Dusta Di Atas Cinta

Dusta Di Atas Cinta
Mama dan Permintaannya


__ADS_3

Hanggara mendapatkan kabar dari rumah sakit bahwa saat ini mamanya tengah mendapatkan perwatan di rumah sakit, sontak saja Hanggara terkejut dan langsung pergi ke rumah sakit untuk melihat bagaimana keadaan mamanya. Ketika tiba di rumah sakit, Hanggara bertemu dengan dokter dan dokter mengatakan bahwa kondisi Sundari sudah jauh lebih baik dan untungnya saja nyawa Sundari dapat diselamatkan. Dokter mengatakan bahwa Sundari seperti itu karena meminum obatnya melampaui dosis yang sudah ditetapkan. Hanggara pun kemudian


diizinkan untuk menjenguk sang mama yang tengah terbaring di ranjang rumah sakit, Hanggara nampak begitu sedih ketika melihat kondisi mamanya seperti ini, ia berjalan menghampiri mamanya yang masih belum siuman itu.


“Kenapa Mama melakukan itu?” lirihnya.


“Karena Mama ingin mengakhiri semuanya,” jawab Sundari yang membuat Hanggara terkejut.


Sundari kemudian membuka kedua matanya dan menatap Hanggara, Sundari mengatakan pada Hanggara bahwa ia ingin mengakhiri semuanya karena tidak tahan dengan sikap Hanggara yang keras kepala ingin memertahankan


hubungannya dengan Belinda.


“Tidak bisakah Mama menerima keputusanku?”


“Tentu saja tidak, apakah menurutmu Mama dapat menerima keputusanmu yang terasa seperti sebuah omong kosong ini?!”


“Ma, aku sudah memilih Belinda jadi tolong Mama jangan terlalu ikut campur dalam masalah pribadiku, aku bukan anak kecil lagi!”


“Bagus sekali, kamu sekarang sudah mau membantah apa yang Mama katakan, apakah wanita itu yang mengajarkanmu untuk menjadi seorang yang membangkang seperti ini?”


“Jangan salahkan Belinda karena dia tidak salah apa pun.”


“Lihatlah bagaimana dirimu membelanya, luar biasa sekali pengaruh wanita itu di hidupmu.”


Hanggara sebenarnya tidak mau berdebat dengan mamanya namun Sundari yang memaksanya untuk berdebat dengannya dan pada akhirnya Hanggara tentu saja mau tidak mau mendebat apa yang dikatakan oleh Sundari


karena baginya apa yang Sundari katakan mengenai Belinda bukanlah sesuatu hal yang benar.


“Aku mohon Mama mengertilah dengan keputusan yang aku ambil ini.”


“Sampai kapan pun Mama tidak akan pernah mau menerima wanita itu.”


****


Sutikno makin dibuat panas karena kasus di kejaksaan makin menguatkan indikasi bahwa dirinya terlibat dalam praktik suap apalagi media terus mengawal kasus ini dan sulit bagi Sutikno untuk dapat lolos dari jerat hukum karena kejaksaan sendiri pun mempertaruhkan nama baik mereka sebagai institusi pengadilan di negara ini.


“Mereka semua benar-benar membuatku muak, awas saja kalian semua!”

__ADS_1


Sutikno mencari pelampiasan dengan menemui wanita lain, ia mengundang wanita itu ke rumah dinasnya dan mereka bercinta untuk menghilangkan stresnya dan tiba-tiba saja ia teringat dengan Inez, wanita yang


dulu menjadi satu-satunya ia sentuh dan pernah ia janjikan sebuah masa depan yang cerah namun ia malah mencoba membunuhnya dan usahanya untuk menghilangkan nyawa wanita itu tidak berhasil namun ia berhasil membunuh calon anak mereka.


“Kamu nampak murung, apa yang kamu pikirkan?”


“Bukan apa-apa.”


Sutikno tidak mau membahas masalah pribadi dengan orang asing apalagi wanita ini hanya sebatas penghibur saja untuk melampiaskan rasa kalut yang menderanya, selepas percintaan panas mereka itu Sutikno berusaha memejamkan mata namun ia tidak dapat melakukannya, bayangan dirinya bersama Inez terus menghantuinya apalagi Inez begitu benci padanya saat ini.


“Kenapa juga aku harus memikirkan wanita itu? Tidak, tidak, tidak.”


Sutikno menggelengkan kepalanya untuk menepis semua bayangan Inez yang bermain di dalam kepalanya.


****


Belinda diajak bertemu oleh Hanggara di apartemen pria itu, Belinda sendiri sebenarnya sempat menolak ajakan bertemu oleh Hanggara itu namun Belinda merasa iba pada Hanggara yang dari nada bicaranya di telepon tadi


sepertinya sedang sedih. Belinda pun memutuskan pergi menemui Hanggara di apartemennya dan ketika Belinda tiba di apartemen itu nampak Hanggara begitu bahagia dan mempersilakan Belinda untuk masuk ke dalam apartemennya.


“Jadi kenapa kamu mengajakku bertemu di sini?”


“Soal apa?”


Hanggara menarik napasnya berat dan kemudian menceritakan pembicaraan antara dirinya dan sang mama tadi ketika di rumah sakit, Belinda nampak terkejut mendengar cerita Hanggara yang mengatakan bahwa Sundari mengonsumsi obat tidur terlalu banyak hingga membuatnya nyaris meninggal dunia dan permintaan Sundari yang menginginkan Hanggara segera menghentikan hubungannya dengan Belinda.


“Sejujurnya aku tidak mau melakukannya Belinda, aku sangat mencintaimu namun di satu sisi dia adalah ibuku.”


Belinda terdiam mendengar cerita Hanggara barusan, ia tidak dapat mengatakan apa pun karena ia dapat memahami apa yang tengah Hanggara rasakan saat ini, tentu saja ia paham bagaimana Hanggara begitu sedih


karena harus dihadapkan pada pilihan yang sulit.


“Semua keputusan ada di tanganmu, aku akan menerima apa pun yang menjadi keputusanmu,” ujar Belinda.


****


Sundari dikunjungi oleh Laila setelah wanita itu mendapatkan kabar bahwa Sundari masuk rumah sakit, walaupun Laila sudah memutuskan untuk membatalkan perjodohannya dengan Hanggara namun ia sudah menganggap

__ADS_1


Sundari seperti ibunya sendiri dan tentu saja ia tidak dapat tutup mata begitu saja setelah mendengar kabar bahwa Sundari masuk rumah sakit.


“Tante.”


“Sayang? Kamu datang?”


“Iya, aku datang setelah mendengar kalau Tante masuk rumah sakit, kenapa ini? Kenapa Tante bisa berakhir di rumah sakit?”


Sundari menghela napasnya panjang, ia pun menceritakan bahwa ia sudah tidak memiliki semangat untuk hidup lagi karena Hanggara mengecewakannya dengan pilihan yang ia pilih. Laila sendiri tidak banyak bicara dan memilih


untuk mendengarkan semua keluh kesah Sundari mengenai putranya itu, Sundari pun meminta pada Laila untuk memikirkan kembali keputusannya supaya wanita ini mau kembali melanjutkan perjodohan dengan Hanggara namun Laila meminta maaf pada Sundari karena ia tidak dapat melakukan hal tersebut.


“Aku minta maaf Tante, akan tetapi aku tidak dapat melakukan hal tersebut, tolong Tante dapat memahaminya.”


Sundari menghela napasnya berat, ia berharap sangat pada Laila yang mau kembali pada melanjutkan perjodohan ini namun nyatanya Laila masih tetap pada keputusannya.


“Apakah kamu sudah memikirkan itu dengan baik? Apakah kamu tidak kasihan padaku?”


“Tante aku ….”


“Tolong aku Laila.”


****


Belinda baru saja tiba di rumah dan Austin telah menunggunya di sana, Belinda sendiri merasa kalau Austin seperti orang yang tengah memikirkan sesuatu, Belinda pun bertanya pada Austin apa yang sedang Austin pikirkan dan pertanyaan itu pun suskses membuat Austin terkejut.


“Kenapa Mama menanyakan itu?”


“Karena sepertinya kamu tengah memikirkan sesuatu.”


Austin terdiam sejenak dan menatap Belinda dengan ragu sebelum akhirnya Austin pun mengatakan sesuatu pada Belinda yang mana Austin pikir ini adalah sesuatu yang harus ia tanyakan pada Belinda.


“Ma, sebenarnya ada sesuatu hal yang mengganggu pikiranku.”


“Katakan saja pada Mama, mungkin Mama tidak dapat memberikan solusi namun setidaknya perasaanmu akan menjadi jauh lebih lega dari sebelumnya.”


“Baiklah sebenarnya aku memikirkan ucapan Chelsea mengenai hubungan Mama dengan om Hanggara tempo hari.”

__ADS_1


“Apa katamu?!”


__ADS_2