Dusta Di Atas Cinta

Dusta Di Atas Cinta
Dia Sudah Tahu


__ADS_3

Hanggara nampak terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh Austin ini, dirinya nampak terdiam sejenak karena tak menyangka kalau Austin akan mengajukan pertanyaan ini dan pada akhirnya pun Hanggara bertanya pada Austin kenapa keponakannya itu menanyakan hal tersebut padanya. Austin mengatakan bahwa ia hanya ingin tahu apakah Hanggara sudah memiliki pacar atau belum dan Hanggara mengatakan pada keponakannya bahwa ia belum memiliki pacar.


“Benarkah? Lantas apakah ada seseorang yang menarik perhatian Om?”


“Iya, ada seseorang yang menarik perhatian Om, memangnya kenapa?”


“Siapa dia?”


“Kenapa kamu sepertinya ingin tahu soal itu?”


“Oh, bukan apa-apa hanya saja aku penasaran saja karena sepertinya selama ini Om tidak pernah membicarakan mengenai hal itu.”


Hanggara nampak tersenyum dan kemudian mengatakan pada Austin bahwa ada yang perlu ia bicarakan dan ada yang tidak perlu ia bicarakan jadi Hanggara meminta pada Austin untuk jangan menanyakan hal tersebut lagi.


Austin sendiri hanya diam menanggapi apa yang Hanggara ucapkan namun dari gestur tubuh Hanggara, Austin sendiri dapat menyimpulkan bahwa sepertinya Hanggara sendiri tidak nyaman dengan pertanyaan yang barusan ia ajukan dan sepertinya perlahan kecurigaannya memang benar adanya.


“Namun masih terlalu dini kalau aku menyimpulkan mereka memang memiliki hubungan khusus.”


Selepas bertemu dengan Hanggara kini Austin kembali ke rumah dan memikirkan apa yang terjadi barusan, Austin masih berusaha mencari cara bagaimana cara supaya dapat membongkar rahasia antara mamanya dan Hanggara.


“Sangat sulit sekali untuk membongkar ini.”


Hingga akhirnya Austin menjemput Chelsea di sekolahnya dan saat dalam perjalanan pulang ke rumah Austin pun menceritakan apa yang ia lakukan tadi dengan Hanggara, Chelsea sendiri nampak terkejut ketika tahu kakaknya membicarakan hal sensitif dengan omnya.


“Kenapa Kakak melakukan itu?”


“Memangnya kenapa? Aku ingin tahu seperti apa reaksinya ketika aku menanyakan hal itu padanya dan reaksi om Hanggara benar-benar membuatku yakin ada sesuatu hal yang tidak beres.”


****


Hanggara menelpon Belinda dan menceritakan apa yang dilakukan oleh Austin padanya tadi ketika istirahat jam makan siang, Belinda sendiri nampak terkejut dan tak percaya kalau Austin mulai berani terang-terangan menanyakan hal itu pada Hanggara. Belinda berterima kasih pada Hanggara karena sudah mau memberitahunya mengenai hal ini, Hanggara sendiri nampak tidak puas hati karena masih harus menutupi hubungan mereka ini dari anak-anaknya.


“Aku yakin kalau kita jujur pada anak-anak pun mereka pasti mau menerimanya.”


“Bukankah sebelumnya kita sudah pernah membahas hal ini, Hanggara?”


“Baiklah, aku tahu.”


Selepas pembicaraan singkat itu, Hanggara menutup sambungan teleponnya dan Belinda nampaknya masih memikirkan apa yang Hanggara katakan padanya barusan. Belinda menjadi tidak tenang dan nampaknya Belinda

__ADS_1


mulai khawatir kalau sebentar lagi hubungannya dengan Hanggara akan terkuak oleh anak-anaknya dan yang menjadi ketakutannya adalah anak-anak tidak akan menerima hubungan mereka.


“Tidak, aku tidak boleh berpikiran yang buruk dulu, aku yakin bahwa anak-anak pasti akan menerima hubunganku dengan Hanggara hanya saja ini sugesti saja.”


Belinda menarik napasnya dalam-dalam untuk menenangkan pikirannya yang kalut, ia harus bekerja dan fokus saat ini namun nyatanya ia tidak dapat sepenuhnya fokus karena memikirkan segala kemungkinan terburuk dalam kehidupannya mendatang.


“Tidak, aku tidak bisa begini terus.”


Belinda menggelengkan kepalanya dan kemudian bangkit dari kursinya seraya berjalan mondar-mandir di ruangan kerjanya, ia benar-benar khawatir kalau ini adalah tanda-tanda awal hubungan rahasianya dengan Hanggara


akan terbongkar.


****


Sutikno nampak terkejut dengan seseorang yang mau bertemu dengannya malam ini dan saat ia tahu orang yang hendak bertemu dengannya adalah Austin tentu saja Sutikno begitu bahagia, ia bertanya pada Austin apa yang membawa putranya ini untuk datang ke rumah dinasnya.


“Aku datang ke sini karena ingin memberitahu Papa kalau besok aku akan bekerja di perusahaan mama.”


“Benarkah? Hanya itu saja yang ingin kamu beritahu pada Papa?”


Austin nampak terdiam sejenak dan ia seperti tengah memikirkan sesuatu sebelum akhirnya ia pun memberanikan diri untuk mengatakan hal itu pada papanya.


“Apa yang ingin kamu ketahui, Nak?”


“Apakah Papa tahu mengenai hubungan antara mama dan om Hanggara? Aku sejujurnya tidak percaya dengan ucapan Chelsea waktu itu hanya saja… entah kenapa pikiranku mengatakan bahwa mereka memiliki hubungan.”


“Memangnya Chelsea menceritakan apa padamu?”


Maka Austin pun menceritakan pada Sutikno apa saja yang Chelsea bicarakan padanya waktu itu, Sutikno diam dan menyimak apa yang Austin ceritakan hingga akhirnya ia tahu bahwa kedua anaknya itu rupanya sudah


tahu bahwa Hanggara dan Belinda bermain api selama ini di belakangnya.


“Apakah semua yang Chelsea katakan itu benar, Pa?”


“Kenapa kamu bertanya pada Papa? Papa kan tidak ada di sana saat Hanggara dan mamamu pergi berduaan di dalam kamar.”


****


Belinda pulang ke rumah dan ia berusaha bersikap biasa saja supaya tidak mengundang kecurigaan dari Austin dan Chelsea, kedua anaknya itu pun juga nampak biasa saja dan tidak menanyakan sesuatu hal yang aneh

__ADS_1


padanya. Belinda dan kedua anaknya makan malam bersama hingga akhirnya selepas acara makan malam bersama itu Belinda pun menanyakan sesuatu pada Austin.


“Austin, Mama ingin bicara denganmu sebentar.”


“Ada apa, Ma?”


“Kita bisa bicara di ruangan kerja saja?”


Austin kemudian mengikuti apa yang Belinda perintahkan barusan, mereka berdua masuk ke dalam ruangan kerja dan di sana nampak Austin penasaran dengan apa yang hendak Belinda bicarakan dengannya.


“Jadi apa yang hendak Mama bicarakan denganku?”


Belinda nampak menghela napasnya panjang, ia bertanya pada Austin mengenai apa yang ia lakukan tadi siang.


“Maksud Mama apa?”


“Tadi siang kamu bertemu dengan om Hanggara kan?’


“Iya, itu benar. Memangnya ada masalah apa?”


“Dan kamu menanyakan sesuatu hal yang aneh padanya kan?”


“Tidak kok, memangnya kenapa Mama menanyakan hal itu?”


“Tolong kamu jangan terlalu ikut campur dalam masalah pribadi om Hanggara, kamu tahu kan kalau dia memiliki privasi?”


****


Belinda menghela napasnya saat ia sudah tiba di dalam kamarnya, ia benar-benar tidak habis pikir kalau tadi ia baru saja bicara dengan Austin mengenai apa yang Hanggara ceritakan padanya. Belinda pun sebenarnya khawatir kalau Austin makin akan penasaran dengan hubungannya dengan Hanggara namun bagaimanapun juga Belinda tidak ingin Austin membuat Hanggara tidak nyaman dengan pertanyaan yang diajukan oleh anaknya ini. Saat Belinda hendak masuk ke dalam kamar mandi, ponselnya berdering dan ketika ia melihat nama yang tertera di layar ponsel nampak nama Sutikno di sana.


“Mau apa lagi dia menelponku?”


Belinda nampak menjawab telepon dari Sutikno dengan nada yang tidak baik, Belinda menanyakan apa maksud Sutikno menelponnya saat ini.


“Sepertinya kamu sedang tidak baik-baik saja, ya?”


“Aku tidak memiliki waktu untuk membicarakan omong kosong denganmu.”


“Aku hanya ingin memberitahumu bahwa Austin sudah tahu hubunganmu dengan Hanggara.”

__ADS_1


“Apa katamu?”


__ADS_2