
Belinda selepas mendapatkan telepon dari Sutikno nampak tidak tenang, ia tahu bahwa Sutikno mengatakan itu supaya membuatnya tidak tenang dan kemudian menanyakan pada Austin mengenai apakah yang Sutikno katakan
tadi padanya adalah sebuah kebenaran yang pada akhirnya justru dapat saja menjadi sebuah bumerang untuknya. Belinda tidak ingin hal itu terjadi padanya oleh sebab itu ia memilih untuk menahan diri untuk tidak menanyakan apa pun pada Austin walaupun sebenarnya ia sangat ingin sekali bertanya pada putranya mengenai apa saja yang Austin tahu. Keesokan harinya Austin mulai bekerja di perusahaan namun ia bekerja sebagai staf biasa saja seperti yang diinginkan olehnya, Belinda sudah mengatakan pada kepala bagian tempat di mana Austin bekerja untuk memerlakukan anaknya itu seperti karyawan biasa dan tidak ada perlakuan istimewa yang didapatkan olehnya.
“Tenanglah Belinda, dia tidak mengatakan apa pun padamu tadi kan?”
Ketika sarapan di meja makan, Austin sama sekali tidak mengatakan apa pun pada Belinda yang membuat Belinda jadi berpikir mungkin saja apa yang Sutikno katakan padanya semalam adalah sesuatu hal yang tidak benar.
“Sudah aku duga sebenarnya kalau Sutikno mengatakan itu hanya untuk membuatku takut saja.”
Belinda menghabiskan sisa waktunya di kantor dengan memimpin rapat dan mengerjakan pekerjaannya hingga sore hari, saat di lobi ia bertemu dengan Austin yang juga hendak pulang.
“Bagaimana hari pertamamu bekerja di sini?” tanya Belinda.
“Begitulah, cukup melelahkan,” jawab Austin singkat.
Belinda dan Austin kemudian berpisah di depan karena mereka sama-sama membawa mobil sendiri, ketika di rumah nampak Chelsea sudah menyambut mereka dan mengatakan bahwa ia merindukan mama dan kakaknya.
“Semenjak kakak bekerja aku jadi sendirian di rumah, itu membuatku sangat tidak nyaman.”
Austin hanya tersenyum dan kemudian pergi ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian pun dengan Belinda yang pergi ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian namun baru saja ia masuk ke dalam kamar ponselnya berdering dan Belinda pun melihat siapa orang yang menelponnnya saat ini.
****
Sundari masih berusaha untuk membuat Hanggara mau menikah dengan Laila namun Hanggara masih berkeras bahwa apa yang telah menjadi keputusannya tidak dapat diubah lagi, Hanggara meminta supaya Sundari mau menerima hal tersebut.
“Mau sekeras apa pun Mama berusaha untuk membuatku menikah dengan Laila itu tidak akan pernah berhasil, Ma.”
“Kalau begitu kamu tahu kan kalau sampai kapan pun Mama tidak akan pernah mengizinkan kamu menjalin hubungan dengan Belinda? Dia itu adalah kakak iparmu dan tidak seharusnya kamu menjalin hubungan dengan wanita yang masih memiliki suami!”
“Belinda dan kakak akan segera bercerai dan selepas mereka bercerai maka aku akan segera menikahinya.”
“Hanggara, kamu sudah benar-benar tidak waras, bagaimana bisa wanita itu mencuci otakmu seperti ini, Nak?” tanya Sundari yang tidak dapat menyembunyikan rasa sedihnya.
__ADS_1
“Ma, aku tahu bahwa Mama pasti kecewa dengan keputusan yang aku ambil ini namun tolong Mama perlu tahu bahwa hanya dia Belinda satu-satunya wanita yang aku cintai.”
Selepas mengatakan itu Hanggara pun pergi meninggalkan Sundari walaupun Sundari masih berusaha memanggilnya dan berharap kalau dapat merubah pikiran putranya barusan.
“Kenapa kamu harus melakukan ini Hanggara, kenapa?” isak Sundari.
Sundari tidak dapat membiarkan semua ini terjadi, ia kemudian pergi ke suatu tempat untuk menemui seseorang.
****
Perlahan namun pasti Sutikno berhasil mengendalikan pemberitaan media mengenai dirinya dan kejaksaan pun mulai setuju untuk menutup kasusnya, tentu saja Sutikno merasa di atas angin sekarang namun ada satu masalah yang perlu ia segera selesaikan yaitu keanggotaannya di partai yang sudah dipecat. Sutikno mencoba berkirim pesan pada ketua umum mengenai pemecatan dirinya sebagai kader partai yang padahal Sutikno sudah berkorban banyak untuk partai namun pada akhirnya justru ia dikeluarkan karena kasus yang menderanya bahkan kini ia gagal dicalonkan sebagai calon gubernur.
“Baiklah kalau memang seperti itu, jangan salahkan aku kalau aku akan membuka suara mengenai apa yang selama ini kalian lakukan padaku.”
Sutikno kemudian memanggil wartawan yang memang selama ini pro sekali pada kebijakannya sebagai wali kota untuk melakukan wawancara, Sutikno dengan blak-blakan bicara di depan kamera bawa selama ini ia hanya
dijadikan sapi perah oleh partai yang telah membuatnya menjadi wali kota. Sontak saja pernyataan Sutikno menjadi viral di media dan membuat kegaduhan baru antara dirinya dan partai yang menaunginya saat ini.
“Kalian akhirnya kelabakan sendiri kan?”
****
Sutikno mendapatkan tamu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Sundari, tentu saja Sutikno nampak heran kenapa Sundari datang menemuinya saat ini namun ia tidak mau beramah tamah dengan wanita yang telah
menjadi ibu sambungnya selama lebih dari 30 tahun itu.
“Ada keperluan apa kamu datang ke sini?”
“Aku datang ke sini untuk meminta bantuanmu.”
“Kenapa harus meminta bantuan padaku?”
“Karena aku tidak tahu harus melakukan apalagi, aku berpikir hanya kamu saja yang dapat menolongku saat ini.”
__ADS_1
Sundari kemudian menceritakan apa yang terjad di antara Hanggara dan Belinda, Sundari ingin supaya Hanggara berhenti menjalin hubungan dengan Belinda karena bagaimanapun juga Belinda adalah istri dari Sutikno.
“Kamu sebagai seorang suami apakah tidak mau melakukan sesuatu untuk menghentikan semua kegilaan ini?”
“Tentu saja aku ingin melakukan sesuatu untuk menghentikan semuanya namun sayangnya sepertinya mereka berdua sudah saling jatuh cinta terlalu dalam.”
“Apakah kamu akan membiarkan ini terus? Kalau memang kamu tidak mencintai Belinda maka setidaknya kamu ceraikan saja dia.”
“Aku akan menceraikan Belinda namun aku memberikan sebuah syarat padanya yang mana sampai saat ini syaratnya saja belum ia penuhi.”
“Apa maksudmu? Syarat? Syarat apa?”
“Syaratnya adalah Belinda harus memberitahu hubungannya dengan Hanggara pada anak-anak kami.”
****
Hanggara datang ke rumah pada akhir pekan untuk bertemu dengan Belinda namun tentu saja alasan di depan anak-anak bukan itu, Hanggara bilang bahwa ia merindukan keponakannya dan Chelsea serta Austin pun
nampak tak mempermasalahkan itu. Kedua keponakannya masih tetap dekat dan bersikap baik padanya seperti biasa namun Belinda masih saja khawatir dengan bayangan pembicaraan dengan Sutikno tempo hari.
“Kenapa Mama sepertinya tegang begitu?” tanya Austin.
“Mama baik-baik saja, Nak.”
Belinda pergi ke belakang untuk menenangkan dirinya dan rupanya Hanggara menyusulnya yang membuat Belinda terkejut dengan kedatangan pria itu.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Anak-anak sedang pergi sebentar tadi oleh sebab itu aku berani ke sini menemuimu.”
“Lebih baik kita jangan melakukan hal yang aneh-aneh.”
“Belinda, apakah kamu tidak merindukanku?”
__ADS_1
“Hanggara aku ….”
“Aku sangat merindukanmu.”