuk pergi menemui Austin nanti setelah ia pulang bekerja Belinda kini sudah berdiri di depan pintu apartemen Austin dan menekan bel pintu, tidak lama kemudian pintu terbuka dan menampakan Chelsea di sana, Chelsea nampak terkejut dengan kedatangan Belinda dan Belinda pun segera masuk ke dalam apartemen itu.
“Di mana kakakmu?”
“Kenapa Mama ke sini?”
“Mama ke sini karena tadi kakakmu tidak masuk kerja, ponselnya juga tidak aktif dan hal tersebut membuat Mama khawatir kalau sesuatu hal yang buruk terjadi padanya.”
Chelsea tidak mengatakan apa pun pada Belinda mengenai situasi yang tengah Austin hadapi saat ini, tidak lama kemudian Austin muncul dari balik pintu kamarnya dan membuat Belinda terkejut. Tentu saja Belinda terkejut karena menemukan wajah Austin yang babak belur dan Belinda pun bertanya siapa orang yang telah melakukan ini pada Austin.
“Mama tidak perlu mengkhawatirkanku karena aku baik-baik saja.”
“Apa katamu? Kamu baik-baik saja? Ini kamu bilang baik-baik saja?”
Austin tidak mau memperpanjang masalah ini namun Belinda mengatakan bahwa ia tak dapat menerima semua ini, Belinda akan mencari tahu siapa orang yang telah melakukan ini pada Austin.
****
“Aku datang menemuimu karena mamaku yang menyuruhku, jadi kamu jangan terlalu besar kepala akan hal itu.”
“Aku tahu, sepertinya kamu begitu menyayangi mamamu, ya?”
“Hanya dia satu-satunya orang tua yang masih aku miliki, apakah menurutmu aku harus menjadi anak yang durhaka dengan tidak menuruti perintahnya?”
Najwa hanya tersenyum mendengar ucapan Hanggara barusan, Hanggara sendiri tidak mau menghabiskan waktu terlalu lama dengan wanita ini dan segera pergi dari tempat ini setelah obrolan singkat itu terjadi.
“Kamu menarik juga Hanggara.”
__ADS_1
****
Belinda mengunjungi Sutikno dipenjara, ia mengatakan bahwa proses perceraian mereka akan mulai diperoses oleh pengadilan agama dan Belinda berharap bahwa Sutikno sama sekali tidak mengubah pikirannya setelah
ini. Sutikno mengatakan pada Belinda bahwa ia tidak akan mengubah pikirannya dan akan membiarkan Belinda melakukan perceraian itu. Sutikno kemudian bertanya pada Belinda mengenai kabar anak-anak. Belinda menceritakan pada Sutikno mengenai hal buruk yang dialami oleh Austin, Belinda mengatakan bahwa ia akan mencari siapa orang yang telah berbuat buruk pada Austin dan memberikannya pelajaran. Karena waktu kunjung yang sangat terbatas akhirnya Belinda pun harus meninggalkan tempat ini, selepas keluar dari penjara, Belinda mendapatkan telepon dari orang suruhannya bahwa ia sudah menemukan siapa orang yang menjadi pelaku pemukulan terhadap Austin.
“Baiklah kalau begitu, terima kasih.”
Tanpa membuang waktu Belinda segera pergi menuju alamat yang sudah diberikan oleh orang suruhannya, Belinda tiba di alamat itu dan langsung turun dari dalam mobilnya. Ketika ia tiba di depan pintu, Belinda langsung disambut orang suruhannya dan Belinda pun dibawa masuk ke dalam karena orang itu ada di dalam.
“Bisakah kamu tolong tinggalkan kami?”
Akhirnya orang suruhan Belinda pun pergi meninggalkan Belinda dengan orang yang sudah melakukan pemukulan terhadap Austin.
“Katakan padaku yang sebenarnya, siapa orang yang telah menyuruhmu melakukan ini.”
****
Inez begitu kecewa karena ia tidak pernah dapat bertemu dengan Belinda lagi, Inez ingin meminta bantuan Belinda supaya wanita itu membantunya membuat Sutikno lebih menderita lagi dibanding sekarang. Rasanya ini semua tidak sebanding dengan semua rasa sakit yang Inez rasakan saat ini, ketika dalam perjalanan pulang menuju rumah mamanya, Inez bertemu dengan seorang pria yang dulu menjadi langganannya ketika masih menjajakan diri. Inez nampak memalingkan wajah dan pura-pura tak melihat orang itu namun tentu saja orang itu mengenali Inez dan menahan tangannya.
“Kamu Inez kan?”
“Lepaskan aku.”
“Sudah aku duga kalau kamu itu Inez, bagaimana kabarmu?”
“Apakah kita perlu basa-basi begini?”
“Jadi kamu tidak mau basa-basi? Baiklah kalau begitu, ayo kita ke hotel sekarang juga.”
__ADS_1
“Apa katamu?!”