
Chelsea awalnya hendak pergi ke dapur karena ia haus dan ingin mengambil segelas air dan saat ia tiba di lantai bawah ia melihat Hanggara keluar dari dalam kamar tamu dan berjalan menuju kamar tempat di mana sang mama tidur. Tentu saja Chelsea nampak heran karena Hanggara masuk ke dalam kamar mamanya dan hal tersebut memancing rasa ingin tahu gadis itu lebih jauh mengenai apa alasan sang om masuk ke dalam kamar mamanya. Chelsea berjalan perlahan menghampiri pintu kamar sang mama dan ia menguping apa yang tengah dibicarakan
oleh mamanya dan Hanggara, Chelsea terkejut ketika mendengar adanya suara tak biasa yang keluar dari dalam kamar mamanya. Chelsea sudah hendak membuka pintu kamar mamanya namun ia ragu untuk melakukan itu.
“Apakah aku harus melakukan ini?”
Chelsea masih ragu hingga akhirnya ia memutuskan untuk balik badan menuju kamarnya, ia tak sanggup untuk pergi ke dapur dan minum. Sesampainya di dalam kamar Chelsea tidak dapat memejamkan matanya karena masih memikirkan apa yang tadi ia lihat dengan kedua mata kepalanya sendiri.
“Apa yang sebenarnya om lakukan di kamar mama dan suara apa itu?”
Pikiran Chelsea sekarang berkecamuk dan kekhawatiran bahwa sesuatu hal terjadi di antara mamanya dan Hanggara pun muncul namun Chelsea berusaha menolak pikiran itu.
“Tidak, tidak mungkin hal itu terjadi, tidak mungkin.”
Hingga hari pagi Chelsea masih tak dapat memejamkan matanya walau ia sudah mencobanya, pagi ini Chelsea keluar kamar agak siang dan ketika ia turun ke bawah tidak ada Hanggara di sana.
“Ke mana om Hanggara?” tanya Chelsea pada kakaknya.
“Om Hanggara sudah pulang tadi ketika kamu belum bangun,” jawab Austin.
Chelsea hanya menganggukan kepalanya dan duduk di kursi meja makan untuk sarapan bersama mama dan kakaknya, Belinda memerhatikan ada sesuatu hal yang berbeda dari putrinya pun bertanya apa yang sebenarnya
terjadi pada Chelsea.
“Kamu kenapa, Nak? Apakah sesuatu hal terjadi padamu?”
“Tidak Ma, aku baik-baik saja.”
****
Rupanya Austin juga memerhatikan sejak bangun tidur hingga kini ada sesuatu hal yang tidak biasa di matanya, Chelsea seperti tengah menyembunyikan sesuatu darinya dan hal tersebut tentu saja membuat Austin khawatir karena jangan-jangan hal ini menyangkut soal pemuda bernama Angkasa itu.
“Chelsea, apakah kamu menyembunyikan sesuatu dariku?”
Mendengar pertanyaan Austin barusan sontak Chelsea terkejut namun ia berusaha tidak menampakan bahwa ia panik di depan kakaknya, Austin tentu saja sudah hafal betul gelagat adiknya bahwa pasti ada sesuatu hal
__ADS_1
yang terjadi pada Chelsea namun adiknya ini tidak mau berbicara padanya.
“Apakah Angkasa melakukan hal yang buruk padamu tanpa sepengetahuanku?”
“Tidak Kak, sama sekali tidak.”
“Kalau begitu apa yang kamu pikirkan?”
Chelsea tidak mengatakan apa pun pada Austin dan berusaha mengalihkan pembicaraan namun Austin yakin bahwa Chelsea tengah menyembunyikan sesuatu darinya dan Austin sejujurnya khawatir kalau sebenarnya ini menyangkut soal Angkasa.
“Kakak tenang saja aku baik-baik saja.”
Selepas mengatakan itu Chelsea langsung pergi meninggalkan Austin walaupun sebenarnya Austin sendiri masih belum puas dengan jawaban yang Chelsea berikan.
“Apa yang sebenarnya kamu tengah pikirkan?” lirihnya
seraya menatap kepergian Chelsea.
Sementara itu Chelsea masuk ke dalam kamarnya dan berusaha untuk menenangkan dirinya, ia berusaha untuk tidak terlihat panik saat Austin tadi nyaris mencecarnya dengan pertanyaan yang membuatnya tidak nyaman.
****
“Tapi bagaimana kalau masalah ini soal Angkasa? Aku khawatir kalau pemuda kurang ajar itu mengancam Chelsea lagi,” ujar Austin.
“Kamu tenang saja, nanti Mama akan coba bicara baik-baik dengannya dan siapa tahu Chelsea mau bicara,” ujar Belinda.
Austin mengangguk dan berpikir bahwa mungkin dengan bicara pada Belinda maka Chelsea bisa mau lebih terbuka jika dibanding bicara dengannya. Belinda kemudian menuju kamar Chelsea dan mengetuk pintunya sebelum membuka pintu tersebut, ketika Belinda datang nampak Chelsea terkejut dengan kedatangan sang mama.
“Bolehkah Mama masuk ke dalam?”
“Iya Ma.”
Belinda kemudian masuk ke dalam kamar Chelsea dan berjalan menuju tempat di mana Chelsea berada yaitu di tepian kasurnya, Belinda duduk di sebelah Chelsea dan mengusap tangan Chelsea dengan lembut.
“Kamu mungkin dapat menipu semua orang dengan mengatakan tidak ada hal yang terjadi padamu namun kamu tidak dapat menipu Mamamu sendiri, Nak.”
__ADS_1
“Aku ….”
“Mama tidak akan memaksa kalau memang kamu tidak mau bercerita namun Mama khawatir kalau kamu seperti ini, Nak.”
****
Sundari meminta Hanggara untuk kembali ke rumah sekarang juga namun Hanggara menolak, Hanggara mengatakan bahwa ia lebih suka tinggal di apartemen. Sundari tentu saja tak dapat menerima itu karena kalau Hanggara terlalu lama tinggal di apartemen maka Hanggara dapat saja berlaku kebablasan dan ia tidak dapat menerima kalau setiap hari Hanggara tidur dengan Belinda.
“Kenapa Mama datang ke sini? Bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku tidak mau pulang ke rumah?”
“Apakah alasan kamu tinggal di sini supaya dapat tidur dengan Belinda setiap hari?”
“Apa maksud Mama?”
“Sudahlah Hanggara, jangan buat Mama semakin marah padamu, kamu sudah mengecewakan Mama dengan jujur pada hubungan spesialmu dengan Belinda yang seharusnya tidak boleh kamu lakukan dan kamu sekarang tidur
dengannya?!”
“Ma, aku tahu bahwa Mama kecewa dengan keputusanku untuk mencintai Belinda namun aku tidak dapat membohongi perasaanku bahwa aku mencintai dia, dia satu-satunya wanita yang aku cintai dan aku harap Mama dapat menerima itu.”
“Apa katamu? Kamu harap Mama dapat menerimamu ketika mencintai wanita itu? Mama sampai kapan pun tidak akan pernah mau menerima hal itu!”
“Maaf Ma, akan tetapi aku tidak akan goyah, aku akan tetap pada pendirianku.”
****
Sudah lewat tiga hari sejak kejadian malam itu dan Chelsea masih terbayang adegan di mana Hanggara masuk ke dalam kamar mamanya dan kemudian ia mendengar suara aneh dari dalam kamar mamanya. Chelsea berusaha
mengalihkan pikirannya dan tidak mau memikirkan hal itu namun pikiran itu selalu saja mengganggunya bahkan hingga hari ini. Chelsea begitu penasaran apa yang terjadi malam itu di antara Hanggara dan mamanya namun ia tidak berani bertanya secara langsung pada mamanya ataupun Hanggara.
“Apa yang harus aku lakukan?”
Chelsea sudah berdiri di halte menunggu jemputan kakaknya dan ia sedang memegangi ponselnya dan menatap kontak Hanggara, ia ragu apakah ia harus menelpon omnya itu dan mengajak Hanggara bicara atau tidak.
“Apa yang harus aku lakukan saat ini? Aku sangat penasaran apa yang mereka lakukan malam itu.”
__ADS_1